Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Langkah kaki Jasmine membawa beban emosional yang perlahan-lahan runtuh seiring dirinya menuju tempat Bryan berada, bersamaan dengan itu, sesak di dadanya berganti menjadi kelegaan yang luar biasa. Rahasia besar itu telah terbongkar, namun alih-alih merasa dikhianati, hatinya justru dipenuhi oleh kehangatan yang tak terlukiskan. Pria jangkung itu telah menjaga janji masa kecil yang bahkan sempat terlupakan oleh memori masa mudanya sendiri. Begitu ia hampir sampai dimana Bryan duduk tadi, pemandangan dramatis bernuansa komedi langsung menyambut indra penglihatan Jasmine. Suasana hening dan eksklusif rumah sakit itu mendadak terusik oleh suara cempreng yang sangat ia kenal. Di dekat loket farmasi, Bryan tampak sudah bisa duduk tegak di atas kursi rodanya. Wajahnya yang semula pucat pasi menyerupai kain kafan, kini sudah mulai dialiri rona kemerahan, berkat efek instan dari suntikan cairan penahan nyeri lambung dosis tinggi yang dialirkan melalui selang infus di punggung tangannya. Namun, pulihnya fisik Bryan ternyata berbanding lurus dengan kembalinya kelakuan random anak itu.
"Suster, beneran deh, nama saya Bryan. Kalau Suster suka nonton turnamen game, muka saya sering terpampang di banner depan pas di London kemarin," ucap Bryan dengan nada sok keren, mengedipkan sebelah matanya ke arah seorang perawat muda yang sedang sibuk merapikan botol obat di balik kaca loket. "Nanti kalau jadwal jaga Suster sudah selesai, boleh kali kita mabar. Nanti saya kawal sampai menang gimana?"
Suster muda itu hanya tersenyum kecut, tampak kebingungan sekaligus canggung menghadapi pasien ajaib yang beberapa jam lalu datang sambil menangis memegangi perutnya tersebut.
Plak!
Sebuah gulungan berkas rekam medis berbahan kertas tebal mendarat dengan sukses di puncak kepala Bryan. Kenzie berdiri di belakang kursi roda dengan napas memburu dan wajah yang merah padam karena menahan malu yang luar biasa di depan publik.
"Mabar gundulmu! Lu baru aja lolos dari maut karena usus lu hampir kebakar gara-gara lima mangkuk mi pedas, dan sekarang lu malah sempat-sempatnya ngegodain suster rumah sakit?!" amuk Kenzie dengan suara tertahan namun penuh dengan penekanan yang tajam. "Bryan, sumpah ya, kalau bukan karena status lu sebagai duelis andalan Tim Aether, gue udah bakal ninggalin lu di selokan depan rumah lu tadi pagi!"
"Aduh, Kenzie! Sakit tahu! Ini kepala gue bisa gegar otak, nanti akurasi tembakan gue turun gimana?" protes Bryan sambil mengusap kepalanya dengan pasrah, sementara Ilias yang duduk di kursi tunggu sebelah hanya bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua temannya tersebut.
Jasmine berjalan mendekati mereka, mencoba meredam suasana. "Kak Bryan udah baikan?"
"Jasmine!" Bryan langsung menoleh dengan mata berbinar-binar dramatis. "Kamu harus belain aku, Jasmine. Aku beneran udah sehat walafiat ini. Obat dari rumah sakit ini emang ajaib banget, langsung bikin lambung aku berasa disiram es batu. Aku udah siap pulang dan makan nasi padang lauk tunjang sekarang!"
"Enggak ada nasi padang untuk dua minggu ke depan, Bryan. Lo cuma boleh makan bubur hambar tanpa kecap," potong Kenzie dengan kejam, membuat Bryan seketika lesu dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi roda dengan tampang paling merana di dunia.
---
Satu jam kemudian, proses administrasi kepulangan Bryan akhirnya selesai seutuhnya. Namun, ada satu hal yang mengganjal di pikiran Kenzie dan Ilias sepanjang perjalanan menuju area parkir mobil. Axel, sang kapten tidak kunjung turun dari lantai tiga. Ketika Kenzie mencoba meneleponnya, ponsel Axel aktif namun tidak diangkat, hanya menyisakan sebuah pesan singkat dingin yang masuk beberapa menit setelahnya.
Kak Axel : Kalian pulang duluan bawa Bryan. Gue pergi dulu. Ada urusan pribadi.
Kenzie menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. "Aneh. Padahal biasanya Kak Axel yang paling heboh kalau menyangkut kesehatan anak-anak tim. Jasmine, tadi kamu ketemu Kak Axel di atas?"
Jasmine terdiam sejenak. "Iya, Kak. Tadi sempat ketemu sebentar di depan ruang praktik dokter spesialis." Jasmine sengaja tidak menceritakan detail konfrontasi hebat yang terjadi di antara Axel dan Liam. Ia merasa itu adalah garis batas pribadi yang harus ia selesaikan sendiri tanpa perlu melibatkan manajemen tim.
