Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Penjaga
Messy tidak bertanya apa pun soal alasan Melody ingin pulang. Justru kepergian Melody membuat hidupnya lebih mudah karena tidak perlu lagi mengurusi gadis itu. Messy bisa mengantarnya pulang lalu bebas melakukan apa saja, mulai dari merokok, minum-minum, sampai main cewek di toilet.
Melody sadar banyak murid Gonzaga Grub yang aslinya jauh dari kesan sempurna. Dia pernah melihat barang haram dihirup, dihisap, atau ditelan mentah-mentah. Mereka tidak kalah buruk, bahkan bisa dibilang lebih parah dari anak-anak pinggiran Kota.
"Gila ya, sok mapan tapi kelakuannya lebih bejat."
Setidaknya anak-anak di sana paham risiko yang diambil. Ada yang menjual demi uang, ada yang memakai buat melupakan hidup yang menyedihkan. Ironis sekali melihat orang kaya yang hidup enak tapi sok merasa paling menderita.
Bayangan saat Adden mendesaknya di dinding toilet kembali muncul. Sensasi tubuh cowok itu yang menekannya, lalu bibirnya yang bergerak liar di leher. Adden sama sekali tidak menyembunyikan kalau dia terangsang.
"Dasar brengsek, tapi..."
Tubuh cowok itu yang menempel keras di paha jadi bukti nyata. Di mata Adden, Melody ternyata tidak seburuk atau sejelek yang sering diucapkannya. Namun, ucapan soal orang tua angkatnya benar-benar membuat darah Melody mendidih.
"Dasar nggak tahu apa-apa! Kamu kira enak?"
Tuduhan kalau dia seharusnya menikmati perlakuan mereka itu sangat menyakitkan. Adden tidak tahu apa yang sudah dia lewati. Orang seperti Adden mana mungkin bisa mengerti. Dulu Melody berniat membantu anak-anak lain saat umur delapan belas nanti, tapi sekarang dia sadar itu mustahil.
"Aku capek, Adden. Kamu nggak bakal ngerti rasanya."
Sejujurnya, Melody mengakui Adden makin menarik seiring bertambahnya usia. Tapi jelas pandangan cowok itu sudah berubah. Adden melihatnya sebagai ancaman, entah karena apa. Mungkin dia cuma senang bermain dengan orang yang dianggap lebih rendah.
Cara Adden menyuruh pergi cewek bernama Clarinne tadi sudah cukup jadi bukti. Dia memperlakukan perempuan seenaknya. Adden itu playboy kelas kakap yang tidak bisa dipercaya.
"Kamu cuma anggap aku mainan, kan?" lenguh Melody.
Sebesar apa pun rasa suka dan ketertarikannya, Melody harus berjanji tidak boleh sampai jatuh hati. Dia tidak mau membohongi diri sendiri, dia memang ingin dicium Adden, bahkan lebih dari itu. Melody juga cemburu melihat Adden dekat dengan cewek lain.
Dan Adden pasti sudah melihat rasa itu jelas di matanya. Berbahaya kalau cowok seperti itu tahu ada wanita yang menginginkannya. Itu cara mudah buat kehilangan kendali dan menjadi lemah.
Sesampainya di rumah, Melody menatap dinding kamar yang berwarna abu-abu. Setelah mandi, dia duduk di lemari pakaian sambil menatap kasur kosong. Cahaya bulan menerangi ruangan, membuat bayangan pohon terasa menakutkan.
Pindah dari satu rumah ke rumah lain menjadi siklus tanpa akhir. Dia pernah dikirim ke klinik konseling, tapi semuanya sia-sia. Akhirnya, dia memilih bersembunyi dan mengunci semua rasa sakit di dalam pikirannya.
Seperti malam-malam sebelumnya, Melody menunggu sampai tertidur. Dia membayangkan kehidupan yang lebih baik di mana tidak ada anak kecil yang tidur kelaparan, kedinginan, atau ketakutan.
"Suatu hari nanti, aku bakal bahagia."
Dia membayangkan dunia di mana Adden memeluknya erat dan tidak melepaskannya. Di mana cowok itu tersenyum hangat dan menjadi teman seperti impiannya. Selama ini Melody menganggap Adden satu-satunya orang yang tidak menilai dia dari latar belakang.
"Ternyata ... aku salah besar."
... ***...
Cahaya menyilaukan membuat kelopak mata Melody terbuka. Sesaat dia merasa seperti melayang sebelum mendarat di kasur, padahal itu mustahil. Dia ingat betul tadi malam dia tidur di dalam lemari.
Melody duduk dengan jantung berdegup kencang. Dia sadar sekarang benar-benar ada di atas kasur, bukan di dalam lemari. Pintu terkunci rapat dari dalam dan tertutup sempurna.
"Ini gimana caranya? Aku kunci kan tadi?"
Suara ketukan dari luar membuat tangan Melody mencengkeram seprai kuat-kuat. Dia pasti melindur. Itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal. Mungkin alam bawah sadarnya yang membawanya.
"Melody? Kamu di dalem?"
Melody masih terbaring di atas kasur yang empuk. Matanya terbuka, menatap langit-langit kamar.
"Melody," panggil Tuan Lukita dari balik pintu. "Kamu sudah bangun? Papa mau tanya, kamu masih mau ke toko atau enggak? Papa tunggu di bawah kalau kamu jadi pergi."
"Iya, sebentar lagi aku keluar," jawab Melody cepat.
Gadis itu menunggu dalam diam, memastikan apakah pria itu akan mencoba membuka pintu atau tidak.
Satu, dua, tiga detik berlalu.
Suara langkah kaki perlahan menjauh. Melody menghela napas panjang, rasa lega langsung menyelimuti dadanya.
"Oke, dia bukan orang aneh," batinnya meyakinkan diri.
Memang sih dia tidak terlihat jahat, tapi Melody belajar untuk tidak percaya sembarangan. Hari ini Sabtu, dan sebisa mungkin dia menghindari Edgard. Tapi dia harus beli barang pribadi yang lebih baik dibeli sendiri.
Ponsel di meja samping tempat tidur bergetar. Melody langsung meraihnya, berharap pesan itu dari Noah.
Benar saja, itu balasan dari pria itu. Melody sudah mengirim nomor barunya, lokasi dia tinggal sekarang, dan nama sekolahnya.
^^^Noah: Selamat pagi, cantik. Lama gak dengar kabar, ya? Kamu baik-baik aja?^^^
Melody: Iya, ini nomor baru. Semoga bisa awet lama.
^^^Noah: Aku dengar kalian sudah ketemu. Semuanya aman?^^^
Melody: Untuk saat ini.
^^^Noah: Kamu tahu kan harus ngapain kalau ada masalah?^^^
Melody: Telepon kamu.
^^^Noah: Kapan pun. Di mana pun. Aku bakal jemput kamu.^^^
Senyum kecil terukir di bibir Melody. Dia kenal Noah sejak umur lima belas tahun. Saat itu Noah tujuh belas tahun dan sudah masuk geng.
Pria itu selalu melindunginya saat Melody masih di panti asuhan. Tak ada yang berani ganggu dia, semua karena nama Noah. Sekarang, Noah jadi ketua geng yang kuasai area Priok.
Dia bukan orang baik baik, tapi saat Melody tidak punya siapa-siapa, dialah yang ada. Dia yang bela Melody dari orang-orang jahat. Tidak semua anak panti itu baik, banyak yang memandang cewek sepertinya sebagai sasaran empuk.
Sayangnya, saat Noah umur delapan belas tahun dan jadi orang dewasa, dia tidak bisa bantu Melody seenaknya lagi seperti dulu.