NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh Belas

Semburat jingga di ufuk timur Desa Jinan menyapu kabut tipis yang menyelimuti perbukitan, memberikan kilau keemasan pada hamparan Padi Surgawi yang kini merunduk berat karena bulir-bulirnya telah matang sempurna. Pagi ini, aroma yang memenuhi udara bukan lagi sekadar wangi tanah basah atau melati dari Pohon Memori, melainkan aroma manis yang pekat dari Teratai Imortal yang telah mekar sepenuhnya di tengah Telaga Selatan. Pendaran cahaya pelangi dari kelopak teratai itu memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan suasana yang begitu sakral sehingga napas sembilan naga perak pun terdengar lebih teratur, seolah-olah mereka tidak ingin merusak keheningan pagi yang murni ini.

Zhou Ji Ran berdiri di tepian ladang sawi primadonanya. Ia tidak mengenakan jubah sutra atau zirah perang; ia hanya mengenakan kaos dalam putih yang sedikit longgar dan celana rami kelabu yang digulung hingga ke bawah lutut. Di tangannya terdapat sebuah caping bambu yang baru saja ia perbaiki semalam. Ia menatap deretan sawi hijau yang tumbuh begitu subur, helai daunnya tampak tebal dan segar, tanpa satu pun lubang bekas gigitan hama. Bagi Zhou Ji Ran, melihat sawi-sawi ini tumbuh tanpa gangguan adalah pencapaian yang jauh lebih memuaskan daripada menaklukkan dimensi kegelapan.

"Pagi yang tenang, Tuan. Teh pahit Anda sudah siap, saya juga menambahkan sedikit perasan jeruk purut dari pohon di sudut halaman agar rasanya lebih menyegarkan," suara Lin Xiaoqi memecah lamunannya. Gadis itu berjalan mendekat dengan nampan kayu di tangan, senyumnya tampak sehangat mentari pagi.

"Terima kasih, Xiaoqi. Letakkan saja di atas batu besar itu. Aku ingin memeriksa akar sawi ini sebentar. Sepertinya energi dari 'Penghancur Kelaparan' yang kita tanam kemarin membuat tanah di sini sedikit terlalu hangat," jawab Zhou Ji Ran sambil berjongkok, jemarinya yang terampil menggali sedikit tanah di sela-sela tanaman.

Zhang Tian, Sang Penegak Hukum yang kini sudah sangat mahir mengurus kandang ayam, berjalan mendekat sambil membawa keranjang bambu penuh telur. "Tuan Zhou, ayam-ayam itu tampaknya sangat menyukai pendaran dari Pohon Memori. Pagi ini mereka menghasilkan telur dengan cangkang yang sedikit berwarna perak. Saya rasa nutrisinya meningkat drastis."

"Simpan saja telur-telur itu untuk sarapan para pekerja tebing, Zhang Tian. Mereka butuh energi ekstra hari ini karena kita akan mulai memanen Padi Surgawi di bagian lereng timur," sahut Zhou Ji Ran sambil bangkit dan membersihkan sisa tanah di tangannya pada handuk yang tersampir di lehernya.

Di kejauhan, Sembilan Tetua Awan terlihat sangat tekun dengan tugas masing-masing. Mereka telah dibagi menjadi tiga kelompok: satu kelompok menyapu jalan setapak desa agar tidak ada debu yang masuk ke area pengeringan padi, satu kelompok membersihkan lumut di pinggiran kincir air, dan kelompok terakhir—yang dipimpin oleh Tetua Agung sendiri—sedang memoles dinding luar gudang emas agar tetap berkilau. Mereka bekerja dengan diam, wajah mereka tidak lagi menunjukkan keangkuhan, melainkan kedamaian yang mendalam. Mereka telah menemukan bahwa dalam setiap gerakan fisik yang sederhana, terdapat kejernihan batin yang tidak pernah mereka temukan dalam meditasi ribuan tahun di puncak gunung.

Namun, di tengah harmoni pertanian yang luar biasa ini, riak di kolam kekuasaan semesta kembali bergetar. Zhou Ji Ran mendongak, matanya yang tenang menatap ke langit yang sangat jernih. Di balik birunya langit, ia bisa merasakan adanya distorsi yang sangat halus, seperti riak air di atas permukaan cermin.

