NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

Hana paling benci disuruh datang ke acara keluarga Soediro. Keluarga besar dari almarhum ayah-nya, Denis Soediro. Entah itu arisan, kawinan, syukuran, atau lebaran. Pokoknya malas dan sebisa mungkin tidak datang. Sayangnya, Sara Camilla (ibunya) selalu memaksanya datang dan datang. Sara rindu akan kasih sayang mertuanya. Eyang Uti Hana. Sang mantan ketua dokter keprisidenan tiga periode. Salah satu dokter penyakit dalam, dengan sub-spesialis ginjal terbaik yang ada di Indonesia.

Semenjak Denis meninggal, Hana dan Sara bak anak pungut dalam lingkaran keluarga dokter itu.

Apa Hana merindukan hal yang sama?

Jangan ditanya! Sama sekali tidak!

Hanabenci banget. Sangat amat benci. Apalagi setiap ingat keputusan Eyang Uti menutupi kesalahan malpraktik Pakde Devan yang membuat Ayah Hana meninggal. Ditutupi dari segala penjuru. Bahkan tidak ada satupun saudara di luar keluarga inti mereka yang tahu. Memang menyebalkan. Terlebih Pakde-nya itu satu kali pun tidak pernah memohon maaf pada Hana dan ibunya. Selalu berlagak paling benar. Paling hebat. Padahal bersembunyi di ketiak Eyang Uti. Berkat ketidakadilan Eyang Uti dan pengecutnya Pakde Devan. Seluruh keluarga acap kali menuduh Hana sebagai penyebab kematian Denis. Serangan jantung yang datang tiba-tiba pada tubuh ayahnya yang suka olahraga dan hidup sehat itu. Dianggap mereka berasal dari keputusan kontroversial Hana yang tidak lanjut KoAs saat lulus fakultas kedokteran Harvard.

Bagai sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Tidak pernah dibayangkan oleh Hana dan Sara sebelumnya. Kehilangan matahari sekaligus pelindung. Hana hilang arah. Sara lebih parah. Karena itu Hana berakting kuat dan tegar demi ibunya. Saat yang mana dirinya pun butuh dekapan dan dukungan. Keadaan yang sungguh membuat Hana jauh lebih keras kepala. Hana menutup telinga dari gunjingan para saudara bak haters berkedok netizen.

Hana selalu punya cara sendiri untuk membalas perbuatan Eyang Uti dan Pakde Devan. Dimulai dari tidak ikut koas, kabur dari Harvard Medical School, kuliah fashion di Paris, jadi aktris film (sangat sukses pula), serta membangun kerajaan bisnisnya sendiri dengan sebuah brand yang dinamai persis seperti namanya. Hana menjadi satu-satunya cucu generasi ketiga Soediro yang tidak berprofesi sebagai dokter namun memiliki pendapatan tertinggi di antara mereka semua. Secara popularitas pun tak ada yang mampu menyaingi Hana.

"Bisa nggak sih muka lu santai sedikit, Nyet?" tegur Nana alias Arana Soediro. Satu-satunya sepupu yang satu frekuensi dengan Hana.

Nana datang membawa dua gelas mojito lime di kedua tangannya. Ia mengulurkan gelas di tangan kanan pada Hana yang langsung menerimanya.

"Sesinis-sinisnya muka gue. Gue akan tetap lebih cantik dari lu ataupun Lana, Nyet," balas Hana dengan ekspresi menyebalkan.

Nana hanya bisa tertawa canggung dengan muka masam. Nana tidak bisa membantah kalimat balasan Hana. Ya, karena Hana memang secantik itu. Namanya juga aktris kan! Mau sejago make up kayak gimana pun, seperawatan mahal apapun, operasi plastik di Thailand sampai Korea sekalipun, kalau bersaing sama yang dikasih bakat cantik langsung dari Tuhan, mana bisa menang.

Benar nggak?

"Sialan lu!" seru Nana.

Hana terkekeh.

Mereka menenggak mojito bersamaan. "Lu tahu nggak, Han?"

Oh ini adalah cara Nana memulai cerita gosip keluarga besar mereka. Hana sudah paham betul.

"Hmm.... gosip siapa lagi nih? Heran gue sama lu, Na. Lu kan katanya sibuk banget ya di klinik kecantikan lu. Belum lagi kebiasaan win win solution sama deretan korban tebar pesona lu. Tapi masih sempat-sempatnya lu update gosip keluarga bobrok ini," ujar Hana hilarius.

Percayalah! Anda hanya bisa melihat sosok Hana yang nggak ada jaim-jaimnya di depan Nana saja. Jutaan fans-nya di tanah air ini mana tahu sisi cengengesan dan nggak tahu malunya Hana ini.

"Sebutin aja terus Han! Semua aib gue! Paling besok lu baca ratusan artikel viral berjudul Adrianne Hana dan kisah bucin tolol-nya dengan produser berinisial ABM," sahut Nana.

Hana langsung melotot.

"Then it will becomes your last day, Arana Soediro," ancam Hana dengan tatapan tajam.

Nana tertawa terbahak.

"Istigfhar lu, Han. Ruqiyah bila perlu! Ngapain coba lu masih mengharapkan Arnold Schwarzenegger kw 7 kayak begitu saat lu bisa dapetin laki manapun dengan satu kali tunjuk?!" tukas Nana mengingatkan Hana akan kebodohannya memendam perasaan cinta pada Arnold selama 4 tahun ini. Berawal dari sebuah film yang diproduseri Arnold untuk pertama kalinya. Film yang sukses besar. Film yang mendekatkan mereka dari sekedar partner kerja menjadi teman. Well, belum bisa disebut teman dekat sih. Tidak juga teman tapi mesra. Padahal Hana berharap sekali Arnold menatapnya sebagaimana cowok lain menatapnya. Terkadang kalau sudah mentok atau kepalang sebal, Hana berprasangka kalau Arnold memiliki penyimpangan seksual alias bukan straight.

