NovelToon NovelToon
MUTIARA BUMI : Sang Kucing Putih & Sang CEO

MUTIARA BUMI : Sang Kucing Putih & Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

Mutiara Bumi: Sang Kucing Putih dan Sang CEO

Bai Xue adalah makhluk asing berwujud kucing berbulu putih cantik yang datang ke Bumi bersama empat temannya. Misi mereka adalah mengumpulkan Mutiara Energi untuk menyelamatkan planet asal mereka yang terancam punah. Mereka semua bisa berubah wujud menjadi manusia kapan saja.

Di Bumi, Bai Xue berubah menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang mungil, ceria, dan baik hati. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, seorang CEO muda kaya raya yang jenaka, tengil, agak ceroboh, dan memiliki keunikan: ia sangat alergi terhadap kucing.

Awalnya pertemuan mereka penuh insiden konyol, namun lama-kelamaan Xiao Chen mengetahui rahasia Bai Xue dan mulai jatuh hati padanya. Bersama teman-teman alien dan orang-orang kepercayaannya, mereka berusaha mengumpulkan energi sambil melawan musuh yang ingin mencuri kekuatan para alien dan menghancurkan perusahaan Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan Dari Langit Jauh

Sinar matahari pagi masuk menyelinap lewat jendela besar ruang tengah, menerangi sisa-sisa kelelahan yang masih terlihat di wajah penghuni rumah. Setelah pertempuran semalam, seluruh kediaman keluarga Xiao kini kembali tenang, namun udara di sana terasa berbeda—lebih padat energi, lebih hangat, dan penuh dengan rasa persatuan yang kokoh.

Guo Feng sudah diserahkan kepada pihak berwenang dengan bukti-bukti kejahatan yang dikumpulkan secara diam-diam selama bertahun-tahun, sehingga tidak ada lagi celah baginya untuk mengelak atau kembali bebas. Organisasi gelap yang bekerja sama dengannya pun bubar seketika setelah pemimpinnya tertangkap dan kekuatan utamanya hancur.

Xiao Chen duduk di sofa empuk, sambil memegang cangkir teh hangat. Matanya sesekali melirik ke arah Bai Xue yang duduk di dekat jendela, wajah gadis itu masih sedikit pucat namun senyum lembutnya tetap tak hilang. Semalam, ia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menetralkan bom energi, hal yang hampir saja menguras seluruh kekuatan hidupnya. Untunglah, ikatan energi dengan Xiao Chen membuatnya bisa pulih lebih cepat dari makhluk biasa.

"Masih pusing?" tanya Xiao Chen pelan, lalu beranjak duduk di sampingnya, menaruh cangkir itu dan meraih tangan gadis itu dengan lembut.

Bai Xue menggeleng pelan, menoleh dan menatap pemuda itu dengan pandangan penuh kasih. "Sudah jauh lebih baik. Berkat energi yang kau alirkan semalam saat kita pulang... rasanya semua luka dan lelahku hilang seketika. Kau benar-benar sumber kekuatan terbesarku, Xiao Chen."

Pipi Xiao Chen sedikit memerah, ia menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, gaya malu-malu khasnya yang kembali muncul. "Ah... itu sih wajar saja. Kita kan satu darah, satu tujuan. Kalau kau sakit, aku juga sakit rasanya."

Di sisi lain ruangan, Ratu Lien berdiri di depan meja besar tempat Sistem X-9 dipasang. Wajahnya yang biasanya tenang dan lembut kini berubah serius, bahkan sedikit tegang. Alisnya yang halus berkerut rapat, matanya menatap layar proyeksi yang memancarkan cahaya biru samar. Wu Gui berdiri di sebelahnya, wajahnya pun tidak kalah serius, penuh dengan kekhawatiran yang mendalam.

"Ratu... sinyal itu makin kuat dan makin jelas," gumam Wu Gui pelan, jari keriputnya menunjuk satu titik cahaya yang berkedip-kedip di peta langit yang ditampilkan di layar. "Sinyal ini... ini kode darurat tertinggi dari pusat komando di Xing Yun. Sudah puluhan tahun tidak pernah dipancarkan."

Ratu Lien menghela napas panjang, tangannya yang halus menyentuh layar itu seolah ingin merasakan pesan yang datang dari ribuan tahun cahaya jauhnya.

"Aku tahu, Wu Gui. Pesan ini dikirim khusus untukku. Sebagai Ratu yang pergi meninggalkan tugas, sebagai pemimpin yang membawa pergi Mutiara Inti..." Suaranya melembut namun penuh beban berat. "Mereka tidak lagi mengirim utusan biasa. Mereka mengirimkan Armada Penegak Takdir."

Kalimat itu membuat suasana ruangan seketika menjadi hening dan dingin. Feng Huang dan Hu Die yang sedang berpatroli di sekitar ruangan langsung berhenti, menoleh dengan mata terbelalak kaget. Tu Zi yang sedang memakan buah di sudut mulutnya langsung berhenti mengunyah, matanya melotot besar.

