Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Perang Titik Nol dan Hujan Meteor Anti-Dewa
Langit Kunlun tidak lagi menyerupai kanvas alam yang indah; ia telah robek menjadi mulut neraka. Retakan dimensi selebar ratusan kilometer menganga di cakrawala, memuntahkan kabut darah pekat yang langsung memadamkan cahaya dua bulan kembar.
Dari balik robekan kosmik tersebut, perlahan muncul moncong-moncong raksasa dari armada kapal perang Alam Atas. Kapal-kapal itu tidak terbuat dari kayu atau besi, melainkan dirakit dari tulang belulang naga purba yang memancarkan aura kematian absolut. Di atas geladak kapal-kapal tersebut, berbaris jutaan Utusan Darah—drone biologis bersayap humanoid seperti yang Arya bedah di laboratorium—dengan mata merah menyala yang siap melahap dunia.
Tekanan gravitasi dari armada itu begitu masif hingga membuat pegunungan melayang di Kunlun mulai berjatuhan ke tanah.
Di bawah, di pelataran Menara Naga, tiga ratus ribu kultivator yang baru saja diakuisisi berdiri dengan formasi militer. Meski mereka telah menandatangani kontrak jiwa, insting primitif mereka menjerit ketakutan. Beberapa bahkan jatuh bertumpu pada pedang mereka, tak sanggup menahan tekanan spiritual (Qi) yang bocor dari langit.
"T-Tuan Arya..." suara salah satu mantan Master Sekte bergetar hebat. "Itu jutaan prajurit Inti Emas! S-Satu kapal saja bisa meratakan seluruh Kunlun! Ini bukan perang... ini eksekusi!"
Arya Permana berdiri di garis terdepan, menyilangkan tangannya di belakang punggung. Angin badai yang membawa bau darah dan kematian menerpa wajahnya, namun matanya tetap setenang permukaan cermin.
"Kepanikan massal menurunkan efisiensi prajurit hingga tujuh puluh persen. Tegakkan punggung kalian," suara Arya menggelegar melalui amplifikasi Qi, menembus deru badai dan menstabilkan mental ratusan ribu pasukannya. "Mereka mungkin terlihat seperti armada dewa, namun di mataku, mereka tak lebih dari tumpukan barang rongsokan yang salah koordinat."
Di langit, sebuah proyeksi raksasa berbentuk kepala naga bersisik emas kotor muncul dari pusaran kabut darah. Itu adalah wujud dimensi dari Dewa Naga Darah.
"ARYA PERMANA!" Raungan entitas itu membuat bumi retak dan lautan spiritual di Kunlun bergolak. "Kau membantai utusanku. Kau merusak altarku. Hari ini, aku tidak hanya akan mengambil Cincin Naga Leluhur itu, aku akan mencabik-cabik setiap jiwa di dimensi ini sebagai kompensasi!"
"Kompensasi adalah istilah bisnis, Dewa Naga," Arya membalas, memproyeksikan suaranya ke langit. "Dan jika kita bicara soal bisnis, manuver hostile takeover (pengambilalihan paksa) yang kau lakukan ini memiliki manajemen risiko yang sangat fatal."
"KESOMBONGAN FANA! MUSNAHKAN MEREKA!" Atas perintah sang Dewa, jutaan Utusan Darah melompat dari geladak kapal-kapal tulang naga. Mereka menukik turun seperti kawanan belalang neraka yang menutupi langit. Kecepatan mereka menembus batas suara, menciptakan dentuman sonik yang memekakkan telinga. Niat membunuh dari jutaan entitas sekelas Inti Emas menyatu menjadi tekanan yang bisa membuat manusia biasa meledak menjadi kabut darah.
Elena mencabut pedangnya, bersiap mati. Nona Feng memejamkan mata.
Namun Arya tidak bergerak untuk menyerang. Ia mengambil komunikator giok dari saku mantelnya.
