NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PRIA BERNAMA ARSEN

BAB 2 — PRIA BERNAMA ARSEN

Keisha tidak tahu sejak kapan napasnya menjadi tidak beraturan.

Mungkin sejak pria itu berdiri tegap di hadapannya.

Mungkin sejak telapak tangan hangatnya bersentuhan dengan tangan Arsen beberapa detik yang lalu.

Atau mungkin sejak tatapan mata gelap itu seolah mampu menembus pertahanan dirinya yang selama ini ia bangun tinggi-tinggi.

Di luar sana, musik masih berdentum keras mengguncang lantai, sorak-sorai dan tawa orang-orang masih memenuhi ruangan. Namun anehnya, Keisha merasa seolah mereka terperangkap dalam sebuah gelembung sunyi. Dunia di sekitar mereka seakan memudar, menyisakan hanya kehadiran pria di depannya ini.

Arsen melirik sekilas ke arah gelas yang masih digenggam erat oleh jari-jemari Keisha.

“Itu minuman pertamamu?” tanyanya pelan, suaranya terdengar jelas di telinga gadis itu meski tidak ditinggikan.

Keisha menunduk menatap cairan merah yang kini tinggal setengah gelas.

“Kelihatan banget ya?”

“Cara kamu pegang gelasnya... kayak lagi memegang obat pahit yang terpaksa harus diminum,” jawab Arsen santai.

Keisha spontan tertawa kecil. Kalimat itu terdengar lucu, tapi juga sangat tepat.

Arsen menatapnya hening selama beberapa detik, lalu perlahan mengangkat satu alisnya yang tegas.

“Kamu lebih cantik waktu tertawa.”

Ucapan itu terlontar begitu saja, begitu santai, seolah ia hanya menyebutkan fakta biasa seperti 'langit itu biru'. Namun bagi Keisha, kata-kata itu bagaikan arus listrik yang menyambar. Wajahnya seketika memanas, rasa panas menjalar dari pipi hingga ke ujung telinga.

“Kayaknya kamu hobi banget bikin cewek jadi salah tingkah dan ge-er,” celetuk Keisha, berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan bercanda.

“Enggak semua,” sanggah Arsen lembut.

“Lalu?”

“Hanya yang benar-benar menarik perhatianku.”

Jantung Keisha kembali berdegup kencang, jauh lebih cepat dari sebelumnya. Ia buru-buru menyesap minumannya lagi, meski tenggorokannya terasa tiba-tiba kering dan kaku.

Arsen bersandar santai pada meja bar di sampingnya, posturnya rileks namun tetap memancarkan aura dominan. Matanya tak lepas dari wajah Keisha, tatapan itu membuat gadis itu sulit bernapas dengan normal.

“Kamu baru lulus sekolah?” tanya Arsen memecahkan keheningan di antara mereka.

Keisha mengangguk cepat. “Hari ini pengumuman kelulusan yang terakhir.”

“Dan hasilnya?”

“Aku diterima di universitas impianku.”

Wajah Arsen sedikit melunak, muncul senyum tipis yang membuatnya terlihat jauh lebih manusiawi. “Selamat.”

“Terima kasih.”

“Jurusan apa?”

“Psikologi.”

Arsen menatapnya lama, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu dalam diam.

“Cocok.”

“Kenapa?” Keisha mengerutkan kening bingung. “Kita baru kenal, lho.”

“Kamu tipe orang yang terlalu banyak memikirkan perasaan orang lain. Terlalu sering mengalah dan berusaha mengerti,” ujar Arsen pelan namun tegas. “Sifat itu pas banget buat jadi psikolog.”

Keisha terdiam. “Kita baru kenal lima menit,” ulangnya lagi, tak percaya.

“Aku jarang salah membaca karakter orang.”

Nada suaranya datar, penuh percaya diri, bahkan terdengar sedikit arogan. Tapi anehnya, nada itu sama sekali tidak terdengar menyebalkan di telinga Keisha. Justru membuat pria ini terlihat semakin menarik.

“Kalau begitu... coba analisis aku lagi,” tantang Keisha iseng. “Apa lagi yang kamu baca dari aku?”

Arsen tersenyum tipis, senyum yang terlihat sangat menggoda.

“Kamu anak baik. Sangat baik.”

“Lalu?”

“Selalu berusaha menjadi sempurna di mata orang lain. Takut salah, takut mengecewakan.”

Dadanya serasa ditusuk jarum halus. Tepat sasaran.

Keisha menatap pria itu tak percaya. “Kok... kamu bisa tahu semua itu?”

“Matamu.”

“Mataku kenapa?”

“Selalu melihat ke sekeliling dulu sebelum melakukan sesuatu. Seolah selalu memastikan tidak ada yang tersinggung atau keberatan,” jelas Arsen. “Kamu hidup terlalu banyak aturan, Keisha.”