Ilias yang memiliki kepekaan emosional paling tinggi di antara mereka tampaknya bisa membaca ada sesuatu yang besar telah terjadi. Ia menepuk pundak Jasmine dengan lembut sebelum mereka masuk ke dalam mobil. "Ya udah, kita pulang sekarang. Biarin Kak Axel tenangin pikirannya dulu."
---
Sementara itu, di sudut kota Jakarta yang lain, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis berlantai dua yang terletak paling dekat dengan jalan masuk kompleks perumahan tepi danau. Pintu mobil terbuka, dan Axel melangkah turun dengan gerakan yang sangat lambat, kaku, dan seolah kehilangan seluruh energi hidupnya. Wajah tampan sang kapten juara dunia itu terlihat sangat kusam, dipenuhi oleh kekalahan emosional tingkat tinggi yang belum pernah ia rasakan sepanjang karirnya di dunia kompetitif. Baginya, kekalahan di dalam game adalah sesuatu yang bisa diperbaiki melalui strategi makro dan latihan belasan jam di depan monitor. Namun, kekalahan emosional di hadapan kebenaran masa kecil yang dibawa oleh Liam tadi adalah sebuah hantaman telak yang tidak memiliki tombol rematch. Axel melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sunyi. Ia melempar kunci mobil dan tasnya ke atas sofa kulit hitam di ruang tengah tanpa memedulikan tempat jatuhnya. Langkah kakinya membawa tubuh tegapnya menuju kamar tidur utama di lantai atas. Tanpa mengganti pakaian formalnya yang kusut, Axel langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang putih bersih dengan pandangan kosong.
Selama lima tahun ini, ia mengira dirinya adalah pusat semesta bagi Jasmine. Ia mengira seluruh aturan ketat, pengawasan dua puluh empat jam, dan dinding pembatas yang ia bangun di sekeliling gadis itu adalah sebuah bentuk kepahlawanan yang agung. Namun, kejadian tadi, di lorong dingin Darel Hospital, ia akhirnya dipaksa melihat kenyataan pahit dari sudut pandang psikologis yang nyata, ia tidak sedang melindungi Jasmine, melainkan sedang memuaskan ego ketakutannya sendiri akan kehilangan kendali atas aset terbaik timnya. Axel memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kegelapan malam kamar mengubur seluruh kesombongan sang kapten dunia. Untuk pertama kalinya, ia memilih untuk mengurung diri dari dunia luar, mengabaikan ratusan notifikasi pesan masuk dari manajemen.
---
Malam pun tiba, menyelimuti kompleks perumahan tepi danau dengan ketenangan yang damai. Jarum jam telah menunjukkan pukul delapan malam ketika Liam akhirnya menyelesaikan seluruh tugas visitasinya di Darel Hospital. Pria jangkung itu berjalan keluar dari ruang loker dokter, telah menanggalkan seluruh atribut jas putih dokternya dan kembali bertransformasi menjadi sosok Liam yang biasa, mengenakan kaos polos hitam kasual, celana jins gelap, dan jaket denim longgar yang nyaman. Liam mengendarai mobilnya membelah kemacetan kota menuju kompleks perumahan tepi danau. Begitu sampai, hal pertama yang ia lakukan adalah membuka gerbang Floraison Cafe miliknya, dan benar saja, di dalam area halaman kafe yang gelap, sesosok makhluk putih besar tampak sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah di dekat pintu kaca.
KWEK KWEK!
Donald langsung menyambut kedatangan tuannya dengan kuakan protes yang sangat berisik, mengepakkan kedua sayap pendeknya seolah sedang mengomeli Liam karena terlambat pulang dan membiarkannya kelaparan selama beberapa jam.
"Iya, iya, maaf, Donald. Tadi ada pasien darurat yang otaknya konslet gara-gara mi pedas," ucap Liam santai dengan senyuman miringnya yang khas. Ia berlutut sejenak, mengusap pucuk kepala bebek konyol itu sebelum menuangkan semangkuk makanan khusus bebek ke wadahnya. "Sekarang kamu diam di sini, jaga kafe. Aku ada urusan penting di seberang jalan."
Liam kemudian melangkah masuk ke dalam dapur privat kafenya. Ia menyalakan kompor gas kecil, mengeluarkan sebuah panci keramik jepang, dan mulai meracik sesuatu dengan gerakan tangan yang sangat lihai dan teratur. Beberapa menit kemudian, aroma gurih dari kaldu ayam murni yang berpadu dengan wangi jahe segar mulai menguar memenuhi ruangan. Liam memasukkan bubur beras yang lembut ke dalam sebuah wadah termal antipanas, memastikan suhunya tetap terjaga sempurna. Donald yang mencium aroma makanan langsung mendekat, paruh kuningnya mencoba mengendus pinggiran wadah termal tersebut.
"Heh, jangan macem-macem. Ini bukan buat kamu," tegur Liam sambil menjauhkan wadah tersebut dari jangkauan paruh Donald. "Untungnya, kali ini kamu belum sempat meracuni makanan ini pakai stroberi curian dari kulkas, kan?"
Kwek! Donald mendongak cuek, kembali memakan makanannya sendiri dengan santai.
