NovelToon NovelToon
Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
​Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
​Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Lonceng Kematian di Puncak Pedang Surgawi

​Kapal perang kelas Penghancur Udara membelah lautan awan dengan kecepatan yang mendobrak batas akal sehat. Gesekan antara lambung kayu giok biru dan udara di ketinggian puluhan ribu kaki menciptakan gelombang api tipis yang menyelimuti seluruh kapal, seolah monster raksasa itu sedang terbakar oleh amarah dari neraka.

​Di dalam ruang kendali utama, Lin Tian berdiri tegak di depan kristal kemudi. Sepasang matanya yang setajam elang menatap serangkaian susunan formasi yang memproyeksikan status energi kapal. Pikirannya bekerja dengan kecepatan dan presisi absolut, menghitung setiap probabilitas pertempuran yang akan terjadi dalam waktu kurang dari satu jam.

​"Meriam Penghancur Bintang di haluan depan membutuhkan waktu pengisian daya selama seperempat batang dupa untuk mencapai kapasitas maksimal," analisa Lin Tian, jari-jarinya menari di atas udara, mengubah jalur aliran sirkuit energi kapal. "Daya rusak standar meriam ini cukup untuk membunuh ahli Inti Emas puncak, namun Sekte Pedang Surgawi dilindungi oleh Formasi Penjaga Tingkat Surga kelas rendah. Tembakan biasa hanya akan menguras energi tanpa menghancurkan fondasi mereka."

​Logika pertempuran Lin Tian menolak serangan yang tidak efisien. Jika ia menyerang, serangan itu harus membawa kehancuran yang mutlak dan melumpuhkan mental musuh dalam satu pukulan.

​Ia melangkah maju dan meletakkan kedua telapak tangannya langsung di atas inti reaktor meriam. Menggunakan Tubuh Pedang Kekacauan sebagai saluran utama, ia mulai memompa Qi Primordial miliknya yang sangat padat dan korosif ke dalam susunan formasi meriam, mencampurnya dengan energi murni dari tiga ratus Batu Spiritual tingkat menengah.

​"Jika batas keamanan formasi meriam ini dilepas, ledakannya akan menghancurkan haluan kapal ini sendiri," gumam Lin Tian, sudut bibirnya melengkung memancarkan kekejaman yang rasional. "Tapi sebuah senjata hanya memiliki nilai jika ia berhasil menghancurkan targetnya. Kapal ini hanyalah alat sekali pakai."

​Sementara Lin Tian mempersiapkan senjata pemusnah massalnya, kepanikan yang luar biasa baru saja meledak di sebuah wilayah pegunungan yang berjarak ribuan mil jauhnya.

​Pegunungan Pedang Surgawi terdiri dari tiga puncak utama yang menusuk awan, dikelilingi oleh kabut spiritual abadi yang membuatnya tampak seperti tempat tinggal para dewa. Ini adalah markas besar Sekte Pedang Surgawi, faksi tiran yang menguasai puluhan kota di wilayah perbatasan Benua Fana.

​Di Puncak Leluhur, terdapat sebuah bangunan megah bernama Paviliun Lentera Jiwa. Di tempat inilah lentera kehidupan dari para Tetua dan murid inti sekte disimpan. Selama lentera itu menyala, nyawa pemiliknya aman. Jika lentera itu padam atau pecah, itu berarti kematian.

​Seorang murid penjaga tingkat rendah sedang membersihkan altar ketika tiba-tiba, sebuah suara retakan keras memecah keheningan paviliun.

​KRAK!

​Murid itu menoleh dan matanya seketika membelalak ngeri. Di rak tingkat ketiga—area yang dikhususkan untuk Tetua Inti Emas—sebuah lentera jiwa yang memiliki ukiran nama 'Lu Jianing' baru saja hancur berkeping-keping. Api spiritual di dalamnya padam tak berbekas.

​"T-Tetua Lu... Lentera Tetua Lu pecah!" jerit murid itu dengan suara parau. Ia segera berlari keluar paviliun, mengabaikan segala aturan kesopanan sekte, dan memukul Lonceng Duka raksasa di pelataran.

​TENG... TENG... TENG...

​Sembilan dentangan lonceng bergema di seluruh penjuru Tiga Puncak Pedang Surgawi. Sembilan dentangan adalah sinyal darurat tingkat tertinggi, menandakan gugurnya seorang Tetua Inti.

​Dalam hitungan detik, belasan siluet cahaya melesat dari berbagai sudut pegunungan menuju Aula Utama di Puncak Leluhur. Mereka adalah para Tetua Sekte, semuanya memancarkan fluktuasi energi di atas Tahap Inti Emas. Di tengah Aula Utama, duduk bersila seorang pria tua kurus dengan jubah abu-abu polos. Rambutnya putih panjang hingga menyentuh lantai, namun matanya memancarkan ketajaman pedang yang seolah bisa menembus ruang dan waktu.

​Ia adalah Tetua Besar Jian Yan, sosok paling ditakuti di sekte tersebut, eksistensi mutlak di Tahap Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul).

​"Siapa yang berani membunuh Tetua Intiku?!" Suara Jian Yan tidak keras, namun tekanan aura Jiwa Baru Lahir yang menyertainya membuat seluruh tetua yang baru saja mendarat di aula tanpa sadar menundukkan kepala mereka hingga napas mereka terasa sesak.

​"Lapor, Tetua Besar!" Seorang tetua intelijen melangkah maju dengan gemetar. "Tetua Lu baru saja berangkat pagi ini menggunakan Kapal Penghancur Udara menuju Kota Daun Gugur untuk menyelesaikan masalah kecil di Klan Lin. Mengingat klan itu hanyalah semut fana, mustahil mereka yang membunuhnya. Pasti ada faksi musuh dari Sekte Golok Darah yang menyergap Tetua Lu di tengah jalan!"

