NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekedar Perbincangan

Lucien akhirnya menurunkan Aurora tepat di depan kursi panjang ruang makan yang megah.

Tanpa beban, ia melepaskan pegangannya, membiarkan kaki Aurora menyentuh lantai dengan sedikit sentakan.

Aurora segera merapikan gaunnya yang kusut dengan wajah merah padam.

"Kau benar-benar tidak punya sopan santun, Lucien Valehart."

Lucien tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat kecil dengan tangannya.

Dalam hitungan detik, beberapa pelayan muncul dengan langkah sigap, menghidangkan sup krim hangat dan potongan daging panggang yang aromanya langsung menusuk indra penciuman Aurora yang lapar.

"Duduk dan makan. Atau kau mau aku menyuapimu seperti anak kecil juga?" tanya Lucien sambil menarik kursinya sendiri di kepala meja, duduk dengan gaya penguasa yang tenang.

Aurora mendengus, namun akhirnya duduk karena perutnya memang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ia mulai menyendok supnya dalam diam, sementara Lucien memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Wajahmu pucat sekali. Kalau kau pingsan di jalan, orang-orang akan mengira aku tidak memberimu makan di rumah ini," celetuk Lucien ketus.

"Reputasiku bisa hancur hanya karena kau terlalu keras kepala untuk menyentuh sendok."

Aurora mendongak, matanya berkilat kesal.

"Oh, jadi ini hanya soal reputasimu? Terima kasih atas perhatiannya yang sangat tulus, Tuan Valehart."

"Sama-sama," jawab Lucien pendek, lalu memotong dagingnya dengan presisi yang kaku.

Mencoba mengalihkan rasa kesalnya, pikiran Aurora kembali pada pertemuan mereka dengan Adrian Morel. Ia mendongak, menatap Lucien dengan binar ketertarikan yang tidak bisa disembunyikan.

"Tapi aku harus akui... kau benar-benar pandai mencari orang. Di mana sebenarnya kau menemukan pengacara sehebat itu?"

"Dia benar-benar luar biasa. Maksudku, cara dia bicara, cara dia membedah kasus itu... dia sangat cerdas. Sangat efisien," lanjut Aurora.

Aurora meletakkan sendoknya, matanya sedikit menerawang.

"Dan kau lihat bagaimana dia memperhatikan detail? Dia punya aura yang sangat meyakinkan. Sangat karismatik. Bahkan untuk ukuran seorang pengacara, penampilannya juga... sangat tampan, dengan cara yang sangat berkelas."

Aurora terus berceloteh tanpa sadar. "Rambut pirang abunya itu, dan cara dia menatap... dia punya sorot mata yang membuat orang merasa—"

Trak.

Suara denting pisau yang menghantam piring porselen dengan sedikit terlalu keras memutus kalimat Aurora.

Lucien meletakkan alat makannya perlahan.

Suasana di meja makan itu mendadak turun beberapa derajat. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet linen, gerakannya sangat pelan, hampir terasa mengancam.

"Sepertinya kau sudah melakukan observasi yang sangat mendalam terhadap pengacaramu, Nyonya Valehart," suara Lucien merendah, dingin dan tajam.

Ia bersandar pada kursinya, menatap Aurora dengan mata abu-abu yang kini tampak lebih gelap.

"Aku membayarnya untuk memenangkan kasusmu, bukan untuk kau jadikan objek puisi di meja makanku."

Lucien berdiri dari kursinya dan meninggalkan meja makan.

Aurora mulai menyadari reaksi Lucien dan memutuskan untuk bermain-main sedikit.

"Kau mau pergi begitu saja? Padahal aku baru saja ingin bertanya apakah semua temanmu memiliki standar ketampanan yang sama dengan Tuan Morel."

Langkah kaki Lucien terhenti seketika. Bahunya tampak menegang di bawah lampu kristal, namun dia tidak berbalik.

"Atau mungkin kau merasa sedikit tersaingi? Aku tidak menyangka 'akses' yang kau banggakan itu juga termasuk kemampuan Morel untuk membuat kliennya merasa sangat... terkesan," provok Aurora lagi.

Lucien perlahan memutar tubuhnya. Wajahnya masih sedingin es.

Tanpa peringatan, Lucien melangkah kembali mendekati meja makan.

Ia membungkuk, meletakkan kedua tangannya di atas meja hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Aurora.

Lalu—tek!—ia menjentik dahi Aurora dengan ujung jarinya.

"Aduh—!" Aurora memegang dahinya, menatap suaminya dengan mata terbelalak tidak percaya.

Lucien menarik kembali tangannya, menyimpannya di dalam saku celana dengan gaya tenang yang menjengkelkan.

"Simpan lidah tajammu itu untuk pamanmu. Kau merasa hebat karena bisa menguji kesabaranku?"

"Itu bukan pencapaian. Itu hanya menunjukkan kalau kau punya terlalu banyak waktu luang untuk bicara omong kosong."

Lucien membungkuk sedikit lagi, memastikan tatapannya mengunci netra Aurora dengan intensitas yang dingin.

