Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.
Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.
"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi
“Masuk.”
Suara berat Langga mengizinkan pintu terbuka. Detik berikutnya, aroma parfum bunga yang menyengat dan berat segera menyerbu masuk, mencoba mengalahkan wangi gurih tongseng yang sedari tadi mendominasi ruangan.
Seorang wanita melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Vanessa Clarine Adhitama. Ia memiliki tubuh tinggi, lalu terlihat juga sesuatu yang sengaja ia ditonjolkan lewat kemeja putih yang tampak satu nomor lebih kecil dari ukuran aslinya, menciptakan lekukan yang sangat jelas. Rok span hitam di atas lututnya dipadukan dengan rambut yang dikuncir tinggi/kuda, serta kacamata tipis yang bertengger di hidungnya, memberikan kesan seksi yang provokatif.
Vanessa adalah staf divisi corporate strategy, namun seluruh kantor tahu bahwa strategi utamanya adalah menaklukkan Erlangga Mahendra Wijaya.
Namun kali ini, langkah Vanessa terhenti di tengah ruangan. Matanya yang tajam di balik kacamata langsung tertuju pada sebuah kotak makan plastik yang masih dipegang Langga. Ekspresinya berubah tipis, ada kilat ketidaksukaan yang tertangkap oleh radar Rian.
Langga mengernyit, merasa terganggu. “Ada apa?”
Vanessa tersentak, seolah tersadar dari lamunannya. Ia segera memasang senyum paling manisnya. “Eh anu… maaf Pak, saya ingin memberikan laporan bulanan dari divisi saya secara langsung.”
Langga dan Rian saling pandang. Langga melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Vanessa dengan datar. “Kenapa tidak nanti setelah jam makan siang selesai? Kamu tahu saya tidak suka diganggu saat istirahat.”
Vanessa tersenyum kaku, jemarinya meremas map yang ia bawa. “Hanya sebentar, Pak. Supaya pengerjaannya bisa lebih cepat jika ada revisi.”
Langga menghela napas panjang, nafsu makannya sedikit terusik. “Taruh di meja saya. Saya periksa nanti.”
“Baik, Pak.”
Vanessa berjalan mendekat dengan langkah yang sengaja dibuat gemulai. Setelah meletakkan map di meja kerja Langga, ia tidak kunjung pergi. Ia tetap berdiri di sana, menatap Langga yang kembali fokus pada bekalnya.
Langga mengangkat alis, wajahnya menunjukkan ketidaksabaran. “Masih ada yang lain?”
Vanessa tersenyum manis, mencoba mencairkan suasana yang kaku. “Kebetulan saya juga baru mau makan siang, Pak, mungkin kalau Pak Langga dan Pak Rian belum ada makanan yang layak, saya bisa pesankan dari restoran favorit Bapak? Steak atau sushi premium, mungkin?”
Rian yang duduk di depan Langga langsung menahan senyum, melirik sahabatnya dengan tatapan 'tuh kan mulai'.
Langga menjawab dengan nada yang semakin mendingin, “Tidak usah. Saya sudah ada makanan.”
Tatapan Vanessa turun lagi ke kotak makan plastik itu. Ia menatapnya seolah benda itu adalah sampah yang tersesat di atas meja marmer. Dengan nada yang dibuat-buat khawatir, ia berkata, “Pak… masa Anda hanya makan makanan seperti itu/Wadahnya saja plastik biasa.”
Rian nyaris tersedak air mineralnya mendengar nada bicara Vanessa.
Vanessa melanjutkan, seolah ia adalah ahli gizi pribadi Langga. “Gizinya kurang sepertinya dan makanan berminyak seperti itu, tongseng, ya? Itu kurang sehat untuk Bapak. Kolesterolnya tinggi. Kalau Bapak mau, saya bisa pesankan salad organik atau steak premium sekarang juga agar stamina Bapak terjaga.”
“Cukup.”
Suara Langga tidak lagi sekadar dingin, tapi membeku. Vanessa terdiam seketika, senyumnya luntur. Tatapan Langga menajam, seolah bisa melubangi kacamata tipis wanita itu.
“Keluar.”
“Tapi Pak, saya hanya perhatian—”
“KELUAR.”
Satu kata itu diucapkan dengan tekanan yang membuat suasana ruangan seketika membeku. Vanessa menegang, wajahnya mendadak pucat pasi. Ia menatap Langga dengan tatapan tak percaya, seolah baru saja ditampar di depan umum.
Vanessa kemudian menoleh pada Rian, berharap mendapat pembelaan. Namun sialnya, Rian justru sedang menyandarkan tubuh dengan santai sambil memandangnya dengan ekspresi mengejek tanpa malu sedikit pun, dengan sebuah gestur ucapan tanpa suara. "R A S A I N."
Vanessa menggertakkan gigi, merasa harga dirinya diinjak-injak hanya demi sebuah nasi kotak. “Baik, Pak. Permisi.”
Ia berbalik dan keluar dengan langkah cepat, hak sepatunya berbunyi nyaring di lantai marmer. Pintu tertutup dengan dentuman yang cukup keras.
Hening dua detik... tiga detik.
Lalu—
“HAHAHAHAHAHAHA!”
