Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Yang Akhirnya Mati
Sisa-sisa pertempuran itu meninggalkan bau yang menyesakkan: campuran antara aroma daging yang terpanggang dan amis darah yang mengental di udara malam. Asap tipis masih mengepul dari tubuh Mahesapati yang terkapar di tanah yang menghitam—kulitnya melepuh, hangus oleh api yang kini padam, menyisakan luka bakar yang tampak seperti retakan tanah kering yang membara.
Beberapa langkah di depannya, Samudra tergeletak tak berdaya menatap langit malam. Wajahnya nyaris tak dikenali; ungu lebam dan basah oleh darah yang terus merembes dari sela-sela pakaiannya yang terkoyak, membasahi lumut hijau yang kini sewarna dengan luka-lukanya.
Di antara kedua raga yang nyaris kehilangan nyawa itu, berdiri seorang sosok yang mematung. Ia tampak seperti sebatang pohon yang rapuh di tengah badai yang baru saja reda. Matanya bergerak liar, memandang bergantian ke arah dua pria di kakinya dengan tatapan kosong yang dipenuhi keterkejutan. Tangannya bergetar hebat, dan dalam kebingungan yang mencekik, ia seolah lupa bagaimana cara bernapas. Hutan kembali sunyi, namun bagi sosok yang berdiri itu, keheningan ini jauh lebih memekak telinga daripada ledakan pertarungan tadi.
Datuk Ringgih termenung mencoba menyimpulkan kejadian ini secepat mungkin.
"Jadi Rajekwesi sudah benar-benar tewas, aku bisa merasakan sihir penyembuhan yang sudah aku berikan ke Rajekwesi kembali kediriku, artinya Rajekwesi benar-benar sudah tewas. Dan pria dengan sihir kegelapan ini kemungkinan bertarung mati-matian melawan penyihir junior berbakat ini hingga mereka berdua sekarat seperti ini." Batin Datuk Ringgih menebak-nebak.
"Ka.. ka.. kau... uhuk.. uhuk..." Mahesapati tampak kesulitan menyelesaikan kalimatnya.
Datuk Ringgih menatap Mahesapati.
"Kau.. adalah orang yang membangkitkan monster purba tadi, bukan? Kau sekutuku.. aku sudah membantumu melawan bajingan gila ini, sekarang giliran kau membantuku... tolong bunuh bajingan gila itu! balaskan dendamku.." ucap Mahesapati lirih.
Datuk Ringgih menatap Samudra... kemudian menatap Pedang Kubikiribocho yang patah dan tergeletak ditanah.
Datuk Ringgih menghampiri patahan pedang itu dan mengambilnya, tangannya tampak gemetar, pedang itu sangat berat.
Ia kemudian mendekati Samudra sambil menyeret pedang itu.
"Ba... bagus... bunuh dia.." ucap Mahesapati tersenyum penuh kemenangan.
Datuk Ringgih berhenti tepat di depan Samudra, ia tampak sedikit ragu untuk membunuh Samudra.
Samudra menatap wajah Datuk Ringgih dalam-dalam, tatapan matanya tampak sayu.
Datuk Ringgih tercengang sesaaat, tatapan sayu itu entah mengapa ia pernah melihatnya..
"Kakek..." suara lirih Samudra terdengar.
Datuk Ringgih semakin terkejut, selama ini orang-orang memanggilnya dengan sebutan Datuk, Tuan Tua, atau tabib hanya satu orang yang Datuk Ringgih ingat memanggil dirinya dengan sebutan kakek..
"Apakah kakek sanggup membunuh anak kecil yang dahulu kakek sembuhkan mentalnya susah payah..." lirih Samudra hampir tak terdengar.
"Menyembuhkan mental? Jadi kau pernah aku sembuhkan, sayang sekali banyak sekali orang yang aku sembuhkan mentalnya namun aku tidak ingat siapa dirimu..." balas Datuk Ringgih.
Dengan gerakan pelan Samudra mengarahkan telapak tangannya kewajahnya sendiri.
Mata Mahesapati dan Datuk Ringgih terbelalak, kulit hitam Samudra perlahan memutih, rambutnya yang pendek kecoklatan tiba tiba memanjang lurus dan warnanya hitam pekat.
diwajahnya tiba-tiba keluar benda lengket hitam mirip lendir hitam yang secara perlahan membentuk topeng hitam bercorak emas.
Claakk...
Samudra melepaskan topeng Panji Asmorobangun diwajahnya.. topeng Panji Asmorobangun memang fungsinya menyatu dengan tubuh penggunanya, bukan digunakan hanya pada bagian wajah sehingga dalam pertarungan besar topeng tersebut tidak terlepas atau hancur karena topeng itu menyatu dengan kulit dan tubuh Samudra.
