NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pertarungan di Jantung Kawah

Asap hitam pekat memenuhi seluruh ruangan, membawa hawa dingin yang bertabrakan dengan panasnya energi di dalam kawah, menciptakan kabut tebal yang menyelimuti pandangan. Dari balik kabut itu, sosok raksasa menjulang tinggi — wujud bayangan yang memiliki mata menyala merah terang, tubuhnya bergerak seperti asap yang terus berubah bentuk, dan di sekelilingnya berputar serpihan energi gelap yang tajam seperti pisau.

Itulah Morgrath, atau setidaknya manifestasi sebagian kekuatannya yang mampu menjangkau tempat ini. Suaranya bergema rendah, menggetarkan setiap batu dan celah tanah di dalam kawah, seolah berasal dari kedalaman bumi itu sendiri.

“Kalian telah berjalan terlalu jauh dan mengambil apa yang menjadi sumber kekuatanku selama ribuan tahun,” katanya, nada bicaranya penuh amarah yang tertahan. “Kalian mengira dengan mengumpulkan benda-benda itu bisa menghentikan takdir? Aku telah menunggu terlalu lama untuk dibebaskan, dan tidak akan membiarkan rencanaku digagalkan oleh sepasang manusia biasa!”

Tanpa menunggu jawaban, Morgrath mengayunkan tangannya yang terbentuk dari energi gelap. Gelombang kekuatan negatif yang kuat meluncur cepat ke arah mereka, menyapu segala sesuatu yang ada di jalurnya.

“Lindungi diri!” seru Valerius.

Ia segera membuka kotak pelindung dan memancarkan cahaya gabungan dari Permata Bumi, Air, dan Api. Sebuah perisai cahaya raksasa berwarna putih keemasan segera terbentuk, menahan serangan itu sehingga menimbulkan ledakan hebat yang membuat debu beterbangan ke mana-mana. Meski serangan itu berhasil ditahan, Valerius merasakan tekanan yang luar biasa di seluruh tubuhnya, membuat kakinya terhuyung mundur beberapa langkah.

“Kekuatannya jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan,” bisiknya pada Elara sambil tetap mempertahankan perisai itu. “Ini baru sebagian dari dirinya, belum kekuatan sepenuhnya jika ia sudah terbebas sepenuhnya.”

Elara berdiri di sampingnya, memusatkan energi yang baru saja ia terima dari Permata Api untuk memperkuat pertahanan mereka. Ia merasakan aliran ketiga unsur itu mengalir selaras di dalam dirinya, membentuk keseimbangan yang membuatnya lebih waspada dan tangguh.

“Kita tidak bisa hanya bertahan terus-menerus,” jawabnya dengan suara tegas. “Ia semakin kuat karena kebencian dan rasa terkurungnya. Jika kita hanya melawan dengan kekuatan yang sama, kita akan kalah habis-habisan. Kita harus menyerang titik lemahnya.”

Sementara itu, Kaelen dan para prajurit melancarkan serangan dari samping, mengayunkan pedang yang telah diberi energi cahaya. Namun setiap kali senjata itu menyentuh tubuh Morgrath, ia hanya menembus seperti menembus asap, lalu tertutup kembali tanpa memberikan luka yang berarti. Bahkan energi cahaya itu pun seolah diserap oleh kegelapan yang menyelimuti tubuhnya.

“Usaha yang sia-sia!” ejek Morgrath sambil mengangkat kedua tangannya. Dari lantai kawah, muncul rantai-rantai energi hitam yang melesat ke segala arah, mencoba menjerat dan melumpuhkan mereka. “Kalian hanyalah serangga yang berusaha melawan badai. Menyerahlah, dan aku mungkin akan membiarkan kalian mati dengan cepat!”

Beberapa rantai itu berhasil mendekat dan melilit kaki salah seorang prajurit, membuatnya berteriak kesakitan saat energi dingin itu menyentuh kulitnya. Ia langsung terjatuh dan tubuhnya terasa semakin lemas, seolah tenaganya tersedot keluar.

“Tolong dia!” teriak Elara.

Ia segera melangkah maju, memancarkan cahaya terang dari telapak tangannya yang dipenuhi energi gabungan. Sinar itu menyambar rantai yang melilit prajurit itu, membakarnya hingga hancur menjadi asap tipis, lalu menyembuhkan rasa sakit dan memulihkan tenaga yang sempat hilang.

Melihat itu, Morgrath mengalihkan perhatiannya sepenuhnya ke arah Elara. Matanya yang menyala merah menyipit, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda pada gadis itu.

“Kau… kau bukan berasal dari dunia ini, bukan?” tanyanya dengan nada curiga dan penasaran.

“Aku bisa merasakannya. Energimu tidak terikat pada aturan alam Aetheris. Kau membawa sesuatu yang asing, sesuatu yang bisa mengganggu keseimbangan, baik untuk kebaikan maupun kehancuran.”

Elara tidak menjawab, melainkan terus memusatkan kekuatannya. Ia menyadari bahwa keberadaannya dari dunia lain bukanlah kelemahan, melainkan kelebihan yang bisa menjadi kunci untuk mengalahkan kekuatan kuno ini. Karena ia tidak sepenuhnya terikat pada energi alam Aetheris, ia juga tidak mudah dipengaruhi oleh rasa takut atau ilusi yang biasa digunakan Morgrath untuk melemahkan lawannya.

“Valerius, dengarkan saya!” seru Elara di tengah pertarungan. “Kekuatan permata ini bekerja paling baik jika digabungkan dengan hati yang bersatu. Kita tidak perlu mengalahkannya dengan kekuatan kasar, tapi mengembalikan keseimbangan yang hilang. Ia dipenuhi rasa sakit dan amarah, jadi kita harus menyeimbangkannya dengan ketenangan dan cahaya!”

