NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Diri yang Terinjak

Nayla menutup pintu kamar dengan keras, tubuhnya merosot ke lantai. Air mata yang selama ini ditahannya kini mengalir deras tanpa kendali. Dada sesak, seolah seluruh dunia menindihnya. Bagaimana bisa rahasia keluarganya yang paling menyakitkan dibongkar di depan semua orang? Utang ibunya untuk pengobatan adiknya, Adi, yang menderita kanker darah tahun lalu itu bukan sekadar angka. Nayla harus bekerja keras ,berhemat dan menahan lapar agar uangnya bisa dikirim ke kampung.

Ia memeluk lututnya, bahu berguncang. "Kenapa ... kenapa harus seperti ini?" gumamnya di antara isak.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan. "Nayla ... buka pintunya."

Suara Gibran. Rendah, tenang, tapi ada getar yang berbeda kali ini. Bukan suara dingin seperti biasanya saat mereka berpura-pura sebagai pasangan.

Nayla tidak menjawab. Ia bangkit, berjalan ke tempat tidur, dan duduk di tepinya sambil menyeka air mata dengan punggung tangan. Pintu kembali diketuk, kali ini lebih tegas.

"Gue masuk ya," kata Gibran tanpa menunggu jawaban.

Pintu terbuka perlahan. Gibran berdiri di ambang pintu, jas hitamnya masih rapi, tapi rambutnya sedikit acak-acakan karena ia menyisirnya dengan kasar tadi. Matanya menatap Nayla dengan campuran amarah, penyesalan, dan sesuatu yang lebih lembut sesuatu yang bahkan ia sendiri belum mau namai.

Ia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekat. Duduk di kursi di depan Nayla, menjaga jarak agar perempuan itu tidak merasa terancam.

"Gue minta maaf," ucap Gibran pelan. "Papa ... dia keterlaluan. gue tidak tahu papa melakukan investigasi sampai sejauh itu."

Nayla mendongak. Matanya bengkak, tapi tatapannya tajam. "Kamu tahu apa tentang keluargaku, Mas? Selama ini kamu hanya melihatku sebagai beban kontrak tiga bulan itu. Sekarang rahasiaku dibongkar, dan aku yang disebut oportunis? Penjebak?"

Gibran menghela napas panjang. Rahangnya mengeras mengingat kata-kata ayahnya di meja makan tadi. "Gue tahu lebih dari yang lu kira. Gunawan memang melapor ke Papa, tapi gue sudah membaca laporannya sebelum Papa kembali dari Singapura. dan gue sudah tahu tentang utang ibumu. Tapi gue tidak pernah menganggap lu seperti yang Papa tuduhkan."

Nayla tertawa pahit. "Lalu kenapa kamu diam saja tadi? Kenapa kamu biarkan ayahmu menghinaku seperti itu?"

"Karena gue marah," jawab Gibran jujur. "Bukan marah pada lu,tapi marah pada Papa yang melanggar kesepakatan. Kami sepakat tiga bulan ini hanya sandiwara untuk menenangkan kakek. Tapi Papa malah mengorek privasi lu . Itu bukan cara Mahardika."

Ruangan sunyi sejenak. Hanya terdengar suara AC dan detak jam dinding. Nayla menunduk, memainkan ujung gaun tidurnya yang sederhana.

"Aku memang menolak dijodohkan dengan Pak Haji di kampung," katanya pelan. "Ibuku putus asa. Adikku hampir meninggal. Tapi aku tidak mau menjual diri. Malam itu ... kamu yang datang ke teras rumahku dalam keadaan mabuk berat. Kamu bilang kamu lelah jadi pewaris, lelah dengan tekanan, lalu kamu pingsan. Warga yang datang karena mendengar keributan. Aku tidak merencanakan apa pun."

Gibran mengangguk. "Gue ingat. Samar-samar. gue kabur dari pesta bisnis dan mabuk. Bodoh sekali."

Ia berdiri, lalu berlutut di depan Nayla agar mata mereka sejajar. Gerakan itu membuat Nayla terkejut. Gibran Mahardika, pewaris grup besar, berlutut di depan seorang gadis kampung.

"Gue tidak akan membiarkan ini terus begini," kata Gibran tegas. "Mulai besok, gue akan bicara langsung dengan Papa. Perjanjian tiga bulan kita tetap berjalan, tapi gue akan lindungi kamu. Tidak ada lagi investigasi, tidak ada hinaan."

Nayla menatapnya lama. Ada kehangatan di mata Gibran yang selama ini jarang ia lihat. "Kenapa Mas Gibran tiba-tiba peduli? Ini hanya sandiwara, kan?"

Gibran tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali muncul. "Mungkin awalnya iya. Tapi melihat lu berdiri membela diri tadi ... dengan air mata tapi tetap angkat kepala. Itu bukan sandiwara. Lu punya harga diri yang lebih tinggi dari gedung-gedung Mahardika ini."

Tiba-tiba pintu kamar diketuk lagi. Suara Renata terdengar khawatir. "Nak, Mama boleh masuk?"