"Penilai Chen. Bagaimana status pabrikasi?"
Di bawah tanah, di fasilitas R&D, Penilai Chen berdiri di depan konsol peluncuran dengan tangan gemetar namun penuh semangat. "Sistem Pertahanan Udara Anti-Dewa sudah aktif, Tuan CEO! Seratus ribu hulu ledak telah dimuat ke dalam meriam spiritual dan peluncur vertikal Menara Naga!"
"Bagus," Arya menyeringai dingin, matanya menatap jutaan monster yang hanya berjarak beberapa ribu meter di atas kepala mereka. "Nyalakan firewall. Eksekusi program pembersihan."
Di sekeliling pelataran Menara Naga, tanah tiba-tiba terbuka. Ribuan laras meriam raksasa yang terbuat dari logam spiritual dan baterai peluncur misil yang diadaptasi dari teknologi bumi bermunculan.
BUM! BUM! BUM! BUM!
Ratusan ribu misil melesat ke langit secara serentak. Ekor apinya menerangi kegelapan Kunlun, menciptakan pemandangan hujan meteor yang berbalik arah dari bumi menuju langit.
Dewa Naga Darah yang melihat serangan itu tertawa mengejek dari balik proyeksinya. "Senjata logam fana?! Kau pikir mainan primitif itu bisa menembus sisik utusanku yang diberkati oleh Alam Atas?!"
Misil-misil itu melesat menembus barisan jutaan Utusan Darah. Beberapa misil memang hancur saat membentur perisai Qi para utusan, namun Arya tidak mendesain misil itu untuk meledak dan menghancurkan secara fisik.
Tepat ketika misil-misil itu berada di tengah-tengah kerumunan pasukan Alam Atas...
TIIIIIIIIINNNNNGGGGG!
Ratusan ribu misil itu meledak, namun tidak mengeluarkan api. Mereka melepaskan gelombang kejut berwarna biru kehijauan yang tidak kasat mata. Gelombang itu merambat dengan kecepatan cahaya, menyapu seluruh langit Kunlun.
Itu adalah frekuensi malware spiritual. Resonansi Qi pembalik yang didesain secara spesifik untuk meretas kristal Artificial Core di dalam dada setiap Utusan Darah.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah pemandangan yang membekukan darah setiap entitas, baik di Kunlun maupun Alam Atas.
Jutaan Utusan Darah yang sedang menukik beringas itu tiba-tiba berhenti mengepakkan sayap mereka. Mata merah mereka berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total menjadi hitam pekat. Sirkuit spiritual di dalam dada mereka mengalami korsleting masif.
Mereka tidak terluka secara fisik, namun sistem operasi biologis mereka telah dimatikan secara paksa.
Wusss... BRUK! BRUK! KRAK! BUMMM!
Jutaan "dewa" dari Alam Atas itu jatuh dari langit bagaikan patung batu yang kehilangan gravitasi. Mereka menghantam tanah, menabrak pegunungan, dan menimpa kapal-kapal mereka sendiri. Hujan mayat utusan yang tak terhitung jumlahnya mengubah daratan Kunlun menjadi kuburan massal dalam hitungan detik.
Tiga ratus ribu pasukan Dragon Corp di bawah sana menjatuhkan rahang mereka. Senjata mereka bergetar. Mereka tidak perlu menebaskan pedang satu kali pun. Musuh yang setara dengan jutaan Inti Emas telah dimusnahkan hanya dengan memencet tombol!
"Logika sistemik," ucap Arya santai, merapikan kerah bajunya. "Jika musuhmu terhubung dalam satu jaringan nirkabel (wireless), kau tidak perlu membunuh mereka satu per satu. Kau hanya perlu mematikan routernya."
Proyeksi Dewa Naga Darah di langit terdistorsi. Tawa arogannya berubah menjadi keheningan absolut yang dipenuhi oleh kebingungan dan horor kosmik. Pasukan yang ia bangun selama ribuan tahun... dimusnahkan dalam tiga detik oleh teknologi dari dimensi terendah?
