NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Satu jam yang diberikan Afrain hampir habis. Di dalam mobil komando berteknologi tinggi miliknya, atmosfer terasa begitu tegang dan mencekam.

Afrain berdiri tegak, matanya yang tajam tidak berkedip menatap layar monitor besar yang menampilkan visual satelit secara real-time.

Berkat kerja keras tanpa henti, tim elite pribadi Afrain akhirnya berhasil memetakan rute pelarian mobil sewaan yang digunakan Alex.

Sinyal nomor samaran yang dibeli Sisil sempat aktif kembali untuk memeriksa balasan, dan kecerobohan itu berakibat fatal.

Tim IT berhasil mengunci titik koordinat sebuah gudang tua yang terbengkalai di pinggiran Jakarta melalui metode cell tower pinging yang sangat akurat.

Melihat lokasi yang terisolasi dan berbahaya, kepala tim keamanan elite melangkah maju dan memberikan saran demi keselamatan.

"Tuan Afrain, koordinat sudah terkunci. Saya menyarankan agar kita menunggu bantuan perimeter dari kepolisian setempat terlebih dahulu agar pengepungan lebih aman."

Namun, Afrain langsung menolak saran itu dengan tatapan mata yang sangat dingin dan menusuk.

"Tidak," jawab Afrain, suaranya terdengar datar namun sarat akan otoritas mutlak yang mengerikan.

"Aku tidak akan membiarkan birokrasi dan sirene polisi memperlambat penyelamatan istriku, atau memicu bajingan itu bertindak nekat."

Afrain mengambil keputusan dengan cepat. Sesuai dengan tuntutan video ancaman Alex, ia memutuskan untuk datang sendiri dan masuk melalui pintu utama sebagai umpan, agar perhatian Alex dan Sisil teralih sepenuhnya kepada dirinya.

Meski begitu, Afrain tidak datang dengan tangan kosong.

Di bawah perintah rahasianya, tim elite pribadi yang mengenakan pakaian taktis hitam langsung bergerak secara senyap (stealth).

Mereka menyusup membelah semak-semak dan kegelapan, mengepung seluruh area gudang tua itu dari berbagai sudut gelap tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Semua moncong senjata kini telah terarah ke dalam gedung, menunggu komando absolut dari sang CEO untuk menghancurkan para penculik itu tanpa sisa.

Di dalam gudang tua yang pengap dan berdebu, Lani berusaha mengulur waktu demi keselamatan dirinya.

Ketika Alex mendekat dan membuka lakban di mulutnya untuk memberinya minum, Lani tidak menangis atau memohon belas kasihan.

Sebaliknya, ia justru menggunakan provokasi psikologis yang tajam.

Dengan suara yang tenang namun menusuk, ia menatap langsung ke dalam mata mantan suaminya.

"Lihat dirimu sekarang, Alex," ucap Lani, suaranya menggema di ruangan yang sunyi.

"Kamu kehilangan pekerjaan, kehilangan harga diri, dan sekarang menjadi seorang kriminal. Sadarlah, hidupmu hancur total seperti ini karena kamu selalu mendengarkan hasutan Mbak Sisil. Dia hanya memanfaatkanmu untuk keserakahannya sendiri!"

Mendengar kata-kata Lani, wajah Alex seketika memucat.

Kalimat itu menghantam telak egonya dan memicu keraguan yang mendalam di dalam hatinya.

"Jangan dengarkan dia, Lex!! Dia cuma mau mengadu domba kita!" pekik Sisil yang menyadari perubahan raut wajah adiknya.

Dengan penuh amarah, Sisil melangkah maju dan kembali menutup mulut Lani dengan lakban hitam secara kasar.

Malam pun tiba, dan badai besar mulai turun memperkeruh suasana di luar gudang.

Deru angin malam dan hantaman air hujan menciptakan atmosfer yang kian mencekam.

Di tengah kegelapan malam, sepasang lampu depan yang terang membelah tirai hujan.

Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan pintu masuk gudang tua tersebut.

Pintu mobil terbuka. Afrain melangkah masuk ke dalam gudang sendirian dengan langkah kaki yang tegap.

Tangannya mencengkeram sebuah koper besar berisi uang tebusan milyaran rupiah sesuai permintaan.

Penampilannya tetap tampak tenang dan berwibawa, namun sepasang matanya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat, siap menguliti siapa saja yang telah menyentuh istrinya.

