"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Gema hantaman tinju Landon pada kap mobil sport hitamnya perlahan menyusut di udara parkiran yang panas, namun getarannya seolah terus merambat di bawah pijakan kaki Vexana.
Napas Landon memburu, berat dan tidak beraturan. Pria itu perlahan membalikkan badannya kembali menghadap Vexana.
Seluruh keangkuhan, wibawa sebagai dosen muda, dan harga diri sebagai putra tunggal Desmon Group telah menguap dari tubuhnya.
Yang tersisa hanyalah Landon yang kembali hancur, dengan sepasang mata yang memerah sempurna dan berkaca-kaca menahan bendungan air mata yang siap pecah untuk kesekian kalinya hari itu.
"Kau menggugurkan bayi kita, Vexana?" tanya Landon, suaranya serak, bergetar oleh kombinasi rasa tidak percaya dan kepedihan yang teramat sangat.
Dia melangkah maju dengan lunglai, menatap wanita di depannya seolah sedang menatap ujung dari seluruh hidupnya. "Berarti... berarti memang sudah tidak ada harapan lagi untuk kita kembali bersama? Begitu? Kau benar-benar melepaskan segala hal tentang kita?"
Vexana tersentak. Dia terkejut dengan apa yang dimaksud Landon Desmon.
Di dalam skenario kepalanya, dia mengira Landon akan memaki, mengutuk keegoisannya, atau mungkin merasa lega karena terlepas dari tanggung jawab besar yang bisa merusak karier akademisnya yang cemerlang.
Namun, melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata pria itu, mendengar getar keputusasaan yang menuntut sebuah harapan untuk kembali bersama, Vexana menyadari satu hal yang membuatnya tercekik: Landon masih sangat menginginkannya.
Bahkan setelah enam tahun malam badai itu, bahkan setelah mengira Vexana membunuh darah daging mereka sendiri, pria itu masih mencari celah untuk kembali bersatu.
"Kau..." Vexana menelan ludahnya yang terasa kelat, mencoba mempertahankan topeng dinginnya agar rahasia tentang AJ tidak goyah. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Landon tertawa getir, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyedihkan di telinga. Air matanya akhirnya luruh menuruni pipinya yang tegang.
"Kau berjanji untuk masa depan kita, Vexa. Kau berjanji di malam kita merayakan kelulusan high school dulu, di atas atap apartemenku. Kau bilang kau menginginkan anak-anak kita nanti memiliki mata sepertimu, dan memiliki otak yang menyebalkan sepertiku," ucap Landon, suaranya parau, melangkah semakin dekat hingga jarak mereka kembali terkikis.
"Dan lihat sekarang? Kau menghilangkannya, Vexana. Kau membunuh satu-satunya alasan yang bisa membuatku kembali padamu tanpa memedulikan seberapa besar harga diriku yang sudah kau injak-injak!"
Mendengar tuntutan Landon yang menyudutkannya laksana seorang pembunuh berdarah dingin, amarah Vexana yang sempat meredam akibat kebenaran tentang AJ mendadak menyala kembali.
Rasa sakit atas kebohongan daddynya, fakta bahwa dia koma dua tahun, dan kenyataan bahwa anak kandungnya dipaksa memanggilnya "Kakak" bercampur menjadi satu ledakan emosi yang membakar dadanya.
"Kau bertingkah seolah-olah kau adalah korban di sini, Desmon!" seru Vexana, suaranya meninggi, menunjuk dada Landon dengan jari yang gemetar hebat.
Air matanya kembali mengalir panas. "Kau yang mulai melanggar janji kita! Kau yang melepaskan tanganku malam itu! Kau yang mengusirku dari tempatmu dan menyuruhku pergi dari hidupmu! Sekarang, setelah semua kekacauan ini, kenapa kau menuduhku seolah-olah aku adalah satu-satunya pelaku kriminal di sini?!"
Landon menepis tangan Vexana yang menunjuk dadanya, lalu mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan frustrasi yang memuncak.
"Karena kau mengeluarkan kata putus sepanjang hari, Vexana! Kau egois! Setiap kali kita bertengkar kecil, kau selalu mengancam akan mengakhiri hubungan kita! Kau memperlakukan perasaan kita seperti mainan yang bisa kau buang kapan saja kau bosan!"
