(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)
Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.
Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.
Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguasa Bawah Tanah
Udara pagi di Distrik Tikus tidak membawa kesegaran embun, melainkan kabut abu-abu yang pekat oleh asap pembakaran batu bara dan limbah spiritual. Di lapisan terbawah Kota Gerbang Astral ini, matahari hanyalah mitos yang diceritakan oleh mereka yang pernah melihat kota atas.
Han Luo (Xie Yan) berjalan pelan menyusuri jalanan becek, sesekali merapatkan jubah cendekiawannya yang sengaja dibuat agak kusam. Dia terbatuk ke dalam saputangannya, sebuah akting yang kini telah menjadi refleks alaminya.
Di belakangnya, Long Tian (Hei Mian) mengikuti dalam diam. Posturnya tegap dan kaku, matanya menatap tajam dari balik topi caping bambu yang menutupi separuh wajahnya.
"Udaranya sangat buruk," gumam Long Tian melalui transmisi suara. "Bahkan di Benua Kuno, tidak ada distrik sekumuh ini."
"Ini adalah harga dari sebuah peradaban yang menumpuk di satu benua," balas Han Luo santai. "Untuk membuat satu menara giok bersinar di atas awan, kau harus membakar ribuan tulang di ruang bawah tanah. Selalu ingat itu, Hei Mian."
Mereka berhenti di depan sebuah kompleks industri yang telah lama ditinggalkan. Dinding bata hitamnya menjulang setinggi lima puluh meter, ditutupi pipa-pipa besi raksasa yang berkarat. Di gerbang utamanya, tertulis pudar: Bengkel Pemurnian Besi Tua No. 4.
Tempat ini tampak mati dari luar. Namun, dengan Mata Dewa Gerhana yang berputar pasif di balik mata kirinya, Han Luo bisa melihat ratusan fluktuasi Qi di bawah tanah bangunan ini.
Dua pria bertubuh kurus namun memiliki otot kawat yang padat sedang duduk berjaga di atas tumpukan drum berkarat di depan gerbang. Mereka memiliki tato laba-laba hitam di leher mereka.
"Hanya pekerja tambang atau orang mati yang masuk ke sini, Kakek," salah satu penjaga meludah ke tanah, menatap Han Luo dengan remeh. "Kau terlihat seperti keduanya."
Han Luo terbatuk hebat, bersandar pada Long Tian.
"S-Saya mencari... obat," suara Han Luo bergetar memelas. "Tabib di kota atas terlalu mahal. Saya dengar... Geng Laba-Laba Besi memiliki pasar di bawah sana yang menjual... Akar Penahan Jiwa."
Mendengar nama obat langka itu, kedua penjaga itu saling berpandangan. Akar itu harganya setidaknya seribu Batu Kristal Suci. Kakek berpenyakit ini ternyata seekor domba gemuk.
"Kau punya uangnya?" penjaga kedua menyipitkan mata.
Han Luo merogoh saku jubahnya dengan tangan gemetar. Dia tidak mengeluarkan sekantong kristal, melainkan sebutir mutiara yang memancarkan pendaran biru laut yang murni.
Itu adalah mutiara yang dia pungut dari salah satu monster di Lautan Tak Berujung. Di sini, nilainya cukup untuk membeli sebuah kapal kecil.
Mata kedua penjaga itu langsung membelalak tamak.
"B-Barang bagus," penjaga pertama segera menyambar mutiara itu, tapi Long Tian melangkah maju, menghalangi tangannya dengan pedang besarnya yang masih tersarung.
"Antar kami. Ke bos kalian," kata Han Luo, suaranya sedikit mendesak. "Saya tidak punya banyak waktu."
Penjaga itu menyeringai. "Tentu, Tuan Muda yang kaya raya. Mari, lewat sini. Bos kami pasti akan sangat senang 'menyembuhkan' semua penyakitmu."
Mereka digiring masuk ke dalam bengkel yang gelap, membawa mereka jauh ke perut bumi.
Sebuah kota bawah tanah yang sesak terbentang di depan mata. Tenda-tenda kumuh, lapak-lapak yang menjual budak dari benua luar (orang-orang yang senasib dengan mereka namun gagal bertahan), senjata berlumuran darah, hingga organ-organ monster laut. Bau dosa dan keputusasaan sangat pekat di sini.
Pasar Gelap Laba-Laba Besi.
Para penjaga tidak membawa mereka ke area pasar. Mereka langsung membawa Han Luo dan Long Tian melewati kerumunan, menuju sebuah bangunan besi yang dimodifikasi menyerupai benteng di tengah-tengah pasar bawah tanah itu.
"Bos Zhuo Mang," lapor penjaga itu setelah masuk ke dalam ruangan utama yang diterangi obor hijau. "Ada domba gemuk dari benua pinggiran. Dia mencari obat langka."
