NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

"Hana udah pernah omakase sebelumnya?"

tanya Rahardian.

"Pernah, Om. Tapi di Senju bukan di sini. Ini pertama kali sih makan di Tatemukai," jawab Hana.

Dulu almarhum Ayah-nya paling senang makan omakase. Dan mereka paling sering makan di Senju yang ada di Plaza Indonesia. Awalnya Hana bingung lantaran mereka nggak pesan menu sushi seperti biasanya. Tapi malah dipilihin sama chef. Jadi kayak semacam makan sushi yang dibuatin chef aja.

Tidak pakai pilih-pilih lagi.

Mendengar jawaban Hana, Rahardian tampak senang. "Om juga sering makan di Senju. Kapan-kapan kita lunch bareng ya," ajak Rahardian.

Reiga terkekeh mendengarnya.

"Kenapa ketawa!?" sebal Rahardian kearah anak semata wayangnya yang duduk tepat dihadapannya.

"Papa keliatan banget pengen rekrut Hana jadi menantu," jawab Reiga.

Asam lambung Hana langsung naik mendengarnya.

"Han, yang sabar ya menghadapi Reiga. Ini anak emang iseng banget orangnya," ujar Rahardian pada Hana yang duduk di sebelah kiri Reiga.

Hana tersenyum.

"Reiga pasti sering gangguin kamu kan, Han.

Lapor aja sama Om, biar Om tindak lanjuti dia," ujar Rahardian.

"Hana suka kok Om digangguin Reiga," sahut Hana sambil menatap Reiga yang langsung tersenyum mendengarnya.

Bibir Rahardian tersenyum melihat dua manusia yang kini tengah menatap saling sayang ini.

"Jangan dilepasin yang kayak begini, Rei! Awas aja kamu kalau Hana sampai nggak jadi menantu Papa, "Rahardian sengaja bicara melalui pikirannya agar Hana tak mendengar.

"Maunya juga begitu, Pah,"sahut Reiga.

Ayah dan anak itu pun saling bertukar tatapan sambil tersenyum.

Obrolan itu dijeda dengan datangnya tiga porsi sushi ikan yang diberi telur ikan diatasnya. Rahardian tahu Reiga tidak suka telur ikan.

"Kamu nggak suka telur ikan kan, Rei? Buat aku aja boleh nggak? Aku suka banget," ujar Hana yang mengejutkan Reiga dan Rahardian sekaligus.

"Tahu dari mana aku nggak suka?"

"Zidane," jawab Hana.

Secara eksplisit keenam teman Reiga memang memberi tahu Hana secara cuma-cuma apa yang Reiga suka dan tidak suka sepanjang dinner waktu itu. Mirip ibu mertua yang tengah menasehati calon menantunya. Padahal Hana juga tidak tanya.

Reiga terkekeh. "Boleh?" tanya ulang Hana.

"Boleh. Diri aku juga boleh buat kamu," jawab Reiga.

Hana melotot sambil senyum.

"Idih! Apaan sih? Ada Papa kamu loh, Rei!"

heran Hana sambil menggelengkan kepala.

Rahardian tertawa senang. Sudah lama sekali

dia tidak mendengar Reiga menggombali seseorang.

Dan rasanya sungguh menyenangkan sekaligus melegakan.

"Papa malah selalu berdoa supaya bisa dengerin aku gombalin anak orang, Han," aku Reiga sambil melirik Papa-nya yang tersenyum.

Hati Rahardian yang bahagia. Terlihat nyata pada diri Reiga. I never you feel so happy like now, dad, Reiga bergumam dalam kepalanya.

Hana yang tengah menikmati telur ikan milik Reiga memindai wajah pria seusia Ayah-nya ini.

Rahardian memang tersenyum.

"Berarti kita harus sering jalan bareng, Om. Biar Om bisa sering dengar anak Om ini gombalin Hana dengan segala macam ide yang nggak ada habis-habisnya," ujar Hana sambil senyum.

Rahardian terkekeh mendengarnya. Juga melihat cara Hana bicara sambil menatap penuh ledekan kearah Reiga.

"Suka kan aku gombalin?" ledek Reiga balik sambil mengelus kepala Hana lembut di depan Rahardian.

"Emangnya aku punya pilihan selain suka?" sahut Hana.

"Ada! Suka banget misalnya," jawab Reiga.

"Idih!"

Mereka berdua kembali tertawa bersama.

Rahardian sekali lagi tersenyum dalam keharuan melihat putranya kembali bersua dengan yang namanya cinta. Rasa bersalah yang kadung dipendamnya. Berat menghimpit dadanya, kini ada jaminan pembebasan.

"Hana udah kenal sama teman-temannya Reiga?"