"K-KAU... APA YANG KAU LAKUKAN PADA PASUKANKU?!" Raungan Dewa Naga Darah kini dipenuhi kepanikan yang nyata.
"Aku melakukan delisting (penghapusan saham) massal pada pasukanmu," jawab Arya dingin. Ia mendongak, matanya yang keemasan menantang langsung entitas tersebut. "Dan sekarang, saham utamamu telah anjlok. Kau tidak lagi memiliki pion untuk bersembunyi. Turun kemari, dan hadapi aku secara langsung, atau aku yang akan terbang ke sana dan menyeretmu turun!"
Langit bergemuruh hebat. Kabut darah berputar membentuk sebuah pusaran raksasa yang menyedot sisa-sisa energi dari kapal-kapal armada tulang yang mulai runtuh.
Dewa Naga Darah menyadari bahwa proyektil atau pasukan drone tidak akan berguna melawan anomali bernama Arya Permana. Jika ia ingin merebut Cincin Naga Leluhur, ia harus melakukannya dengan tangannya sendiri.
"KAU MEMINTA KEMATIAN DARI TANGANKU LANGSUNG, NAGA LELUHUR? MAKA TERIMALAH!"
Dari pusat pusaran badai darah, sesosok humanoid turun perlahan. Ini bukan proyeksi atau utusan buatan. Ini adalah Avatar Tempur dari Dewa Naga Darah sendiri.
Sosok itu setinggi empat meter, mengenakan zirah emas tua yang dipenuhi ukiran rune kutukan. Di tangannya, ia memegang sebuah tombak bercabang dua yang ujungnya meneteskan darah para dewa yang telah ia bantai di masa lalu. Setiap kali ia mengambil langkah turun di udara, dimensi Kunlun mengerang, seolah ruang itu sendiri tidak sanggup menampung kepadatan massanya.
Tekanannya berada di Ranah Nirwana (Satu tingkat di atas Grandmaster)—sebuah tingkat kultivasi yang seharusnya dilarang keberadaannya di dimensi bawah.
Arya tidak mundur. Ia melepaskan jas trench coat hitamnya, menyerahkannya kepada Elena yang masih mematung karena syok.
"T-Tuan... kultivasi entitas itu... itu di luar batas pemahaman dunia ini," bisik Elena, air mata keputusasaan mengalir dari pelipisnya karena insting biologisnya menolak untuk berhadapan dengan tekanan Ranah Nirwana.
"Hukum fisika mengatakan bahwa tekanan absolut bisa dihancurkan dengan kepadatan singularitas yang lebih absolut," ucap Arya tenang, menggulung lengan kemeja putihnya hingga sebatas siku.
Cincin Naga hitam di jari Arya meledak dengan cahaya keemasan yang suci. Segel Mode Fisik Naga Leluhur Tahap 2 terbuka!
Otot-otot Arya sedikit mengembang, namun yang paling mengerikan adalah kepadatan Qi Inti Emas di sekelilingnya. Udara di sekitarnya runtuh membentuk pelindung vakum. Sisik naga berwarna emas murni bermanifestasi secara samar di sepanjang lengan dan lehernya, memancarkan otoritas purba yang membuat Avatar Dewa Naga Darah terhenti sejenak di udara.
"Kalian semua, tetap di sini. Jaga aset perusahaanku," perintah Arya kepada Nona Feng dan tentaranya.
Dengan satu hentakan kaki yang tidak menghasilkan suara ledakan—karena Arya menyerap seluruh gaya tolaknya—tubuhnya melesat ke langit menentang gravitasi. Ia meluncur lurus ke arah Avatar Dewa Naga Darah, membelah atmosfer seperti peluru meriam yang ditembakkan ke arah bulan.