Di tengah ruangan itu, duduklah Zhuo Mang (Laba-Laba Besi).
Dia bukan pria yang bertubuh besar, melainkan sangat kurus, nyaris seperti tengkorak hidup. Namun, empat lengan mekanik yang terbuat dari besi spiritual menempel di punggungnya, bergerak-gerak sendiri seperti kaki laba-laba. Auranya memancarkan fluktuasi Jiwa Baru Lahir Awal yang sangat tidak stabil, seolah dia memaksakan terobosannya menggunakan obat-obatan terlarang.
Zhuo Mang menatap Han Luo dan Long Tian.
"Obat langka?" Zhuo Mang tertawa serak, memperlihatkan gigi-giginya yang menghitam. "Orang sakit dari benua luar datang ke tempatku dengan mutiara laut dalam. Kudengar kau memberikan kapal Leviathan Emas kepada Geng Ular Laut kemarin? Kau sangat bodoh, atau sangat penakut."
Ternyata berita di selokan kota ini menyebar lebih cepat dari yang diperkirakan.
Han Luo terbatuk, berpura-pura mundur selangkah ketakutan.
"S-Saya hanya ingin hidup tenang, Tuan Zhuo. Geng Anda menguasai pasar ini. Saya bersedia membayar harga berapa pun untuk perlindungan dan obat."
"Perlindungan?" Zhuo Mang berdiri dari kursi besinya. Keempat lengan laba-laba di punggungnya bergetar mengancam. "Di sini, aku yang menentukan siapa yang hidup. Serahkan cincin penyimpananmu, dan aku akan menjadikanmu budak penyortir herbal. Pengawalmu akan kujual ke arena gladiator. Itu perlindungan terbaik yang bisa kuberikan."
Sepuluh anggota elit Geng Laba-Laba Besi yang berada di ruangan itu mencabut senjata mereka, menutup pintu keluar.
Han Luo menghela napas panjang. Napas yang sama sekali tidak bergetar.
Postur tubuhnya yang membungkuk karena batuk perlahan tegak. Saputangan di tangannya dia lipat dan masukkan kembali ke dalam saku dengan gerakan yang sangat rileks.
"Sayang sekali," suara Han Luo tidak lagi memelas. Nadanya kini datar, sedingin udara di Reruntuhan Keempat. "Aku mengira kau adalah serangga yang cukup pintar untuk bisa diajak bernegosiasi."
Zhuo Mang mengerutkan kening. Perubahan sikap mangsanya ini membuatnya tidak nyaman.
"Kau pikir kau bisa mengancamku? Kau cuma kultivator penyakitan! Bunuh pengawalnya! Buntungi kakinya!"
Tiga preman menerjang maju ke arah Long Tian.
"Hei Mian," kata Han Luo pelan. "Jangan hancurkan ruangannya. Kita butuh tempat ini utuh."
Long Tian tidak menjawab. Dia mengulurkan tangan kirinya, menangkap ujung tombak yang ditusukkan oleh preman pertama dengan tangan kosong.
KRAK!
Bukan tombaknya yang patah, melainkan lengan si preman yang terpelintir karena Long Tian memutar tombak itu dengan kekuatan fisik murni. Long Tian lalu menggunakan tombak yang sama untuk menghantam dua preman lainnya hingga mereka terpental ke dinding besi dan pingsan dengan tulang dada remuk.
"Apa?!" Zhuo Mang terbelalak. "Kekuatan fisik macam apa itu?!"
Zhuo Mang tidak menunggu lama. Lengan mekanik di punggungnya melesat maju, menembakkan jaring yang terbuat dari benang Qi beracun ke arah Long Tian.
Di saat yang sama, Zhuo Mang sendiri menerjang ke arah Han Luo dengan belati beracun di tangannya. Sebagai seorang Jiwa Baru Lahir Awal, kecepatannya melampaui kemampuan mata biasa di ruangan itu.
"Mati kau!"
Belati itu hanya berjarak lima sentimeter dari leher Han Luo.
Namun, di titik itulah waktu Zhuo Mang seolah berhenti.
Bukan karena sihir waktu. Tapi karena Domain Hampa Mutlak skala mikro yang Han Luo pusatkan tepat di sekitar tubuhnya. Belati itu tertahan oleh dinding ketiadaan yang tidak bisa ditembus.
Mata Zhuo Mang membelalak ngeri saat dia menatap wajah kakek tua itu. Di balik mata abu-abu matinya, Zhuo Mang bisa melihat sepasang pupil yang merupakan jurang kegelapan kosmik, dihiasi oleh cincin biru yang membeku.
"Kau... kau bukan Inti Emas..." Zhuo Mang mencoba menarik belatinya, tapi tangannya kaku. Udara di sekitarnya telah menjadi es padat tak kasat mata.
