NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 21 : Persiapan perjamuan Agung

Udara pagi di pelabuhan udara Valley terasa sedikit lebih tajam dari biasanya. Bukan karena sihir George yang bocor, melainkan karena awan-awan dingin yang dibawa oleh kapal besar berbendera perak dari arah Utara. George berdiri di barisan depan penyambutan, mengenakan zirah upacara tanpa helm. Di sampingnya, Celestine tampak anggun dengan gaun berwarna putih mutiara yang dihiasi bordiran emas, tangannya sesekali merapikan rambut George yang tertiup angin.

"Kau terlihat gelisah, George. Tenanglah, ini hanya adikmu, bukan pasukan penyerbu," bisik Celestine sambil tersenyum kecil.

"Julian selalu memiliki cara untuk membuat suasana menjadi rumit, Celestine. Terakhir kali aku melihatnya, dia masih remaja yang hanya peduli pada buku-buku taktik perang," jawab George dengan suara rendah.

"Mungkin dia sudah berubah. Waktu bisa mengubah siapa saja, termasuk ksatria es yang dulu sangat kaku sepertimu," goda Celestine.

Kapal dari Utara akhirnya bersandar dengan suara dentuman logam yang berat. Pintu utama terbuka, dan seorang pemuda dengan rambut perak yang mirip dengan George namun memiliki fitur wajah yang lebih lembut melangkah turun. Ia mengenakan jubah bulu tebal yang tampak sangat kontras dengan iklim Valley yang hangat.

"George? Apakah itu benar-benar kau?" tanya pemuda itu, matanya membelalak saat melihat lengan kristal kakaknya.

George melangkah maju dan membungkuk sedikit. "Selamat datang di Valley, Julian. Kau tumbuh jauh lebih tinggi dari yang kuingat."

Julian tidak membalas sapaan formal itu. Ia justru langsung memeluk kakaknya dengan erat. "Kami mengira kau sudah mati di Puncak Kesunyian, Kak! Ayah tidak pernah mengatakan apa pun, tapi aku tahu dia menyesal telah membiarkan para pemburu itu mengejarmu."

George membalas pelukan adiknya dengan tangan kirinya yang manusiawi. "Aku masih hidup, Julian. Seperti yang kau lihat, aku menemukan tempat yang lebih baik di sini."

Julian melepaskan pelukannya dan menatap Celestine yang berdiri di belakang George. "Dan ini pasti Putri Celestine. Kabar tentang kecantikanmu bahkan sampai ke perpustakaan paling dalam di Utara, Tuan Putri."

Celestine membungkuk anggun. "Terima kasih, Pangeran Julian. Kami sangat senang menyambut keluarga George di sini. Mari, Theodore sudah menunggu di ruang perjamuan."

Mereka berjalan menuju istana dalam suasana yang jauh lebih santai daripada yang diperkirakan George. Julian terus menatap arsitektur emas Valley dengan penuh kekaguman, sesekali menyentuh pilar-pilar marmer yang terasa hangat.

"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya George saat mereka berjalan di koridor.

"Ibu baik, Kak. Dia mengirimkan salam dan sebuah pesan pribadi. Dia bilang, dia selalu tahu bahwa esmu suatu hari akan menemukan matahari. Dia sangat bahagia saat mendengar berita pertunanganmu," jawab Julian.

"Dan Ayah? Apakah dia benar-benar mengirimkan benih mawar salju itu sebagai tanda damai?" George bertanya lagi dengan nada skeptis.

Julian berhenti berjalan dan mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari saku jubahnya. Di dalamnya terdapat benih-benih kecil yang memancarkan pendaran biru pucat. "Ayah tidak hanya mengirimkan benih ini sebagai tanda damai, George. Dia ingin kau menanamnya di sini. Dia bilang, jika mawar salju bisa mekar di Valley, maka tidak ada lagi alasan bagi Utara dan Selatan untuk saling membenci."

"Itu adalah tanggung jawab yang besar untuk sekadar menanam bunga," komentar George.

"Ayahmu adalah pria yang puitis dengan caranya sendiri, George," sahut Celestine sambil mengambil botol itu dan mengamatinya. "Aku akan meminta Master Eldric menyiapkan tanah khusus di paviliun mawar. Kita akan membuatnya mekar bersama."