Rian meledak tertawa sampai memegangi perutnya. Tawa itu mengguncang keheningan ruangan CEO. Langga hanya memijat pelipisnya, merasa kepalanya mulai berdenyut.
“Berisik, Rian.”
“Bro, sumpah… tuh cewek gatelnya kebangetan. Strateginya norak banget!” seru Rian di sela tawanya.
Langga tidak menanggapi, ia memilih lanjut makan meski suasana hatinya sudah sedikit berantakan. Rian masih belum berhenti terkekeh. “Dia literally cemburu sama kotak makan lo, Lang. Coba lo banyangin, Vanessa Clarine yang merasa dirinya dewi kantor, kalah saing sama tongseng ayam.”
“Gue tidak peduli dengan perasaan dia,” sahut Langga pendek.
“Dia sudah mengejar lo hampir setahun, Lang. Seluruh divisi tahu itu.”
“Dan gue sudah menolak dia hampir setahun. Jika dia tidak paham juga, itu masalah IQ-nya, bukan salah gue.”
Rian menyandarkan tubuh, ekspresinya berubah sedikit lebih serius namun tetap jahil. “Masalahnya, dia bukan tipe wanita yang gampang menyerah. Dia punya ambisi yang besar.”
Langga menatapnya datar. “Itu masalah dia. Jika kinerjanya terganggu karena hal tidak penting seperti ini, siap-siap saja, gue tidak segan untuk memecatnya.”
Rian lalu menunjuk kotak makan di depan Langga. “Tapi serius ya… kayaknya dia mulai curiga.”
“Curiga apa?”
“Kalau ada wanita lain di hidup lo. Seseorang yang spesial sampai-sampai lo mau bawa bekalnya ke kantor,” Rian tersenyum miring. “Dan dari cara lo marah tadi…” Ia menyipitkan mata, mencondongkan tubuh ke depan. “Lo sendiri sudah mulai posesif ya sama si wanita misterius itu?."
Langga langsung menatap tajam, sendoknya terhenti di udara. “Jangan asal bicara.”
“Kalau bukan posesif, kenapa makanan dari wadah plastik doang dijagain setengah mati? Tadi gue mau minta saja lo kayak mau ngajak perang. Pas Vanessa menghina, lo langsung mengusir dia. Itu namanya protektif, Bos.”
“Itu karena gue lapar dan tidak suka diganggu saat makan.”
“Oke, oke. Terus kenapa nama dia saja lo belum pernah bilang ke gue? Lo takut gue tikung?” goda Rian lagi.
Langga terdiam. Ia baru menyadari bahwa ia memang belum pernah menyebutkan nama Zea secara eksplisit kepada Rian dalam konteks bekal ini. Rian makin melebarkan senyum kemenangannya melihat keterdiaman Langga.
“Nah loh. Kenapa diam?”
Langga akhirnya mendengus, kembali menyuap nasi dengan kasar. “Makan dan diam, Rian. Sebelum gue benar-benar nugasin lo ke kantor cabang di pedalaman.”
Rian terkekeh puas. “Siap, Bos Yang lagi jatuh Cinta.”
“Gue ga jatuh cinta.”
“Yang ngomong begitu biasanya paling duluan nyungsep ke jurang perasaan,” sahut Rian sambil menangkap tisu yang dilempar Langga ke wajahnya dengan tawa
Di Luar Ruangan CEO
Vanessa berjalan cepat menyusuri koridor dengan wajah yang menegang kaku. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Napasnya memburu, membakar dadanya dengan rasa amarah dan penghinaan yang luar biasa.
Bayangan kotak makan di tangan Langga terus terlintas di kepalanya seperti film horor.
'Pak Langga… membawa bekal? Dan menjaganya seperti harta karun?'.
'Mustahil. Pria sedingin dan seberkelas Erlangga Mahendra Wijaya tidak mungkin berubah hanya karena masakan rumahan biasa. Kecuali… ada seseorang di balik masakan itu. Seseorang yang mulai mendapatkan tempat yang seharusnya milik Vanessa.'
Vanessa berhenti tepat di depan jendela besar yang menghadap ke jalanan Jakarta. Tatapannya yang tadi penuh godaan kini berubah gelap dan tajam.
“Jadi gosip itu benar…” desisnya pelan.
Ia menggertakkan gigi, mengingat bagaimana Langga membentaknya demi membela sebuah kotak makan murah. “Sudah ada wanita lain di dekatmu, Langga…”
Tangannya mengepal semakin kuat, meremas map laporan hingga kertas di dalamnya sedikit robek. “Tidak… aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang sudah aku incar selama ini.”
Tatapan obsesif kini memenuhi matanya. Rasa sukanya yang semula hanya karena status dn ketampanan Langga, kini bercampur dengan ego yang terluka.
“Posisi Nyonya Erlangga Mahendra Wijaya…” Vanessa tersenyum dingin, sebuah senyum yang tidak menyentuh matanya. “Hanya untukku. Akan kucari tahu siapa jalang kecil yang berani memasak untukmu.”
Vanessa berbalik, melangkah pergi dengan rencana gelap yang mulai tersusun di kepalanya. Baginya, Erlangga adalah trofi yang harus ia menangkan, berapa pun harganya. yang masih tersisa.