NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Awal Pembalasan.

Dirangga Warinata.

Seorang lelaki terpandang seorang psikiater ternama sekaligus CEO yang disegani banyak orang.

Namun di balik citra sempurna itu,

Ia hanyalah seorang ayah yang gagal.

Dulu, ia begitu mencintai istrinya, Olivia Louis Vuitton . Bagi Dirangga, wanita itu adalah pusat hidupnya. Kebahagiaan mereka terasa utuh ketika Olivia mengandung anak pertama.

Namun takdir merenggut segalanya.

Olivia meninggal saat melahirkan.

Sejak itu…

Cinta Dirangga berubah menjadi dendam.

Dan dendam itu ia tujukan pada putranya sendiri.

Adrian.

Sejak kecil, Adrian hidup dalam bayang-bayang kekerasan. Dipukuli, disiksa, dihina tanpa ampun.

Bagi Dirangga…

Adrian adalah sumber kesialan.

Ketika ia menikah lagi dengan Herlina seorang janda tanpa anak keadaan justru semakin memburuk.

Dirangga tidak hanya memukul. Ia mencekik, menusuk, bahkan memperlakukan Adrian seolah dia bukan manusia.

Sembilan belas tahun.

Sembilan belas tahun penuh luka dan penderitaan.

Dan dari sinilah satu pertanyaan muncul:

Apakah lelaki seperti itu masih pantas disebut ayah?

Atau… lebih tepat disebut monster?

Tring…

Ponsel Dirangga berbunyi.

“Rian, di mana anak sialan itu?” bentaknya.

“Kami masih mencarinya, Tuan. Belum ada jejak.”

Rahang Dirangga mengeras.

“Aku sudah ke bar tempat dia dijual. Mereka bilang dia sudah dibeli seseorang. Seorang wanita.”

Rian terdiam.

“Wanita itu katanya elegan… dan punya wibawa.”

Senyum licik terbentuk di bibir Dirangga.

“Bagus. Kalau begitu, aku akan jual dia lagi. Sekalian membuka peluang kerja sama.”

Ia tertawa kecil tawa yang dingin.

Dirangga lalu menelepon orang kepercayaannya yang lain.

“Rio, cari tahu siapa wanita itu.”

“Baik, Tuan.”

Beberapa menit berlalu.

“Tuan, wanita itu bernama Liora William Anderlecht.”

Dirangga tertegun.

“Putri keluarga konglomerat. Pewaris bisnis Heron William Anderlecht. Mereka punya perusahaan di Italia, Kanada, Spanyol, dan Amerika… termasuk bisnis persenjataan.”

Senyum Dirangga semakin lebar.

“Menarik…”

Sementara itu, di mansion keluarga Anderlecht…

Liora membuka mata.

Ia melihat Adrian masih tertidur dalam pelukannya.

Untuk pertama kalinya…

Adrian tidak berteriak ketakutan sepanjang malam.

Liora tersenyum lembut.

“Adrian… ayo bangun. Sudah pagi.”

Adrian membuka mata perlahan.

“Aku… akan mandi sendiri.”

“Baik. Aku tunggu di bawah.”

Di ruang makan…

Victor, Albert, dan Sean sudah menunggu.

“Kakak!”

“Ya, boys.”

Tak lama, Adrian turun.

“Masih sakit?” tanya Liora.

“Sudah mendingan… berkat kamu.”

Liora mengangguk.

“Adrian, kenalkan. Ini adik-adikku—Victor, Albert, dan Sean.”

Ketiganya tersenyum ramah.

“Halo, Kak Adrian! Kami jarang pulang karena tinggal di Spanyol.”

Adrian tersenyum kikuk.

“Oh… begitu.”

Albert menyikut Victor sambil terkekeh.

“Gimana caranya Kak Adrian bisa bikin Kak Liora jatuh hati?”

Adrian memerah.

“Aku… tidak tahu…”

Victor tertawa kecil.

“Tidak apa-apa. Kami justru senang Kakak punya seseorang sekarang.”

Liora hanya menggeleng, malu-malu.

“Sudah, ayo makan.”

Ting tong.

John datang.

Ada sesuatu di wajahnya.

“Ada apa?” tanya Liora.

“Aku sudah dapat informasi tentang ayah Adrian.”

Wajah Liora langsung berubah.

“Namanya Dirangga Wiratama. Seorang psikiater sekaligus CEO.”

Adrian menegang.

“Dan… dia sedang mencarimu. Dia bahkan berniat menjualnya lagi. Sepertinya dia ingin kerja sama denganmu.”

Keheningan turun sesaat.

Lalu

Liora tertawa pendek.

“Ha… sudah kuduga.”

Senyumnya berubah tajam.

“Biarkan dia datang.”

John menatapnya.

“Hari ini, pukul delapan pagi, kau ada pertemuan dengannya.”

Liora berdiri.

“Bagus.”

Matanya dingin.

“Aku ingin melihat… seberapa licik dia sebenarnya.”

Tidak lama kemudian, ketiga adiknya berpamitan.

“Kak, kami balik ke Spanyol.”

“Hati-hati, boys.”

Sean memeluknya.

“Kak… perjuangkan cinta Kakak.”

Liora hanya tersenyum tipis.

Di kantor…

Liora duduk di ruang meeting.

Adrian duduk di pangkuannya, memeluknya erat.

Ia sengaja untuk menunjukkan pada dunia bahwa Adrian sudah tidak sendirian.

Pintu terbuka.

John masuk bersama Dirangga dan asistennya.

Dirangga terpaku.

Matanya langsung jatuh pada Adrian—yang berada dalam pelukan seorang wanita berkuasa.

Liora membelai rambut Adrian setenang mungkin.

Sebuah deklarasi tak terucap:

Adrian adalah miliknya sekarang.

“Perkenalkan, saya Dirangga Wiratama.”

“Saya Liora William Anderlecht.”

Tatapan keduanya bertumbukan.

Dingin.

Tajam.

“Tujuan Anda?” tanya Liora.

“Saya ingin menjalin kerja sama.”

Liora tersenyum tipis.

“Baik. Mari kita mulai.”

Meeting berlangsung.

Kontrak ditandatangani.

Kerja sama resmi dimulai.

“Terima kasih, Nyonya Liora.”

“Sama-sama.”

Dirangga berdiri dan keluar.

Begitu pintu tertutup…

Ruangan tenggelam dalam keheningan.

Liora tersenyum.

Namun senyum itu penuh bahaya.

“Permainan ini baru dimulai, Dirangga Wiratama…”

Ia menatap pintu yang baru saja tertutup.

“Kau sudah melangkah ke wilayahku.”

Ia mengusap kepala Adrian dengan penuh kelembutan.

“Dan untuk menyentuh milikku…”

Suara Liora turun, dingin dan mengancam.

“Kau harus membayar… semuanya.”

Matanya berkilat kejam.

“Bagiku, Adrian adalah permata.”

“Aku akan menjaganya… apa pun taruhannya.”

Senyum tipis muncul kembali.

“Dan balas dendamku… baru mulai berjalan.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!