Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6--Makanan Untuk Keluarga
BAB 6
Naufal nyaris tersandung kakinya sendiri saat melihat deretan angka di layar ponselnya. **Rp 10.508.000,00. Sepuluh juta rupiah lebih. Saldo yang biasanya hanya berisi beberapa belas ribu sisa ongkos bus, kini membengkak menjadi angka yang tidak pernah ia bayangkan akan ia pegang sebagai fresh graduate.
"Ini nyata... ini beneran nyata!" bisiknya dengan suara serak, setengah tertawa dan setengah ingin menangis. Ia mempercepat langkahnya, menghiraukan lelah yang tadi menggelayuti pundaknya.
Namun, kegembiraan itu mendadak surut saat ia memasuki gang sempit menuju rumahnya. Bau selokan yang lembap dan remang lampu jalanan mengingatkannya pada kenyataan pahit yang ia tinggalkan tadi pagi.
Saat ia mendorong pintu kayu rumah petaknya yang berderit pelan, suasana di dalam sangat sunyi. Hanya ada suara nyamuk yang berdengung di bawah lampu bohlam kuning yang redup.
"Ibu? Rara?" panggil Naufal pelan.
Ia melangkah ke ruang tengah yang merangkap sebagai dapur. Di sana, di atas dipan kayu yang sudah reyot, ibunya terbaring lemah. Wajahnya pucat pasi, matanya terpejam namun keningnya berkerut menahan sakit. Di sampingnya, Rara duduk meringkuk di lantai tanah, kepalanya bersandar pada pinggiran dipan, tertidur dengan wajah yang kusam.
Naufal melihat ke atas meja kayu kecil. Di sana hanya ada satu piring berisi sisa nasi yang sudah mengeras dan sedikit garam. Tidak ada lauk, tidak ada sayur.
*Kruyuuuk...*
Perut Rara berbunyi meski gadis kecil itu sedang tertidur. Suara itu bagi Naufal lebih menyakitkan daripada makian Pak Eko atau hinaan Andre.
"Rara... bangun, Dek," bisik Naufal sambil mengusap kepala adiknya lembut.
Rara mengerjap, matanya yang sayu menatap Naufal. "Kak Fal... sudah pulang? Maaf, Rara tadi nggak kuat nunggu Kakak..." suaranya sangat lirih, hampir tidak terdengar.
"Kamu lapar banget ya, Dek?" tanya Naufal, tenggorokannya mendadak terasa tercekat.
Rara menunduk, mencoba menyembunyikan rasa lapar yang menyiksa. "Tadi Rara cuma makan nasi sedikit, Kak. Sisanya Rara kasih Ibu, soalnya Ibu bilang kepalanya pusing banget kalau nggak makan. Tapi... Ibu tadi muntah lagi."
Naufal menatap ibunya yang kini mulai terbangun karena mendengar suara mereka. Ibu Sarah berusaha duduk meski tubuhnya gemetar hebat.
"Naufal... kamu sudah pulang, Nak? Nggak apa-apa, Ibu cuma sedikit masuk angin. Kamu sudah makan?" tanya Ibu Sarah, masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan anaknya padahal tubuhnya sendiri sudah seperti tulang dibalut kulit.
Naufal tidak bisa menahannya lagi. Ia berlutut di depan ibunya, menggenggam tangan yang terasa sedingin es itu.
"Ibu, Rara... dengerin Naufal," suara Naufal bergetar, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. "Naufal jualan banyak hari ini. Naufal dapet bonus besar. Kita nggak akan kelaparan lagi malam ini. Naufal janji."
Rara menatap kakaknya dengan bingung. "Kakak dapet uang?"
Naufal mengangguk mantap. Ia segera merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan yang ia ambil dari ATM mal tadi sebelum pulang.
"Rara, kamu pergi ke warung depan sekarang. Beli nasi bungkus yang paling enak, beli ayam goreng, beli susu buat Ibu, beli apa saja yang kamu mau. Bilang sama Pak Haji, Kakak bayar semuanya!" Naufal menyodorkan dua lembar uang merah itu ke tangan adiknya.
