NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saldo Istri, Nafkah Suami

​Embusan angin sejuk dari pendingin udara taksi premium yang ditumpangi Arumi terasa begitu menenangkan. Di bangku belakang taksi, Bintang dan Langit duduk dengan rapi. Kedua jagoan kecil Arumi itu tampak sangat tampan dan menggemaskan. Bintang mengenakan kemeja katun bermotif garis-garis yang modis, sementara adiknya, Langit, terlihat sangat gagah mengenakan kaus polo berwarna pastel dan celana pendek denim kecil.

​Arumi sendiri tampil dengan sangat anggun. Ia mengenakan setelan tunik batik tulis modern dengan potongan asimetris yang elegan, dipadukan dengan celana panjang kulot berwarna krem. Rambutnya yang hitam legam digelung rapi ke atas, menyisakan beberapa helai anak rambut di sekitar pelipis yang membingkai wajah cantiknya yang kini tampak jauh lebih segar, cerah, dan memancarkan pesona wanita matang yang mandiri. Tidak ada lagi daster batik lusuh dengan ketiak robek, tidak ada lagi gurat kecemasan di dahi karena memikirkan harga beras yang terus merangkak naik.

​Ponsel pintar di dalam tas tangan Arumi bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari Nasya, sahabat karibnya sejak zaman sekolah menengah atas.

​"Rum, aku sudah sampai di restoran ya, di area VIP nomor 4 yang dekat taman air mancur. Langsung masuk saja, anak-anak pasti suka suasananya. Can’t wait to see you, Janda Kaya Raya-ku! Haha!"

​Arumi mengulas senyuman tipis, menggelengkan kepalanya perlahan melihat selera humor sahabatnya yang tidak pernah berubah sejak dulu. Nasya adalah salah satu dari sedikit orang di masa lalu yang mengetahui betapa menderitanya Arumi selama menikah dengan Revan. Namun, karena keterbatasan jarak setelah Nasya pindah ke luar kota untuk mengurus bisnis keluarga, mereka hanya bisa bertukar kabar lewat jaringan telepon. Begitu mendengar kabar bahwa Arumi telah resmi mengetuk palu cerai dari pria kikir itu dan mendapatkan warisan miliaran, Nasya adalah orang pertama yang bersorak paling keras dan langsung mengatur jadwal penerbangan kembali ke kota ini demi merayakan kebebasan sahabatnya.

​Taksi premium itu akhirnya berhenti dengan halus di depan lobi sebuah restoran keluarga kelas atas bergaya konsep alam modern. Begitu pintu taksi dibukakan oleh petugas lobi, Arumi turun sembari menuntun Bintang dan menggendong Langit yang langsung berkedip-kedip kagum melihat pemandangan taman hijau yang luas di depan mereka.

​Langkah kaki Arumi yang anggun membawanya menyusuri selasar berbatu menuju area VIP yang terletak di bagian belakang restoran. Begitu pintu kaca ruang VIP nomor 4 digeser, sesosok wanita modis berambut pendek langsung bangkit berdiri dari kursi sofa dengan wajah yang dipenuhi binar kegembiraan.

​"Arumi!" jerit Nasya tertahan, langsung berlari kecil dan menghambur ke pelukan Arumi. Mereka berpelukan erat, menyalurkan rasa rindu yang telah mengendap selama bertahun-tahun.

​"Ya ampun, Rum... kamu cantik sekali! Aura batin wanita merdeka memang tidak bisa bohong ya!" puji Nasya setelah melepaskan pelukannya, menatap Arumi dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mata yang berbinar kagum. "Lihat ini, wajahmu makin glowing, tidak ada lagi tatapan mata sedih seperti waktu kamu masih dikurung oleh si kikir Revan itu!"

​Arumi tertawa renyah, merasa sangat hangat disambut oleh ketulusan sahabatnya. "Kamu ini bisa saja, Nas. Terima kasih ya sudah menyempatkan waktu datang ke sini."

​Namun, perhatian Arumi mendadak teralih ketika ia melihat sesosok pria yang sejak tadi duduk diam di sudut sofa, perlahan bangkit berdiri. Pria itu bertubuh tegap dengan tinggi sekitar 180 sentimeter, memiliki rahang yang tegas, potongan rambut kru yang rapi, dan mengenakan kemeja kasual berwarna biru dongker yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan kulit yang elegan. Wajahnya yang tampan khas pria Nusantara memancarkan aura wibawa seorang eksekutif muda yang matang.