Kok bisa?

Kalian mungkin nggak akan mau tahu alasannya.

"Namanya Arnold Baskara Mahendra! Bukan Arnold Schwarzenegger!!!" gemas Hana atas kebiasaan Nana yang suka mengubah nama Arnold seenak udelnya.

Lantas, apa Nana peduli?

Sama sekali tidak. Sepupunya itu malah terlihat mengacuhkan kesewotan Hana.

"Eh, Nyet. Lu kenal keluarga Reishard nggak?"

Hana jengkel setengah mati mendengar Nana malah mengganti topik. Emang dasar Nana!

"Enggak!" judes Hana.

Nana memasang wajah kaget. Bukan karena suara Hana yang menyentak. Melainkan karena jawaban Hana.

"Masa lu nggak tahu!?" sebal Nana merasa Hana tidak pernah asik kalau diajak bergosip. Hana memang paling anti kegiatan tidak berfaedah semisal mengurusi hidup orang lain. Sungguh langka makhluk seperti Hana ini.

"Ya namanya nggak tahu!" sahut Hana ikutan bernada tinggi.

"Padahal bulan lalu lu muncul di majalah yang sama. Lu sebagai cover-nya. Reiga sebagai the most influencer," ujar Nana.

Berkat omongan Nana, Hana sukses dibuat berpikir. Otak tengah perempuan itu terpancing untuk mencari berkas mengenai ingatan bernama Reiga. Sayangnya, tidak ada berkas yang cocok.

"There's no one called Reiga saat gue pemotretan bulan lalu!" yakin Hana.

Padahal bulan lalu ia habis pemotretan untuk tiga majalah yang jalur edarnya bukan hanya di Indonesia. Tapi ingatannya memang sebagus itu. Nana menatap heran Hana. Si paling jenius di antara mereka berlima yang membelot dari jalur takdir keluarga. Sekarang malah menjadi aktris papan atas. Dalam satu barisan bersama yang namanya Putri Marino, Dian Sastrowardoyo, Laura Basuki, Acha Septriasa, Raihannun, Adinia Wirasati dan masih banyak lagi. Si peraih tiga piala citra sebagai pemeran utama wanita terbaik dalam ajang festival film Indonesia. Festival penghargaan tertinggi bagi para sineas perfilman negara ini. Ajang yang bukan sembarang orang bisa jadi pemenangnya. Jangankan pemenang, masuk nominasi saja sudah menjadi sebuah prestasi luar biasa. Penonton film Hana tidak pernah di bawah satu juta. Selalu box office. Bisa dikatakan keikutsertaan Hana adalah sebuah jaminan pasti kesuksesan sebuah film. Karena itu banyak produser rumah produksi ternama negara ini ingin merekrutnya sebagai pemeran utama.

"Gue sampai detik ini masih heran kenapa lu nggak jadi dokter bedah jantung terbaik gantiin Akung aja sih, Han?" celetuk Nana merusak mood Hana seketika.

"Emangnya lu sanggup dibanding-bandingkan sama gue tiap detiknya baik offline maupun online?" ucap Hana nyeleneh.

Nana kembali tertawa canggung dengan muka masam. Iya sih, Hana benar juga. Kalau Hana tetap menjadi dokter, wah hidupnya mungkin akan lebih pelik dari sekarang. Dibanding-bandingkan dengan Lana saja selalu membuatnya pusing. Apalagi kalau lawannya Hana? Nana bisa jadi langsung vertigo. FYI, semua sepupunya malah bersyukur Hana tidak jadi dokter seperti mereka. Dengan tidak jadinya Hana sebagai dokter. Beban mereka sedikit berkurang. Paling tidak, mereka tidak perlu berusaha lebih keras untuk mengimbangi Hana.

"Ada benarnya juga omongan nggak enak lu barusan ya, Han," sahut Nana.

Hana tertawa kecil lalu menyeruput mojito-nya.

Tanpa sengaja ia melihat kearah Lana yang tengah dipromosikan Eyang Uti sebagai terbaik dari yang paling terbaik. Cucu kesayangan bermahkotakan kebanggaan. Tanpa saing. Tanpa lawan. Tertawa formalitas pada kenalan Eyang Uti yang sengaja diundang ke arisan keluarga ini. Demi membangun sebuah relasi per-rumah sakit-an yang sudah turun temurun digandrungi keluarga Soediro.

"Kita semua mau dijodohin sama Eyang Uti," cetus Nana.

BYUR!!

Mojito Hana keluar lagi. Untung setengahnya sudah ditelan.

"Maksud lu!?" Kaget Hana.

"Dengan pria yang sama," tambah Nana kian mencekam dengan ekspresi yang ditirunya dari salah satu adegan drama di Netflix yang sering jadi pembunuh kantuknya saat shift malam.

"Sinting!" seru Hana.

"Kok bisa sih Eyang Uti tega lihat kita bertiga di poligami!!!" seru Hana lagi dengan ekspresi berapi-api.

Nana bengong mendengar kata poligami tercetus dari mulut si paling jenius. Lantas tiga detik kemudian, Nana tertawa terbahak.

"Anjir! Lu masih bisa ketawa, Nyet!?" sebal sekaligus herannya Hana.