Mata Datuk Ringgih terbelalak, wajah itu... walaupun penuh lebam namun Datuk Ringgih tidak akan pernah melupakannya, wajah milik anak kecil yang dahulu memiliki trauma mendalam karena melihat ibunya dibunuh.
Ia adalah Pangeran Samudra...
"Pa.. pa.. Pangeran Samudra..." lirih Datuk Ringgih.
"Pangeran Samudra!" Mahesapati juga terkejut, "dia masih hidup?"
"Pangeran Samudra, Pangeran masih hidup?! Apakah ini benar-benar Pangeran?" Tanya Datuk Ringgih dengan derai air mata yang menetes.
"Ya.. kakek tidak salah melihat, aku masih hidup... aku tau kakek bukan orang jahat, kakek hanya pria sejati yang berusaha mendapatkan keadilan." Samudra tersenyum, "setelah ini semua selesai, ayo kita kembali pulang kek.. aku sudah tidak sabar memberikan hukuman kepada pamanku.."
Datuk Ringgih berlutut, "maafkan aku Pangeran... a.. a.. aku sekarang sadar, aku memang salah tidak seharusnya aku melakukan semua ini untuk balas dendam, aku bahkan hampir membunuh Pangeran.." ucap Datuk Ringgih dengan suara parau.
"Hei, tua bangka! Apa yang kau lakukan! Jangan cengeng, cepat habisi dia jangan perdulikan statusnya sebagai Pangeran, setelah kau membunuhnya aku berjanji akan membantumu balas dendam kau sudah melihat kekuatanku, bukan?"
"Kakek, Kakek tidak salah, kakek justru adalah pihak yang paling tersakiti saat ini, aku paham bagaimana rasanya dihianati karena aku juga pernah merasakannya.. pamanku yang berniat membunuhku.."
Datuk Ringgih terkejut mendengar itu, ia menghentikan isak tangisnya..
Kesadaran Samudra kini benar-benar hampir menghilang, matanya menyipit dan pandangannya berputar-putar serta mulai tidak jelas.
Namun sesaat sebelum kesadaran Samudra benar-benar menghilang hawa hangat menjalar dari dadanya.
Seketika kesadaran Samudra yang hampir menghilang kembali, ia menoleh dan melihat Datuk Ringgih menempelkan telapak tangannya didada Samudra. Ia berusaha menyembuhkan Samudra.
"Apa yang kau lakukan tua bangka?!! Kenapa kau justru menyembuhkannya?!!" Teriak Mahesapati panik.
Namun Datuk Ringgih tidak memperdulikannya...
"aku tidak tau rumitnya konflik Pangeran dengan Tuan Sena, namun sepertinya kejadian kematian istriku juga ada hubungannya dengan Tuan Sena... luka Pangeran terlalu fatal, aku terpaksa menggunakan sihir Tirta Amerta untuk menyembuhkan Pangeran..."
Mata Samudra melebar, "Sihir Tirta Amerta! Jangan Kakek, kakek akan kehilangan nyawa kakek setelah menggunakan sihir ini... kakek harus tetap hidup agar ada saksi atas kejahatan Dipa Mandala." Ucap Samudra.
Datuk Ringgih tersenyum tipis, "jika aku tidak menggunakan sihir ini, luka Pangeran tidak akan sembuh, Pangeran akan cacat selamanya dan tidak akan mampu menggunakan sihir lagi. Pangeran sudah tumbuh menjadi sosok penyihir sangat tangguh dan bertekad baja, sangat berbeda dari Pangeran yang aku kenal dahulu, sangat cengeng dan selalu mengurung diri dikamar aku yakin sekali dengan kekuatan Pangeran saat ini Pangeran dapat mengungkap semua kebusukan didalam istana termasuk kebusukan Dipa Mandala dan Tuan Sena walaupun tanpa kehadiran diriku.."
"Kakek..." Samudra menatap dalam Datuk Ringgih, tanpa ia sadari air mata mulai mengalir dari kedua matanya.
"Pangeran memiliki mata yang indah..." ucap Datuk Ringgih menatap mata kiri Samudra, "aku hanya meminta satu hal dari Pangeran, tolong kuburkan jasadku disini.. agar menjadi kenangan bahwa aku pernah menyelamatkan penyihir tampan yang suatu saat nanti akan menjadi pahlawan.."
Samudra terenyuh mendengar ucapan itu, "ka.. kakek... apakah kakek yakin? Apakah kakek tidak ingin dimakamkan di tempat pemakaman para bangsawan istana atau disamping kuburan nyai Sekar Arum?"
"Tidak... tanah pemakaman para bangsawan dipenuhi dengan kebusukan dan perasaanku dengan Sekar Arum sudah mati.."