"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 7
"Dinda, tunggu!"
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggema di lorong rumah sakit. Namun wanita itu tidak menghentikan langkahnya sedikitpun. Air matanya terus jatuh tanpa bisa ia tahan.
Saat ini, rasanya seluruh tubuhnya mati rasa.
Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya bernapas dengan benar.
"Dinda, aku mohon..." Ervin kembali mencekal pergelangan tangan istrinya tepat sebelum pintu lift tertutup.
Sontak, Dinda langsung menoleh dengan tatapan penuh luka.
"Mas masih mau ngomong apa lagi?" tanyanya lirih.
Napas Ervin memburu. Wajah pria itu benar-benar kacau sekarang. Tidak ada lagi sosok Ervin yang selalu terlihat tenang dan berwibawa seperti biasanya.
"Aku bisa jelasin semuanya."
Dinda terkekeh pelan. Namun tawa itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Jelasin?" ulangnya dengan mata memerah. "Mas pikir setelah lihat semuanya tadi, aku masih butuh penjelasan?"
Lift kembali terbuka.
Beberapa pengunjung rumah sakit keluar masuk silih berganti, namun keduanya seolah tidak peduli dengan sekitar mereka.
"Aku nggak pernah cinta sama Jenita."
Kalimat itu sukses membuat Dinda terdiam beberapa detik. Bukan karena percaya. Melainkan karena semakin sakit mendengarnya.
"Jadi... sekarang Mas mau bilang semua ini cuma kecelakaan?" sindirnya pelan. "Hebat banget, ya. Sampai kecelakaannya lahir seorang anak."
Ervin langsung mengusap wajahnya kasar. Pria itu tahu dirinya memang pantas dibenci. Sangat pantas.
"Aku salah..." lirihnya penuh penyesalan. "Aku benar-benar salah."
"Aku tahu."
Jawaban Dinda membuat dada Ervin terasa sesak. Tatapan wanita itu kosong sekarang. Tidak ada lagi kehangatan yang biasa ia lihat setiap hari.
Yang tersisa hanya luka. Luka yang ia buat sendiri.
"Dinda, pulang sama aku dulu. Kita ngobrol baik-baik di rumah." Ervin mulai mengemis. Namun, wanita itu langsung menggeleng pelan.
"Aku nggak mau lihat muka Mas sekarang." Kalimat sederhana itu sukses membuat Ervin terpukul telak. Pria itu refleks menundukkan kepalanya.
Sementara Dinda mulai menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya yang terasa hampir habis.
"Aku capek..." gumamnya lirih.
Satu kalimat itu terdengar begitu rapuh. Dan Ervin membencinya. Ia membenci dirinya sendiri karena menjadi alasan istrinya sehancur ini.
"Dari dulu aku selalu berusaha jadi istri yang baik buat Mas," lanjut Dinda dengan suara bergetar. "Aku nurut. Aku sabar. Bahkan waktu kita belum dikasih anak, aku terus nyalahin diriku sendiri."
Air matanya kembali jatuh.
"Padahal ternyata selama ini yang bodoh itu aku."
"Dinda, jangan ngomong gitu—"
"Tapi emang iya, kan?" potongnya cepat.
"Aku sibuk mikirin perasaan Mas tiap hari, sementara Mas malah sibuk tidur sama perempuan lain."
Deg.
Ervin memejamkan matanya kuat-kuat. Ucapan itu terasa menampar jauh lebih keras daripada tamparan tadi.
"Aku nggak pernah bermaksud menghancurkan kamu..." lirih pria itu.
Dinda tersenyum hambar. "Tapi nyatanya aku hancur sekarang." Hening.
Tidak ada lagi yang mampu Ervin katakan. Karena semua ucapan Dinda memang benar. Dan itu jauh lebih menyakitkan.
Sementara itu, di lantai tiga—Bu Indri masih berdiri mematung di depan ruang persalinan. Wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat pucat setelah mengetahui kenyataan sebenarnya.
Sedangkan Jenita, baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap.
"Mama..." lirih gadis itu lemah begitu melihat sang ibu masuk ke dalam ruangan.
Namun Bu Indri justru menatap putrinya dengan tatapan kecewa yang belum pernah Jenita lihat sebelumnya.
"Kamu puas sekarang?" tanyanya lirih.
