Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Turnamen Seribu Sekte – Pertarungan Pertama
Kota Langit bergemuruh seperti lautan manusia. Jutaan kultivator dari seluruh Dunia Tengah memadati arena raksasa yang dibangun di atas awan kristal. Bendera-bendera sekte berkibar di angin tinggi, sementara aura Nascent Soul dan bahkan beberapa Void Realm memenuhi udara, membuat langit terasa berat.
Arkan Wijaya berjalan memasuki arena utama dengan langkah mantap. Jubah hitam keemasannya berkibar elegan, Mahkota Naga Emas di kepalanya memancarkan cahaya samar. Nascent Soul Tingkat 4 pertengahan-nya membuat banyak peserta lain menoleh dengan campuran kagum, iri, dan takut. Di samping kanannya, Sela Juanda berjalan dengan anggun. Gaun tempur putih-emas membalut tubuh seksi dan cantiknya dengan sempurna, rambut panjangnya diikat tinggi, matanya penuh ketegasan.
“Kita mulai dari babak penyisihan,” kata Arkan pelan pada Sela. “Jangan ambil risiko. Tapi kalau ada yang berani kurang ajar… hancurkan.”
Sela tersenyum tipis. “Mengerti, Yang Mulia Raja.”
Mereka duduk di area peserta Paviliun Naga Emas. Tak lama kemudian, suara gong pembuka Turnamen Seribu Sekte menggema. Seorang elder berjubah putih melayang di tengah arena dan mengumumkan aturan: babak penyisihan berbasis eliminasi, 1000 peserta akan dipilih menjadi 100 besar.
Nama Arkan dipanggil di ronde pertama.
Lawannya adalah seorang pemuda dari Sekte Pedang Angin, Nascent Soul Tingkat 3. Begitu pertarungan dimulai, pemuda itu langsung melesat dengan kecepatan angin, pedangnya menebas ribuan bayangan pedang.
Arkan berdiri diam di tempat. Saat serangan hampir mengenai, ia hanya menggerakkan satu jari. Naga Muda Mengaum.
Satu gelombang pedang emas sederhana menghancurkan semua bayangan pedang lawan sekaligus. Pemuda itu terpental keluar arena sambil muntah darah, tulang rusuknya retak.
Seluruh arena hening sesaat sebelum ledakan sorak sorai membahana.
“Baru satu jurus!”
“Siapa dia?!”
Arkan kembali ke tempat duduk seolah tak terjadi apa-apa. Sela menyambutnya dengan senyum bangga dan mencium pipinya di depan umum, membuat banyak orang iri.
Sela sendiri dipanggil di ronde ketiga. Lawannya adalah seorang wanita cantik dari Sekte Bunga Darah, Nascent Soul Tingkat 4. Wanita itu menggunakan jurus racun yang mematikan, kelopak bunga hitam berterbangan di arena.
Sela tersenyum lembut. Ia mengaktifkan Formasi Pelindung Naga Lembut dan maju dengan anggun. Setiap serangan lawan dihalau dengan mudah. Di jurus ke-12, Sela melepaskan Serangan Jiwa Naga — telapak tangan emas yang lembut tapi mengandung tekanan jiwa murni.
Wanita lawannya terpental keras, pingsan di luar arena dengan mulut mengeluarkan darah hitam.
Sorak sorai semakin riuh. Nama “Ratu Naga Sela” mulai disebut-sebut.
Pertarungan berlanjut selama tiga hari. Arkan dan Sela melewati babak penyisihan dengan dominasi mutlak. Arkan bahkan tidak pernah menggunakan lebih dari tiga jurus dalam setiap pertarungan. Sela menunjukkan kecerdasan dan ketangguhan yang membuat banyak orang terkejut.
Di babak 100 besar, Arkan mendapat lawan berat pertama — Xiao Han, Putra Mahkota Kekaisaran Naga Hitam Abadi.
Xiao Han melangkah ke arena dengan aura Nascent Soul Tingkat 7. Tubuhnya tinggi besar, matanya penuh kebencian. “Pendatang dari Dunia Bawah. Hari ini aku akan tunjukkan perbedaan antara kita.”
Arkan tersenyum dingin dan melangkah masuk. “Silakan tunjukkan.”
Pertarungan dimulai.
Xiao Han langsung melepaskan Naga Hitam Menelan Langit — sebuah naga hitam raksasa yang membuka mulut ingin menelan Arkan. Arkan hanya mengangkat Pedang Raja Naga.
Raja Naga Turun ke Dunia!
Bayangan naga emas raksasa muncul dan bertabrakan langsung dengan naga hitam. Ledakan dahsyat mengguncang seluruh arena. Formasi pelindung retak di beberapa tempat.
