Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sementara itu, di sisi lain kantin yang suasananya jauh lebih tenang dibanding area mahasiswa, Arsen duduk santai dengan punggung bersandar tegak. Kemeja hitamnya masih tampak luar biasa rapi tanpa cela, kontras dengan tumpukan dokumen digital yang sedang dibukanya di layar tablet.
Pria di depannya—Gavin—sejak tadi terus memperhatikan Arsen dengan senyum penuh arti yang sangat menyebalkan sambil perlahan menyeruput kopinya.
“Jarang banget gue lihat lo rela buang-buang energi cuma buat nyindir mahasiswa,” ujar Gavin santai membuka obrolan.
Arsen tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap fokus pada layar di depannya, sementara jemarinya bergerak membalik halaman dokumen dengan tenang.
“Dia terlalu berisik,” jawabnya singkat.
Gavin langsung terkekeh kecil.
“Berisik,” ulangnya pelan, sengaja memancing. “Atau sebenarnya cewek itu berhasil menarik perhatian lo?”
Tatapan Arsen langsung terangkat dingin. Sorot mata elangnya tajam menusuk, memberi peringatan tanpa perlu banyak kata. “Jangan mulai, Gav.”
Namun, Gavin justru makin tidak tahu diri. Pria itu menyandarkan tubuh ke kursi sambil melipat tangan di dada dengan santai.
“Gue serius. Biasanya lo nggak bakal peduli mau ada mahasiswa tidur, ngelamun, bahkan pingsan di kelas sekalipun. Lo bukan tipe dosen yang hobi ngurusin orang.”
Arsen kembali mengalihkan pandangannya ke tablet. “Karena mahasiswa lain tahu batas.”
“Dan cewek tadi nggak?”
“Dia terlalu ceroboh.”
Jawaban datar itu sukses membuat Gavin tersenyum miring.
“Lucu juga, ya,” gumamnya.
Arsen mengernyitkan dahi tipis, merasa terganggu. “Apa?”
“Lo ngomongin mahasiswa yang satu ini jauh lebih banyak dibanding gabungan semua mahasiswa lo selama lima tahun terakhir mengajar.”
Suasana di meja mereka sempat hening sebentar. Arsen tetap memasang ekspresi datar, namun rahangnya mengeras samar untuk sepersekian detik. Gavin yang sudah terlalu lama mengenal pria itu jelas tidak melewatkan perubahan kecil tersebut.
“Mahasiswa teledor seperti dia nggak cocok untuk dimanja,” dalih Arsen tenang.
“Mahasiswa?” ulang Gavin sengaja menekankan kata tersebut sambil menyeringai kecil. “Atau memang karena dia seorang perempuan?”
Kali ini, gerakan jemari Arsen di atas layar benar-benar terhenti. Tatapannya naik perlahan, menatap Gavin dengan sorot yang dingin, tajam, dan mematikan.
“Kalau proyek baru kita batal minggu depan, jangan berani-berani nangis di depan gue.”
Bukannya takut dengan ancaman itu, Gavin malah tertawa kecil. Dia tahu betul seperti apa sosok Arsen yang sebenarnya. Pria di depannya ini dingin, tertutup, dan selalu membentengi dirinya dari siapa pun—terutama dari kaum hawa.
Gavin bahkan masih ingat jelas bagaimana Arsen pernah langsung membatalkan kontrak kerja sama dan meninggalkan sebuah acara bisnis besar hanya karena salah satu kolega wanita sengaja menyentuh lengannya terlalu lama. Bukan karena Arsen merasa malu, melainkan karena ada ketidaknyamanan fisik yang nyata. Tubuh Arsen seolah memiliki sistem imun otomatis yang menolak keras sentuhan atau kedekatan dengan lawan jenis, hingga bisa memicu gejala aneh seperti rasa mual yang parah.