Han Luo tidak menggunakan lengan kirinya yang disembunyikan. Dia hanya mengangkat satu jari tangan kanannya, dan dengan sangat lambat, menyentuh dahi Zhuo Mang.
Sutra Hati Es Abadi: Jarum Pembeku Jiwa.
Sebuah utas energi es yang sangat tipis dan terkompresi melesat menembus tengkorak Zhuo Mang, langsung menusuk Bayi Jiwa-nya di dalam Dantian.
"U-Ugh...!"
Zhuo Mang tidak terlempar. Dia tidak meledak.
Tubuhnya menegang kaku. Matanya melotot. Garis-garis biru es menjalar di bawah kulit wajahnya. Jiwa Baru Lahir-nya yang rapuh telah dibekukan sepenuhnya dalam sepersekian detik, mengunci seluruh aliran Qi dan fungsi saraf motoriknya secara permanen tanpa membunuh tubuh fisiknya.
Dia kini adalah boneka hidup yang sadar, tapi lumpuh total.
Han Luo menarik jarinya kembali. Zhuo Mang jatuh berlutut di depan kaki Han Luo, tak mampu menggerakkan otot apa pun kecuali matanya yang bergerak liar dalam kepanikan murni.
Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari tiga detik.
Tujuh preman tersisa yang baru saja hendak menyerang Long Tian membeku di tempat. Bos mereka, yang seorang Jiwa Baru Lahir, telah dilumpuhkan hanya dengan satu sentuhan jari orang berpenyakit ini?!
"A-Apa yang terjadi?!" "Iblis! Dia iblis dari benua luar!"
Para preman itu menjatuhkan senjata mereka dan mundur ke sudut ruangan dengan wajah pucat pasi.
Long Tian menyarungkan kembali pedang besarnya dengan bunyi klik yang menggema tajam di ruangan hening itu.
Han Luo duduk di atas kursi besi yang sebelumnya diduduki oleh Zhuo Mang. Dia menyilangkan kakinya, menatap Zhuo Mang yang sedang berlutut kaku di lantai.
"Zhuo Mang," Han Luo mulai berbicara, suaranya kini memancarkan otoritas absolut seorang Dalang. "Mulai hari ini, Geng Laba-Laba Besi adalah milikku. Kau akan menjadi boneka pemajanganku di depan umum, menyampaikan setiap perintah yang kuberikan dari balik bayangan."
Han Luo menjentikkan jarinya, melepaskan sedikit segel beku pada pita suara Zhuo Mang.
"S-Siapa kau sebenarnya...?" suara Zhuo Mang bergetar parau, bercampur antara teror dan keputusasaan.
"Aku adalah tabib yang sangat hebat. Aku baru saja menyembuhkan penyakit arogansimu," Han Luo tersenyum tipis.
Han Luo mengalihkan pandangannya ke tujuh preman yang gemetar di sudut.
"Kalian. Punguti teman kalian yang pingsan itu. Mulai besok, tidak ada lagi pemerasan murahan pada pelancong miskin. Kalian akan mengumpulkan informasi tentang setiap bangsawan, setiap faksi, dan setiap kapal tingkat tinggi yang masuk ke Kota Gerbang Astral."
Han Luo mengeluarkan sebuah botol kecil dari cincinnya. Isinya adalah pil hitam yang sama yang pernah dia gunakan pada sekte-sekte sebelumnya. Pil Embun Hampa.
"Telan ini. Anggap ini sebagai kontrak kerja permanen kalian. Mengkhianatiku berarti organ dalam kalian akan dimakan oleh cacing hampa."
Para preman itu tidak berani menolak. Mereka berebut mengambil pil itu dan menelannya, lalu bersujud di lantai.
"Kami mengerti, Tuan Besar! Kami adalah anjing yang setia!"
"Bagus," Han Luo bersandar di kursinya. Dia telah mengamankan titik pijak pertamanya di ibu kota faksi pinggiran Cakrawala Suci ini. Sebuah selokan yang akan dia ubah menjadi pusat komando bayangannya.
"Sekarang," Han Luo menatap Zhuo Mang. "Beri tahu aku. Kota ini dikendalikan oleh faksi pinggiran mana? Dan adakah acara besar dalam waktu dekat yang mengumpulkan banyak orang kaya di satu tempat?"
Zhuo Mang yang masih kaku menjawab dengan suara putus asa.
"K-Kota ini di bawah Klan Bintang Jatuh... dan minggu depan... mereka akan mengadakan Pelelangan Darah Tahunan di kota atas... Mereka akan melelang budak elit dan pusaka purba..."
Mendengar kata pelelangan, mata Han Luo berkilat. Tempat di mana kekayaan, keserakahan, dan arogansi berkumpul. Tempat yang paling sempurna untuk Sang Penipu memulai pertunjukannya di Cakrawala Suci.
"Pelelangan," Han Luo tersenyum di balik wajah tuanya. "Waktu yang tepat untuk berbelanja."