"Abisnya lu lucu banget, Han!"

"Lucu di mananya? Eyang Uti lu tuh yang lucu banget idenya!! Saking lucunya sampai buat gue pengen terbalikin meja sekarang juga!" sahut Hana.

"Enggak lu patahin sekalian kursinya sama ilmu taekwondo lu, Nyet?" ledek Nana.

"Nggak lucu, Arana Soediro!!" seru Hana dengan mata melotot.

Nana menghentikan tawanya.

"Kita nggak bakal dipoligami, pinter! Gue juga ogah kalau begitu!" ujar Nana yang paling tahu rasanya selingkuh. Secara dia adalah seorang playgirl kelas Megalodon. Nenek moyang Hiu di zaman purba.

"Terus!?"

Hana ingin tahu kejelasan berita ini segera.

"Reiga akan menyeleksi dengan siapa dia mau dijodohkan dari kita bertiga. Lu, gue, dan Lana," jawab Nana.

Muka tegang Hana berubah jadi bengong.

"Wait! What!?" tukasnya tak percaya.

"Yup! Kita bertiga akan secara bergantian nge-date sama yang namanya Reiga Reishard," ucap Nana.

"Sinting!" seru Hana kembali emosi.

Nana tergelak tawa.

"Tenang aja, Nyet," ucapnya.

"Mana bisa gue tenang!? Pokoknya gue nggak mau datang!" tukasnya penuh keyakinan.

"Lu datang juga nggak akan mengubah fakta Lana yang akan dipilih Reiga," ujar Nana.

Ekspresi Hana berubah bertanya. Keningnya mengerut. Penasaran akan alasan dibalik Nana bisa mengatakan kalimat barusan.

"Hah?"

Nana menatap Hana.

"Lana tuh udah kenal Reiga. Dua tahun. Laju kita nggak sama dengan dia. K-A-L-A-H J-A-U-H!

Dan rumor yang gue dengar sih. Keikutsertaan lu dan gue ya sebagai formalitas aja. Supaya ini semua terlihat adil. Why? Karena Eyang Uti sejatinya ingin menjodohkan Lana dengan Reiga. Bukan kita," ucap Nana panjang kali lebar.

Bibir Hana menyunggingkan sebuah senyum.

"Alhamdulillahhhhhhhhhh," pekiknya sampai semua tamu menatap kearahnya.

Termasuk Eyang Uti dan Lana.

"Gila lu ya!" omel Nana membuka mulut tanpa suara.

Hana malah cengar-cengir tanpa beban.

*

"Siapa?" tanya ulang Reiga begitu keluar dari lift pribadi menuju ruangannya yang berada di lantai 19 gedung Reishard Corporation.

"Bapak," jawab Dimas.

Langkah kaki Reiga terhenti. Dia yang tadinya sibuk membaca laporan yang tengah dibawanya dengan tangan kiri mendadak menoleh ke belakang. Sontak langkah Dimas pun ikut berhenti. Kaget.

"Saya dijodohin?"

Dimas mengangguk takut. Reiga tertawa renyah.

"Sama siapa?" tanya Reiga lagi.

"Berkas biodata kandidat sudah saya kirim ke email, Pak Reiga," jawab Dimas.

Reiga menghela napas.

"Okay. We'll see. Menyenangkan Papa apa salahnya kan," tukas Reiga lalu berbalik kembali dan melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.

Terdengar Dimas menghela napas seraya mengelus dada. Reiga bisa tahu sekalipun asisten pribadi merangkap sekretaris-nya itu berjarak tiga langkah darinya. Lebih dari itu, Reiga memang memiliki kemampuan rahasia. Kemampuan yang hanya diketahui Papa-nya, Rahardian Reishard.

"Untung Pak Reiga nggak marah. Kirain mau ngamuk. Pak Rahardian ada-ada aja sih, Pak Reiga seganteng dan sekaya ini pakai segala mau dijodohin. Pak Reiga juga sih sampai sekarang masih jomblo! Boro-boro pacaran. Mainin perempuan aja enggak. Heran gue!" celetuk Dimas dalam pikirannya.

Reiga tersenyum mendengarnya.

Ya.

Reiga memang bisa membaca pikiran manusia lain. Lebih dari itu, jika ia mau, Reiga bisa memanipulasi pikiran siapapun agar mengikuti maunya. Berkedok sebagai suara hati. Reiga terlahir dengan kemampuan itu. Pria dengan tinggi 180 cm ini baru benar-benar menyadarinya saat berusia lima tahun. Saat tragedi kelam yang menimpa keluarganya terjadi. Ah, sebenarnya bukan hanya kemampuan membaca pikiran yang dia punya. Reiga juga bisa melihat makhluk tak kasat mata. Memerintah mereka. Bahkan, memusnahkan mereka. Reiga pun mampu melihat masa lalu orang lain baik sengaja maupun berniat. Menilik isi hati terdalam seseorang bukanlah hal sulit untuknya.

Apa Reiga juga bisa melihat masa depan?

Ya.

Jawabannya adalah ya. Bukankah karena itu, Rahardian sengaja mendesak putra semata wayangnya dalam lubang bernama perjodohan. Di zaman serba teknologi dan cashless ini. Masa yang mana manusia bisa mencari jodoh melalui aplikasi. Rahardian memilih untuk menjodohkan Reiga. Bukan tanpa alasan. Ia tahu putranya tidak berniat menikah. Bukan karena Reiga itu gay seperti rumor samar yang digaungkan lawan bisnis mereka selama ini. Reiga hanya tidak percaya akan cinta. Kebisaannya membaca pikirannya membuatnya bebas menyadap pikiran siapapun. Khususnya para perempuan yang mendekatinya. Rahardian pun merasakan beban moril atas keputusan nggak minat nikahnya Reiga. Ada andil dirinya dan Sheila, mantan istrinya, ibu kandung Reiga, dibalik keputusan tersebut.