Namun anehnya, hari ini segalanya terasa berbeda. Saat berdiri cukup dekat dengan mahasiswi bernama Alana tadi, Arsen terlihat biasa saja. Tidak ada raut terganggu, tidak ada tanda-tanda mual. Pria itu justru terlihat... terlalu bersemangat untuk menyindirnya terus-menerus.
Dan bagi Gavin, itu jelas bukan sesuatu yang normal untuk ukuran seorang Arsen.
“Lo sadar nggak sih?” ujar Gavin lagi, memecah keheningan.
“Apa.”
“Tatapan lo ke cewek itu beda.”
Arsen langsung mematikan layar tabletnya dan menutupnya dengan gerakan pelan namun tegas. “Gavin.”
“Nah, tuh. Kalau udah manggil nama lengkap berarti lo mulai merasa terancam.” Gavin mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah sebelum Arsen benar-benar membatalkan proyek mereka. “Oke, oke, gue diam. Tapi gue cuma mau kasih saran sebagai sahabat.”
Arsen menatapnya datar, menunggu kelanjutan kalimat itu.
“Jangan terlalu penasaran sama perempuan kayak gitu. Dia itu... aneh, berisik, dan tipe yang bisa bikin hidup lo nggak bakal tenang lagi.”
Arsen tidak menjawab lagi. Namun begitu Gavin mengalihkan pembicaraan, entah kenapa bayangan wajah Alana yang panik saat menutup bindernya tadi malah kembali berputar di kepalanya. Lengkap dengan ekspresi kesalnya yang spontan dan gerak-gerik mulutnya yang terlalu jujur saat membela diri.
Mahasiswi itu memang menyebalkan, tapi justru kombinasi itulah yang membuatnya terasa sangat berbeda dibanding orang-orang kaku yang biasa berada di sekitar Arsen.
...----------------...
Di sisi lain kampus, jam kuliah berikutnya ternyata terpaksa dimulai lebih cepat karena dosen mata kuliah bersangkutan mendadak ada rapat internal. Alana masih berjalan dengan langkah malas bersama Naira dan Damar menuju gedung kelas baru mereka.
“Gue capek banget,” keluhnya sambil menyeret sandal flat-nya di koridor.
“Capek belajar?” tanya Naira santai.
“Capek hidup.”
Damar yang berjalan satu langkah di depan mereka hanya bisa tertawa kecil mendengarnya. Namun belum sempat Alana menikmati ketenangan koridor, Naira tiba-tiba menyeringai jail.
“Eh, bayangin deh…” ujar Naira sengaja menggantung kalimatnya dengan nada misterius.
“Apaan? Jangan bikin gue parno ya.”
“Gimana kalau dosen pengganti di kelas sekarang ternyata Pak Arsen lagi?”
Langkah kaki Alana langsung berhenti total di tengah lorong. Wajahnya berubah menjadi sangat horor dalam sekejap.
“Naira,” ujarnya dengan suara rendah penuh ancaman, “tolong banget ya. Mulut lo jangan ngomong sembarangan.”
Naira malah makin meledak tertawa. “Kenapa? Lo ketakutan setengah mati, ya?”
“Ini bukan takut, ini namanya naluri pertahanan batin!” bela Alana cepat. “Lo nggak ngerasain gimana rasanya dipermalukan berkali-kali dalam sehari oleh manusia yang sama!”
Damar yang sudah berjalan lebih dulu di depan pintu kelas menoleh ke arah mereka sambil tertawa kecil.
“Sudah, tenang aja. Tadi gue sempat lihat papan pengumuman jadwal, harusnya kelas ini dipegang sama Bu Rahma. Bukan dia.”
Alana langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Tangannya bahkan sampai memegangi dadanya secara dramatis. “Alhamdulillah…” gumamnya penuh rasa syukur. “Tuhan ternyata masih sayang sama hambanya yang teraniaya ini.”
Namun, kelegaan itu bahkan tidak bertahan sampai lima detik. Baru saja kaki Alana melangkah masuk melewati ambang pintu kelas, sebuah suara rendah dan dingin yang sudah mulai ia hafal mendadak menggema dari arah depan ruangan.