Siang harinya, perjamuan resmi diadakan. Theodore tampak sangat senang bisa menjamu tamu dari Utara. Percakapan mengalir dari soal taktik militer hingga sistem drainase kota.

"Jadi, Julian, apa rencanamu setelah ini? Apakah kau akan segera kembali ke Utara?" tanya Theodore sambil menyesap anggurnya.

"Sebenarnya, Raja Theodore, Ayah mengizinkanku untuk tinggal di sini selama beberapa bulan. Dia ingin aku belajar tentang sistem Alkimia Valley dan bagaimana kalian bisa menstabilkan energi es kakakku," jawab Julian dengan penuh semangat.

"Belajar di sini? Itu ide yang luar biasa!" seru Celestine. "Kau bisa bergabung dengan angkatan pertama di akademi kami. George akan sangat senang memiliki asisten yang sudah tahu cara kerja sihir es."

George mendengus pelan. "Asisten? Dia akan menjadi murid pertama yang kusuruh lari sepuluh putaran setiap pagi."

Julian tertawa lepas. "Ternyata kau tetap tidak berubah, Kak. Selalu disiplin."

Setelah perjamuan selesai, George mengajak Julian ke balkon kamarnya untuk bicara lebih pribadi. Suasana malam Valley yang bertabur bintang memberikan latar belakang yang tenang.

"Julian, katakan padaku yang sebenarnya. Apakah ada alasan lain kenapa kau dikirim ke sini?" tanya George sambil menatap adiknya dengan tajam.

Julian menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya di pagar balkon. "Kau tidak bisa dibohongi, ya. Benar, ada alasan lain. Di Utara, faksi garis keras yang dulu memburu mu masih memiliki pengaruh. Mereka tidak suka melihatmu menjadi pahlawan di Selatan. Ayah mengirim ku ke sini untuk menjauhkan ku dari pengaruh mereka, sekaligus untuk memperingatkan mu agar tetap waspada."

George mengepalkan tangan kristalnya. "Jadi bayang-bayang masa lalu itu masih ada."

"Mereka tidak akan berani menyerang Valley secara langsung, George. Tapi mereka mungkin akan mencoba merusak reputasi mu melalui sabotase politik. Ayah ingin kau tahu bahwa dia ada di pihakmu sekarang," jelas Julian.

"Terima kasih telah memberi tahu, Julian. Aku akan bicara dengan Theodore soal ini besok," kata George.

"Jangan biarkan hal ini merusak kebahagiaanmu, Kak. Lihatlah ke bawah sana. Rakyat Valley benar-benar menghormatimu. Kau sudah membangun sesuatu yang luar biasa di sini," Julian menunjuk ke arah kota yang masih terang benderang dengan lampu pesta.

Celestine muncul dari balik tirai kamar, membawa dua cangkir teh hangat. "Aku dengar pembicaraan kalian. Jangan khawatir tentang faksi garis keras itu, Julian. Di Valley, kami punya cara sendiri untuk menangani sabotase. Dan kami punya Jenderal terbaik untuk melindungi rahasia kami."

"Aku tidak pernah meragukan itu, Putri," sahut Julian sambil menerima tehnya.

Malam itu, George merasa beban di hatinya sedikit terangkat. Bertemu dengan Julian memberinya penutupan yang selama ini ia butuhkan dari keluarganya. Ia menyadari bahwa meskipun masa lalunya penuh dengan luka, masa depannya di Valley adalah sesuatu yang patut diperjuangkan dengan segala kekuatannya.

"George," panggil Celestine setelah Julian kembali ke ruang tamunya.

"Ya, Celestine?"

"Besok pagi, mari kita tanam benih mawar salju itu. Aku ingin mawar pertama yang mekar di taman kita menjadi simbol bahwa musim dingin mu benar-benar telah berakhir," kata Celestine dengan senyum paling manis yang pernah George lihat.

George menarik Celestine ke dalam pelukannya, merasakan kehangatan yang kini menjadi rumah baginya. "Mari kita buat mawar itu mekar, Celestine. Dan mari kita pastikan tidak ada lagi badai yang bisa merusaknya."

