Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Kecelakaan
Malam itu, Jakarta masih hidup seperti biasa.
Lampu gedung-gedung tinggi menyala terang, jalanan dipenuhi kendaraan yang seakan tidak pernah lelah bergerak, dan suara kota terus berdengung tanpa henti.
Namun di lantai atas gedung PT Argas, ada satu ruangan yang justru terasa sunyi. Ruangan kerja Arvano. Lampu putih menerangi meja besar yang dipenuhi dokumen. Laptop masih menyala, menampilkan laporan yang belum selesai. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21.47. Hampir jam sepuluh malam.
Arvano masih duduk di kursinya. Kemeja putihnya sudah kusut di bagian lengan. Jasnya tergeletak di kursi samping. Dasi sudah dilepas sejak tadi sore.
Tatapannya masih fokus ke layar.
Tapi, tubuhnya tidak. Arvano menekan pelipisnya perlahan karena pusing, sudah dari tadi. Tapi, seperti biasa Arvano mengabaikannya.
Baginya, lelah bukan alasan untuk berhenti. “Sedikit lagi” gumamnya pelan. Namun matanya sempat terpejam sesaat. Hanya satu detik. Tapi, cukup untuk menunjukkan Arvano sudah benar-benar kelelahan.
Pukul 22.03. Arvano akhirnya berdiri terus mematikan laptopnya, merapikan beberapa dokumen, lalu mengambil jasnya.
Langkahnya masih tegap. Tapi, tidak secepat biasanya.
Di parkiran, udara malam terasa lebih dingin.
Arvano masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesinya. Lampu menyala. Dan mobil itu keluar dari area gedung.
Jalanan malam itu masih cukup ramai. Lampu-lampu kendaraan saling bersilangan. Tapi, entah kenapa semuanya terasa lebih silau.
Arvano menyipitkan mata. Tangannya memegang setir lebih erat. Kepalanya semakin berat. Namun tetap dilanjutkan.
Beberapa menit kemudian, mobilnya sampai di rumah. Begitu masuk kamar, Arvano bahkan tidak sempat berpikir panjang. langsung menjatuhkan dirinya ke kasur dan tertidur. Tanpa makan, tanpa mengganti baju, tanpa berpikir apa pun.
Pagi datang. Alarm berbunyi. Arvano membuka mata perlahan. Tubuhnya terasa berat, kepalanya masih terasa pusing. Tapi, tetap bangun.
Seperti biasa. Di ruang makan, Indah sudah duduk.
Bagaskara membaca koran. Aurel dan Feni menyiapkan sarapan. Arvano duduk, diam. Tanpa banyak bicara.
“Ada meeting pagi ini?” tanya Bagaskara.
“Iyaa,” jawab Arvano singkat.
Indah memperhatikan wajah anaknya. “Kamu kelihatan capek.”
“Biasa.” Sahut Arvano yang singkat.
Aurel yang berdiri di samping meja sempat melirik sekilas. Ia tidak berani lama-lama. Tapi, cukup untuk melihat.
Arvano tidak seperti kemarin. Lebih pucat, lebih diam dan entah kenapa terlihat tidak baik-baik saja.
Hari berjalan cepat. Meeting demi meeting selesai.
Arvano tetap profesional, tetap dingin dan tetap sempurna di depan semua orang.
Tidak ada yang tahu di dalam dirinya, kepalanya terus berdenyut.
Pukul 14.30. Arvano akhirnya keluar dari ruang meeting. Langkahnya sedikit goyah. Arvano memegang pelipis lagi.
“Pulang saja.” gumamnya pelan. Arvano tidak biasanya pulang lebih cepat. Tapi, kali ini tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
Langit siang mulai redup. Awan mendung perlahan datang. Jalanan tidak terlalu padat. Mobil Arvano melaju stabil.
Namun, beberapa menit kemudian…
Pandangan Arvano mulai kabur. Lampu jalan terlihat ganda, kepalanya berdenyut lebih keras. Arvano mencoba fokus. “Tahan.” Tangannya menggenggam setir lebih erat.
Tapi, semuanya terlambat. Satu detik, Dua detik.