"Udah, Om. Pas Reiga lagi di Paris," jawab Hana.

"Gimana menurut Hana? Orang-orangnya? Resek nggak?"

Rahardian ingin tahu pendapat Hana. Apa yang Hana pikirkan saat ia selesai bertanya. Dulu, waktu Cyila, jawaban yang didengarnya sungguh sangat tidak mengenakkan. Cyila merasa sahabat Reiga itu pengganggu.

"They're so fun kok, Om. Sayang banget sama Reiga. Mereka juga welcome sama Hana. Tanpa diminta pun udah kasih tahu Hana, apa yang Reiga suka dan tidak suka," jawab Hana jujur persis seperti yang ada dikepalanya.

"Lihat sendiri kan, Pah. Pikiran Hana yang selaras dengan ucapannya, "ucap Reiga dalam pikiran.

"Anak Denis memang beda ya, "balas Rahardian.

Hana menatap Reiga. "Kamu beruntung banget loh, Rei. Bisa punya enam ibu peri kayak mereka," ucap Hana.

Reiga terkekeh mendengar jokes enam ibu peri yang diucapkan Hana. Begitu juga Rahardian.

Dinner mereka berlanjut penuh candaan receh dua sejoli yang amat sangat menghibur Rahardian malam itu. Feels like happy family. Semua ini akan sempurna saat Hana benar-benar menjadi bagian dari keluarga Reishard. Rahardian melirik kursi disebelahnya. "Den, kamu kasih restu kan?"

"Emangnya aku bisa pilih yang lain selain kasih restu?"

Rahardian tergelak. Hana memang persis ayahnya. Denis tersenyum.

"Makasih ya, Rah. Waktu itu kamu udah belain Hana di depan Mas Devan," ucap Denis.

"Sudah seharusnya seorang Bapak melindungi anaknya kan," balas Rahardian.

Denis tersenyum.

"Bapak mertua," ucapnya sebelum kemudian menghilang.

Selesai makan malam, mereka bertiga berjalan keluar restoran.

"Habis ini mau kemana?" tanya Rahardian.

"Mau ngumpul sama anak-anak," jawab Reiga.

Hana menatap Reiga kaget. Karena ia sungguh tidak tahu.

"Papa pulang duluan ya. Pegal. Mau rebahan," ucap Rahardian.

"Hati-hati, Om," ucap Hana lalu salim.

Rahardian tersenyum dengan sikap sopan Hana.

"Pulangin Hana jangan malam-malam loh, Rei. Have fun ya, Han," ujar Rahardian lalu naik ke mobilnya.

Jeep berwarna hitam itu pergi dari hadapan mereka.

"Kok nggak bilang mau kumpul sama anak-anak?" tanya Hana selepas Papa-nya Reiga pergi.

Reiga menggandeng Hana sambil berjalan menuju mobilnya.

"Takutnya nggak jadi, soalnya Zidane belum selesai operasi. Makanya nggak bilang sama kamu," jawab Reiga.

Pria itu membukakan pintu mobil untuk Hana.

"Aku ikut?" tanya Hana sebelum masuk.

Masalahnya ia tidak punya pengalaman diajak ngumpul sama teman-teman cowok. Bahkan Arnold juga tidak pernah melakukannya. Hana tahu teman Arnold ya karena mereka satu berada dalam circle yang sama.

"Mau ikut nggak? Nggak ada paksaan, Sayangku," jawab Reiga seraya mengelus kepala Hana. Tersenyum begitu menawan.

"Boleh? Nggak ganggu?"

dia. Hana takut suasana jadi canggung karena ada

"Mereka semua kan suka banget sama kamu. Bukannya udah jadi bestie sama mereka?" ledek Reiga.

Hana terkekeh. Ya, memang sejak makan malam itu mereka jadi sering heboh di grup yang dibuat Tristan. Si induk semang. Brandon menyebut Tristan begitu. Si dokter anak yang paling sebal kalau ketinggalan berita orang terdekatnya. Lagi pacaran sama guru TK yang nggak tahunya gurunya si Sherin, tetangga Hana. Dunia kecil amat.

"Ya, tapi kamu udah lama di luar kan, pasti mau me time sama sahabat-sahabat kamu," ucap Hana.

Reiga memandangi Hana sampai yang

dipandangi salah tingkah sendiri.

"Aku colok nih kalau nggak berhenti liatin aku!"

ancam Hana.

CUP!

Reiga malah mengecup kening Hana. Cepat dan singkat. "Reishard!" pekik Hana langsung celingukan takut dilihat orang. Gosip baru reda udah mau buat yang baru lagi.

"Salah kamu kenapa gemesin banget," ujar Reiga terharu sendiri dengan betapa pemikirnya Hana akan kehidupan Reiga.