Di bawah langit malam yang damai, sang ksatria es dan putri matahari berdiri bersama, menatap masa depan yang kini terasa lebih nyata dan indah dari kristal yang paling murni sekalipun. Persatuan antara Utara dan Selatan bukan lagi sekadar mimpi diplomatik, melainkan kenyataan yang tumbuh subur di dalam hati mereka berdua.

"Kau tahu, Julian benar tentang satu hal," bisik George di telinga Celestine.

"Tentang apa?" tanya Celestine penasaran.

"Tentang bagaimana kecantikanmu bisa membuat perpustakaan di Utara gempar. Aku rasa aku harus menjaga pilar istana ini lebih ketat agar tidak ada pangeran lain yang mencoba mencurimu," canda George.

Celestine tertawa riang, suaranya mengisi kesunyian malam. "Mereka harus melewati esmu dulu sebelum bisa mencuri ku, Jenderal. Dan aku yakin tidak ada yang cukup gila untuk mencoba hal itu."

................

Pagi harinya, paviliun mawar telah disulap menjadi laboratorium botani sementara. Master Eldric terlihat sibuk mengatur kelembapan udara menggunakan beberapa tabung alkimia, sementara George dan Julian berdiri memperhatikan sebuah pot besar yang terbuat dari pualam putih.

"Pelan-pelan, George. Tanah ini sudah ku campur dengan debu matahari dan nutrisi dari pegunungan Timur. Sangat sensitif terhadap suhu ekstrem," ujar Celestine sambil menyeka dahi dengan punggung tangannya.

"Aku akan mencoba menstabilkan suhunya, Celestine. Julian, bantu aku memegang botol benihnya," kata George.

Julian melangkah maju dengan hati-hati. "Kau tahu Kak, di Utara, bunga ini butuh waktu sepuluh tahun untuk tumbuh satu inci. Ayah bilang hanya cinta yang tulus yang bisa mempercepat pertumbuhannya. Aku dulu mengira itu hanya dongeng pengantar tidur."

George tersenyum tipis sambil menempelkan tangan kristalnya pada dinding pot pualam itu. "Di Valley, dongeng sering kali menjadi kenyataan melalui alkimia dan sedikit nekat."

George mulai memejamkan mata, mengalirkan mana esnya yang kini telah murni dan hangat ke dalam tanah. Di sisi lain pot, Celestine meletakkan tangannya, menyalurkan energi cahaya matahari. Julian melepaskan benih-benih biru itu ke dalam lubang tanah yang sudah disiapkan.

"Apa yang terjadi? Lihat!" seru Julian dengan mata terbelalak.

Tanah di dalam pot mulai bergetar pelan. Tunas kecil berwarna perak kebiruan muncul ke permukaan, tumbuh dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tunas itu meliuk-liuk seperti sedang menari di antara hawa dingin dari George dan kehangatan dari Celestine.

"Luar biasa! Resonansi antara es dan matahari menciptakan lingkungan tumbuh yang sempurna!" teriak Master Eldric sambil mencatat di buku besarnya.

Hanya dalam hitungan menit, tunas itu tumbuh menjadi batang yang kokoh dengan daun-daun kecil yang terlihat seperti kristal bening. Di puncaknya, sebuah kuncup mawar mulai terbentuk, berwarna putih bersih dengan tepian kelopak biru es yang bercahaya.

"Dia mekar, George. Lihatlah," bisik Celestine dengan suara yang bergetar karena haru.

Kuncup itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma yang sangat segar, perpaduan antara wangi salju pagi dan nektar bunga matahari. Saat mawar itu mekar sempurna, sebuah gelombang energi yang menenangkan terpancar ke seluruh paviliun, membuat bunga-bunga mawar merah di sekitarnya ikut bersinar lebih terang.

"Mawar salju di tengah lembah emas. Ayah tidak akan percaya jika tidak melihatnya sendiri," gumam Julian sambil menyentuh kelopaknya yang terasa dingin namun lembut.

"Ini bukan hanya sekadar bunga, Julian. Ini adalah bukti bahwa dua kekuatan yang paling bertolak belakang di dunia ini bisa menciptakan kehidupan baru jika mereka saling memberi ruang," kata George sambil menatap Celestine.

