Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pakai Perasaan
Vandini duduk di dalam mobil. Jari-jarinya mencengkeram setir kuat-kuat, sementara jantungnya berdegup sangat kencang. Perasaannya campur aduk antara antusias dan takut. Dahlia sudah setuju dengan penampilan dan rencananya malam ini.
"Dahlia bilang ini wajar, kan? Aku cuma mau cari kesenangan sesaat," gumamnya pelan.
Malam ini orang tuanya menjaga anak-anak. Untuk pertama kalinya, ia bukan Vandini si ibu atau istri, melainkan Vandini yang ingin menemukan kembali dirinya sendiri.
Ia menatap pantulan wajahnya di kaca spion. Rambut diatur rapi, bibir berwarna merah menyala, dan tatapan yang terlihat percaya diri.
"Dahlia bilang ini baju perang. Tapi kenapa rasanya aku masih ngerasa rapuh gini?" batinnya bertanya.
Ia sadar hidupnya hancur karena pengkhianatan. Tapi ia sudah lelah merasa hampa dan menunggu sesuatu yang tak pasti.
"Malam ini cuma buat aku. Aku mau masuk ke dunia yang cuma milik aku sendiri," tekadnya bulat.
Vandini menarik napas panjang lalu turun dari mobil. Suara hak sepatunya terdengar jelas di aspal saat ia berjalan masuk dengan penuh keyakinan.
...***...
Satura bisa mencium aroma itu sebelum menoleh untuk melihat orangnya. Wangi parfum Vandini yang sangat ia kenal dan cintai. Ia ingat pernah membelikannya parfum ini. Dulu ia selalu ingin memberikan hadiah terbaik, tapi gagal memberikan hal paling penting yaitu kesetiaan.
Seorang wanita berdiri di dekatnya, menunggu disapa. Namun Satura tak menoleh, justru rasa marah pada diri sendiri makin memuncak.
Tanpa menengadah, wanita itu mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin di jari Satura.
"Sudah menikah," ucapnya dingin dan ketus.
Ternyata wanita itu tidak pergi. Justru ia duduk tepat di sebelah Satura.
"Hoaahh, Aku nggak butuh temen. Kecuali itu istri aku sendiri," geramnya kesal.
"Beliin aku minum," suara wanita itu terdengar.
Satura kaget dan perlahan menoleh. Ia tak percaya pada matanya sendiri, wanita itu adalah Vandini.
"Vandini..." suaranya serak dan hampir tak terdengar.
Vandini duduk dengan wajah datar tapi tatapannya tajam. Satura terpana, jantungnya berdegup kencang antara harapan dan ketakutan.
Ini bukan Vandini yang lembut seperti dulu. Wanita di depannya terlihat kuat, tegas, dan berbeda.
"Vandini... aku..."
"Udah, jangan ngomong," potong Vandini cepat. "Buruan beliin aku minum."
Vandini menatap ke arah jauh, seolah ingin lari dari kenyataan. Satura terpaku menatap penampilan istrinya yang luar biasa cantik dan seksi malam ini.
Gaun yang dikenakan sangat pas di badan. Vandini terlihat memukau dan percaya diri, sesuatu yang sudah lama tak ia lihat.
Satura segera memanggil pelayan dan memesan minuman. Vandini mengambil gelas itu lalu meneguknya pelan tanpa bicara. Suasana jadi tegang. Satura ingin bicara tapi takut salah kata.
Akhirnya Vandini menatapnya lagi dengan tatapan tajam. "Kalau aku minta sesuatu... sesuatu yang simpel, kamu bakal kasih nggak?" tanyanya pelan.
"Apa aja, Van. Apa aja yang kamu mau, aku bakal kasih kok," jawabnya cepat.
Senyum tipis terukir di bibir Vandini, tapi terasa dingin.
"Oke. Kalau gitu jangan nanya apa-apa. Jangan ngomong apa-apa. Biarin aku punya momen ini."
Vandini mengulurkan tangan menyentuh kulitnya. Sentuhannya dingin tapi terasa kuat dan memikat. Satura rela memberikan apa saja asalkan bisa dekat dengannya lagi, meski hanya sesaat.
"Vandini, aku..."