Reiga tahu itu. Rasa bersalah yang dipendam Papa-nya. Kadang ia merasa konyol mengapa Papa-nya selalu berkilah akan perasaan ini setiap kali Reiga membahasnya. Bukan salah Rahardian saat Sheila memilih berselingkuh dengan cinta pertama SMA sejak Reiga berusia 5 tahun. Bukan salah Rahardian pula jika Sheila akhirnya memilih bercerai dan mencampakan mereka berdua demi lelaki kampret yang bahkan tak ada kuku-nya jika dibandingkan dengan Papa-nya saat Reiga berusia 8 tahun. Bukankah Papa-nya juga termasuk korban? Korban paling nelangsa. Lebih menyedihkan lagi karena mereka bisa melihat masa depan. Sama-sama melihat kehancuran itu. Perbedaannya hanyalah, Reiga yang belum bisa berbuat apa-apa, kadung bingung dengan apa yang dilihatnya. Lalu Rahardian yang sekuat tenaga mencoba mengubah apa yang akan terjadi di masa depan. Sendirian. Sangat amat meyakitkan. Mendengar dan melihat perasaan serta pikiran orang yang kita cintai mencintai orang lain. Berpura-pura seakan tidak tahu apa-apa. Berakting bahagia dengan senyum lebar tanpa masalah. Papa-nya memang luar biasa. Reiga pun mengakuinya. Tapi untuk menjadi seseorang dengan hati selapang itu? Reiga merasa ia tidak akan sanggup. Bahkan sampai detik ini, Reiga jarang berkomunikasi dengan Mama-nya. Sekadar formalitas. Itupun diingatkan Dimas.

Namun, Reiga juga tidak bisa menyangkalnya. Jikalau sejak hari itu. Hari yang mana ia tahu bahwa Papa-nya juga memiliki kemampuan yang sama dengan miliknya. Hari pertama saat mereka bicara dalam pikiran. Ketika Rahardian meminta maaf karena telah gagal memberikan keluarga yang utuh untuk Reiga. Hari terakhir Reiga mempercayai bahwa cinta sejati itu ada. Awal di mana Reiga menyimpulkan bahwa semua manusia sama saja.

Tanpa ketulusan. Penuh keegoisan. Keras kepala. Mau menang sendiri. Semua sifat dan sikap yang ditunjukkan Mama-nya saat melangkah pergi melewatinya atas nama cinta. Anjinglah sama cinta! Ti Pat Kay benar dengan kalimat cinta oh cinta deritanya tiada akhir. Sejak itu Reiga menyematkan dirinya sebagai si anti cinta sejati. Sebegitunya mengagungkan cinta sampai tidak pakai logika lagi. Sampai begitu tega membuang anak kandung demi lelaki bergelar cinta pertama. Beralasan ketidakbahagiaan sebagai pembenaran sikap tak bermoral. Reiga muak akan cinta. Tak banyak yang tahu. Well, memang hanya Papa-nya yang tahu. Baik itu kemampuan 'aneh' yang mereka miliki. Juga keputusan menjadi si anti cinta sejati yang Reiga ambil.

KRET!

Dimas membukakan pintu ruangannya. Reiga masuk ke dalam pintu yang dibukakan Dimas.

"Jadwal saya, Dim," ucap Reiga sambil berjalan menuju mejanya.

Ruang kerjanya sebagai CEO memang luas. Penuh dengan jendela berkaca. Puluhan gedung tinggi ibukota adalah pemandangan sehari-hari Reiga saat bekerja di belakang meja.

"2 jam lagi ada meeting dengan tim marketing sales Patra. Setelahnya Pak Reiga ada meeting dengan tim medsos Gab untuk mendengarkan ide promosi mereka yang terbaru. Pak Reiga ada janji lunch sama Pak Zidane di cafetaria rumah sakit. Setelah itu, kita akan turun lapangan untuk mengecek proyek properti di PIK, Pak. Lanjut meeting online dengan Mr. Jerome yang ada di Belanda untuk membahas bisnis logistik Reishard yang ada di Eropa. Habis itu Pak Reiga ditunggu Mr. Fransesco untuk membicarakan kelanjutan kerja sama investasi di tim balapnya. Lalu ..."

Reiga yang sudah di belakang mejanya. Tepat di kursi aerodinamis yang beroda di bagian bawahnya mendadak terkekeh. Kening Dimas mengerut karena bingung.

"Kalau nanti Pak Rahardian telepon kamu untuk sekadar memata-matai saya. Titip bilang sama dia. Gimana saya mau kasih menantu, kalau saya aja nggak dikasih waktu untuk duduk dengan tenang?"

ucap Reiga.

Dimas tersenyum lebar mendengarnya.

"Siap, Pak."

"Nanti pas lunch sama Zidane, kamu nggak usah ikut ya, Dim. Saya mau bawa mobil sendiri. Udah selesai di servis kan?"

Dimas mengangguk.