Pandangannya gelap sesaat.
BRAKK!
Suara keras menggema, mobilnya menabrak pohon di pinggir jalan. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat bagian depan mobil rusak dan Arvano tidak bergerak.
Beberapa orang mulai berkumpul. Suara panik terdengar.
“Eh, ada kecelakaan!”
“Cepat lihat!”
Di antara kerumunan itu, Seorang pria datang dengan cepat yaitu Alga.
Alga kebetulan lewat, Awalnya hanya ingin jalan-jalan karena hari itu Alga libur.
Tapi begitu melihat mobil itu, matanya langsung membesar. “Itu mobilnya Arvano.” Alga segera berlari.
“Van!” panggil Alga dengan mengetuk pintunya. Arvano masih sadar, tapi lemah.
Alga membuka pintu dengan cepat.
“Van, lu denger gue?”
Arvano mengerjap pelan.
“Ga.... pusing” Alga langsung panik.
“Ambulans! Cepat panggil ambulans!”
Tak lama, suara sirine terdengar.
Arvano dibawa ke Rumah Sakit Medika. Lampu putih. Suasana tegang. Perawat berlari. Dokter langsung menangani.
Alga berdiri di luar ruang IGD. Tangannya gemetar.
Alga langsung mengeluarkan ponsel.
Menelpon.
“Devon, Fero… cepat ke Rumah Sakit Medika.”
terus Alga menarik napas dan menekan nomor berikutnya.
“Bu Indah.” Suaranya pelan, Tapi penuh tekanan.
Tidak butuh waktu lama. Indah datang pertama.
Wajahnya panik. “Arvano mana?!”
Alga berdiri. “Masih di dalam, Bu,”
Bagaskara datang menyusul. Langkahnya cepat, Tapi wajahnya tetap keras. “Apa yang terjadi?”
“Kecelakaan ringan, Pak. nabrak pohon.” Sahut Alga.
“Kenapa bisa?” Ucap Bagaskara dengan heran.
Alga terdiam. “Arvano kelihatan pusing tadi.”
Bagaskara menghela napas panjang.
Kesal. Tapi juga khawatir.
Tak lama, Devon dan Fero datang.
“Ga... gimana?” Ucap berbarengan.
“Belum keluar”
Mereka semua menunggu. Sunyi. Tegang
Waktu berjalan lambat. Detik terasa seperti menit.
Dan dalam keheningan itu, semua orang mulai menyadari sesuatu.
Arvano selama ini selalu terlihat kuat. Tidak pernah sakit, tidak pernah lemah, tapi hari ini. Untuk pertama kalinya Arvano terlihat seperti manusia biasa. Yang bisa jatuh, bisa lelah dan bisa hampir kehilangan segalanya.
Pintu ruang IGD akhirnya terbuka. Dokter keluar.
Semua langsung berdiri.
“Bagaimana, Dok?” Ucap Bagaskara.
Dokter membuka masker. “Pasien tidak mengalami luka serius. Hanya benturan ringan dan kelelahan.”
Semua langsung menghela napas lega.
“Tapi…” lanjut dokter.
Semua kembali tegang.
“.....Kondisinya sangat lelah, harus istirahat total. Tidak boleh dipaksakan kerja.”
Indah menutup mulutnya. Bagaskara diam. Alga menunduk.
Malam itu, Mereka semua memutuskan untuk tetap di rumah sakit. Menemani Arvano, menjaganya, dan menunggunya.
Di dalam kamar perawatan, Arvano terbaring. Matanya perlahan terbuka. Pandangan pertama yang Arvano lihat, bukan keluarganya, dan juga bukan temannya. Tapi melainkan bayangan samarnya seseorang. Yaitu seorang gadis, yang berdiri di dapur, yang selalu terlihat gugup, dan Yang jatuh dua kali ke pelukannya, ialah Aurel.
Arvano mengerjap pelan, lalu menutup mata lagi.
Dan tanpa Arvano sadari, Seseorang di rumah juga tidak bisa tidur malam itu. Karena firasat aneh yang tidak bisa dijelaskan.