"Armada... Armada Penegak Takdir?!" seru Tu Zi kaget, suaranya melengking karena terkejut. "Bukan kah itu pasukan paling kuat, paling tegas, dan paling tak tersentuh di seluruh planet kita? Mereka tidak pernah bergerak kecuali dalam keadaan paling gawat, atau saat ada yang dianggap mengkhianati bangsa!"

Xiao Chen dan Bai Xue langsung berdiri, perasaan nyaman dan tenang yang tadi ada lenyap seketika digantikan rasa waspada. Xiao Chen berjalan mendekati ibunya, menatap layar itu lalu menatap wajah ibunya yang penuh beban.

"Ibu... apa maksudnya semua ini? Mereka datang ke sini? Mereka mau apa? Kita kan sudah berusaha mengumpulkan energi untuk dikirim pulang. Kita kan sedang berusaha menyelamatkan planet itu seperti yang diperintahkan dulu..."

Ratu Lien berbalik menghadap putranya, matanya berkaca-kaca namun tatapannya tetap tegas. Ia mengusap pipi Xiao Chen dengan lembut.

"Memang begitu niat kita, Nak. Tapi di sana... keadaan berubah. Dewan Tertinggi yang memerintah sekarang berbeda dengan saat aku pergi dulu. Mereka percaya bahwa satu-satunya cara menyelamatkan Xing Yun bukanlah dengan mengumpulkan energi perlahan-lahan, melainkan dengan mengambil alih sumber energi terbesar yang ada di alam semesta ini... yaitu Bumi. Mereka ingin menaklukkan planet ini, menguras seluruh isinya, dan memindahkan seluruh sisa bangsa kita ke sini dengan paksa."

Hening kembali menyelimuti ruangan. Kata-kata itu terdengar begitu mengerikan. Mengambil alih Bumi? Menguras sumber dayanya? Itu berarti perang. Itu berarti menghancurkan tempat tinggal manusia, menghancurkan kehidupan yang damai ini.

"Mereka gila?!" seru Xiao Chen tak percaya, suaranya meninggi karena marah. "Bumi ini rumahku! Rumah semua orang yang aku cintai! Bagaimana mungkin mereka tega menghancurkan tempat ini demi menyelamatkan tempat lain?! Dan... dan Ibu dianggap pengkhianat karena Ibu tidak melakukan itu, kan? Karena Ibu memilih damai, memilih cara yang tidak menyakiti siapa pun!"

"Benar, Nak," jawab Ratu Lien pelan namun tegas. "Aku dianggap pengkhianat karena aku menolak perintah terakhir itu. Aku datang ke sini untuk mencari cara damai, untuk menyelamatkan kedua dunia tanpa ada yang hancur. Dan saat aku melahirkanmu, saat kau lahir sebagai makhluk campuran yang bisa menjembatani dua dunia... aku tahu caranya ada padamu. Tapi Dewan Tertinggi tidak sependapat. Bagi mereka, cara damai terlalu lambat dan terlalu berisiko. Mereka ingin kekuasaan dan hasil instan."

Wu Gui menunjuk kembali layar yang kini menampilkan perhitungan lintasan benda asing itu.

"Mereka akan tiba di orbit bumi dalam waktu tujuh hari lagi. Pesan yang mereka kirimkan itu adalah ultimatum. Seruan untuk Ratu Lien menyerahkan diri beserta Mutiara Inti dan seluruh penjelajah yang bersamanya. Jika dalam tujuh hari kita tidak menyerah... mereka akan turun dengan kekuatan penuh, menganggap kita musuh, dan mulai menyerang penduduk bumi untuk mengambil apa yang mereka inginkan."

Bai Xue melangkah maju, wajahnya pucat namun matanya menyala berapi-api. Ia adalah penjelajah, ia dikirim untuk misi damai, namun kini negaranya sendiri datang untuk berperang.

"Itu tidak adil... Kami dikirim ke sini dengan tujuan mulia, tapi kini tujuan itu berubah menjadi kejahatan. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti Bumi, menyakiti Xiao Chen, atau menyakiti siapa pun di sini. Ini juga rumahku sekarang."

Feng Huang mengepal tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras. "Armada Penegak itu kuat, sangat kuat. Persenjataan mereka jauh di atas apa pun yang pernah kita lihat. Jumlah pasukannya ribuan kali lipat lebih banyak dari kita. Melawan mereka sama saja melawan seluruh kekuatan militer Xing Yun."

"Kita tidak akan kalah," suara Xiao Chen terdengar lantang dan tegas, memotong ketakutan yang mulai menjalar. Ia berdiri tegak, dada membusung penuh keyakinan. Ia menatap ibunya, lalu menatap Bai Xue dan teman-temannya satu per satu.

"Dulu Guo Feng dan alat canggihnya kalian anggap sulit, tapi kita kalahkan bersama-sama. Dulu kekuatan kita belum utuh, belum paham, tapi kita tetap bertahan. Sekarang kita sudah lengkap. Ada Ibu yang Ratu sejati, ada kalian yang hebat, dan ada aku... yang dulunya cuma anak manja, tapi sekarang punya darah dan kekuatan kalian."

Ia melangkah ke tengah ruangan, berdiri di bawah cahaya lampu yang terang, seolah menjadi tiang utama kekuatan mereka.