Keduanya bertukar puluhan jurus dengan kecepatan tinggi. Xiao Han memang lebih tinggi levelnya, tapi teknik Arkan jauh lebih murni dan dominan. Setiap serangan Arkan membawa tekanan jiwa Raja Naga yang membuat Xiao Han semakin tertekan.
Di jurus ke-47, Arkan melepaskan Transformasi Naga Emas Sejati sebagian. Sisik emas muncul di lengannya. Dengan satu tinju penuh kekuatan, ia menghantam dada Xiao Han hingga putra mahkota itu terbang keluar arena dan menabrak dinding pelindung.
Seluruh stadion hening total.
“Tidak mungkin… Xiao Han kalah?!”
Arkan berdiri di tengah arena, napasnya masih teratur. Ia menatap ke arah tribun Kekaisaran Naga Hitam Abadi dengan senyum dingin.
Sela berlari ke arena dan memeluk Arkan di depan jutaan penonton. Ciuman singkat mereka membuat penonton semakin heboh.
Babak selanjutnya semakin ketat. Di babak 32 besar, Sela bertemu dengan seorang jenius wanita dari Sekte Bulan Dingin. Pertarungan mereka berlangsung indah dan mematikan. Sela akhirnya menang setelah 89 jurus dengan jurus Jiwa Naga Bersatu yang semakin sempurna.
Malam harinya, di penginapan mewah yang disediakan panitia, Arkan dan Sela mandi bersama di kolam air panas spiritual. Arkan memeluk Sela dari belakang, tangan kekarnya menyentuh tubuh gadis itu dengan penuh kasih dan hasrat.
“Kamu semakin kuat,” bisik Arkan sambil mencium leher Sela. “Aku bangga padamu.”
Sela mendesah, bersandar ke dada Arkan. “Semua karena kamu. Aku ingin selalu layak berdiri di sampingmu.”
Mereka menyatu di dalam air panas. Gerakan pelan namun dalam, penuh cinta dan gairah. Naga Qi mereka bercampur lagi, memperkuat ikatan jiwa. Arkan naik ke Nascent Soul Tingkat 4 akhir, Sela ke Tingkat 3 pertengahan.
Turnamen berlanjut. Di babak 16 besar, Arkan bertemu dengan seorang monster dari Sekte Iblis Darah. Pertarungan itu sangat brutal. Arkan akhirnya menang dengan jurus Mahkota Naga Abadi, tapi ia terluka cukup parah di bahu.
Sela merawatnya sepanjang malam dengan penuh kasih sayang dan kekhawatiran. “Jangan memaksakan diri lagi.”
Arkan tersenyum dan menarik Sela ke pelukannya. “Aku harus tunjukkan pada dunia ini siapa yang berkuasa.”
Babak semifinal tiba. Arkan melawan seorang jenius dari Klan Langit Suci. Sela melawan putri dari Sekte Bunga Abadi.
Kedua pertarungan berlangsung epik. Sela menang dengan tipis setelah pertarungan 120 jurus. Arkan menang dengan dominasi mutlak dalam 45 jurus.
Final akhirnya tiba.
Lawan Arkan di final adalah seorang pemuda misterius bernama Lin Tian, yang selama ini menyembunyikan kekuatannya. Aura Lin Tian mencapai Nascent Soul Tingkat 8 — level tertinggi di antara peserta.
Pertarungan final dimulai di bawah sorak sorai jutaan penonton.
Lin Tian menggunakan pedang cahaya suci. Arkan menggunakan Pedang Raja Naga. Pertarungan mereka begitu hebat hingga arena retak di beberapa tempat. Langit di atas Kota Langit berubah warna — emas bertabrakan dengan putih suci.
Setelah 200 jurus yang melelahkan, Arkan melepaskan seluruh kekuatannya. Jiwa Naga Keabadian!
Bayangan Naga Emas Agung muncul di belakangnya. Serangan pamungkas itu menghantam Lin Tian telak. Pemuda itu terpental keluar arena dan pingsan.
Arkan berdiri sebagai juara Turnamen Seribu Sekte.
Sorak sorai mengguncang langit. Panitia memberikan hadiah utama — Batu Dewa dan Token Masuk Alam Rahasia Langit Tinggi.
Arkan mengangkat trofi di atas kepala sambil menarik Sela ke sisinya. Mereka berciuman di tengah arena di depan jutaan orang, simbol kekuatan dan cinta yang tak terkalahkan.
Namun di balik sorak sorai, seorang pria berjubah hitam di tribun VIP tersenyum dingin.
“Pewaris Naga Emas… kau semakin menarik. Kekaisaran Naga Hitam Abadi akan segera bergerak.”
Arkan merasakan tatapan itu. Ia menoleh ke arah pria tersebut dengan senyum dominan.
Badai yang lebih besar baru saja dimulai di Dunia Tengah.