"Tamu lagi?" gumam Gu Lao yang baru saja keluar dari rumah sambil menguap. Ia duduk di kursi goyangnya, memandangi langit dengan mata keruhnya yang menyimpan ribuan rahasia. "Ji Ran, sepertinya kali ini mereka tidak mengirim utusan atau jenderal. Aku merasakan aura yang sangat... birokratis."

"Birokrasi surgawi adalah jenis gangguan yang paling menjengkelkan," jawab Zhou Ji Ran sambil menyeruput tehnya.

Seketika, ruang di atas Desa Jinan terlipat seperti selembar kertas. Dari lipatan ruang tersebut, muncul sebuah gerbang perak yang sangat megah, dihiasi dengan ukiran roda waktu yang terus berputar. Dari dalam gerbang itu, melangkah keluar seorang pria paruh baya dengan jubah berwarna ungu tua yang sangat kaku. Di tangannya, ia memegang sebuah buku besar bersampul kulit naga hitam dan sebuah kuas emas yang memancarkan aura 'Hukum Keberadaan'. Namanya adalah Zhao Mu, Sang Penilai Takdir dari Kantor Pusat Keseimbangan Dimensi.

Zhao Mu tidak datang dengan pasukan atau naga. Ia datang sendirian, namun kehadirannya membuat seluruh aliran waktu di sekitar desa seolah-olah melambat. Ia menatap ke bawah, ke arah gubuk kayu, telaga, dan ladang-ladang yang bersinar. Dahinya berkerut dalam saat melihat Jenderal Han, Pangeran Long Wei, dan Sembilan Tetua Awan sedang bekerja kasar.

"Penyimpangan data tingkat merah terdeteksi," suara Zhao Mu terdengar seperti suara kertas yang bergesekan, dingin dan monoton. Ia melayang turun dan mendarat tepat di depan gerbang kayu rumah Zhou Ji Ran. "Subjek Zhou Ji Ran. Anda telah melakukan manipulasi takdir besar-besaran dengan menarik entitas-entitas penting dari jalur orbit mereka. Tindakan Anda telah menyebabkan ketidakseimbangan energi di lima benua."

Zhou Ji Ran berjalan perlahan menuju gerbang, masih memegang cangkir tehnya. "Manipulasi takdir? Aku hanya menawarkan pekerjaan pada mereka yang tersesat. Dan sejauh yang aku lihat, mereka sangat menikmati pekerjaan mereka. Lihatlah Jenderal Han, dia tidak pernah tampak sebahagia itu saat dia menghancurkan kota."

Zhao Mu membuka buku besarnya, membolak-balik halaman dengan gerakan yang sangat mekanis. "Dalam catatan keseimbangan, Jenderal Han seharusnya mati dalam peperangan sepuluh tahun lagi, bukan menjadi penggiling gandum. Pangeran Long Wei seharusnya memimpin revolusi di Dunia Atas, bukan menyikat naga. Dan Anda... Anda seharusnya tidak ada lagi setelah penghancuran Sistem Penguasa Multisemesta."

Zhao Mu mengangkat kuas emasnya, mengarahkannya tepat ke wajah Zhou Ji Ran. "Sebagai Penilai Takdir, saya diperintahkan untuk 'mengoreksi' data yang salah ini. Saya akan mengembalikan semua entitas ini ke jalur aslinya, dan menghapus domain ilegal ini dari sistem koordinat dunia."

"Mengoreksi?" Zhou Ji Ran terkekeh, namun tawanya tidak mengandung kehangatan. "Kau berbicara seolah-olah dunia ini adalah deretan angka di dalam bukumu. Tapi tanah ini nyata, Zhao Mu. Keringat mereka nyata. Dan sawi-sawiku ini... mereka jauh lebih nyata daripada seluruh peraturan di kantor pusatmu itu."

"Kenyataan adalah apa yang tertulis di sini," ucap Zhao Mu tegas. Ia mengayunkan kuas emasnya di udara, membentuk karakter 'HAPUS' yang memancarkan cahaya putih yang mematikan. Cahaya itu menyebar ke arah ladang Padi Surgawi, bermaksud untuk mengubahnya kembali menjadi benih-benih mati.

Namun, sebelum cahaya itu menyentuh sehelai daun pun, Zhou Ji Ran melakukan sesuatu yang sangat tidak terduga. Ia tidak menggunakan kekuatan destruktif. Ia hanya mengambil sepotong roti gandum yang belum sempat ia makan dan melemparkannya tepat ke arah karakter cahaya yang dibuat oleh Zhao Mu.

