NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Mafia
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.

Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?

Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 22: PETUNJUK DARI GUNUNG

"Kabarku saat ini baik-baik saja Kang... tapi ada beberapa orang yang mengusik ketenanganku," ucap Langit pelan di seberang telepon.

"Aku akan datang. Malam ini juga," jawab Yusuf tanpa ragu sedikitpun.

"Baik Kang, terima kasih. Share lokasi akan kukirimkan."

Langit menutup sambungan telepon. Ia termenung sejenak, lalu menghela napas panjang.

'Malam ini juga aku harus berangkat. Aku butuh petunjuk...'

 

#PERSIAPAN YUSUF

Segera setelah menutup telepon, Yusuf langsung bergerak sigap bak seorang jenderal yang mendapat perintah perang. Ia memanggil asisten kepercayaannya, Budi, yang sudah bersamanya selama tiga tahun.

"Budi, aku harus pergi ke kampung lama. Entah sebentar atau lama, aku belum tahu. Kamu yang pegang kendali di sini. Kalau ada apa-apa, hubungi lewat nomor rahasia yang sudah kuberikan," perintah Yusuf sambil mengemas tas kecil.

"Baik Pak. Apa ada masalah besar?" tanya Budi was-was.

"Ya... Pemilik sebenarnya dari tanah dan usaha ini sedang butuh bantuan. Jaga baik-baik semuanya," jawab Yusuf singkat.

Ia mengambil kunci mobil mewahnya dan sebuah kotak besi kecil yang selama ini ia sembunyikan. Sebelum melaju, ia menatap ladang luas yang kini subur bak surga.

"Ini waktunya gue balas budi. Apa yang dia punya, gue akan jaga dan kembalikan seratus kali lipat," gumamnya sebelum melesat meninggalkan perkebunan.

 

#DI KAWASAN GUNUNG

Hawa dingin menusuk kulit menyelimuti hamparan kebun teh yang luas. Langit berjalan cepat menanjak menuju puncak bukit, di mana sebuah saung sederhana berdiri kokoh.

Di sana, seorang lelaki tua berjenggot putih panjang sudah menunggu. Dia adalah Abah Haruman, sosok sakti yang menjadi guru dan penasihat Langit selama ini.

Dulu, saat Langit tinggal bersama Yusuf di tanah peninggalan kakek, ia tak sengaja bertemu lelaki ini. Sejak saat itu, pikiran dan wawasan Langit terbuka lebar. Bahkan uang 25 juta dan keputusan menjual tanah itu pun adalah saran dan bantuan dari Abah Haruman.

Abah juga satu-satunya orang yang tahu rahasia terbesar: Langit bukanlah cucu kandung Nenek Wati.

"Capek ya Nak Langit?" tanya Abah lembut.

" lumayan Abah, hehe," jawab Langit sambil tersenyum tipis. "Kabar Abah sehat semua?"

"Alhamdulillah untuk saat ini. Tapi ajal... siapa yang tahu kapan datangnya."

Abah berbalik masuk ke dalam saung.

"Ayo masuk, di luar dingin. Ada banyak yang harus kita bicarakan. Ini mungkin pertemuan terakhir kita. Setelah kau turun dari sini, lupakan jalan menuju tempat ini."

Langit mengangguk patuh. Ia duduk dan meneguk air yang disodorkan hingga tandas.

"Nak Langit, perang besar sudah di depan mata. Tapi kau harus selesaikan dulu masalah-masalah kecil di sekitarmu. Jeratlah tetanggamu yang licik, dan hadapi orang-orang kampung sebelah yang ingin memilikimu."

Abah menatap tajam.

"Untuk saat ini, cukup Yusuf saja yang kau turunkan ke medan perang. Kau tetap di belakang layar, amati dan atur strategi. Kita lihat dulu apakah keluarga besar mereka ikut campur atau tidak. Jika mereka bertindak, baru kau panggil dua sahabatmu yang lain—Riyan dan Bara. Kekuatan mereka setara untuk menandingi musuh besarmu nanti."

Langit mengeratkan tangannya.

"Seberapa kuat mereka sebenarnya Bah? Apakah aku mampu melawan kekuatan yang menguasai 75 persen negeri ini?"

"Mereka sangat kuat dan berkuasa. Tapi ingat pesan Abah... kau lebih licik dari mereka. Gunakan otakmu. Jerat mereka, jadikan mereka alat atau bahkan anak buahmu. Gunakan cara apa pun—jalan lurus maupun jalan bengkok—yang penting tujuan tercapai dan orang-orang yang kau sayangi selamat."

"Baik Abah. Langit mengerti."

Langit mencium tangan lelaki tua itu dengan hormat lalu berlari turun meninggalkan bukit.

Di saung itu, Abah Haruman tersenyum sendu menatap punggung cucu angkatnya itu menghilang di balik kabut.