"Mereka bilang mereka datang membawa hukum dan kekuasaan? Biarkan saja. Kita punya kebenaran, kita punya kasih sayang, dan kita punya ikatan yang tidak bisa mereka hancurkan. Kita akan tunjukkan pada mereka bahwa cara damai itu mungkin. Kita akan tunjukkan bahwa dua dunia ini bisa hidup berdampingan, saling menguatkan, bukan saling menghancurkan."

Xiao Chen berbalik menatap layar proyeksi itu, menatap titik cahaya yang semakin dekat itu dengan tatapan menantang.

"Tujuh hari. Kita punya waktu tujuh hari untuk bersiap, untuk mengumpulkan sisa energi yang kita butuhkan, dan untuk menguatkan diri. Kita tidak akan lari, kita tidak akan menyerah. Kita akan hadapi mereka saat mereka datang. Dan aku... aku yang akan bicara pada mereka. Aku yang akan mewakili kedua dunia ini."

Ratu Lien menatap putranya dengan mata berbinar bangga. Wajah itu, sikap itu, wibawa itu... persis seperti almarhum suaminya, namun juga memancarkan keagungan seorang pemimpin bangsa bintang.

"Kau sudah dewasa, Nak. Kau benar-benar sudah menjadi pemimpin yang aku harapkan. Ibu tidak lagi perlu melindungimu sendirian. Kau kini pelindung kami semua," ucap Ratu Lien dengan suara bergetar bahagia.

Ia berjalan mendekat, berdiri di samping putranya, lalu mengangkat tangan kanannya ke udara. Dari telapak tangannya, cahaya keemasan dan perak memancar, menyatu dengan cahaya yang keluar dari liontin di dada Xiao Chen.

"Baiklah. Mulai detik ini, kita masuk ke tahap terakhir misi kita. Tujuh hari ke depan akan menjadi hari terberat namun terpenting dalam sejarah kedua bangsa kita. Kita akan tunjukkan pada Dewan Tertinggi bahwa Ratu mereka tidak salah jalan, dan bahwa anaknya adalah harapan sejati yang selama ini dicari alam semesta."

Wu Gui mengangguk tegas, lalu mulai mengatur rencana. "Saya akan hitung ulang persiapan pertahanan dan cara memperkuat perisai energi rumah ini agar tidak terdeteksi dan bisa menahan serangan awal. Feng Huang, Hu Die... kalian bertugas memantau setiap pergerakan di langit dan bumi. Jangan sampai ada apa pun yang lolos dari pengawasan kita."

Tu Zi melompat girang meski bahaya mengancam. "Dan aku?! Aku mau ikut bertempur juga! Aku bisa lari cepat membawa pesan, atau mengganggu musuh sampai mereka pusing!"

Semua orang tersenyum melihat semangat gadis kecil itu. Meski berat beban yang dipikul, setidaknya suasana tegang itu sedikit mencair.

Bai Xue berjalan mendekati Xiao Chen, berdiri tepat di sampingnya, bahu mereka bersentuhan. Ia menatap wajah samping pemuda itu dengan rasa kagum yang makin dalam.

"Dulu aku yang seharusnya memimpin misi ini. Tapi sekarang... kau yang memimpin kami semua, Xiao Chen. Keberanianmu dan hatimu yang besar itulah kekuatan yang sebenarnya. Aku akan selalu di sampingmu, apa pun yang terjadi. Sampai napas terakhirku."

Xiao Chen menoleh, menatap mata indah itu lekat-lekat. Ia menggenggam tangan gadis itu, mengaitkan jari-jari mereka dengan erat.

"Dan aku di sampingmu. Kita akan hadapi semuanya berdua. Kalau mereka mau perang, kita lawan. Kalau mereka mau bicara, kita bicara. Tapi satu hal yang pasti... tidak ada yang akan memisahkan kita, dan tidak ada yang akan merusak kedamaian di sini."

Di luar jendela, langit masih cerah dan indah, namun di kejauhan, jauh di antara bintang-bintang, ada bayangan besar yang perlahan mendekat, membawa kekuatan dahsyat dan niat yang bercampur aduk.

Tujuh hari saja. Tujuh hari untuk menyatukan kekuatan, tujuh hari untuk menentukan nasib dua dunia.

Petualangan mereka yang dimulai dari pertemuan tak terduga, rahasia yang terungkap, dan pertempuran melawan musuh di bumi... kini mencapai puncaknya. Bahaya terbesar, tantangan terberat, dan keputusan paling sulit kini ada di depan mata.

Dan di tengah semua itu, cinta yang tumbuh di antara pemuda manusia dan gadis penjelajah bintang itu menjadi kunci segalanya. Cinta yang mampu menembus perbedaan dunia, cinta yang menjadi jembatan perdamaian, dan cinta yang akan membuktikan bahwa di alam semesta yang luas ini, hal terkuat bukanlah senjata atau kekuasaan, melainkan keinginan tulus untuk melindungi dan dicintai.

Persiapan pun dimulai. Napas mereka tersinkronkan dengan detak jantung bumi yang berdebar menanti kedatangan tamu dari langit jauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!