Jenita langsung menunduk, air matanya mulai menetes pelan.
"Aku cinta sama Kak Ervin..." ucapnya dengan suara kecil.
"Diam!" Bentakan Bu Indri membuat bahu Jenita bergetar.
"Cinta?" ulang wanita itu penuh emosi. "Kamu nyebut hubungan rebut suami orang itu cinta?"
"Mama nggak ngerti—"
"Yang nggak ngerti itu kamu!" potong Bu Indri cepat. "Kamu masih muda, Jen! Masa depan kamu panjang! Kenapa malah menghancurkan rumah tangga orang?!"
Tangisan Jenita semakin pecah. Sedangkan bayi kecil di samping ranjang mulai merengek pelan. Untuk sesaat, suasana ruangan dipenuhi suara tangisan.
"Mama..." lirih Jenita lagi. "Aku nggak pernah niat nyakitin siapa-siapa."
Bu Indri justru tertawa miris.
"Kalau nggak niat, harusnya kamu berhenti dari awal waktu tahu dia udah punya istri."
Kalimat itu sukses membuat Jenita terdiam. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu ibunya benar.
Sementara di luar rumah sakit—Dinda berdiri sendirian di pinggir jalan.
Tatapannya kosong menatap kendaraan yang berlalu-lalang di depannya. Hujan rintik mulai turun perlahan, membasahi jalanan kota sore itu.
Namun wanita itu tidak bergerak sedikitpun. Pikirannya terlalu penuh.
"Dinda." Suara Ervin kembali terdengar dari belakangnya. Pria itu mendekat perlahan sambil membawa payung hitam.
"Jangan hujan-hujanan."
Namun Dinda justru mundur satu langkah. Gerakan kecil itu membuat dada Ervin terasa nyeri. Karena dulu... Dinda selalu mendekat padanya. Bukan menjauh seperti sekarang.
"Aku takut lihat Mas."
Kalimat itu langsung membuat Ervin membeku. Takut? Istrinya bilang takut padanya?
"Aku nggak akan nyakitin kamu lagi..." lirih pria itu cepat.
Namun, Dinda menggeleng.
"Bukan takut karena itu," ucapnya pelan. "Aku takut kalau aku terus lihat Mas, aku bakal semakin benci."
Deg.
Jantung Ervin seperti diremas kuat-kuat. Dan yang lebih menyakitkan—Ia tidak bisa menyalahkan siapapun selain dirinya sendiri.
"Aku antar kamu pulang," pinta pria itu sekali lagi.
Namun Dinda langsung menghapus air matanya kasar.
"Nggak usah."
Ia segera menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya. Saat pintu mobil terbuka, Ervin refleks kembali menahan tangan istrinya.
"Dinda..." suaranya terdengar parau sekarang. "Jangan tinggalin aku."
Air mata pria itu akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Dinda melihat suaminya menangis sehancur ini.
Namun anehnya... hati nya tetap terasa sakit. Bukan iba, bukan juga puas. Melainkan kecewa. Kecewa karena pria yang begitu ia cintai, justru menjadi orang yang paling menghancurkannya.
Dinda perlahan menatap tangan Ervin yang masih menggenggam pergelangannya.
Lalu dengan sangat pelan... Ia melepaskannya. "Aku butuh waktu."
Setelah mengatakan itu, Dinda masuk ke dalam taksi tanpa menoleh lagi. Sedangkan Ervin hanya mampu berdiri di tengah hujan kecil sambil menatap mobil itu pergi menjauh.
Semakin jauh, semakin sulit ia gapai.
Pria itu menundukkan kepalanya lemah. Tangannya mengepal kuat, sementara air hujan bercampur dengan air mata di wajahnya.
"Pak..." panggil sopir taksi lain yang berhenti di dekatnya. "Mau berteduh dulu?"
Namun Ervin tidak menjawab. Tatapannya masih lurus ke arah jalan tempat istrinya pergi tadi. Kosong, hancur, dan penuh penyesalan.
Karena baru hari ini ia sadar—Satu kesalahan yang ia lakukan, mungkin akan merenggut seluruh hidup yang paling ia cintai.
"Aarghh, sial!" pria itu menendang dedaunan kering di sekitarnya. Sungguh, ia tidak menyangka akan seperti ini.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Din."