​Analisa tetua intelijen itu sangat logis dan didasarkan pada akal sehat. Mustahil sebuah klan kecil yang bahkan tidak memiliki ahli Inti Emas mampu menumbangkan utusan elit yang dilengkapi dengan kapal perang raksasa.

​Jian Yan mendengus dingin, aura pembunuhnya membuat suhu di aula turun di bawah titik beku. "Sekte Golok Darah semakin berani! Kumpulkan seratus elit Aula Penegak Hukum! Aku sendiri yang akan memimpin—"

​Kata-kata Tetua Besar Jian Yan terpotong secara paksa.

​Bukan oleh suara manusia, melainkan oleh suara dengungan frekuensi rendah yang sangat mengerikan dari atas langit. Suara itu begitu keras dan bergetar hingga membuat debu-debu di langit-langit Aula Utama berguguran.

​Seluruh tetua serempak berlari keluar dari aula, menengadah ke arah langit.

​Matahari siang yang bersinar terik tiba-tiba tertutup bayangan raksasa. Kapal perang kayu giok biru milik Sekte Pedang Surgawi kini melayang tepat di atas Formasi Penjaga tingkat Surga milik mereka. Kapal itu tidak melambat atau memberikan sinyal identifikasi. Sebaliknya, haluan kapal itu menukik tajam, menunjuk langsung ke arah Puncak Awan Hukuman—salah satu dari tiga puncak utama sekte.

​"Itu Kapal Penghancur Udara milik kita!" seru salah satu tetua dengan kebingungan total. "Mengapa Tetua Lu kembali? Dan mengapa kapal itu menabrak batas formasi?!"

​Namun, mata Jian Yan di Tahap Jiwa Baru Lahir melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh yang lain. Ia merasakan fluktuasi energi yang murni, brutal, dan mematikan terkonsentrasi di ujung Meriam Penghancur Bintang di haluan kapal tersebut. Cahaya yang terkumpul di sana bukanlah cahaya biru spiritual biasa, melainkan pusaran cahaya abu-abu keperakan yang mengandung elemen kehancuran mutlak.

​"Itu bukan Tetua Lu! Meriam itu telah dimodifikasi! Menghindar!!!" raung Jian Yan, meledakkan energi Jiwa Baru Lahirnya untuk membentuk perisai raksasa, mencoba melindungi Puncak Leluhur.

​Di ruang kendali kapal, Lin Tian menatap kepanikan semut-semut di bawahnya melalui kristal kemudi. Jarinya menekan pemicu formasi tanpa keraguan sedikit pun.

​"Sekte Pedang Surgawi," bisik Lin Tian pelan, "utang darah telah datang untuk ditagih."

​BOOOOOOM!

​Sebuah pilar cahaya abu-abu keperakan berdiameter tiga puluh meter meledak dari haluan kapal. Kekuatan tembakan itu begitu besar hingga daya tolaknya seketika meremukkan sepertiga bagian depan kapal giok raksasa tersebut.

​Pilar kehancuran itu menghantam Formasi Penjaga tingkat Surga yang dibanggakan oleh Sekte Pedang Surgawi. Formasi yang diklaim mampu menahan serangan ahli Jiwa Baru Lahir selama sepuluh hari itu hanya mampu bertahan selama satu kedipan mata sebelum akhirnya retak dan hancur berkeping-keping layaknya kaca tipis yang dihantam meteorit baja. Qi Primordial yang korosif meluruhkan jaringan rune formasi itu hingga ke akar-akarnya.

​Setelah menembus pertahanan utama, pilar cahaya itu tidak melambat sedikit pun. Serangan maut tersebut menghantam lurus ke Puncak Awan Hukuman, tepat di mana ribuan murid elit dan paviliun penegak hukum berada.

​Gelombang kejut yang dihasilkan dari benturan itu menghapus suara dari dunia. Cahaya yang sangat menyilaukan membutakan mata siapa pun yang melihatnya. Tanah berguncang dengan skala bencana kosmis, membelah lembah di bawah pegunungan tersebut.

​Ketika cahaya kehancuran itu akhirnya mereda, pemandangan yang tersisa membuat Tetua Besar Jian Yan dan para tetua lainnya memuntahkan darah karena putus asa dan kemarahan.

​Puncak Awan Hukuman... telah hilang.

​Bagian atas dari gunung setinggi ribuan kaki itu benar-benar menguap tanpa sisa, meninggalkan kawah raksasa yang masih menyala oleh api abu-abu. Ribuan murid elit tewas tanpa sempat menyadari kematian mereka. Struktur Sekte Pedang Surgawi telah dilumpuhkan hanya dengan satu serangan tunggal.

​Di atas langit, dari sisa-sisa reruntuhan Kapal Penghancur Udara yang perlahan hancur dan jatuh, sesosok pemuda berjubah abu-abu melangkah keluar ke udara kosong. Di bawah kakinya, sebilah pedang Qi terbentuk secara alami, menopangnya melayang di atas sisa-sisa kejayaan Sekte Pedang Surgawi.

​Lin Tian menatap lurus ke arah Tetua Besar Jian Yan yang mengambang di bawahnya dengan mata merah menyala. Ia tidak datang untuk bernegosiasi. Ia datang untuk memusnahkan.

1
yos helmi
💪💪💪👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍😍😍😍💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪🙏
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣3🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪
yos helmi
💪💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍
Fajar Fathur rizky
klan huangpu dan leluhurnya akan musnah hahahaha
Daryus Effendi
terlalu banyak penjelasan jadi nya membosankan
T28J
semangat kak 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!