Gadis itu mendadak kehilangan kata-kata.

Tak ada satu pun orang yang pernah bisa membaca dirinya secepat dan setajam ini. Orang-orang biasanya hanya melihatnya sebagai gadis pintar, pendiam, dan penurut. Namun pria di depannya ini... baru beberapa menit berbicara, tapi seolah sudah mampu mengupas lapisan demi lapisan yang selama ini ia sembunyikan.

Arsen mengambil alih gelas dari tangan Keisha dan meletakkannya di atas meja dengan santai.

“Sekarang giliranku bertanya.”

“Apa?”

“Kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu... hanya karena kamu benar-benar menginginkannya? Bukan karena harus, bukan karena disuruh, dan bukan karena ekspektasi orang lain.”

Keisha mengerjap beberapa kali.

Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana, namun tiba-tiba terasa sangat berat dan sulit untuk dijawab.

Selama ini hidupnya memang penuh jadwal, aturan, dan target. Belajar karena harus mengejar nilai. Rajin karena itu yang diharapkan orang tua. Menjadi anak baik karena itu peran yang sudah ditetapkan untuknya.

Lalu... apa yang sebenarnya ia inginkan untuk dirinya sendiri?

“Aku... enggak tahu,” jawabnya jujur, suara nya terdengar kecil.

Arsen menatapnya lama, pandangannya dalam dan menyelidik.

Lalu, perlahan ia mendekatkan tubuhnya.

“Kalau begitu, malam ini cari tahu.”

Keisha menahan napas.

Jarak mereka kini begitu dekat. Hanya beberapa jengkal saja. Ia bisa mencium aroma parfum Arsen dengan sangat jelas. Aroma wangian kayu manis dan tembakau yang hangat, tajam, dan anehnya... sangat memabukkan.

“Kenapa kamu bicara kayak tokoh utama di film-film gitu?” gumam Keisha, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa begitu intens.

“Karena kamu mendengarkan seperti penonton yang setia,” balas Arsen cepat.

Keisha terkekeh tanpa sadar. Pria ini punya cara bicara yang unik. Membuatnya merasa nyaman, tapi di saat yang sama membuat jantungnya berdegup tak karuan.

 

Beberapa saat kemudian, mereka memutuskan pindah ke area lounge yang jauh lebih tenang dan privat.

Dengan sofa-sofa kulit berwarna hitam yang empuk, pencahayaan yang remang-remang dan hangat, serta suara musik yang terdengar samar-samar dari jarak jauh, tempat ini terasa jauh lebih cocok untuk mengobrol.

Di sana, percakapan mereka mengalir begitu saja tanpa ada rasa canggung sedikitpun.

Mereka membicarakan banyak hal. Tentang dunia perkuliahan yang akan segera Keisha jalani, tentang makanan favorit masing-masing, tentang kota-kota impian yang ingin dikunjungi, hingga hal-hal remeh temeh yang biasanya terlihat tidak penting. Tapi malam itu, semuanya terasa menarik dan berharga.

Keisha mulai lupa bahwa mereka sebenarnya adalah dua orang asing yang baru bertemu malam ini. Ia bahkan mulai lupa rasa was-was dan rasa takut yang biasanya ia rasakan saat berhadapan dengan orang baru.

Bersama Arsen, ia merasa... dilihat. Benar-benar dilihat sebagai seorang individu, bukan sekadar sebagai 'anak pintar' atau 'anak baik'.

“Terus kalau kamu?” Keisha memberanikan diri bertanya. “Kerja apa sebenarnya?”

Arsen menoleh, lalu menatap gelas whiskey bening di tangannya yang berisi cairan keemasan.

“Bekerja.”

Keisha mendecakkan lidah kesal. “Dih, jawaban apaan itu? Kurang informatif banget.”

“Jawaban singkat dan padat.”

“Kamu tuh ya, misterius banget sih.”

“Itu keluhan?” Arsen menatapnya dengan alis terangkat.

“Mungkin,” jawab Keisha ketus.

Arsen tersenyum, mata gelap itu tampak berbinar penuh arti. “Kalau aku ceritakan semuanya malam ini, kamu nanti malah enggak penasaran lagi. Bosan kan?”

Keisha terdiam lagi.

Benar juga.

Ada sensasi aneh yang menjalar di ulu hatinya. Ia akui, ia memang sangat penasaran. Sangat ingin tahu siapa pria ini sebenarnya, apa pekerjaannya, kenapa matanya bisa terlihat begitu dingin dan dalam meski bibirnya sering tersenyum, dan yang paling penting... kenapa pria sekeren dan seberkelas ini mau menghabiskan waktu berbicara dengannya?