"Pergilah Nak... Buktikan bahwa takdir bisa kau ubah dengan tanganmu sendiri. Dan ingat... setelah kau turun dari sini, seolah-olah Abah sudah tiada di dunia ini. Pertemuan ini adalah pertemuan terakhir kita."

Tiba-tiba, dari balik pepohonan dan kabut tebal, muncul lima sosok pria tangguh mengenakan pakaian serba hitam. Mereka berjalan mendekat dengan langkah tenang namun memancarkan aura mematikan.

Mereka adalah Murid Terbaik Abah Haruman, orang-orang yang dilatih khusus untuk menjaga kebenaran dan melindungi orang-orang yang ditakdirkan hebat.

Kelima pria itu berhenti tepat di hadapan Abah Haruman, lalu membungkuk dalam-dalam dengan penuh hormat dan setia.

"Guru..." panggil salah satu dari mereka lirih.

Abah Haruman mengangguk pelan, matanya menatap jauh ke arah Langit yang semakin menjauh.

"Jagalah dia dari bayang-bayang. Jangan sampai diketahui oleh siapapun. Bantu dia saat dia benar-benar di ambang kematian... selebihnya, biarkan dia belajar sendiri."

"Siap Guru! Perintahmu adalah hukum bagi kami," jawab mereka serempak dengan suara berat dan tegas.

Setelah memberikan amanat itu, sosok Abah Haruman perlahan mulai memudar bersama kabut, seolah tak pernah ada jejak yang tertinggal di dunia ini. Hanya menyisakan kelima muridnya yang siap menjadi tangan kanan tak terlihat bagi Langit.

#RENCANA JAHAT PARDI

Di sudut warung paling gelap di pinggir sungai, asap rokok tebal menyelimuti wajah-wajah garang.

Pardi duduk dengan dada membusung, matanya memancarkan api cemburu dan kebencian yang membara.

"Gue gak terima Bro! Anak itu berani-beraninya godain istri gue di depan mata kepala sendiri!" bentaknya pelan tapi penuh tekanan.

"Cucu Bu Wati katanya? Hah! Itu alasan doang! Nyatanya mereka mesra-mesraan, bantu-bantu bawa barang, senyum-senyum manis... Pasti ada apa-apa di antara mereka!"

Uno, preman berbadan kekar yang memegang wilayah itu, menepuk bahunya kasar.

"Tenang Bro Pardi... Kita ngerti perasaan lo. Wanita macam mereka emang harus diberi pelajaran biar kapok."

"Pelajaran? Gue gak cuma mau kasih pelajaran!" Pardi memukul meja keras-keras. "Gue mau dia HILANG! Gue mau dia MATI! Biar dia tau rasa nyakitin hati orang!"

Suasana hening sejenak. Ucok, salah satu anak buahnya, memutar-mutar parang di tangannya.

"Serius Bro? Kalau sampai mati, resikonya gede lho..."

"Gue peduli apa! Gue bayar! Gue kasih uang sebanyak yang kalian mau! Asal anak itu gak ada lagi di muka bumi ini!" teriak Pardi hilang akal. "Apalagi gue yakin dia udah 'pakai' istri gue!"

Jono tersenyum sinis.

"Oke kalau begitu... Darah harus dibayar darah."

"Kapan kita kerjain?" tanya Uno siap siaga.

"HARI MINGGU! Kita bantai Langit di saung dekat sungai! Tempatnya sepi dan pas buat kuburan massal buat dia!" jawab Pardi dengan mata berkilat liar.

Semua preman mengangguk setuju, siap menjalankan perintah gila itu.

Di tengah keributan rencana pembunuhan itu, salah satu preman bernama Ucok mendekat ke telinga Pardi, berbisik dengan senyum mesum.

"Bro Pardi... sambil nunggu waktu eksekusi, ada 'barang bagus' nih baru dateng. Cerai satu bulan yang lalu, lagi seger-segernya. Ada di gudang belakang mau nggak Bro? Hehehe... body-nya apalagi, kencang dan mulus kaya gitar Spanyol!"

CATATAN PEMBACA:

SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.

JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS.

Bersambung.

1
Guru
Lagi atuh Thor
Guru
aduhhh dewi hati hati jatuh cinta
Guru
Waduhh
Guru
waduhhh😭😭😭
Guru
Ya kan kalah juga laki laki
Guru
gasss polll
Guru
saling siasat hahahaha saya yakin si cowok tepar🤣🤣🤣
Guru
Musuhnya masih ada ikatan darah sama langit ya thor
Guru
langit sudah sadar ya thor
Guru
siap untuk balas dendam😄😄😄💪💪💪
Guru
Nah kan takut hshs🤣🤣
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
Guru
Lanjutkan thor
Guru
akhirnya akhirnya penyelamatan darang😭😭😭
Ramdan
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramdan
akhir nya langit sadar memaafkan ibunya
Ramdan
akhirnya bisa balas dendam
Ramdan
jaji Jaji 🤣🤣🤣🤣
Ramdan
🤣🤣🤣🤣🤣 gasss
Ramdan
flashback ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!