"George, lihat ke arah pintu!" seru Theodore yang baru saja tiba.

Di pintu paviliun, beberapa delegasi dari faksi garis keras Utara yang awalnya datang dengan wajah ketus kini berdiri terpaku. Mereka melihat mawar itu mekar dengan indahnya di tanah yang mereka anggap sebagai musuh. Salah satu tetua dari Utara, seorang pria bernama Lord Vaelin, melangkah maju dan berlutut di depan mawar tersebut.

"Kami telah salah menilai," suara Vaelin terdengar berat. "Kami mengira Jenderal George adalah pengkhianat yang membawa kutukan ke musuh. Tapi ternyata, dia membawa kedamaian yang bahkan kami di Utara tidak bisa ciptakan sendiri."

George berdiri tegak, membiarkan tangan kristalnya bersinar dengan pola emas yang stabil. "Vaelin, sampaikan pada semua orang di Utara. Aku tidak membawa kutukan. Aku membawa masa depan. Jika kalian ingin menjadi bagian dari masa depan ini, pintu Valley selalu terbuka."

Vaelin menundukkan kepala dengan hormat. "Kami akan menyampaikan pesan ini, Jenderal. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi pemburu yang mengejar mu. Kau adalah kebanggaan kami semua."

Theodore mendekati George dan menepuk pundaknya. "Kerja bagus, George. Kau baru saja memenangkan perang tanpa perlu mencabut pedang. Dan kau, Celestine, penemuan botanical ini akan mengubah sejarah agung kerajaan kita selamanya."

"Aku hanya membantu jenderalku menemukan akarnya kembali, Kak," sahut Celestine sambil merangkul lengan George.

Setelah para delegasi pergi, suasana kembali menjadi lebih pribadi. Julian tampak sangat lega melihat ketegangan politik itu mencair begitu saja.

"Kak, apakah aku boleh membawa satu kelopak bunga ini kembali saat aku pulang nanti? Aku ingin menunjukkannya pada Ibu," pinta Julian.

"Tentu saja, Julian. Tapi kau harus belajar cara menjaganya agar tidak layu di perjalanan," jawab George.

"Celestine akan mengajarimu teknik pengawetan alkimia, Julian. Dia ahlinya dalam membuat sesuatu yang indah bertahan selamanya," canda George.

Malam harinya, mereka mengadakan pesta kecil di dalam paviliun mawar untuk merayakan mekarnya bunga tersebut. Hanya ada George, Celestine, Julian, dan Theodore.

"George, apa rencanamu selanjutnya setelah semua urusan diplomatik ini selesai?" tanya Theodore sambil menikmati hidangan penutup.

George menatap ke arah mawar salju yang kini diterangi oleh cahaya bulan. "Aku ingin fokus pada akademi, Theodore. Aku ingin melatih para penyihir fajar agar mereka tidak hanya kuat, tapi juga memiliki kebijaksanaan untuk menjaga perdamaian ini. Dan tentu saja, aku ingin menyiapkan pernikahan yang layak untuk putri kerajaanmu."

Celestine merona merah mendengar perkataan George. "Pernikahan yang layak? Aku pikir kau lebih suka upacara sederhana di puncak menara."

"Untukmu, aku akan memberikan yang terbaik yang bisa diberikan oleh seorang ksatria es, Celestine," balas George sambil menggenggam tangan Celestine erat.

"Dengarkan itu, Theodore! Calon adik iparmu ternyata bisa menjadi sangat romantis jika dia mau," goda Julian sambil tertawa.

Theodore ikut tertawa. "Aku harus mulai menyiapkan kas kerajaan kalau begitu. Pernikahan antara matahari dan es abadi pasti akan menjadi acara termegah dalam seribu tahun terakhir."

Mawar salju yang mekar di tengah Valley menjadi simbol abadi bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang jika disatukan dengan cinta, mampu menciptakan keajaiban yang melampaui batas logika manusia.

George mencium kening Celestine dengan lembut. "Terima kasih telah membangunkan aku dari musim dingin yang panjang, Celestine."

Di bawah cahaya bulan yang perak, bunga mawar salju itu terus bersinar, memantulkan bayangan dua orang yang telah mengubah takdir sebuah benua melalui keberanian dan kesetiaan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!