​Mata pria itu menatap lurus ke arah Arumi. Detik itu juga, ada binar ketakjuban, kecanggangan, sekaligus getaran emosi yang sangat dalam yang terpancar dari sepasang bola mata hitamnya yang jernih.

​"Mbak... Mbak Arumi, apa kabar?" sapa pria itu dengan nada suara bariton yang lembut namun sedikit bergetar karena rasa gugup yang mendadak menyerang dadanya.

​Arumi mengerapkan matanya beberapa kali, mencoba mengingat-ingat raut wajah di hadapannya sebelum akhirnya mulut cantiknya terbuka sedikit karena terkejut. "D-Dimas? Dimas Eka Prasetya?"

​Pria tampan itu tersenyum lebar, memperlihatkan barisan giginya yang rapi serta lesung pipit tipis di pipi kanannya yang membuat pesonanya semakin mematikan. "Iya, Mbak. Ini saya, Dimas. Adik kecilnya Mbak Nasya yang dulu sering merepotkan Mbak Arumi waktu main ke rumah."

​Arumi seketika terkesima setengah mati. Pikirannya langsung melayang kembali ke belasan tahun yang lalu, ke masa-masa di mana Dimas hanyalah seorang remaja laki-laki bertubuh kurus, pemalu, yang usianya terpaut tiga tahun lebih muda di bawahnya (berondong). Dulu, setiap kali Arumi datang ke rumah Nasya untuk belajar kelompok, Dimas selalu duduk sembari mencuri-curi pandang ke arah Arumi, membantunya membawakan tas, atau dengan wajah memerah padam memberikan sekotak susu kotak kesukaan Arumi sebelum melarikan diri ke dalam kamar karena salah tingkah. Semua orang di sekolah tahu kalau Dimas kecil menaruh rasa cinta monyet yang sangat besar kepada sahabat kakaknya itu, namun terhalang oleh perbedaan usia dan status Arumi yang kemudian dipersunting oleh Revan.

​Dan sekarang? Remaja pemalu itu telah menjelma menjadi seorang pria dewasa yang sangat tampan, mapan, berkharisma, dan memiliki pesona yang sanggup membuat wanita mana pun bertekuk lutut.

​"Ya ampun, Dimas... kamu sudah besar sekali ya sekarang. Sukses lagi, sampai pangling Mbak melihatmu," ujar Arumi dengan nada suara yang tulus, meskipun di dalam dadanya tiba-tiba ada sedikit desiran hangat yang aneh karena melihat cara Dimas menatapnya sebuah tatapan mata penuh kekaguman seorang pria dewasa kepada wanita pujaannya, bukan lagi tatapan bocah sekolah.

​"Hehehe, makanya jangan remehkan kekuatan brondong zaman sekolah, Rum!" potong Nasya dengan kedipan mata yang penuh arti godaan, membuat wajah Dimas seketika bersemu merah di bagian telinganya. "Ayo, ayo, silakan duduk dulu. Kita mengobrol santai sambil makan siang."

​Begitu mereka semua duduk mengitari meja makan kayu yang besar, suasana canggung perlahan-lahan mencair karena ketulusan dan kehangatan yang dibawa oleh keluarga Nasya. Hal pertama yang membuat hati Arumi tersentuh secara mendalam adalah bagaimana cara Dimas memperlakukan kedua anaknya, Bintang dan Langit.

​Sifat Dimas ini laksana langit dan bumi jika dibandingkan dengan Revan. Jika dulu Revan selalu menganggap anak-anak sebagai beban pengeluaran, sering membentak mereka jika meminta makanan enak, dan penuh kalkulasi dalam setiap rupiah yang dikeluarkan, Dimas justru sebaliknya. Pria muda itu dengan sangat telaten menarik kursi khusus untuk Langit, membantu Arumi memasangkan serbet kecil di leher Bintang, dan mengajak mereka berdua mengobrol dengan nada suara yang sangat ramah tanpa ada kecanggangan sedikit pun.

​"Bintang suka makan daging sapi, tidak?" tanya Dimas dengan senyuman hangat, menatap lembut ke arah anak laki-laki Arumi.

​Bintang mengangguk pelan, matanya berbinar melihat menu gambar makanan di atas meja. "Suka, Om Dimas. Tapi kata Ayah... eh, maksudnya kata Ayah dulu, daging sapi itu mahal, tidak boleh sering-sering dibeli nanti uang tabungannya habis."