Lima tahun jadi asisten Reiga. Dimas sudah terbiasa mengurus semua perintilan dalam hidup lajang kualitas dewa ini. Dimas juga tahu kebiasaan aneh di luar perkiraan BMKG yang dianut bos-nya itu. Satu diantaranya adalah membeli tiga barang yang sama. Contohnya, tiga mobil Ferrari merah yang ditaruh Reiga di kantor, penthouse miliknya di Pakubuwono, dan rumah Papa-nya. Memang bukan hal yang sulit bagi Reiga untuk membeli tiga Ferrari atau bahkan lebih.

"Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya ya, Pak," pamit Dimas.

"Ya. Terima kasih. Selamat bekerja," ujar Reiga ramah.

Dimas mengangguk lalu keluar dari ruangan tersebut. Tepat 13 detik kemudian, Rahardian Reishard atau yang dinamai Reiga sebagai kepala suhu di kontak teleponnya muncul di layar handphone. Sebuah video call.

"Kenapa, Pah?"

"Udah lihat berkas yang Papa titip sama Dimas?"

"Hmm..."

"Kok cuma hmm....? Berarti belum dilihat sama kamu ya, Rei!?" tuduh Rahardian.

"Nih sambil Reiga lihat, Pah," ujar Reiga santai.

Dia memang tengah membuka berkas tersebut sekarang. Dari tiga kandidat, ada satu yang sudah dikenalnya selama 2 tahun ini. Alana Soediro. Teman satu rumah sakitnya Zidane, sahabatnya Reiga sejak SD.

"Kalau cuma mau jodohin Reiga sama Lana, kenapa sampai repot memunculkan dua kandidat lainnya, Pah?" gumam Reiga sambil membaca profil, riwayat hidup, serta latar belakang Arana Soediro.

Rahardian tertawa kecil.

"Emangnya kamu bakal langsung setuju dan mau dijodohin sama Lana?"

"Enggak," jawab Reiga cepat tanpa berpikir lagi.

"Tuh kan!"

"Lana nggak cocok sama Reiga, Pah."

"Menurut Papa, kalau kamu terus baca isi pikiran mereka ya jelas nggak akan ada yang cocok sama kamu, Rei," ujar Rahardian yang paham benar putranya.

"It's not even my foul. Pikiran mereka aja yang terlalu berisik. Terlalu menggebu," sahut Reiga.

"Iya sih."

"Nah, setuju kan sama Reiga."

Ganti Reiga yang tersenyum lebar. Rahardian terlihat menyender di kursi miliknya lalu menghela napas.

"But i wanna see you marry, Son. Papa mau lihat kamu berbahagia dengan anak dan istri kamu," gumam Rahardian dari dua bola matanya yang memantulkan pengharapan tersirat pada Reiga.

Reiga menghela napas.

"Jadi menurut Papa, sekarang Reiga nggak berbahagia?"

"Ya."

"Karena?"

"Nggak punya pacar. Kerjaannya urus bisnis aja.

Kasian Dimas, hampir diputusin sama pacarnya loh dia karena nggak ada waktu senggang," ucap Rahardian panjang lebar.

"Hmm...," Reiga bergumam.

"Just say you will come," desak Rahardian.

"Oke. Baik. Reiga bakal ikutin maunya Papa."

Rahardian tersenyum lebar.

"Tapi kalau semisal Reiga cocoknya bukan sama Lana nggak apa-apa kan?"

"Apa sih yang kurang dari Lana? Dia cinta banget loh sama kamu. I see it in her mind. Dan Papa yakin kamu juga lihat kan? Latar belakang Lana juga jelas. Keluarganya terpandang. Profesinya bagus. Cantik. Pintar. Body goals. You will make a great team with her, Rei," ujar Rahardian penasaran dengan isi kepala Reiga yang sudah selama 20 tahun ini tidak bisa dibacanya. Putra semata wayangnya itu luar biasa. Mengembangkan kemampuan aneh mereka sampai segitunya. Sesuatu yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Rahardian selama ini.

"Enggak ada manusia yang cinta banget sama manusia lainnya, Pah."

"Rei..."

Ah, luka yang mereka derita bersama.

"Mama aja bisa tinggalin kita dengan mudah. Tinggalin Reiga. Padahal katanya cinta ibu itu sepanjang masa dan tanpa syarat kan?"

"Rei ...."

"Pikiran Lana yang cinta banget sama Reiga itu akibat dari Reiga yang nggak pernah menyambut semua kode yang dia kasih selama dua tahun ini. Bukan karena Reiga gay ya. Reiga malas aja menyempatkan waktu untuk sesuatu yang nggak jelas," ujar Reiga.

Rahardian bisa melihat Reiga mulai sinis dalam pembicaraan ini. Tapi ia tidak akan menyerah. Putra semata wayangnya ini harus menikah. Kalau tidak tahun ini ya tahun depan.

"Jangan sok tahu! Belum dicoba kan."

Reiga terkekeh.

"Kata siapa? I can see it so damn clearly with my eyes," ucap Reiga mengingatkan Papa-nya akan kemampuan aneh yang mereka miliki. Yang salah satunya bisa melihat masa depan itu.

"Kamu hanya belum menemukan seseorang yang bisa buat kamu hilang logika," tukas Rahardian yang selalu berdoa pada Tuhan untuk melihat versi bucin anaknya yang sangat dingin. Bukan sedingin kulkas 4 pintu lagi. Dinginnya Reiga bagaikan desa Oymyakon yang ada di Rusia. Sepanjang tahun tidak ada musim selain musim dingin.

Reiga tersenyum meledek.

"Kayak apa sih hilang logika itu?" sahutnya dengan ekspresi yang membuat Rahardian ingin mentoyor kepala putranya.