*Puff!*

Karakter 'HAPUS' yang sangat kuat itu seketika terserap ke dalam roti gandum tersebut. Roti itu jatuh ke tanah dengan suara pelan, lalu seekor ayam betina milik Zhang Tian berlari mendekat dan mematuk roti tersebut hingga habis. Ayam itu mengepakkan sayapnya sebentar, mengeluarkan bunyi berkotek yang ceria, dan kembali ke kandangnya.

Zhao Mu mematung. Kuas emasnya gemetar. "Bagaimana... bagaimana mungkin hukum penghapusan takdir diserap oleh sepotong roti gandum?!"

"Itu karena roti itu dibuat dari gandum yang digiling oleh kemauan Jenderal Han, dicampur dengan air yang dialiri oleh napas Ao Kun, dan dibakar dengan api kedamaian di dapur Chen Long," jelas Zhou Ji Ran sambil melangkah keluar gerbang. "Hukummu itu hanya bekerja pada mereka yang tidak memiliki akar. Di sini, segalanya sudah memiliki akar yang sangat kuat di bumi."

Zhou Ji Ran mendekati Zhao Mu, yang kini mencoba menulis karakter 'HUKUM' di udara dengan panik. Zhou Ji Ran dengan santai menangkap pergelangan tangan pria berjubah ungu itu.

"Dengar, Zhao Mu. Aku tahu kau hanya menjalankan tugas dari sistem yang merasa terancam karena aku tidak lagi berada di bawah kendali mereka. Tapi lihatlah bukumu itu," Zhou Ji Ran menunjuk ke arah buku besar yang dipegang Zhao Mu.

Zhao Mu menunduk dan terkejut melihat bahwa halaman-halaman di bukunya mulai terisi dengan gambar-gambar kecil secara otomatis. Gambar-gambar tentang orang yang sedang mencangkul, tentang ikan yang berenang di telaga, dan tentang aroma melati. Tinta emas di bukunya berubah menjadi warna hijau daun dan cokelat tanah.

"Bukumu sendiri mulai bosan dengan deretan angka dan ingin mencatat kehidupan yang nyata," ucap Zhou Ji Ran pelan. "Kau terlalu lama duduk di meja kerjamu di langit hingga kau lupa bagaimana rasanya menyentuh tanah."

Zhou Ji Ran mengambil buku besar itu dari tangan Zhao Mu. Ia tidak menghancurkannya. Ia justru berjalan menuju gudang emas dan memanggil Lu Han. "Lu Han! Kemari! Kau punya tugas baru."

Lu Han berlari mendekat, masih memegang papan inventaris manualnya. "Ya, Tuan?"

"Ambil buku ini. Gunakan halaman-halamannya yang kosong untuk mencatat distribusi hasil panen kita ke penduduk desa sekitar. Tinta emas di dalam buku ini sangat bagus, ia tidak akan luntur meskipun terkena hujan," Zhou Ji Ran menyerahkan buku Takdir Dunia itu kepada Lu Han seolah-olah itu hanya buku catatan belanjaan biasa.

Zhao Mu jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi. Ia merasa seluruh otoritasnya telah dilucuti hanya dengan beberapa kata. "Apa yang... apa yang harus saya lakukan sekarang? Tanpa buku itu, saya bukan siapa-siapa di kantor pusat..."

Zhou Ji Ran menatap Zhao Mu dengan pandangan yang sedikit lebih lembut. "Kau punya tulisan tangan yang bagus, Zhao Mu. Dan kau sangat teliti dengan detail. Kita sedang kekurangan orang untuk membuat label harga dan deskripsi produk di restoran Chen Long agar penduduk desa tahu apa yang mereka makan. Kau bisa mulai dengan membuat label untuk sup jahe pagi ini."

Zhao Mu menatap tangan Zhou Ji Ran yang terulur, lalu menatap ke arah restoran di mana Chen Long sedang melambaikan tangan memintanya segera datang. Dengan gerakan ragu, Sang Penilai Takdir itu menerima tawaran tersebut. "Baik... saya akan mencoba."

Hanya dalam waktu satu jam, musuh besar dari kantor pusat keseimbangan dimensi telah berubah menjadi juru tulis menu di restoran Desa Jinan. Ia duduk di sebuah meja kayu kecil, menuliskan nama-nama masakan dengan kaligrafi yang sangat indah menggunakan sisa tinta emas di kuasnya.