​Mendengar celetukan polos dari mulut anaknya, dada Arumi mendadak berdenyut nyeri karena teringat betapa kikirnya mantan suaminya itu menyiksa batin anak kandungnya sendiri. Nasya yang mendengarnya pun langsung mendengus muak, sementara sepasang mata hitam Dimas berkilat tajam oleh kilatan amarah yang tertahan demi menghormati perasaan Arumi.

​Dimas mengusap rambut Bintang dengan lembut, menenangkan anak itu. "Mulai hari ini, kalau Bintang atau Adek Langit mau makan daging sapi, atau mau makan apa saja yang enak di dunia ini... tinggal bilang sama Om Dimas ya? Om Dimas akan pesankan yang paling besar dan paling enak khusus untuk anak-anak pintar ini tanpa perlu hitung-hitungan uang tabungan. Setuju?"

​"Setuju, Om Dimas! Terima kasih banyak ya!" seru Bintang dengan wajah yang mendadak ceria dan penuh semangat.

​Dimas kemudian memanggil pramusaji, memborong menu-menu terbaik di restoran tersebut mulai dari steak daging wagyu kualitas premium untuk Bintang, sup kaldu iga sapi yang empuk untuk Langit, hingga berbagai macam hidangan laut segar untuk mereka semua. Segala kemewahan hidangan itu dipesan oleh Dimas dengan gestur yang sangat santai, seolah-olah mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk menyenangkan anak-anak Arumi adalah sebuah kebahagiaan terbesar bagi dirinya, bukan sebuah beban materi.

​Arumi yang memperhatikan interaksi tersebut dari samping hanya bisa terdiam dengan dada yang berdesir hebat. Selama sepuluh tahun menikah dengan Revan, ia belum pernah sekalipun melihat sosok figur pria pelindung yang begitu tulus, royal dan mengayomi anak-anaknya seperti yang sedang diperlihatkan oleh Dimas saat ini. Ada rasa aman dan kehangatan yang lama hilang dari batin Arumi yang perlahan mulai terisi kembali.

​Setelah sesi makan siang yang penuh tawa dan kehangatan itu selesai, Bintang dan Langit tampak asyik bermain mewarnai gambar di sudut ruangan VIP yang telah disediakan fasilitas bermain anak oleh pihak restoran, ditemani oleh salah seorang staf restoran yang ramah. Suasana di meja makan pun kini berubah menjadi lebih intim dan santai untuk obrolan orang dewasa.

​Nasya memajukan posisi duduknya, menatap Arumi dengan tatapan mata yang serius namun penuh dengan binar antusiasme.

​"Rum... sejujurnya, selain karena aku kangen setengah mati sama kamu, kedatanganku dan Dimas ke kota ini juga karena ada satu hal besar yang mau kami tawarkan kepadamu," buka Nasya dengan nada suara yang penuh energi bisnis.

​Arumi membetulkan letak duduknya, memandang sahabatnya dengan dahi berkerut bingung. "Hal besar apa, Nas? Soal apa?"

​"Soal masa depanmu dan soal bisnis," jawab Nasya pasti. "Aku tahu sekarang kamu sudah punya uang kas tunai miliaran rupiah dari warisan sah almarhum Pak Praga. Dan aku juga tahu kalau kamu sedang membangun rumah berlantai tiga yang megah di Gang Rejeki. Tapi, Rum... uang miliaran kalau cuma didiamkan di dalam tabungan atau dipakai untuk membangun properti pribadi, nilainya lama-lama akan tergerus inflasi. Kamu butuh sebuah ekosistem bisnis yang kokoh untuk jangka panjang, demi menjamin masa depan Bintang dan Langit sampai mereka kuliah nanti tanpa perlu bergantung pada siapa pun."

​Arumi mengangguk setuju, karena pemikiran itu sebenarnya sempat terlintas di benaknya beberapa hari yang lalu. "Kamu benar, Nas. Aku memang ada niatan untuk membuka usaha setelah proyek rumah Aku selesai. Tapi jujur, Aku masih bingung mau mulai dari mana karena selama sepuluh tahun ini dunia Aku cuma seputar kasur, sumur, dan dapur rumah Revan serta ada pekerjaan aku jadi penulis."

​Nasya tersenyum lebar, lalu menepuk pundak adiknya yang duduk di sampingnya. "Nah! Justru karena itu, Rum! Dari dulu, aku, almarhum bapakmu, bahkan satu sekolah kita tahu kalau kamu itu punya satu bakat luar biasa yang melegenda yaitu Kamu itu pintar dan jago sekali dalam hal memasak! Masakanmu itu punya standar rasa yang otentik, magis dan bikin siapa saja yang mencicipinya pasti ketagihan. Kemarin saja aku dengar dari cerita warga kampung kalau dapur umum proyek rumahmu sukses besar bikin kuli bangunan dan satu desa heboh karena makananmu terlalu enak!"

