Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Sayup-sayup kesadaran Nindi kembali naik ke permukaan. Perlahan, kelopak matanya terbuka, masih berat, masih enggan. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar.
Putih. Diam. Tidak bergerak. Ia menatapnya beberapa detik tanpa ekspresi.
“Hah…?”
Nindi langsung duduk tegak.
“Langit-langit…?”
Jantungnya sempat melonjak cepat. Dalam sepersekian detik pikirannya langsung melompat jauh, kemungkinan terburuk: tempat asing, kamar orang lain, sesuatu yang tidak ia kenal.
Namun detik berikutnya, pandangannya mulai mengenali ruangan itu. Poster kecil di dinding. Selimut yang ia kenal. Dan aroma khas kamar sendiri. Tubuhnya langsung melemas.
“Oh… syukurlah, aku di kamar.”
Ia kembali menjatuhkan diri ke kasur, kali ini dengan napas lega yang panjang. Tangannya menutup mata sebentar, menikmati rasa aman yang sederhana, ia bisa tidur di tempat sendiri.
Beberapa detik ia hanya diam, membiarkan tubuhnya benar-benar kembali sadar.
Matanya kemudian melirik jam dinding. 07.00 pagi.
“Masih pagi…”
Suara kecil keluar dari bibirnya. Dengan malas, ia meraih sling bag di samping tempat tidur, lalu mengambil ponselnya.
“Pasti ibu sudah telepon.”
Namun layar ponsel menunjukkan sesuatu yang berbeda dari yang ia harapkan. Tidak ada panggilan masuk.
Nindi mengernyit kecil. “Gak biasanya?”
Ia membuka aplikasi pesan, lalu mengetik cepat:
Udah tidur bu?
Pesan itu terkirim, tapi hanya centang satu. Tidak terkirim.
“Apa lagi gak punya paket data?”
Belum selesai ia berpikir, ponselnya bergetar kecil.
ting.
Satu pesan masuk. Nindi mengira itu dari ibunya. Namun ternyata bukan.
Itu dari nomor asing.
Matanya langsung fokus pada layar. Sebuah pesan singkat:
Sudah bangun?
Nindi diam beberapa detik.
Lalu ia menekan profil pengirim.
Foto kecil itu tidak terlalu jelas, tapi cukup dikenali.
Clay.
“Sejak kapan dia punya nomorku?”
Lalu ingatan itu muncul. Malam tadi. Clay menggendongnya pulang. Langkah panjang di jalan sepi. Suara napas malam. Dan tubuhnya yang akhirnya tertidur di punggung Clay tanpa sadar. Nindi menghela napas pelan.
“Ah… iya.”
Kali ini ia benar-benar merasa punya “utang kecil” pada pemuda itu.
Jarinya mulai mengetik:
Sudah, ada apa Clay?
Tak lama, balasan masuk lagi.
Kalau sudah, bisa keluar?
Nindi membaca pesan itu pelan.
“Keluar?”
Ia menatap layar.
Buat apa? Aku masih mengantuk.
Balas Nindi dengan cepat.
Keluar saja.
Nindi menatap layar lama. Lalu mendesah kecil.
“Dasar bule aneh ...”
Beberapa menit kemudian, Nindi sudah berdiri di depan pintu rumah. Rambutnya hanya diikat seadanya, beberapa helai masih jatuh di sisi wajahnya. Wajahnya pun belum benar-benar segar. Masih ada sisa kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Bahkan, ia belum sempat mencuci muka.
Dan semua itu tidak luput dari perhatian Clay. Ia memperhatikan Nindi dalam diam, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum lebar, hanya lengkungan kecil yang nyaris tidak terlihat, seolah ada sesuatu yang menurutnya, wajar, tapi juga mengganggu pikirannya sendiri dengan cara yang aneh.
“Pagi-pagi sudah disuruh keluar…”
Nindi menutup pintu pelan di belakangnya. Begitu keluar, udara pagi langsung menyentuh kulitnya. Sejuk, segar, dan sedikit menusuk kantuk yang masih tersisa.
Di sana, Clay sudah berdiri. Seperti sudah menunggu cukup lama. Tubuhnya tampak sedikit berkeringat, rambutnya sedikit berantakan oleh aktivitas pagi. Dari penampilannya, Nindi bisa menebak pemuda itu baru saja selesai berolahraga. Di tangannya, sebuah kantong plastik kecil tergantung santai.