"Satu pengganggu lagi, satu tenaga kerja tambahan," gumam Gu Lao sambil tertawa kecil di kursi goyangnya. "Ji Ran, kau benar-benar pengumpul bakat yang paling mengerikan di seluruh multisemesta."

Zhou Ji Ran kembali ke tepi ladang sawinya. Ia melihat ulat hijau kecil sedang merayap di atas pagar kayu, mencoba mendekati daun sawi kesayangannya. Kali ini, ia tidak membunuhnya. Ia mengambil ulat itu dengan jarinya dan memindahkannya ke sebuah pot bunga melati di dekat Pohon Memori.

"Makanlah melati itu saja, kawan. Sawi ini untuk makan malamku nanti," ucapnya pada si ulat.

Matahari kini sudah naik tinggi, menyinari seluruh Desa Jinan dengan kehangatan yang sempurna. Di tebing utara, para murid berjubah emas mulai bernyanyi bersama sambil memindahkan batu, ritme kerja mereka kini selaras dengan melodi kecapi Su Ruo. Di telaga selatan, teratai-teratai imortal lainnya mulai mekar satu per satu, mengeluarkan cahaya yang menyejukkan jiwa siapa pun yang melihatnya.

Ye Hua berdiri di samping Zhou Ji Ran, memandangi kemajuan desa mereka. "Tuan, apakah menurut Anda kantor pusat itu akan mengirimkan orang lagi? Setelah Zhao Mu tidak kembali, mereka pasti akan menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan hukum mereka di sini."

"Biarkan mereka menyadarinya, Ye Hua. Semakin mereka mencoba mengoreksi kita, semakin banyak halaman baru yang akan kita berikan untuk mereka isi dengan cerita kehidupan," jawab Zhou Ji Ran. "Dunia ini tidak butuh keseimbangan statis di dalam buku, ia butuh pertumbuhan dinamis di atas tanah."

Ia menatap ke arah Padi Surgawi yang sudah siap dipanen. "Besok pagi, kita akan mulai panen raya pertama. Beritahu semua orang untuk bersiap. Setelah panen selesai, kita akan mengadakan pesta besar di alun-alun desa. Aku ingin Chen Long memasak hidangan terbaiknya menggunakan beras baru ini."

"Siap, Tuan! Saya akan mengumumkannya sekarang!" Ye Hua berlari dengan semangat, sapu lidinya ia bawa seperti panji kemenangan.

Siang hari berlalu dengan ketenangan yang produktif. Zhou Ji Ran menghabiskan waktunya dengan mengajari Lu Han cara membedakan benih padi yang unggul dan yang biasa secara manual, tanpa bantuan statistik sistem. Ia melihat bagaimana Lu Han mulai menikmati proses tersebut, matanya mulai bersinar dengan rasa ingin tahu yang murni sebagai seorang manusia.

Di restoran, Zhao Mu terlihat sangat sibuk. Bukan hanya menulis menu, ia kini juga membantu Feng Mian untuk mengatur alur antrean penduduk desa yang mulai berdatangan untuk mencicipi camilan gratis dari Chen Long. Ternyata, kemampuan birokrasi Zhao Mu sangat berguna untuk mengatur ketertiban pasar.

"Siapa sangka, Penilai Takdir bisa menjadi manajer restoran yang handal," ucap Feng Mian sambil menghitung keping perunggu dengan sempoanya.

"Ini jauh lebih memuaskan daripada menghapus nyawa orang dari daftar," jawab Zhao Mu dengan senyum tipis yang pertama kali muncul di wajahnya.

Sore harinya, Zhou Ji Ran duduk di terasnya bersama Gu Lao. Mereka memperhatikan bagaimana sembilan naga perak mulai berenang dengan santai di sungai setelah tugas memutar kincir selesai untuk hari ini. Ao Kun tampak sedang bercengkerama dengan bayi-bayi naga di telaga, mengajari mereka cara mengatur arus air.

"Ji Ran," ucap Gu Lao tiba-tiba. "Ada satu hal yang membuatku penasaran. Benih Pohon Memori yang kau tanam itu... ia tidak hanya membangkitkan kenangan. Ia juga mulai memancarkan sinyal ke dimensi 'Asal'. Apakah kau siap jika mereka yang menciptakan sistem itu memutuskan untuk datang sendiri kemari?"