"I don't care what you say! Pokoknya datang ya ke semua pertemuan itu. Nggak sama Lana juga nggak apa-apa. Nggak harus langsung... JEBRET! nikah juga nggak masalah. I just wanna see you dated a girl, Son. Okay?"

"Hmm," Reiga menjawabnya dengan sebuah gumaman saat tangan kanannya tengah mengklik berkas bernama Adrianne Hana. Keningnya mengerut. Alis kanannya melengkung naik. Reiga mengenali perempuan ini sebagai idolanya Zidane dan Dimas. Seorang aktris papan atas. Sungguh kaget mengetahui Lana memiliki sepupu dengan kaliber berat begini.

"Reiga baru tahu kalau Lana itu sepupu-nya Adrianne Hana. Idolanya Zidane sama Dimas," celetuk Reiga.

"Hana ya. Anaknya almarhum Om Denis. Ingat kan sama Om Denis? Teman main golf Papa dulu," sahut Rahardian.

Reiga mengangguk.

"Yang meninggal kena serangan jantung kan?"

Rahardian tak langsung mengiyakan. Karena ia pernah melihat isi pikiran Devan saat melayat ke rumah Denis waktu itu. Rasa bersalah karena telah salah mengambil keputusan saat operasi. Tapi Reiga tak perlu tahu hal itu kan?

"Hmm," jawabnya.

Reiga menatap Rahardian seakan curiga dengan jawaban singkat Papa-nya.

"Lulusan Harvard Medical School?" kaget Reiga.

Rahardian mengangguk berulang.

"Emangnya Zidane nggak cerita kalau Hana satu angkatan sama dia?"

"Cerita sih. Zidane bilang di angkatannya dulu ada makhluk kayangan tak tersentuh. Cantik. Jenius banget. Tapi nggak sangka aja kalau Adrianne Hana yang aktris itu beneran lulusan Harvard.

Kedokteran pula. Kok malah jadi artis sih?"

Rahardian tertawa.

"Tanya sendiri aja sama Hana kalau ketemu nanti," jawabnya.

"Siap, Pak," sahut Reiga nyeleneh.

Rahardian kembali tertawa. Entah mengapa ia merasa sesuatu yang baik akan datang.

"Nggak usah senyam-senyum kali," tukas Reiga.

Bibir Rahardian malah semakin tersenyum lebar.

"I guess something good will happens soon," ucap Rahardian yakin.

"Aamiinin nggak nih?" ledek Reiga sambil senyum.

Papa-nya itu terkekeh kembali.

Arnold tersenyum begitu lebar setelah mendengar desas-desus yang tersebar di ruang make up. Berasal dari obrolan bisik-bisik Hana dan Juni, asistennya Hana. Perkara perjodohan yang dicetuskan Eyang Uti. Betapa bahagianya bujang asal Bandung itu. Lana, pujaan hatinya. Incarannya.

Ya.

Arnold memang menyukai Lana. Cinta pada pandangan pertama. Sudah sejak empat tahun lalu.

Hati itu jatuh tepat ketika Hana mengenalkan Arnold pada Lana di resepsi pernikahan Gita. Salah seorang sepupu Lana dan Hana yang juga seorang tata rias yang biasa bekerja dengan Arnold. Serasa direstui semesta, setidaknya Arnold merasa begitu. Dengan adanya perjodohan ini peluang Lana berakhir dengannya akan jauh lebih besar. Reiga sudah pasti akan memilih Hana. Si paling terbaik dari segala yang luar biasa. Ah, sudah paling benar begitu.

"Hai," sapa Arnold begitu Hana membuka pintu

kaca ruang meeting production house milik Arnold.

"Ha-i," jawab Hana terbata agak bingung dengan

ekspresi bahagia Arnold.

"Duduk, Han," ucap Arnold seraya berdiri mempersilahkan Hana duduk dihadapnya.

Hana duduk. Menaruh tas tangannya di atas

meja.

"Ada apa sih, kok kayaknya kamu senang banget?"

Hana tidak tahan untuk tak bertanya.

"Aku dengar kamu dijodohin sama Reiga ya?"

Hana terhenyak. Kok Arnold tahu? Lebih aneh lagi mengapa wajah pria ini begitu senang mendengarnya terjebak dengan ironi Siti Nurbaya ini? Hati Hana langsung terasa sakit begitu saja.

Memang bukan rahasia lagi kalau Arnold jatuh hati pada Lana. Hana sudah tahu sejak lama. Bahwa pria yang dicintai dan diinginkannya setengah mati ini malah jatuh bucin dengan sepupunya sendiri. Karena itulah Nana menyebutnya tolol. Kadang Hana juga berpikiran yang sama. Dengan popularitasnya, kecantikan, dan semua kompetensi yang dimilikinya. Hana malah memilih teguh pada kesemuan, ketololan hakiki ini.

"Kalian berdua akan jadi pasangan paling mencuri perhatian sih. Cocok banget. Sama-sama luar biasa," celetuk Arnold tanpa memperhatikan raut wajah Hana yang sudah berubah.

"Ternyata cinta sendirian itu memang sesakit ini ya, Han? Lu emang bego banget. Benar-benar bego!" ucap Hana dalam hati.

Hana menarik napas panjang perlahan.

Menguatkan dirinya sendiri.

"Yakin banget. Kalau Lana yang dipilih gimana?"

Hana berkata dengan sorot mata tajam. Ekspresi Arnold berubah dari ceria jadi muram. Seakan Hana telah menusuk tubuhnya.

"Dan yang aku tahu, Eyang uti aku tuh sebenarnya ingin jodohin Lana sama si Reiga ini.