Nindi langsung menatapnya. “Ada apa?”
Clay mengangkat kantong itu sedikit. “Ini.”
Nindi menatapnya curiga. “Apa itu?”
“Hotdog.” Clay berhenti sebentar. “Tadi aku beli saat lari pagi.”
Nindi berkedip pelan. “Kenapa dikasih ke aku?”
“Tidak apa-apa. Aku beli lebih.” Clay mengalihkan pandangan sebentar. “Tiba-tiba aku ingat padamu, yang ringan sekali.”
Kalimat itu terdengar santai, hampir seperti candaan. Tapi cukup membuat Nindi terdiam sepersekian detik.
“Serius, kamu mengejekku pagi-pagi?” tanya Nindi sambil menyipitkan mata.
“Kamu terlalu ringan,” jawab Clay datar, menatapnya sebentar. “Badanmu benar-benar ringan.”
Ia melanjutkan tanpa perubahan ekspresi. “Aku takut kamu bisa terbawa angin kalau jalan sendiri.”
Nindi langsung mencebik. “Pagi-pagi kamu sudah mulai cari masalah.”
“Itu fakta,” balas Clay singkat.
Nindi menghela napas panjang. “Terima kasih hotdognya.”
Clay mengangguk kecil.
“Sudah, kamu masuklah lagi. Kita harus berangkat kerja sebentar lagi.”
Nindi berbalik, tapi sebelum masuk ia berhenti. “Clay.”
“Apa?”
Nindi sedikit menoleh. “Terima kasih… karena semalam.”
Clay tidak langsung menjawab. Ada keheningan sebentar.
“Jangan berterima kasih sekarang,” jawabnya akhirnya. “Nanti saja.”
“Lalu kapan?”
“Ketika aku minta.”
Nindi mengangguk kecil. “Oke.”
Nindi masuk kembali ke rumah.
Di dalam rumah, Sonya sudah duduk di dapur.
“Kamu dari mana pagi-pagi?” tanyanya langsung.
Nindi menguap kecil. “Sudah bangun?”
“Jawab dulu.”
“Tidak dari mana-mana.”
Sonya menatap kantong di tangan Nindi.
“Itu apa?”
“Hotdog.”
“Dari siapa?”
“Clay.”
Nama itu membuat Sonya langsung mengangkat kepala. “Clay?”
Nindi mengangguk santai. Sonya langsung berdiri.
“Duduk dulu.”
“Kenapa lagi?”
Sonya menatapnya serius. “Menurut kamu… Clay itu berubah tidak?”
Nindi mengernyit. “Berubah bagaimana?”
“Dia lebih sering memperhatikanmu.”
Nindi tertawa kecil. “Menurutku dia tidak berubah.”
Sonya menghela napas. “Dulu dia tidak peduli padamu.”
“Dia tetap tidak peduli,” jawab Nindi santai.
Sonya menatapnya tajam.
“Kamu yang tidak peka.”
“Tidak,” jawab Nindi. “Kamu yang terlalu banyak berpikir.”
Sonya terdiam sebentar. Lalu pelan berkata:
“Kalau misalnya, Clay suka padamu bagaimana?”
Nindi langsung menoleh. “Tidak mungkin.”
“Aku bilang misalnya.”
Nindi menggeleng kecil. “Aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu.”
Sonya diam.
Nindi melanjutkan pelan, tapi jelas:
“Aku masih mau pulang ke Indonesia.”
“Aku punya hidup di sana.”
“Cinta… bukan prioritas sekarang.”
Ruangan menjadi hening sesaat. Sonya menatapnya lama.
“Kalau begitu, Clay tidak punya kesempatan?”
Nindi berdiri. “Mungkin.”
Lalu ia menguap. “Aku mau tidur lagi.”
Di sisi lain kota. Clay duduk sendirian di ruangannya. Hotdog di tangan. Ponsel di tangan lain. Layar menyala. Menampilkan foto profil Nindi. Gadis itu tersenyum cerah. Rambutnya tergerai. Angin menyentuh ujung rambutnya. Cahaya matahari jatuh lembut di wajahnya. Clay menatap lama. Sangat lama. Lalu ia tertawa kecil.
Pelan.
Seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah lama ada, tapi baru berani diakui. Matanya tidak lagi dingin seperti biasanya. Dan untuk pertama kalinya, Clay tidak menyangkal apa yang ia rasakan.