Liam tersenyum tipis, menggenggam wadah termal itu di tangan kanannya, lalu melangkah keluar dari kafe. Ia berjalan menyeberangi jalan aspal yang sepi di bawah naungan cahaya lampu jalanan yang temaram, menuju ke arah sebuah rumah asri minimalis berpagar kayu yang terletak tepat di seberang kafenya.
Rumah asri itu adalah rumah pribadi milik Jasmine. Sebuah rumah cantik berlantai satu dengan halaman belakang yang langsung menghadap ke permukaan air danau yang tenang. Rumah ini dibeli murni menggunakan uang hadiah kemenangan pertama Tim Aether beberapa tahun lalu sebagai investasi masa depan Jasmine. Biasanya, rumah ini akan berubah menjadi sangat bising dan penuh dengan berbagai makanan ringan atau tumpukan kotak pizza jika anak-anak tim sedang berkumpul untuk melakukan latihan intensif menghadapi turnamen besar. Namun, jika jadwal latihan sedang kosong seperti malam ini, rumah asri itu akan kembali ke wujud aslinya, sebuah tempat yang sangat sunyi, sepi, dan memancarkan aura kesendirian yang mendalam. Liam menekan tombol bel di samping pagar kayu secara perlahan. Tidak butuh waktu lama hingga pintu utama rumah terbuka, menampilkan sosok Jasmine yang mengenakan baju tidur piyama flanel terusan berwarna biru muda yang longgar. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai berantakan, dan wajah cantiknya masih memancarkan gurat kelelahan emosional yang teramat sangat setelah melewati rentetan kejadian tak terduga sepanjang hari ini.
Melihat sosok Liam yang berdiri di depan pagarnya dengan pakaian kasual tanpa jas dokter, seulas senyuman tulus yang sangat tipis dan lega akhirnya kembali terukir di bibir manis Jasmine.
"Kak Liam..." bisik Jasmine pelan.
"Boleh aku masuk, Penembak Jitu?" tanya Liam lembut, mengangkat wadah termal di tangannya sambil memamerkan senyuman miringnya yang selalu berhasil meruntuhkan seluruh sisa ketegangan di kepala Jasmine. "Aku bawa ramuan pemulih energi paling ampuh di dunia medis. Bubur ayam jahe murni buatan aku."
Jasmine terkekeh kecil, sebuah tawa renyah yang terdengar begitu indah di telinga Liam. Gadis itu membuka pintu pagar kayu lebar-lebar. "Silakan masuk Kak."
Mereka berdua berjalan beriringan melangkah melewati halaman rumput hijau menuju area ruang tengah rumah Jasmine. Di dalam sana, suasana sangat rapi dan bersih, mencerminkan kepribadian Jasmine yang teratur. Liam meletakkan wadah termal di atas meja makan kayu kecil, lalu membuka tutupnya, membiarkan kepulan uap hangat beraroma jahe segar langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Jasmine mengambil sebuah mangkuk kecil dan sendok dari dapur, lalu duduk di kursi makan, memperhatikan bagaimana Liam mengambil alih tugas menuangkan bubur lembut itu dengan gerakan yang sangat sabar.
"Minum air putih hangat dulu yah sebelum makan," instruksi Liam, meletakkan segelas air di samping mangkuk Jasmine. Ia kemudian mengambil posisi duduk di kursi sebelah gadis itu, melipat kedua tangannya di atas meja sambil menatap Jasmine dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang penuh dengan ketulusan emosional tanpa syarat.
Jasmine menyesap air hangat itu, lalu menyendok bubur buatan Liam secara perlahan. Rasa hangat yang gurih dan sedikit sensasi pedas dari jahe segar langsung mengalir di tenggorokannya, menyebarkan kehangatan instan yang luar biasa menenangkan ke seluruh pembuluh darah dan otot-otot tubuhnya yang sempat menegang kaku sejak di rumah sakit tadi.
"Enak banget, Kak. Makasih banyak yah" ucap Jasmine dengan binar mata yang kini terlihat jauh lebih hidup dan damai seutuhnya.
"Habiskan sampai sendok terakhir. Jiwa kamu yang lelah emosional hari ini butuh asupan nutrisi yang nyata, bukan sekadar teori relaksasi dari buku kedokteran jiwa," balas Liam dengan nada suara yang melembut, mengusap pucuk kepala Jasmine dengan gerakan yang sangat penuh kasih sayang.
Malam itu, di dalam kesunyian rumah asri tepi danau yang biasanya terasa dingin, kehadiran Liam bersama semangkuk bubur hangatnya telah resmi mengubah atmosfer tempat itu menjadi sebuah rumah sejati yang sesungguhnya. Jasmine menikmati setiap suapan makanannya dengan perasaan damai yang seutuhnya, menyadari bahwa jika ada rintangan apa pun kedepannya, ia tidak perlu lagi merasa kesepian atau ketakutan, karena pelindung sejati yang memegang janji masa kecilnya kini telah berdiri tegak di sampingnya, menjaganya dengan kehangatan tanpa syarat.
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏
Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁
Terima Kasih 🙏🙏🙏