"Shhh," Vandini menempelkan jarinya di bibir Satura. "Enggak usah ngomong. Biarin aku ngerasain sesuatu. Biarin aku lupa," ucapnya tegas.
...***...
Setelah sesi minum, Vandini berjalan tegak menyusuri lorong hotel. Ia bisa merasakan kehadiran Satura yang begitu dekat di sampingnya.
Jantungnya berdegup kencang, dipenuhi rasa percaya diri yang sudah lama hilang. Ia memilih berada di sini dengan caranya sendiri, dan rasa penasaran bercampur gairah terus membara di dada.
Tangan Satura perlahan menempel di punggung bagian bawahnya. Sentuhan itu terasa ragu-ragu, pria itu takut Vandini akan menjauh.Vandini bisa merasakan napas Satura yang memburu. Jari-jemarinya menempel hangat.
Begitu masuk, Satura menutup pintu pelan. Tangannya bergeser lalu menggenggam tangan Vandini erat-erat.
Vandini berbalik menghadap pria itu. Ia bisa merasakan tatapan Satura yang menjelajahi seluruh tubuhnya.
"Vandini..." Satura berbisik pelan. Ia membawa tangan Vandini ke bibirnya, lalu mengecup punggung jari gadis itu dengan lembut. "Aku milikmu. Apa pun yang kamu butuhin, apa pun yang kamu mau, bilang aja sama aku."
Rasa hangat menjalar hingga ke ulu hati Vandini. Seluruh kulitnya terasa lebih sensitif dari biasanya. Jantungnya berpacu, napasnya jadi pendek dan tak beraturan. Pipi dan lehernya pun terasa panas memerah.
Namun di balik rasa tertarik itu, ada gugup yang tak bisa dibohongi. Tangannya sedikit gemetar, telapak tangan terasa basah, dan ia terus gelisah. Perasaan campur aduk antara penasaran dan malu membuatnya bersemangat sekaligus sadar betapa rentannya dirinya saat itu.
Vandini bisa merasakan ketulusan Satura, keinginan pria itu untuk membuktikan bahwa ia pantas berada di dekatnya. Hal itu justru membuat rasa percaya dirinya makin besar. Malam ini, ia akan mengambil apa yang sebenarnya ia inginkan.
Vandini mendekat, menatap lurus ke mata Satura. Ia mengusap wajah pria itu dengan tangan satunya, merasakan tekstur kasar janggut di bawah jari-jarinya. Satura tampak menikmati sentuhan itu. Ia memejamkan mata sambil menarik napas panjang, ia tak bergerak sedikit pun agar momen itu tak buyar.
Saat mata itu terbuka lagi, tampak kerinduan. Bibirnya terbuka sedikit, menatap wajah Vandini penuh harap, selalu menunggu isyarat darinya.
Tangan Satura naik memegang wajah Vandini dengan lembut. Ibu jarinya mengusap pipi gadis itu begitu halus hingga membuat jantung Vandini berdegup lebih kencang. Gerakannya tak terburu-buru. Sebuah janji bisu bahwa ia ada di sana sepenuhnya untuk Vandini, siap memberikan apa saja.
Vandini bisa merasakan betapa dalam perasaan pria itu. Cinta dan rindu bercampur menjadi satu, keinginan untuk melayaninya dan memujanya melebihi apa pun.
"Satura," bisik Vandini. Ia menyandarkan pipinya ke telapak tangan pria itu, menikmati hangatnya sentuhan di kulitnya.
"Malam ini, aku di sini bukan buat maafin kamu. Aku di sini karena aku pengen ini. Aku mau kamu bercinta sama aku. Gak usah mikirin masa lalu, gak usah banyak perasaan. Cuma kita dan rasa nikmatnya aja, udah gitu aja."
Satura menghela napas panjang dengan gemetar. Tatapannya berganti antara gairah dan sedih, lalu ia menarik tubuh Vandini makin dekat.
Tangannya bergerak dari pipi ke tengkuk, jari-jarinya menyelusuri rambut Vandini. Dahi mereka bersandar, napas mereka bercampur jadi satu.
"Aku bakal jadi apa pun yang kamu butuhin, Vandini," bisiknya, suaranya terdengar serak penuh perasaan.