​Arumi sedikit tersipu malu. "Ah, itu kan cuma masakan rumahan biasa, Nas."

​"Bukan biasa, Mbak Arumi. Itu adalah aset rasa yang bernilai sangat tinggi jika dikelola secara profesional," potong Dimas dengan nada suara yang tegas, berwibawa, namun penuh dengan rasa hormat yang mendalam kepada Arumi.

​Dimas membuka tas kerjanya yang terbuat dari kulit premium, mengeluarkan selembar berkas proposal bisnis yang rapi, lalu menggesernya perlahan ke hadapan Arumi.

​"Mbak Arumi, perkenalkan... perusahaan manajemen yang saat ini Aku kelola di kota sebelah bergerak di bidang penyuplai logistik, ekosistem bahan pangan, dan jaringan legalitas korporasi. Saat ini, perusahaan saya sedang memegang kontrak jangka panjang untuk memenangkan tender suplai konsumsi makanan dan Catering Korporat Skala Besar untuk beberapa instansi kementerian pemerintahan, rumah sakit internasional, serta kawasan industri pabrik multinasional," papar Dimas dengan presentasi yang sangat fasih dan profesional laksana direktur utama sejati.

​Dimas menjeda sejenak, menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Arumi dengan binar keseriusan yang tidak main-main. "Kendala terbesar yang kami hadapi di lapangan saat ini adalah... kami kekurangan mitra dapur utama yang memiliki standar rasa masakan Nusantara yang konsisten, jujur, dan memiliki komitmen tinggi terhadap kualitas rasa. Selama ini, vendor-vendor katering besar dari kota yang kami sewa sering kali menurunkan kualitas rasa masakan mereka demi mengejar keuntungan pribadi, dan itu membuat klien korporasi kami mengeluh."

​Arumi mulai membaca lembar demi lembar proposal yang disodorkan Dimas. Matanya membelalak kecil saat melihat nilai kontrak kerja sama yang tertera di sana, yang nilainya mencapai angka miliaran rupiah per tahun untuk suplai ribuan porsi makanan setiap harinya.

​"Maka dari itu, Mbak..." lanjut Dimas, suaranya melembut, ada nada kedekatan emosional yang ia sisipkan. "Aku dan Mbak Nasya mau menawarkan sebuah proposal kerja sama kemitraan strategis. Aku ingin mengajak Mbak Arumi untuk membangun sebuah perusahaan katering korporat skala besar di kota ini. Skema pembagian tugasnya adalah Mbak Arumi bertindak sebagai pemilik modal utama sekaligus Kepala Konseptual Rasa dan Menu Dapur. Seluruh standar resep, manajemen rasa dan menu makanan berada di bawah kendali penuh mutlak dari Mbak Arumi."

​"Lalu bagianmu?" tanya Arumi, mulai tertarik dengan alur berpikir Dimas yang sangat rapi.

​"Bagian Aku dan tim perusahaan Aku adalah mengurus seluruh manajemen operasional di luar dapur, Mbak. Kami yang akan mengurus izin legalitas hukum perusahaan, manajemen distribusi armada pengantaran, urusan perpajakan, hingga pencarian dan penguncian kontrak-kontrak pasar dengan klien korporasi baru. Jadi, Mbak Arumi tidak perlu pusing memikirkan bagaimana cara memasarkan makanan ini ke luar, karena jaringan pasar milik saya sudah siap menampung ribuan porsi masakan dapur Mbak Arumi setiap harinya sejak hari pertama perusahaan ini berdiri."

​Mendengar pemaparan Dimas yang begitu terstruktur, jelas, aman, dan sangat menguntungkan tersebut, jantung Arumi mendadak berdegup kencang oleh gelora semangat baru yang membara di dalam dadanya. Ini bukan sekadar tawaran bisnis biasa, melainkan sebuah lompatan besar yang akan mengubah statusnya dari seorang janda kaya raya biasa menjadi seorang Pengusaha Wanita Sukses di Industri Kuliner Korporat.

​Namun, bukan Arumi namanya jika ia tidak memikirkan lingkungan sekitarnya. Di tengah lembaran proposal itu, pikiran Arumi langsung tertuju pada wajah-wajah ibu-ibu di Gang Rejeki yang saat ini sedang sangat bahagia membantunya di dapur umum proyek rumahnya.