"Dih!"

"Pacaran yuk, Han?" ajak Reiga dengan tatapan mata serius.

Hana terhenyak dengan begitu mudahnya Reiga mengucapkan ajakan yang selalu ingin didengarnya dari Arnold.

"Stop joking around, Rei!" sebal Hana tidak sanggup lagi bertahan dengan gempuran hatinya yang menginginkan Reiga.

"Siapa yang bercanda. Aku serius," ujar Reiga.

Hana memeletkan lidah lantas lebih memilih masuk ke dalam mobil. Reiga terkekeh. Ia menutup pintu mobil lalu berjalan kearah yang pintu kursi pengemudi.

"Jadi aku ditolak nih?" gumam Reiga setelah menyalakan mesin.

"Nggak serius sih. Masa seorang Reiga Rahardian Reishard ajak cewek pacaran di parkiran sambil bukain pintu mobil lagi," sahut Hana asal. Ia hanya ingin memberi jeda pada hatinya agar kembali netral. Tak gaduh seperti sekarang.

Reiga tersenyum. Tidak menanggapi Hana dan memilih menjalankan Ferrari-nya menuju Plaza Indonesia.

*

"Nold, udah," ucap Lana menahan Arnold.

Ciuman mereka terhenti. Arnold tersenyum. Selalu menatapnya penuh cinta. Lana terhenyak. Ada kalanya ia merasa bodoh sekali. Membuang waktu percuma menginginkan Reiga saat ia bisa dicintai sepenuh hati oleh Arnold. Pria yang akan melakukan apapun untuknya. Apapun yang diinginkannya. Dengan bonus bisa merasakan kemenangan mutlak dari Hana.

Kadang seperti malam ini, saat Lana meminta Arnold menjemputnya di rumah sakit lalu mengajak pria ini nonton di Plaza Indonesia. Tapi malah melipir dengan mengkonfrontasi Arnold untuk menciumnya dan mereka berakhir beradu bibir di basement parkiran.

"Nold," panggil Lana.

"Ya Sayang," jawab si budak cinta.

"Kemarin waktu aku ke MDB, aku nggak sengaja lihat kamu sama Hana di lobi. Is everything good?" tanya Lana meski waktu ia bisa melihat dengan jelas betapa dinginnya Adrianne Hana pada pacarnya ini.

Arnold tersenyum masam.

"Hana marah sama aku. We're not friend anymore. Aku-nya juga sih yang brengsek," ujar Arnold menyadari diri.

Lana mengelus tangan kiri Arnold.

Mengesampingkan niat buruknya memacari pria ini. Kadang Lana menikmati dan terbuai dengan kasih sayang Arnold.

"Maaf ya. Gara-gara aku," ucap Lana.

Arnold menggenggam tangan Lana lalu mengecupnya.

"Bukan salah kamu, Beib," ucapnya lalu Lana menarik dagu Arnold dan mencium bibir pria itu lagi.

"Katanya udah?" gumam Arnold sambil tersenyum.

"I want more," sahut Lana.

Senyuman dari bibir Arnold makin lebar.

Ciuman Lana. Bibir Lana. Semua yang diimpikannya dari gadis ini. Kini didapatnya. Tuhan sungguh baik padanya. Meski Arnold harus membayarnya mahal dengan kehilangan Hana.

Hana dan Reiga terus asik mengobrol berdua dengan lengan kiri Reiga yang merangkul bahu Hana dan tangan kanan Hana melingkari pinggang kanan Reiga. Semua teman mereka, minus Rama dan Syein yang masih di London, memperhatikan sambil senyum-senyum kearah Hana dan Reiga.

"Untung lu nggak bawa cewek, Ndon. Kalau nggak, menyedihkan banget hidup gue. Liat orang kasmaran pacaran di depan mata gue," keluh Zidane saat mereka menaiki tangga jalan.

Niyo dan Tristan tertawa.

"Makanya lo tuh cari cewek, Dane!" tukas Niyo.

"Tau ah!" sahut Zidane bete.

Mana ada waktu dia cari cewek. Setiap menit pasti ada saja warga Jakarta yang terkena serangan jantung lalu masuk IGD.

"Untungnya gue lagi bingung mau bawa yang mana, jadi gue bawa elu aja, Dane," ledek Brandon.

"Sialan lu!" sewot Zidane.

Lantas mereka kompak mentertawai Zidane.

Malam ini mereka berniat nonton film George Clooney yang baru. Dalam rangka solidaritas karena Niyo suka banget sama George.

"Mr. Reishard," sapa seorang bule keluar dari toko jam Omega. Ia langsung mencegat Reiga dan mengajaknya bersalaman.

"Mr. Philips. Long time no see," sapa balik Reiga dengan ramah.