Udah kenal selama 2 tahun juga kan? Aku sama Nana cuma jadi kandidat formalitas aja," ucap Hana begitu sinis dan tenang.

Suasana hati Arnold kian buruk mendengarnya.

Semilir angin ketidaktegaan mulai bertiup di dada Hana.

"Nggak apa-apa, Han. Sesekali si kampret nggak peka ini harus lu kasih pelajaran tata krama," bisik Hana dalam hati menguatkan hatinya.

Arnold menelan ludah. Tak terpikir olehnya sampai ke sana. Betapa polosnya ia.

"There's maybe a chance, right? Lagipula lelaki mana yang nggak tertarik sama kamu, Han? Reiga must be stupid if he doesn't choose you," ucap Arnold menghibur dirinya sendiri.

Hana terpekur diam. Mempertanyakan kenyataan yang tengah dihadapinya sekarang. Apa Arnold setidak peka itu sampai tidak menyadari perasaan cinta yang Hana pendam? Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar kan? Atau pria kelahiran Sydney ini memang pura-pura tidak tahu akan perasaannya? Sengaja berakting pertemanan dengannya hanya agar bisa terus mendekati Lana? Hati Hana rasanya remuk redam. Brengsek sekali Arnold jika memang itu faktanya! Rasa sakit macam apa ini? Hana bagai menderita gerd mendadak.

"Kamu, Nold," cetus Hana sudah tidak mempedulikan harga dirinya lagi.

Arnold terdiam. Bagai maling yang tertangkap tangan. Ekspresi yang tidak ingin Hana lihat dari pria yang didambanya setengah mati ini.

"You must be that stupid one," tambah Hana menyerukan isi hatinya setelah empat tahun lamanya.

"Han, aku," Arnold mengatakannya dengan suara tercekat.

Hana berdiri. Dengan tas sudah di tangan. Hari ini ia melihat semuanya dengan jelas. Kebodohan yang mengakar padanya. Kepahitan yang selalu diteguknya. Sungguh konyol dan semu. Yang paling memuakkan dari semua itu adalah si brengsek ini sengaja dan membiarkan Hana menggantung. Lebih menyedihkan dari layangan yang akan putus.

Arnold ikut berdiri. "Han, aku... i'm sorry,"

ucapnya menegaskan kebrengsekkannya selama ini.

Kedua mata Hana berkaca. Demi Tuhan, dia tidak ingin menangis di sini. Tidak di depan Arnold.

Si kampret yang dengan sengaja

mempermainkannya dalam sebuah harapan palsu yang sejatinya tak ada. Si Brengsek ini. Benar-benar sialan!

"Aku udah tanda tangan kontrak. See you in reading, Nold," dingin Hana lalu berbalik pergi. Keluar dari ruangan. Meninggalkan Arnold yang diam, tanpa niat mengejarnya. Tak tergambar betapa sakitnya Hana. Arnold yang dikiranya bisa menggantikan Papa dalam hidupnya. Arnold yang selalu ada dalam hatinya. Berkeliaran disekitarnya bagai pelindung yang dirindukannya. Pengharapan cinta sejati yang ditunggunya. Bukti dari Tuhan bahwa keadilan masih ada. Namun semuanya nol besar. Hana tetap sendirian. Ah, dunia ini memang kejam. Kenapa selalu berpihak pada pihak yang tidak sepatutnya mendapat kemudahan?

Reiga memarkirkan ferrari-nya di lahan parkir rumah sakit. Turun disambut Pak Nanang, security rumah sakit.

"Siang, Mas Rei," sapa Pak Nanang dengan sebuah senyuman akrab.

Reiga yang baru turun dari mobilnya tersenyum.

"Siang juga, Pak Nanang," ucap Reiga.

"Bingkisan yang kemarin terima kasih ya, Mas. Jadi merepotkan Mas Rei," ucap Pak Nanang.

"Nggak repot, Pak. Sebagai pimpinan saya memang berkewajiban menyejahterakan pegawai. Nanti kalau ada kesusahan lagi langsung aja cerita sama HRD. Beritahu semua teman-temannya ya, Pak," ucap Reiga seraya berjalan masuk menuju gedung rumah sakit milik Reishard Corporation.

"Siap, Mas," ucap Pak Nanang.

"Masuk dulu ya, Pak," ucap Reiga ramah.

Pak Nanang mengangguk.

"Selamat makan siang, Mas," jawab Pak Nanang. Reiga menanggapinya sambil mengangguk dan tersenyum. Ia berjalan menuju lift sambil mendengar isi pikiran setiap orang yang berpapasan dengannya. Sebagian isi pikiran itu membuat Reiga tersenyum kecil. Lalu hening saat pintu lift tertutup. Hanya dirinya sendiri sampai di lantai 3, pintu lift terbuka. Lana.

"Hai," sapa Reiga yang tengah menyandar di dinding lift.

Lana tampak kikuk dengan wajah memerah. Ia masuk ke dalam lift. Berdiri di samping kanan Reiga.

"Njir! Kenapa ada Reiga sih? Shit! Malah tadi gue nggak pakai make up lagi. Wait! Tapi gue masih pakai lipstick kan? Ah, please! God! Gue harap gue pakai lipstick. Aamiin!" heboh Lana dalam pikirannya.

Reiga menyembunyikan senyum kecilnya mendengar isi pikiran Lana. Lana diam-diam bercermin secepat kilat melihat bibirnya. Ia menghela napas melihat bibirnya terdapat polesan merah.

"Hai, Rei. Lunch sama Zidane?" Lana mencoba tampil se-natural mungkin.