"Dengar, Nyonya Valehart. Fokus pada tujuanmu. Morel adalah aset yang aku beli untuk bekerja, bukan bahan untuk kau diskusikan di meja makan ini. Jangan buang-buang tenagaku hanya untuk mendengarkan penilaianmu yang tidak relevan."

Aurora baru saja akan memprotes, namun Lucien mengangkat satu telunjuknya di depan bibir Aurora, membungkamnya seketika.

"Sstt. Tidak ada bantahan. Habiskan makananmu, minum air yang banyak, lalu tidur. Jika besok pagi aku masih melihatmu terlihat selemah ini, aku akan menyita semua berkas itu dan mengunci ruang bacamu."

Lucien memberikan satu tepukan ringan di puncak kepala Aurora sebelum akhirnya dia benar-benar berbalik.

"Selamat malam. Jangan biarkan imajinasimu mengganggu waktu istirahatmu."

Aurora mendengus, menatap piringnya dengan kesal.

Setelah menghabiskan supnya dengan perasaan dongkol, Aurora melangkah keluar dari ruang makan. Setiap hentakan sepatunya di atas lantai marmer seolah-olah sedang menginjak wajah Lucien.

"Dasar pria kaku! Tidak punya perasaan! Memangnya dia pikir dia siapa? Guru sekolah dasar? Beraninya dia menjentik dahiku!" Aurora mengomel sendiri, tangannya masih sesekali mengelus dahinya yang—menurut perasaannya—masih terasa hangat.

Ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju kamarnya dengan bibir yang mengerucut tajam.

"Hanya karena dia yang membayar tagihannya, bukan berarti dia bisa mengatur cara bicaraku. Karismatik, kan? Memang kenyataannya Morel itu karismatik! Kenapa dia harus marah? Aneh sekali!"

Langkahnya terhenti saat melihat Arthur, butler senior yang sudah bekerja di mansion itu selama puluhan tahun, sedang berdiri rapi di dekat tangga.

"Malam yang indah, Nyonya Valehart," sapa Arthur dengan bungkukan hormat yang sempurna.

Aurora berhenti tepat di depan Arthur, matanya menyala.

"Arthur! Kau sudah lama bekerja untuknya, kan? Katakan padaku, apakah tuanmu itu memang selalu menyebalkan sejak lahir, atau itu penyakit yang baru muncul belakangan ini?"

Arthur tertegun sejenak, namun senyum profesionalnya tetap terjaga.

"Tuan Lucien memang... memiliki cara berkomunikasi yang unik, Nyonya."

"Unik?" Aurora mendengus keras sambil mulai menaiki tangga, memberi isyarat agar Arthur mengikutinya.

"Itu bukan unik, Arthur. Itu arogan! Dia menjentik dahiku tadi! Kau percaya itu? Dia memperlakukanku seperti anak kecil yang ketahuan mencuri kue!"

Arthur berjalan selangkah di belakang Aurora dengan tangan tertaut di punggung.

"Oh, benarkah? Itu cukup jarang dilakukan Tuan Lucien."

"Tentu saja jarang! Biasanya dia hanya menggunakan tatapan esnya itu untuk membekukan orang sampai jadi patung!" cerocos Aurora.

"Dan dia mengancam akan mengunci ruang bacaku. Bisakah kau bayangkan betapa diktatornya dia?"

Arthur berdeham kecil, mencoba menahan tawa yang hampir lolos.

"Saya rasa, itu adalah cara beliau mengekspresikan rasa... kekhawatiran yang sedikit salah sasaran, Nyonya."

"Kekhawatiran? Huh! Itu namanya gila kontrol," balas Aurora sambil berbelok di koridor atas.

Dia menoleh ke arah pelayan muda yang sedang merapikan vas bunga di sana.

"Kau! Siapa namamu? Maria? Kau juga setuju, kan, kalau Tuanmu itu pria paling kaku di seluruh Aurelia?"

Pelayan muda itu tersentak, wajahnya memerah karena bingung sekaligus ingin tertawa.

"S-saya tidak berani berkomentar, Nyonya."

"Jangan takut, dia tidak ada di sini," Aurora mengibaskan tangannya santai.

"Arthur saja setuju denganku kalau Lucien itu terkadang sangat berlebihan, iya kan Arthur?"

Arthur hanya tersenyum tipis, menjaga netralitasnya sebagai butler tingkat tinggi.

"Saya hanya setuju bahwa malam ini Tuan Lucien tampak sedikit lebih... ekspresif dari biasanya, Nyonya."

"Itu istilah yang terlalu sopan untuk orang yang baru saja memperlakukanku seperti karung beras!"

Aurora sampai di depan pintu kamarnya, lalu menghela napas panjang, merasa sedikit lebih lega setelah mengeluarkan unek-uneknya kepada para staf mansion.

"Terima kasih sudah mendengarkan sesi keluh kesahku, Arthur. Pastikan kau tidak melaporkan ini padanya, atau dia mungkin akan menjentik dahimu juga."

"Rahasia Anda aman bersama saya, Nyonya," jawab Arthur dengan bungkukan rendah.

Aurora masuk ke kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih baik, meskipun dalam hati dia tahu bahwa besok pagi, dia masih harus menghadapi "Diktator Valehart" itu lagi di meja sarapan.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!