 

Kenyamanan itu tiba-tiba terganggu.

Seorang pria yang terlihat sudah sangat mabuk berjalan sempoyongan mendekati meja mereka. Wajahnya merah padam, matanya menyipit menatap Keisha dengan tatapan yang tidak enak dipandang.

“Wih, cantiknya... dari tadi aku cari-cari, ternyata di sini ya.”

Pria itu melontarkan godaan kotor dan dengan beraninya mencoba meraih lengan Keisha.

Namun, sebelum tangan kotor itu sempat menyentuh kulitnya...

Brak!

Arsen berdiri dengan cepat. Gerakannya begitu sigap dan mengejutkan.

Dalam sekejap, aura di sekitarnya berubah total. Tatapan yang tadi lembut dan menggoda, kini berubah menjadi sedingin es. Tajam dan mengintimidasi.

“Pergi.”

Hanya satu kata. Suaranya rendah, tenang, namun penuh dengan ancaman yang begitu nyata dan mencekam.

Pria mabuk itu malah tertawa mengejek. “Wah, galak amat. Kalau aku enggak mau pergi gimana?”

Arsen melangkah maju satu langkah. Tingginya menjulang, membuat pria mabuk itu otomatis mendongak. Suasana di sekitar mereka seketika menjadi tegang dan membeku.

“Kalau kamu nekat...” Arsen berbicara pelan, tapi setiap katanya terasa berat. “Kamu akan menyesal seumur hidup.”

Pria mabuk itu menatap mata Arsen, seolah baru sadar dengan siapa ia berurusan. Wajahnya pucat, ia menggumamkan kata-kata tak jelas, lalu segera mundur teratur dan pergi menjauh sambil mengumpat pelan.

Keisha masih terpaku di tempatnya, menatap punggung lebar pria di depannya dengan mata terbelalak.

“Kamu... galak juga ya,” komentar Keisha pelan, masih sedikit syok.

Arsen berbalik menatapnya, tatapannya perlahan kembali melunak meski masih tersisa sisa kemarahan di sana.

“Aku tidak suka orang sembarangan menyentuh... milikku.”

Keisha membeku.

“Milikmu?” tanyanya terbata.

Arsen menatapnya lurus, tak bergeming.

“Malam ini. Kamu adalah milikku malam ini.”

Pipi Keisha seketika panas bak terbakar.

Secara logika, ia seharusnya merasa tersinggung atau tidak suka dengan kalimat kepemilikan yang mendominasi itu.

Tapi anehnya... jantungnya justru berdetak jauh lebih kencang dari sebelumnya. Ada perasaan aneh yang bercampur antara takut dan... senang.

Arsen kembali duduk dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa, seolah ia tidak baru saja mengintimidasi orang lain beberapa detik lalu.

“Kamu haus?” tanyanya santai.

Keisha masih terlalu kaget dan bingung untuk menjawab.

Melihat wajahnya yang memerah dan mulutnya yang terkatup rapat, Arsen menyeringai tipis.

“Lucu.”

“Apa yang lucu?”

“Kamu selalu diam dan bengong kalau lagi gugup.”

Keisha kesal, lalu mengambil bantal sofa kecil dan melemparkannya ke arah pria itu.

Dengan santai dan cekatan, Arsen menangkap bantal itu hanya dengan satu tangan, lalu tertawa pelan. Suara tawa yang rendah dan terdengar sangat maskulin.

Dan di saat itulah Keisha sadar...

Ia sudah terlalu jauh larut dalam malam ini.

Ia sudah terlalu nyaman, terlalu menikmati kehadiran pria bernama Arsen ini.

Padahal beberapa jam yang lalu, ia bahkan tidak tahu bahwa dunia seindah dan segila ini ada.

 

Arsen kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Keisha, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah gadis itu.

“Kita pergi dari sini.”

Suaranya berbisik pelan, namun langsung membuat seluruh tubuh Keisha menegang.

“Ke mana?”

“Ke tempat yang lebih tenang. Hanya berdua.”

Tatapan mereka saling bertaut.

Keisha paham betul arti ajakan itu. Ia tahu apa yang biasanya terjadi jika seorang gadis mau diajak pergi ke tempat privat oleh pria yang baru dikenal di malam hari.

Ia tahu ia harusnya menolak.

Ia tahu ini sangat berisiko dan tidak masuk akal.

Ia tahu ini gila.

Tapi saat Arsen mengulurkan tangannya, menawarkan telapak tangan yang besar dan hangat itu padanya...

Keisha hanya ragu selama satu detik.

Satu detik yang terasa sangat panjang.

Lalu, dengan hati yang berdebar kencang, ia meletakkan tangannya di telapak tangan pria itu.

Dan malam itu... arah hidup mereka pun berubah total.

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!