Napas Landon memburu, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Vexana yang basah. "Malam itu, aku hanya lelah. Aku hanya ingin kau berhenti bersikap kekanak-kanakan dan mulai mendengarkan logikaku. Tapi apa yang kau lakukan? Kau berbalik, pergi bersama Amara, dan membiarkan segalanya... hilang di udara. Kau menghilang dua tahun tanpa kabar, membuatku hidup seperti mayat berjalan di kampus ini, dan kembali dengan menggandeng pria lain seolah aku tidak pernah ada!"
"Tutup mulutmu!" potong Vexana ketus, menyentakkan tangannya hingga cengkeraman Landon terlepas.
Gadis Valerio itu memundurkan langkahnya, mengatur napasnya yang sesak sembari menatap penampilan Landon dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang sengaja dibuat menghina, sebuah mekanisme pertahanan diri untuk menghentikan debaran jantungnya yang ikut hancur melihat air mata pria itu.
"Kau tidak malu, Landon? Kau sudah seperti remaja labil sekarang. Berdiri di parkiran kampus dengan mata memerah, menangisi masa lalu yang sudah membusuk. Benar-benar kekanakan. Di mana Landon Desmon yang genius? Di mana dosen muda terhormat pujaan para mahasiswi itu? Kau menyedihkan," ucap Vexana dengan nada suara yang sengaja dibuat setajam silet, mencoba menusuk ego Landon agar pria itu mundur dan menjauh darinya.
Keheningan mendadak merayap di antara mereka setelah kalimat ketus Vexana selesai diucapkan. Angin siang bertiup lambat, menerbangkan beberapa helai rambut Vexana yang berantakan.
Tiba-tiba, sebuah riak ekspresi yang aneh muncul di wajah tampan Landon.
Guratan frustrasi dan tangisannya perlahan-lahan mengendur. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat getir, penuh dengan ironi yang mematikan.
"Hey..." ucap Landon, suaranya mendadak melunak, namun menyiratkan rasa sakit yang jauh lebih dalam daripada sebuah teriakan. Dia menatap Vexana dengan binar mata yang penuh kerinduan sekaligus keputusasaan. "...itu kata-kataku, Vexana."
Deg.
Vexana mematung di tempatnya. Kalimat pendek Landon bertindak laksana mesin waktu yang menjatuhkan kesadarannya kembali pada masa-masa mereka masih bersama dulu.
Dia mengingatnya. Dia mengingat dengan sangat jelas. Dulu, setiap kali Vexana sedang merajuk, menangis histeris, atau marah-marah secara bar-bar karena hal-hal sepele, Landon selalu berdiri di depannya dengan melipat tangan di dada, memasang wajah datar yang menyebalkan, lalu berkata dengan nada tenang: "Kau tidak malu, Vexa? Kau seperti remaja labil. Benar-benar kekanakan."
Dan sekarang, peran itu telah bertukar dengan begitu kejamnya. Landon, si pria logika yang dulu selalu mengagungkan ketenangan dan rasionalitas, kini berdiri di depan Vexana sebagai sosok yang hancur, emosional, menangis, dan bertingkah laksana "remaja labil" yang dulu paling dibencinya.
Sementara Vexana, si gadis emosional yang dulu selalu meledak-ledak, kini berdiri dengan topeng dingin, mengucapkan kata-kata rasional yang dulu sering digunakan Landon untuk membungkamnya.
"Kita benar-benar sudah hancur, bukan?" bisik Landon, senyum getirnya memudar, digantikan oleh tatapan mata yang kosong.
Pria itu memutar tubuhnya perlahan, berjalan dengan langkah berat menuju pintu kemudi mobil sportnya, tidak lagi memedulikan air mata yang membasahi wajahnya. "Pulanglah, Vexa. Supirmu sudah menunggumu."
Vexana tidak bergerak. Dia hanya berdiri terpaku di bawah naungan pohon palem, menatap punggung tegap Landon yang kini masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya tanpa suara keras lagi.
Mesin mobil sport itu meraung halus, sebelum akhirnya melaju perlahan meninggalkan area parkir, meninggalkan Vexana sendirian bersama rahasia terbesar dalam hidupnya—rahasia bahwa bayi yang dikira Landon telah mati, kini sedang tumbuh menjadi anak laki-laki tampan berusia enam tahun di dalam mansion Valerio.
Dua orang yang masih saling menggilai itu kini benar-benar terpisahkan oleh jurang kebohongan yang mereka gali sendiri, berdarah dalam diam di bawah teriknya langit Los Angeles.