"Iya. Biasa. Ada yang mau diobrolin," jawab Reiga.

"Ada yang mau diobrolin????? Apa tentang perjodohan kita? They are a bestfriend, rite?! Nggak mungkin ada rahasia di antara mereka!!" Lana kembali heboh dalam pikirannya.

"Rei," gumam Lana memberanikan dirinya.

"Ya?"

"Do you already know about our ..."

Lana sengaja mengambangkan kalimatnya.

Memancing Reiga untuk memanjangkannya. Kening Reiga mengerut. Sungguh sempurna akting pura-pura tidak tahunya.

"...?"

"Kamu pasti udah tahu kan soal perjodohan kita?" Lana yang kadung tak sabaran menunggu jawaban Reiga mencetuskannya sendiri.

"Ya. Terus gimana? Mau dinner? Kapan?" tanya Reiga tanpa ba bi bu lagi.

Lana bengong. Kaget dengan reaksi santai tanpa penolakan Reiga. Pria incaran Lana ini malah menawarkan sebuah makan malam?

"Din---ner?"

Reiga tersenyum.

"Ya biasanya kan pertemuan perjodohan itu berupa makan malam," ucap Reiga.

"I... Iya sih. Aku nggak sangka aja kamu se-welcome ini sama perjodohan kita. Aku kira kamu bakal menolak keras. Karena kamu orangnya cuek banget kan. Sibuk banget juga," ucap Lana dengan wajah super sumringah.

Reiga hanya tersenyum.

"Thanks to God! Eyang Uti juga Papa! Gue tahu hari ini akan datang juga. Hari di mana Reiga Rahardian Reishard jadi milik gue! Tanpa halu.

Tanpa mimpi. Nyata dan fakta!!"

Reiga menahan tawa mendengar isi kepala Lana.

"Jadi kita dinner-nya gimana?" tanya Reiga.

"Kalau ditanya begini, aku jawab maunya di Marina Bay sabtu ini, emangnya kamu mau?" canda Lana penuh harap.

"Please, Rei! Please say yes!!!"

Reiga mengulurkan tangan kanan kearah Lana.

Kedua mata Lana membelalak.

"Deal ya! Sabtu ini aku jemput di rumah. Kita dinner di Marina Bay," ucap Reiga gentleman.

Lana menjabat uluran tangan itu. Begitu excited.

"Ya! Deal!" pekiknya kegirangan bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.

"See you in the weekend, Lan," ucap Reiga seraya melangkah pergi keluar lift.

"Have a good lunch, Rei," ujar Lana penuh semangat.

Pintu lift tertutup. Ditutup dengan keriuhan pikiran Lana. Reiga menghela napas. Entahlah setiap kali ia mendengar kalimat '... milik gue' ada nyeri dihatinya. Seakan kalimat yang terdiri dari dua suku kata itu men-trigger sebuah trauma. Apa iya, Reiga punya trauma? Reiga bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. Kenapa harus ada kalimat saling memiliki yang sungguh menakutkan seperti itu? Manusia bukanlah barang kan? Yang kalau usang bisa dibuang seenaknya. Yang kalau sudah tidak cocok bisa diganti dengan yang baru.

"Udah datang lu, Rei!" Suara Zidane yang menyambutnya dengan riang di lobi lantai 7 membuat pergulatan bathin Reiga terputus.

Berganti sunggingan senyum.

"Kangen gue sama lu, Dane," ledek Reiga.

Raut wajah Zidane berubah bad mood.

"Yaelah, berhenti bikin orang lain berpikir kalo lu sama gue gay kenapa sih, Nyet!!!" sebalnya.

Reiga cuma nyengir. Bersama dua suster penjaga lobi lantai 7.

"Siang, Sus," sapa Reiga kearah dua suster yang langsung gelagapan disapa oleh Reiga.

"Akhirnya bisa cuci mata juga. Pak Reiga kenapa ganteng banget ya," ucap Suster 1.

"Benar ya kata orang-orang, Pak Reiga itu gantengnya nggak ada obat. Sejajar sama Nicholas Saputra. Ihhhh! Coba Pak Reiga bisa ke RS setiap hari!"

Zidane sudah tidak aneh melihat wanita begitu mudah 'jatuh' pada Reiga. Sejak mereka bersahabat di SD. Reiga yang berkarakter cool dan misterius memang dambaan cewek-cewek. Walau Reiga terkesan pendiam. Namun sejatinya sahabatnya ini sungguh ramah. Bahkan kadang Zidane merasa Reiga bisa membaca pikiran orang saking nggak pernah salah menduga. This guy is always right. Konyolnya, Reiga tidak pernah serius dengan perempuan manapun. Zidane belum pernah mendengar lagi seseorang selain Cyila, teman SMA mereka yang bergelar pacar Reiga. Ratusan kali digosipkan gay, gagal move on, biseksual, dan sebagainya oleh banyak orang. Kalau memang gagal move on, Reiga bukankah punya kekuasaan untuk meraih cintanya Cyila kembali. Apalagi si Cyila kerja di salah satu rumah sakit yang dimiliki Reiga.

Zidane tidak pernah melihat Reiga ambil pusing dengan semua gosip yang memang tidak benar itu.

Sahabatnya itu memang punya penyakit kalau sudah tidak peduli maka tidak akan pernah peduli. Reiga memang secuek itu. Somehow, Zidane tahu perceraian Om Rahardian dan Tante Sheila, orangtuanya Reiga, merupakan akar masalah dari sikap anti cinta sejati yang diidap sahabatnya selama ini.

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!