Ia menoleh kearah genk-nya. "Guys duluan aja. Masalah kerjaan," ujar Reiga menyuruh semua temannya duluan. Kecuali Hana yang malah semakin digenggamnya erat.

"Who is she?" tanya Mr. Philips.

"This is Hana, my girlfriend," jawab Reiga membuat Hana terkejut menatap pria itu yang malah tersenyum.

Mr. Philips pun sama kagetnya dengan Hana.

"You have girlfriend? It's kinda brokenhearted. My daughter really like you, you know," canda Mr. Philips pada Reiga.

"It's just jokes. I'm sorry. It's nice to meet you, Hana. You have a familiar face, like i have ever see you in somewhere?" gumam Mr. Philips.

Hana mengangguk. Ia pun ingat pernah bertemu Mr. Philips di launching toko Rolex yang ada di Singapura.

"We already met in Singapore, Rolex launched, Mr. Philips," gumam Hana sambil senyum.

"Ah, yes! You are Adrianne Hana! The most popular actress in that event," ujar Mr. Philips.

Hana hanya tersenyum disebut begitu.

"You have such a good eye, Mr. Reishard," puji Mr. Philips sambil senyum dan mengedipkan mata kanan ke arah Reiga yang terkekeh pelan.

Obrolan itu berlanjut beberapa menit lalu Mr. Philips pamit pergi menyusul istri yang ada di salon.

"Cieee yang disukain sama anaknya Mr. Philips. Cantik loh, Rei," ledek Hana yang memang pernah bertemu dengan anaknya Mr. Philips di acara yang sama.

Reiga tersenyum. Lantas mengecup tangan kanan Hana yang digenggamnya.

"Kamu juga cantik," ujar Reiga membuat Hana tersipu.

"Udah cantik. Aku sayang banget lagi. Mau cari yang gimana lagi," tambah Reiga membuat dua mata Hana mendelik.

Wajah Hana panas.

"Naik lift aja yuk. Kasian nanti kamu capek. Aku sih mau aja gendong kamu, tapi pasti kamu nggak mau kan digendong di public place begini," goda Reiga.

"Kambuh kan suka godain akunya!" omel Hana yang ditanggapi Reiga dengan cengar-cengir.

Mereka sudah berada di depan lift. Tak lama lift-nya terbuka.

Hana terkejut melihat Lana dan Arnold di dalam sana. "Hai, Lan," sapa Reiga seraya menarik Hana masuk ke dalam.

Ekspresi Lana berubah kaku. Apalagi melihat genggaman tangan Reiga dan Hana. Hatinya nyeri dan sakit. Rasanya ia ingin keluar dari tempat ini segera. Sial!

"Hai, Rei," sapa balik Lana dengan senyum palsu terbaiknya.

"Ketemu lagi," ujar Arnold.

"Jakarta kecil banget ya," sahut Reiga pada Arnold.

Hanya Hana yang diam saja. Tak berniat bicara.

"Mau nonton?" tebak Reiga.

Lana mengangguk.

"Iya. Film-nya George Clooney," jawab Lana.

"Ha!?" pekik Hana kaget akan kebetulan menyebalkan yang tengah terjadi dalam hidupnya ini.

"Lo mau nonton film itu juga, Han? Kebetulan dong. Double date yuk. Pasti seru!" Lana mulai bersemangat kendati bisa menyiksa Hana.

"Enggak! Kita mau nonton film hantu. Ya kan, Rei?" kilah Hana sambil melihat Reiga dengan ekspresi memelas agar Reiga bilang iya.

Lana dan Arnold tentu tak percaya. Mereka tahu dengan jelas Hana takut sama hantu.

"Please bilang iya, Rei. "Hana sengaja bicara dalam pikirannya.

Reiga tersenyum jahil. Ah, sebuah interaksi manis yang membuat Arnold dan Lana gerah.

"Iya. Kita mau nonton film hantu," ujar Reiga.

Lana sontak mengumpat dalam pikirannya. Pintu lift terbuka. Hana masih tersenyum lebar. Bagai anak kecil yang baru dibelikan mainan. Mereka semua berjalan keluar lift. Hana sengaja mendahului Arnold dan Lana sambil menarik genggaman tangannya dengan Reiga yang kian erat. Ah, dia sudah tidak sanggup ada di sana. Ditambah Hana melihat sisa lipstik Lana di tepi bibir Arnold tanpa sengaja. They kissed! Secepat itu. Hana sungguh sakit hatinya.

Namun sikap Hana diartikan berbeda oleh Arnold juga Lana. Arnold yang merasa kehilangan karena biasanya Hana hanya seriang itu padanya saja. Lana yang mengutuk Hana karena selalu mendapat apa yang diimpikan Lana.

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!