Gibran bangkit dan membuka pintu. Renata masuk dengan wajah pucat. Baskoro tidak ikut mungkin masih marah di ruang makan.

"Nayla sayang ..." Renata mendekat dan memeluk menantu siri-nya itu. "Mama minta maaf. Papa terlalu emosional. Dia takut kamu menyakiti Gibran, tapi caranya salah."

Nayla hanya diam, membalas pelukan itu dengan kaku.

" Gibran benar. Kita harus bicara baik-baik sebagai keluarga. Besok pagi Papa pasti sudah tenang."

Malam itu, Gibran memutuskan tidur di sofa panjang di dalam kamar utama. Ia tidak memaksa Nayla berbagi ranjang. Nayla berbaring di tempat tidur besar itu, memandang langit-langit kamar mewah yang terasa asing. Pikirannya berkecamuk. Apakah ini awal dari sesuatu yang nyata, atau hanya sementara?

Keesokan paginya, suasana griya tawang masih tegang. Baskoro duduk di kepala meja makan dengan wajah dingin. Gibran dan Nayla turun bersama. Nayla mengenakan dress sederhana warna krem yang dibelikan Renata, rambutnya diikat rapi.

Baskoro membuka mulut, tapi Gibran langsung memotong.

"Papa, sebelum bicara apa pun, aku ingin Papa dengar dulu," kata Gibran tegas. "Nayla bukan musuh. Dia istri saya. Dan mulai sekarang, siapa pun yang menyakitinya, berarti menyakitiku juga."

Baskoro mengerutkan kening. "Kamu dibutakan perempuan ini, Gibran."

"Tidak," balas Gibran. "Saya membuka mata. Selama ini Papa mengatur hidup saya. Bisnis, pernikahan, bahkan emosi. Kali ini, saya yang memilih. Saya pilih melindungi Nayla."

Nayla yang duduk di sampingnya merasakan tangan Gibran meraih tangannya di bawah meja. Genggaman hangat, kuat. Degup jantungnya berubah.

Renata tersenyum tipis, bangga melihat anaknya. Januar mengangguk setuju.

Baskoro diam lama. Akhirnya ia mendesah. "Baiklah. Tiga bulan tetap berjalan. Tapi jika terbukti ada niat buruk, aku tidak akan segan-segan."

"Itu tidak akan terjadi," jawab Gibran yakin.

Setelah sarapan, Gibran mengajak Nayla ke taman belakang griya tawang. Bunga-bunga tropis mekar indah di bawah sinar matahari Jakarta yang hangat.

"Kamu tidak perlu kembali ke kontrakan," kata Gibran. "Tinggal di sini. Kita jalani tiga bulan ini dengan benar."

Nayla menatap kolam ikan koi. "Mas ... aku takut. Semua ini terlalu cepat. Harta, kekuasaan, keluarga besar. Aku hanya gadis biasa."

Gibran berhenti di depannya. "Lu bukan gadis biasa. lu perempuan yang berani berdiri melawan Baskoro Mahardika demi harga diri. Itu langka."

Perlahan, Gibran mengangkat tangan dan menyeka sisa air mata kering di pipi Nayla. Sentuhan itu lembut, membuat Nayla merinding.

"Berikan Gue kesempatan untuk membuktikan bahwa pernikahan ini bukan jebakan," bisik Gibran. "Bukan jebakan dari lu , juga bukan dari gue."

Nayla mengangguk pelan. Senyum kecil muncul di bibirnya untuk pertama kalinya hari itu. "Baiklah, Mas. Tapi janji, tidak ada lagi rahasia yang dibongkar paksa."

"Janji."

Hari-hari berikutnya berlalu dengan perubahan pelan. Gibran mulai pulang lebih awal, membawa Nayla makan malam di luar, mengajarinya sedikit demi sedikit tentang dunia bisnis Mahardika. Nayla pun mulai berani berbicara di depan Renata dan Januar. Baskoro masih kaku, tapi tidak lagi terang-terangan memusuhi.

Suatu malam, saat hujan deras mengguyur Jakarta, Nayla dan Gibran duduk di balkon kamar utama. Nayla bersandar di bahu Gibran, selimut tebal menutupi mereka berdua.

"Mas tahu tidak," bisik Nayla. "Awalnya aku benci kamu. Tapi sekarang ... aku mulai takut tiga bulan ini cepat berlalu."

Gibran memeluknya lebih erat. "Kalau begitu, kita perpanjang kontraknya. Selamanya."

Tawa kecil Nayla bercampur dengan derai hujan. Di dalam dada keduanya, sandiwara mulai berubah menjadi cerita cinta yang sesungguhnya penuh luka, tapi juga harapan baru.

Di lantai bawah, Baskoro berdiri di depan jendela, memandang hujan. Ia menghela napas. Mungkin, pikirnya, perempuan kampung itu memang bukan ancaman. Mungkin ia justru penyelamat bagi anaknya yang selama ini terlalu dingin.

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!