Mata Rara membelalak. Ia menatap uang itu seolah-olah itu adalah benda keramat. "Kak... ini beneran?"
Dengan uang yang baru saja dia dapatkan dari sistem sebenarnya ia ingin membawa keduanya pergi maka ke restoran malam hari ini, namun kondisi ibu bahkan sangat mengenaskan, untuk berdiri saja dia kesulitan. Terlebih makanan dari restoran membutuhkan banyak waktu, yang paling cepat adalah terbaik, sebelum ibu dia semakin kehilangan tenaga dan pingsan.
"Cepat, Dek! Jangan sampai Ibu makin lemas!" perintah Naufal.
Rara langsung bangkit berdiri, rasa lemasnya seolah menguap digantikan energi yang meluap-luap. Ia berlari keluar rumah dengan langkah kecilnya, menuju warung yang masih buka di ujung gang.
Naufal kembali menatap ibunya. Ia mengambil segelas air putih dan membantunya minum. Di mata Naufal, layar sistem itu kembali berkedip tipis, menunjukkan status kesehatan ibunya yang berwarna merah peringatan.
[Ding!]
[Kondisi Target: Sarah (Ibu Kandung) - Malnutrisi & Tekanan Darah Rendah.]
[Saran: Asupan protein dan glukosa segera. Butuh pemeriksaan medis lanjutan.]
"Ibu tenang ya, besok kita ke rumah sakit. Naufal sudah punya uang untuk kontrol dan nebus semua obat Ibu. Ibu jangan mikirin biaya lagi," ujar Naufal sambil mencium kening ibunya.
Ibu Sarah menangis, ia memeluk kepala anak sulungnya itu. "Maafin Ibu, Fal... Ibu malah jadi beban buat kamu. Harusnya kamu nabung buat kuliah kamu..."
"Nggak, Bu. Bagi Naufal, kuliah bisa nunggu, tapi Ibu sama Rara nggak bisa nunggu. Sekarang Naufal sudah tahu caranya jualan, Bu. Naufal bakal jadi orang sukses, Ibu lihat saja nanti."
Beberapa saat kemudian, Rara datang dengan kantong plastik besar yang mengeluarkan aroma harum masakan. Malam itu, di bawah atap rumah yang bocor, keluarga itu makan dengan lahap. Pemandangan Rara yang makan ayam goreng dengan lahap dan Ibunya yang mulai mendapatkan sedikit warna di wajahnya membuat Naufal merasa bahwa semua hinaan Andre dan kemarahan Pak Eko tadi siang hanyalah debu yang tidak berarti.
Sambil memperhatikan mereka, Naufal diam-diam menatap telapak tangannya. "Besok... aku akan mulai mengubah segalanya. Tidak akan ada lagi yang berani menginjak keluargaku."
Layar sistem di depannya kembali muncul, memberikan sebuah tugas baru yang membuat Naufal menyadari bahwa hidupnya baru saja masuk ke level yang lebih berbahaya.
[Misi UTAMA TERBUKA : 'The Rising Star'.]
[Tujuan: Jadikan dirimu Sales Nomor 1 di brand anda Yogyakarta dalam 30 hari.]**
[Hadiah: Unlock Skill '’kemampuan membuka usaha (detail kemampuan masih dirahasiakan ??)
& Saldo Rp 1.000.000.000.]
[Gagal: Sistem akan melakukan reset paksa pada Inang.]
Sales dengan penjualan peringkat satu terbaik di area yogyakarta? Dulu Naufal mungkin tidak memiliki mimpi menjadi peringkat pertama, namun sales itu insentifnya besar besok dia bisa dapat gaji banyak, sepuluh sampai lima belas juta sampai harusnya ditambah kemampuan sistem yang memberikan uang tambahan dia jadi makin ingin berkuasa.
Dengan kemampuan serta pekerjaan sales hp ia akan membuat keluarganya naik derajat.
'Sabar ya Bu, Rara … aku akan membalikan ekonomi keluarga ini
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN