King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Tiga hari berlalu seperti deretan angka digital di monitor ruang rawat intensif—cepat, monoton, namun penuh dengan ketegangan yang konstan.
Bagi Olivier Martinez, setiap detik yang ia habiskan di dalam Stone Hospital kini terasa seperti berjalan di atas lapisan es tipis yang siap retak kapan saja.
Di dalam kamarnya yang sunyi di unit apartemen Lincoln Park, ketakutan itu mewujud menjadi mimpi buruk yang nyata setiap kali ia memejamkan mata. Olivier adalah seorang ibu.
Dan bagi seorang ibu yang menyembunyikan darah daging klan Stone di jantung kota kekuasaan mereka, Chicago bukan lagi sekadar kota metropolitan tempat ia meniti karier; tempat ini adalah sangkar singa yang kelaparan.
Setiap kali melihat Nora Amelie membaca buku atau tersenyum di meja makan, dada Olivier terasa dihantam godam tak kasat mata.
Bentuk rahang putrinya, cara matanya menyipit saat berpikir, hingga ketegasan alami yang mulai tumbuh pada diri bocah berusia hampir sepuluh tahun itu adalah replika genetika yang tidak bisa disangkal dari pria yang saat ini mendekam di lantai empat rumah sakit tempatnya bekerja.
Jika klan Stone—dengan segala gurita kekuasaan, hukum legal yang bisa mereka beli, dan kekejaman yang tertanam dalam silsilah keluarga mereka—mengetahui keberadaan Nora, Olivier tahu dia tidak akan pernah menang di pengadilan mana pun.
Mereka akan merenggut Nora dari pelukannya, menjadikannya pion baru dalam catur kekuasaan klan, dan membuang Olivier ke tempat yang paling dalam.
Ketakutan itulah yang menuntun langkah kaku Olivier kembali ke kamar VIP nomor satu pada sore hari itu.
Hari ini adalah kunjungan terakhirnya secara resmi. Grafik pemulihan fisik King Stone menunjukkan angka yang luar biasa; luka tusukan di perutnya telah menutup dengan baik, tanda-tanda vitalnya stabil, dan Dr. Richard telah menandatangani surat izin pulang yang berlaku untuk esok pagi.
Saat Olivier mendorong pintu kamar, suasana ruangan tampak berbeda. Tidak ada tablet bisnis yang menyala, tidak ada Kendrick yang duduk membawa dokumen pelabuhan, dan tidak ada pengawal yang berjaga di dalam.
Hanya ada King Stone, duduk di tepi ranjang medisnya dengan kemeja hitam longgar yang sudah menggantikan piyama rumah sakit.
Melihat Olivier masuk dengan jubah putih dan papan klip medis di tangannya, King tidak langsung melayangkan senyuman miringnya yang biasa. Pria itu menatapnya dengan pandangan yang dalam, sepasang mata elangnya memancarkan kilat yang tidak bisa dibaca, namun sarat akan keseriusan yang pekat.
Olivier berjalan mendekat, mempertahankan jarak profesional dua langkah di dekat tiang infus yang kini sudah kosong. Ia mencatat baris angka terakhir di lembar dokumen tanpa mendongak.
"Semua hasil pemeriksaan akhir Anda sudah keluar, Tuan Stone," ucap Olivier, suaranya mengalir datar, sedingin es, tanpa ada riak emosi dari sandiwara beberapa hari lalu.
"Jahitan Anda dalam kondisi sangat baik. Besok pagi jam sembilan, Anda sudah diizinkan pulang. Resep obat jalan dan jadwal kontrol pertama dalam dua minggu ke depan sudah saya serahkan ke kepala perawat."
King tidak merespons detail medis itu. Ia menurunkan kakinya dari tepi ranjang, menapakkan kakinya di lantai, lalu menegakkan tubuh tegapnya. Kehadirannya seketika mendominasi ruangan, mengikis pasokan oksigen di sekitar Olivier.
"El," panggil King, suaranya berat, bariton, dan bergetar oleh sesuatu yang datang dari lubuk hatinya yang terdalam. Ia melangkah satu blok ke depan, mengunci pandangan Olivier.
"Pertemuan kita kembali di ruang darurat malam itu... setelah sepuluh tahun... menurutmu, apakah ini takdir? Apakah ini kesempatan yang diberikan Tuhan agar aku bisa menebus seluruh kesalahan masa lalu kita?"
Pertanyaan itu terdengar begitu tulus, begitu telanjang hingga mampu membuat dinding pertahanan wanita mana pun runtuh.
Namun tidak bagi Olivier. Di dalam kepalanya, alarm bahaya tentang keselamatan Nora berdering keras. Ia tidak boleh membiarkan romansa masa lalu ini menyentuh hidupnya lagi.
Olivier mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata King dengan tatapan yang kosong dan mati. "Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan, Tuan Stone. Dan saya tidak pernah punya masa lalu bersama Anda."
King tertegun, rahangnya mengetat mendengarkan penolakan dingin yang begitu mutlak.
Kilat frustrasi melintas di matanya, memicu sisi arogan sang pangeran Stone untuk kembali ke permukaan. King maju satu langkah lagi, memotong jarak hingga Olivier bisa merasakan kehangatan napasnya.