“Kalian terlambat tiga menit.”
Deg.
Seluruh tubuh Alana langsung membeku di tempat. Pelan-pelan, kepalanya mendongak dengan perasaan cemas yang luar biasa.
Dan benar saja, pemandangan di depan sana sukses membuat jantungnya serasa ingin berhenti bekerja. Arsen sedang berdiri tegak di balik meja dosen sambil merapikan letak jam tangan silver di pergelangan tangannya. Tatapan mata elangnya langsung mengarah lurus ke arah mereka bertiga.
“Ya Allah… cobaan hidup apa lagi ini,” gumam Alana lirih, nyaris putus asa.
Di sebelahnya, Naira otomatis langsung membekap mulutnya sendiri kuat-kuat supaya tidak tertawa keras di depan dosen killer itu, sedangkan Damar buru-buru berdeham kencang sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Tatapan Arsen bergerak perlahan, melewati Naira dan Damar, sebelum akhirnya berhenti tepat pada Alana yang masih berdiri kaku di dekat pintu.
“Sepertinya kamu terlihat sangat terkejut melihat saya kembali, Saudari Alana.”
Alana memaksakan diri untuk mengukir senyuman yang paling kaku dan aneh sedunia. “Sedikit… Pak.”
“Sedikit?” ulang Arsen dengan nada tenang yang justru terdengar mengintimidasi.
“Iya… dikit banget kok, Pak.”
“Menarik.”
Mendengar kata sakti itu keluar dari mulut Arsen, Alana langsung tahu firasat buruknya akan menjadi kenyataan.
“Kalau begitu silakan masuk dan duduk,” ujar Arsen dingin tanpa ekspresi. “Dan saya harap untuk kelas kali ini, kamu tidak berniat menjadikannya sebagai tempat tidur umum jilid dua.”
Detik itu juga, satu kelas langsung pecah oleh suara tawa yang ditahan. Beberapa mahasiswa bahkan sampai menundukkan kepala ke atas meja karena tidak kuat menahan geli. Sementara Alana? Rasanya dia ingin melompat saja dari lantai tiga gedung kampus sekarang juga. Wajahnya terasa panas memerah sampai ke telinga.
Naira sampai gemetar menahan tawa saat mereka akhirnya duduk di kursi barisan tengah. “Ya Allah, Alana…” bisiknya lirih dengan bahu yang naik turun. “Gue nggak kuat, bengek banget.”
Alana langsung menjepit lengan Naira dengan cubitan maut. “Ketawa sekali lagi, gue cekik lo ya!” desisnya sebal.
Sementara di depan kelas, Arsen tetap terlihat tenang seolah dirinya tidak baru saja menghancurkan harga diri mahasiswanya sendiri untuk kesekian kali.
“Karena dosen utama kalian berhalangan hadir karena ada rapat mendadak, kelas hari ini kembali saya ambil alih kembali,” ujarnya datar sambil membuka laptop.
Suasana ruangan langsung kembali hening total. Tidak ada lagi yang berani kasak-kusuk atau bercanda, karena aura yang dipancarkan Arsen terlalu menekan untuk dijadikan bahan lelucon.
“Buka materi lanjutan dari minggu lalu,” lanjut Arsen singkat.
Seluruh mahasiswa langsung bergerak cepat membuka laptop dan buku catatan masing-masing tanpa menunda. Sedangkan Alana masih terus mengomel panjang lebar di dalam hati sambil membuka bindernya dengan gerakan sedikit kasar.
"Menyebalkan banget sih manusia es satu itu! Kenapa harus dia lagi sih?!"
Namun sialnya, meskipun mulut batinnya terus-menerus mengutuk dan mengumpat, diam-diam Alana menyadari satu hal yang pasti. Sejak pagi tadi, kehidupan kampusnya yang biasanya berjalan santai dan biasa-biasa saja, mendadak berubah menjadi jauh lebih kacau dan penuh tekanan hanya gara-gara satu orang bernama Arsen Laurent Wijaya.