Valerius mengangguk paham. Ia mengingat pelajaran dari setiap ujian yang mereka lalui: Bumi memberikan keteguhan, Air memberikan ketenangan, dan Api memberikan semangat. Ketiganya harus bersatu dalam satu tujuan yang murni.

“Semua mundur dan berkumpul!” perintah Valerius kepada rombongannya. “Lindungi diri kalian dan jangan membiarkan kegelapan menyentuh pikiran kalian!”

Ia dan Elara lalu berdiri berdampingan, saling menggenggam tangan erat-erat. Di dalam kotak pelindung, ketiga permata itu mulai berdenyut semakin cepat, memancarkan cahaya yang semakin terang hingga menembus kabut dan asap yang menyelimuti ruangan. Cahaya hijau, biru, dan merah berputar bergabung membentuk lingkaran cahaya putih keemasan yang memancar ke segala arah.

“Apa yang akan kalian lakukan? Sia-sia saja!” teriak Morgrath sambil melancarkan serangan terakhirnya, sebuah gelombang kegelapan yang jauh lebih besar dan padat daripada sebelumnya, berusaha menenggelamkan mereka sepenuhnya.

Namun kali ini, ketika gelombang kegelapan itu bertabrakan dengan cahaya yang dipancarkan oleh kedua permata itu, terjadi peristiwa yang luar biasa. Bukan tabrakan yang saling menghancurkan, melainkan pertemuan yang saling melengkapi. Cahaya itu tidak mendorong kegelapan menjauh, melainkan menyelimutinya, menembus setiap celah kekosongan dan rasa sakit yang ada di dalamnya.

Valerius dan Elara memusatkan seluruh niat baik mereka, mengirimkan pesan kedamaian bukan kebencian. Mereka membayangkan masa lalu ketika Morgrath mungkin bukan sosok yang penuh amarah, sebelum ia terjebak dalam kegelapan selama ratusan tahun.

“Kami tidak datang untuk memusnahkanmu,” teriak Valerius dengan suara yang bergema bersama cahaya itu. “Kami datang untuk mengembalikan keseimbangan. Jika kau terus menyebarkan kehancuran, kau juga akan lenyap bersama dunia ini. Berhentilah melawan, dan biarkan kekuatan ini menenangkan amarah yang ada di hatimu!”

Sinar cahaya itu semakin kuat, menyelimuti seluruh sosok Morgrath. Raksasa kegelapan itu bergerak menggeliat kesakitan, bukan karena dilukai, tapi karena rasa sakit yang telah lama terkubur itu mulai terasa kembali, sementara rasa benci yang menjadi perisainya perlahan melemah. Suara teriakannya berubah menjadi rintihan yang panjang, dan wujudnya mulai mengecil perlahan, menyusut kembali seolah ditarik oleh kekuatan yang lebih besar.

“Tidak… ini tidak mungkin…” gumamnya melemah. “Selama ini aku hanya merasakan sakit dan pengkhianatan… bagaimana bisa cahaya ini terasa begitu menenangkan?”

Dalam sekejap, manifestasi Morgrath itu terserap kembali ke dalam kedalaman bumi, menghilang bersama sisa asap yang masih melayang di udara. Gemuruh yang menggelegar mereda, dan panas yang menyengat perlahan kembali menjadi suhu yang wajar. Kabut hitam pun lenyap, memperlihatkan kembali ruangan kawah yang damai seperti semula.

Semua orang tertegun hening, terengah-engah memulihkan napas dan tenaga yang hampir habis. Keringat membasahi seluruh tubuh mereka, dan luka-luka ringan terlihat di beberapa bagian, namun nyawa mereka selamat.

Valerius dan Elara masih berdiri berpegangan tangan, kotak pelindung di tangan Valerius kini memancarkan cahaya yang lebih stabil dan kuat, tanda bahwa ketiga permata itu kini telah bersatu dengan lebih erat.

“Ia belum kalah sepenuhnya,” kata Elara pelan sambil memandang ke arah dasar kawah. “Ia hanya mundur dan mengumpulkan kekuatannya lagi. Pertarungan ini baru saja membuatnya sadar bahwa kita memiliki kemampuan untuk melawannya. Ia akan menjadi lebih berhati-hati, tapi juga lebih ganas saat menyerang nanti.”

Valerius mengangguk setuju sambil memegang bahu Elara dengan rasa hormat dan cinta yang mendalam. “Kau benar. Namun kita juga tahu kelemahannya sekarang. Ia didorong oleh emosi negatif, sedangkan kita memiliki kekuatan persatuan dan kebenaran yang bisa menyeimbangkannya. Masih ada empat permata lagi yang harus kita temukan. Semakin cepat kita mengumpulkannya, semakin kuat pagar pertahanan yang bisa kita bangun sebelum ia benar-benar terbebas.”

Mereka segera memeriksa keadaan rombongan, mengobati luka-luka yang ada, dan memastikan tidak ada yang terluka parah. Setelah semuanya siap, mereka mulai berjalan keluar dari terowongan kawah, meninggalkan tempat itu dengan membawa kemenangan pertama sekaligus peringatan bahwa bahaya masih mengintai.

Di luar kawah, langit yang tadinya gelap perlahan mulai kembali cerah. Namun jauh di dalam kegelapan gua utama, Morgrath merenung dalam diam. Meskipun mundur, ia telah melihat potensi kekuatan yang dimiliki oleh Elara — sesuatu yang bisa menjadi ancaman terbesarnya, atau justru bisa ia gunakan untuk membalikkan keadaan. Sebuah rencana baru pun mulai terbentuk di dalam benaknya, yang akan menguji bukan hanya kekuatan, tapi juga kepercayaan di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!