​"Dimas... proposal bisnismu ini sangat luar biasa dan profesional," ujar Arumi sembari meletakkan kembali berkas tersebut, menatap Dimas dengan tatapan serius. "Tapi ada satu syarat mutlak dari Aku yang tidak boleh ditawar jika kita ingin bekerja sama."

​Dimas menegakkan punggungnya, mengangguk pasti tanpa keraguan. "Silakan, Mbak. Apa syaratnya? Apapun itu, selama untuk kenyamanan Mbak Arumi, akan saya penuhi."

​"Aku ingin... jika dapur utama katering skala besar ini didirikan, seluruh jajaran karyawan bagian produksi dapurmulai dari asisten koki, pemotong bahan makanan, tim pengemas, hingga pencuci peralatan dapur wajib diambil dari warga lokal di Gang Rejeki, terutama ibu-ibu dan para janda tua yang membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarga mereka," cetus Arumi dengan nada suara yang tegas, memancarkan visi kemanusiaannya yang luhur.

​Arumi menyilangkan tangannya di dada, melanjutkan. "Aku tidak mau membangun bisnis yang hanya menimbun kekayaan di dalam rekening saya sendiri sementara tetangga di sekitar saya hanya menonton. Saya ingin dapur umum proyek yang sekarang ada di kampung, ditransformasikan menjadi dapur industri katering profesional berskala besar yang legal. Ibu-ibu di kampung itu masakannya sangat jujur dan bersih, mereka hanya butuh bimbingan standar operasional dari tim manajemenmu agar bisa bekerja secara profesional dengan standar gaji tetap bulanan yang layak."

​Mendengar syarat yang diajukan oleh Arumi, Nasya seketika terkesiap sesaat sebelum akhirnya tersenyum lebar penuh rasa haru dan bangga yang membuncah terhadap sahabatnya. Sementara Dimas? Pria muda itu menatap Arumi dengan tatapan mata yang semakin dipenuhi oleh rasa kekaguman, rasa hormat yang teramat sangat, dan getaran cinta yang kian mendalam. Dimas menyadari bahwa wanita di hadapannya ini bukan hanya sekadar cantik secara fisik atau kaya karena warisan dadakan, melainkan memiliki hati selembar sutra emas dan jiwa pemimpin sosial yang sangat langka ditemukan pada wanita kota zaman sekarang.

​"Luar biasa..." gumam Dimas pelan, senyuman menawannya kembali terkembang di bibirnya. Pria muda itu langsung mengulurkan tangan kanannya ke arah Arumi di atas meja dengan penuh kemantapan.

​"Syarat dari Mbak Arumi tidak perlu ditawar lagi, karena itu adalah ide kemanusiaan yang sangat jenius dan mulia. Saya setuju seratus persen, Mbak. Senin depan, tim legalitas saya akan datang ke Gang Rejeki untuk melakukan survei lokasi tanah dan mengurus perizinan pendirian bangunan dapur industri katering profesional kita, tepat di samping proyek rumah lantai tiga Mbak Arumi. Kita akan rekrut seluruh warga kampung dan memberikan mereka pelatihan standar kerja profesional dengan sistem upah bulanan resmi."

​Dimas menatap lekat-lekat mata Arumi, memberikan penekanan yang manis di akhir kalimatnya. "Selamat datang di dunia bisnis baru kita, Partner-ku... Mbak Arumi Pragati."

​Arumi tersenyum manis, membalas uluran tangan kokoh Dimas dengan genggaman tangan yang mantap. "Terima kasih banyak atas kepercayaannya, Dimas. Mari kita buat bisnis ini sukses bersama."

​Di sudut ruangan, Nasya yang menyaksikan adegan jabat tangan kerja sama itu langsung bersorak kegirangan sembari bertepuk tangan kencang. Di dalam hatinya, Nasya tertawa puas membayangkan bagaimana hancurnya mental dan batin seorang Revan jika mengetahui bahwa mantan istri yang dulu ia sia-siakan, kini tidak hanya menjelma menjadi miliarder rumah lantai tiga, melainkan akan segera melesat naik menjadi bos katering korporat skala besar yang digandeng langsung oleh seorang pengusaha muda, tampan, dan tajir melintir seperti adiknya sendiri, Dimas Eka Prasetya. Langkah awal pembalasan karma berkelas Arumi kini telah menapaki tangga emas baru yang tak akan pernah bisa dijangkau oleh manusia kikir mana pun di dunia ini.

1
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
Uthie
dasar manusia2 Toxic 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!