Melihat kedatangan sang CEO, Sisil tersenyum culas. Ia langsung berteriak dari balik tubuh Lani,

"Lempar koper itu ke arah Alex! Sekarang!"

Afrain tidak membantah. Dengan tatapan dingin, ia melemparkan koper hitam itu hingga mendarat di dekat kaki Alex.

Namun, saat Alex berlutut dan membuka koper untuk memeriksa tumpukan uang di dalamnya, Sisil yang sudah dibutakan oleh keserakahan justru berniat tidak melepaskan Lani hidup-hidup agar rahasia penculikan mereka tidak bocor ke pihak berwajib.

"Lex, setelah ini habisi dia! Tusuk Lani!" perintah Sisil dengan nada kejam, menyodorkan sebilah pisau komando ke tangan adiknya.

Namun, hasutan Lani beberapa jam lalu ternyata berhasil menanamkan benih keraguan dan ketakutan yang luar biasa di kepala Alex.

Tangannya yang memegang pisau mulai gemetar hebat.

Ia menatap Lani, lalu menatap kakinya sendiri, menyadari bahwa melangkah lebih jauh berarti menjebloskan dirinya ke dalam neraka seumur hidup.

Melihat adiknya mulai goyah dan tidak berguna, Sisil mengamuk.

Ia merebut paksa pisau tersebut dan mengambil alih kendali.

Dengan mata melotot kesetanan, Sisil menodongkan senjata tajam itu langsung ke leher Lani, menegaskan bahwa tidak ada lagi jalan untuk kembali.

"Kalau kamu pengecut, biar aku yang lakukan! Kita harus dapat uang itu dan menghabisi Lani sekalian!" gertak Sisil.

Tepat saat Alex hendak melangkah maju dengan ragu untuk menghentikan kakaknya, Afrain mengambil tindakan.

Tanpa suara, ia memberikan kode rahasia melalui satu jentikan jari di balik saku jasnya.

PRANG!! PRANG!!

Dua buah lampu sorot utama yang menerangi gudang tiba-tiba ditembak pecah berkeping-keping oleh penembak jitu (sniper) tim elite Afrain dari luar bangunan.

Dalam sekejap, seluruh ruangan menjadi gelap gulita, menyisakan kepanikan luar biasa bagi Alex dan Sisil yang buta dalam kegelapan.

Namun tidak bagi Afrain. Menggunakan kacamata night vision yang sudah terpasang taktis, ia bisa melihat segalanya dengan sangat jelas.

Afrain bergerak dengan kecepatan kilat membelah kegelapan, menerjang tubuh Alex hingga pria itu tersungkur keras ke lantai beton sebelum sempat menyentuh atau menyakiti Lani.

Dengan gerakan cepat dan sigap, Afrain langsung berhambur memeluk tubuh Lani yang terikat di kursi.

Menggunakan pisau lipat kecil dari saku celananya, ia memotong tali tambang yang melilit tubuh istrinya dan merenggut penutup mulut Lani dalam satu gerakan cepat.

"Mas..." bisik Lani bergetar di dalam dekapan suaminya.

Namun di tengah kegelapan yang pekat itu, sebuah tindakan nekat terakhir terjadi.

Sisil yang kehilangan akal sehatnya karena gelap mata, mengayunkan pisaunya secara membabi buta ke arah bayangan tubuh di depannya demi mengancam nyawa mereka bertiga.

"MAS AFRAIN!!" jerit Lani histeris.

Dalam sapuan malam yang buta, Sisil menusuk kuat punggung Afrain yang ia kira adalah tubuh Lani karena posisi Afrain yang tengah mendekap erat istrinya.

Rasa sakit yang menghantam tidak membuat Afrain melepaskan pelukannya pada Lani.

DOR!!

Tepat pada detik yang sama, sebuah peluru dari senapan runduk milik penembak jitu menembus dinding seng dan menembak tepat di pergelangan tangan Sisil.

Pisau di genggamannya terlepas seketika seiring dengan jeritan kesakitan Sisil yang menggema membelah badai malam.

1
merry yuliana
makasih ceritanya kak 💪💪💪😍🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
yulia nisma
masih nyimak thor kayaknya ceritanya bagus 👍😍
Ame Joh
aku mampir thor, sepertinya seru.
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
cwek nya menye oon😒
falea sezi
🤣🤣 mampuss buang istri baik dpet istri boross bodoh
Dew666
😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!