"Kau tidak pernah punya masa lalu bersamaku?" King berbisik dengan nada rendah yang berbahaya, sebuah senyuman getir terukir di bibirnya.
"Apa kau lupa bagaimana kau dulu pernah mendesah atas namaku, Olivier? Apa kau lupa setiap jengkal sentuhanku di kulitmu?"
Plak!
Olivier tidak menampar wajah King, melainkan menghentakkan papan klip medisnya ke atas meja nakas dengan bunyi yang sangat keras, matanya menyala oleh kilat amarah yang pekat.
"Berengsek kau, mesum!" desis Olivier, giginya gemertak karena malu dan marah yang bercampur menjadi satu. "Jaga bicaramu! Ini rumah sakit, dan saya adalah doktermu!"
King tidak mundur sembako pun. Ia justru menatap wajah kemerahan Olivier dengan binar posesif yang pekat.
"Aku normal, Sayang. Dan aku hanya mesum untuk memuaskanmu. Kau tahu betul fakta itu sejak kita masih di high school."
"Jangan katakan hal sampah itu lagi, King!" potong Olivier dengan nada suara yang naik satu oktav, menunjuk dada King dengan jari telunjuknya yang gemetar.
"Hentikan semua omong kosong ini. Hubungan kita sudah mati sepuluh tahun lalu saat kau memilih untuk membuangku demi Kegilaan nama besarmu itu!"
Mendengar kalimat ketat dari Olivier, seluruh aura provokatif di sekitar King mendadak menguap. Ekspresi wajahnya beralih menjadi sangat serius, sarat akan beban penyesalan yang selama ini ia sembunyikan di bawah tato hitam tebalnya.
King menurunkan pandangannya sekilas ke arah jari tangan Olivier yang gemetar, lalu kembali menatap mata bulat wanita itu.
"Bagaimana kabarmu selama ini, El? Bagaimana hidupmu selama sepuluh tahun ini di Baltimore?"
Pertanyaan yang begitu tenang dan penuh perhatian itu membuat tenggorokan Olivier mendadak tercekat.
Bayangan tentang perjuangannya melahirkan Nora sendirian di rumah sakit di Baltimore, malam-malam tanpa tidur karena mengurus bayi yang demam sambil belajar untuk ujian kedokteran, dan rasa takut yang terus membayangnya setiap hari... semuanya berkelebat di dalam benaknya.
Olivier menarik kembali tangannya, mengepalkannya di sisi tubuh untuk menyembunyikan getaran emosinya. Ia menegakkan bahunya, memasang kembali topeng sedingin es miliknya.
"Aku baik. Seperti yang kau lihat sekarang," jawab Olivier pendek, menggunakan kata 'Aku' demi mengakhiri formalitas yang sudah hancur. "Aku sukses menjadi dokter, hidupku tenang, dan aku tidak membutuhkan apa pun dari masa lalu."
King Stone mendengarkan jawaban itu dengan dada yang terasa sesak. Ia bisa membaca ada kebohongan yang tertahan di balik nada bicara Olivier yang terlalu defensif.
King melangkah maju, meraih kedua telapak tangan Olivier yang mengepal, menggenggamnya dengan erat namun lembut, menolak untuk dilepaskan meskipun Olivier mencoba memberontak.
"El, kumohon... lihat aku," ucap King, suaranya merendah hingga ke titik paling rentan.
Matanya menatap Olivier dengan permohonan yang teramat sangat, sebuah pemandangan yang tidak akan pernah dipercayai oleh siapa pun di Chicago jika melihat seorang King Stone memohon pada seorang wanita.
"Ayo kita kembali bersama, El. Kumohon. Aku serius," lanjut King, kalimatnya mengalir lancar dari lubuk hatinya. "Aku tahu aku telah menghancurkanmu dulu. Aku tahu aku berengsek. Tapi sekarang aku memiliki segalanya, aku memiliki kekuatan untuk melindungimu dari siapa pun, termasuk dari keluargaku sendiri. Aku tidak peduli dengan apa pun lagi di dunia ini, aku hanya ingin kau kembali ke sisiku. Mari kita mulai semuanya dari awal."
Olivier menatap kedua tangannya yang tenggelam di dalam genggaman hangat King. Untuk satu detik yang rapuh, hatinya bergetar hebat mendengar untaian kata bermakna kepemilikan itu.
Namun, di detik berikutnya, wajah Nora Amelie kembali hadir di dalam benaknya—wajah putrinya yang suci, yang hidupnya akan hancur berantakan jika terseret masuk ke dalam pusaran kegelapan klan Stone.
Tidak, batin Olivier berteriak histeris. Jika aku kembali padanya, dia akan tahu tentang Nora. Dan klan Stone akan mengambil anakku.
Ketakutan terbesar seorang ibu seketika menjelma menjadi kekuatan es yang luar biasa. Olivier menarik tangannya dengan satu sentakan kasar, berhasil terlepas dari genggaman King. Ia mundur dua langkah, menatap King Stone dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kebencian yang murni dan dingin.
"Semuanya sudah terlambat, King," ucap Olivier, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan. "Kau bisa kembali ke kastel mewahmu esok pagi, dan aku akan tetap berada di duniaku. Jangan pernah bermimpi untuk menarikku kembali, karena di mataku, kau tidak lebih dari sekadar nama pasien yang akan segera kuhapus dari daftar tugas mingguku."
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