Zhou Ji Ran menatap Pohon Memori yang kini daunnya bersinar perak di bawah cahaya senja. "Gu Lao, mereka yang menciptakanku dulu hanyalah pengamat yang takut akan kematian. Mereka menciptakan sistem karena mereka ingin mengontrol apa yang tidak bisa mereka miliki. Jika mereka datang kemari, aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa kematian bukanlah akhir yang mengerikan, tapi bagian dari siklus yang memberikan makna pada hidup. Dan jika mereka tidak setuju... yah, aku masih punya banyak lahan kosong di bagian barat untuk dijadikan kebun bambu."

Gu Lao tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya. "Kau benar-benar tidak kenal takut. Menjadikan pencipta multisemesta sebagai tukang bambu... itu adalah lelucon terbaik abad ini."

Malam pun mulai menyelimuti Desa Jinan. Lampu-lampu minyak di sepanjang jalan setapak mulai menyala, memberikan suasana yang sangat hangat dan romantis. Dari arah restoran Chen Long, terdengar suara tawa dan denting alat makan, menandakan bahwa komunitas kecil ini telah benar-benar menyatu.

Zhou Ji Ran berjalan menuju ladang sawinya sekali lagi. Ia menyentuh daun sawi yang lembut, merasakan kehidupan yang berdenyut di dalamnya. Ia teringat akan peperangan besar yang pernah ia pimpin, tentang planet-planet yang hancur di bawah kakinya, dan tentang kesepian yang dulu ia anggap sebagai kekuatan.

"Semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan semangkuk sayur bening di meja makan," bisiknya pada malam.

Ia memandang ke langit, di mana bintang-bintang tampak seperti benih-benih cahaya yang menunggu untuk ditanam di ladang tak terbatas. Ia tahu bahwa meskipun satu Penilai Takdir telah ia jinakkan, multisemesta masih penuh dengan entitas yang akan terus mencoba mengusik kedamaiannya. Namun baginya, setiap gangguan hanyalah pupuk. Setiap musuh hanyalah tenaga kerja. Dan setiap kegagalan sistem adalah kesempatan untuk menumbuhkan sesuatu yang lebih manusiawi.

Perjalanan ini memang tidak memiliki batas akhir yang kaku, seperti aliran air sungai yang selalu menemukan jalannya menuju laut. Zhou Ji Ran memejamkan mata, membiarkan aroma melati dan wangi padi menuntunnya menuju istirahat yang damai. Ia siap untuk panen raya besok pagi. Ia siap untuk pesta yang akan merayakan kehidupan. Dan ia siap untuk apa pun yang akan dikirimkan oleh semesta kepadanya.

Satu hari lagi telah berlalu di Desa Jinan. Sebuah hari yang dipenuhi dengan drama birokrasi surgawi, keajaiban pertumbuhan, dan tawa di balik kerja keras. Sang mantan pemilik sistem telah membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kontrol, melainkan dalam kebebasan untuk mencintai hal-hal sederhana yang tumbuh dari tanah.

"Tuan Zhou, apakah Anda ingin mencoba sup jahe baru saya sebelum tidur?" suara Lin Xiaoqi terdengar lembut dari balik pintu.

"Tentu saja, Xiaoqi. Masuklah," jawab Zhou Ji Ran.

Malam itu, di bawah perlindungan Pohon Memori dan Teratai Imortal, seluruh penghuni Desa Jinan tertidur dengan hati yang penuh dengan harapan. Dan di luar sana, di antara bintang-bintang, hukum-hukum lama mulai bergetar karena kekuatan dari sebuah kebahagiaan sederhana yang tidak bisa dihapus oleh tinta emas mana pun. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa. Tanpa instruksi sistem, Zhou Ji Ran telah menjadi petani dari takdirnya sendiri, dan ia sangat menyukai setiap detiknya.

Besok adalah panen raya. Besok adalah bukti nyata dari semua jerih payah mereka. Dan besok, dunia akan belajar bahwa di pinggiran sebuah desa kecil, seorang legenda telah menumbuhkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada keabadian: sebuah rumah yang dipenuhi dengan cinta dan kedamaian yang nyata.

"Selamat malam, sawi-sawiku. Tidurlah yang nyenyak. Besok kalian akan menjadi bagian dari pesta yang sangat meriah," gumam Zhou Ji Ran sebelum akhirnya terlelap dalam pelukan malam yang hangat.

Semuanya berjalan dengan perlahan, penuh makna, di bawah bimbingan seorang pria yang telah melepaskan segalanya demi satu hal: kedamaian yang sejati. Dan di Desa Jinan, kedamaian itu baru saja mekar dengan indahnya.

1
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!