NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Kaki Culas

"Aku bukan Kuskandar," jawab suara itu, dan tawanya terdengar seperti pasir yang digerus. "Aku adalah Mbah Jari. Aku kembali. Tapi aku tidak kembali untuk menolongmu, Agus. Aku kembali untuk mengambil hakku atas uang seratus juta itu, dan aku akan mengambilnya dari... istrimu—"

“Diam, Mbah Jari sudah mati, ditarik sukmanya! Kenapa kau masih bisa bicara—"

“Aku adalah sisa-sisa,” suara di telepon itu mendesis, memotong ucapan Agus. “Sisa-sisa yang tertinggal saat Pangeran Titi Kusumo buru-buru mengambil nyawaku. Kau berutang padaku, Agus. Seratus juta, dan aku akan mengambilnya dari istrimu. Dia akan menjadi ganti rugiku, sebelum Pangeran mengambilnya juga.”

Agus menjauhkan ponsel dari telinganya, gemetar. Ia melihat ke spion sekali lagi. Gudang itu gelap, dan Endang seharusnya aman di dalam, dikunci.

“Kau gila,” bisik Agus. “Kau sudah mati!”

Tawa serak itu kembali, lebih keras. “Tentu saja aku gila. Kau pikir siapa yang akan membantu penipu sepertimu? Sekarang, kau punya dua pilihan, Agus. Matikan aku sekarang, dan aku akan kembali. Atau kau selesaikan apa yang kau mulai. Kau temukan dukun lain. Kau selesaikan ritual penyamaran itu. Aku akan membiarkan istrimu sendirian sampai kau kembali dengan solusi.”

Agus merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Ancaman Mbah Jari yang sudah mati terasa lebih nyata daripada ancaman polisi atau penagih utang.

“Aku—aku akan mencarinya,” kata Agus, suaranya tercekat. “Aku akan mencari pengganti Mbah Jari. Tapi jangan sentuh Endang. Aku bersumpah, aku akan membayarmu.”

“Sumpahmu tidak ada artinya,” balas suara Mbah Jari. “Aku hanya ingin melihat kau menderita. Sekarang, cepatlah. Pangeran Titi Kusumo hanya memberimu jeda waktu, bukan kebebasan.”

Sambungan terputus.

Agus melempar ponselnya ke kursi penumpang. Ia menyalakan mobil lagi, menginjak gas dengan kasar. Ia harus menemukan Kuskandar. Sekarang. Modal terakhir Rp53 juta harus digunakan untuk membeli waktu dan kesempatan baru.

Ia melaju menuju kawasan kota yang lebih ramai, mengabaikan mobilnya yang cacat. Pikirannya dipenuhi oleh satu nama: Kuskandar. Pria yang membawanya ke Lanang Sewu, pria yang pasti memiliki koneksi lain ke dunia gelap.

*

Tiga jam kemudian, Agus tiba di sebuah kafe remang-remang yang terletak di lantai dasar sebuah bangunan tua, tempat Kuskandar biasa melakukan transaksi bisnis 'abu-abu'nya. Kafe itu berbau asap rokok dan kopi pekat.

Agus menemukan Kuskandar di sudut, sedang memainkan ponselnya. Kuskandar, dengan setelan jas murahan yang selalu tampak lusuh, mengangkat kepalanya saat Agus mendekat.

“Agus? Lama tidak bertemu,” sapa Kuskandar, senyumnya tidak mencapai mata. “Aku dengar kau sudah mulai panen. Vila Mega Mendung, kan? Kenapa kau terlihat seperti baru keluar dari tempat pembuangan sampah?”

Agus duduk di hadapannya tanpa basa-basi. “Aku tidak punya waktu untuk basa-basi, Cun. Semua rencanaku berantakan. Mbah Jari mati. Ditarik sukmanya oleh Titi Kusumo.”

Wajah Kuskandar berubah pucat. Ia melihat sekeliling kafe, seolah takut Titi Kusumo menguping.

“Kau gila? Kau menipu Lanang Sewu?” Kuskandar berbisik, nadanya dipenuhi ketakutan yang tulus.

“Aku tidak menipunya. Aku hanya mencari jalan pintas,” elak Agus, meskipun ia tahu ia berbohong. “Mbah Jari yang gagal dalam ritual Topeng Sukma Ganda. Sari, tumbal penggantiku, kini dirasuki. Dan Titi Kusumo sudah tahu semuanya.”

Kuskandar menghela napas, menyentuh keningnya. “Aku sudah bilang padamu, Agus. Jangan main-main dengan entitas yang terikat pada ritual kuno. Mereka sensitif terhadap kepalsuan spiritual. Kau menghina Pangeran.”

“Aku tahu aku menghina dia!” bentak Agus, suaranya rendah dan tajam. “Itu tidak penting sekarang! Yang penting, aku butuh dukun lain! Seseorang yang lebih kuat dari Mbah Jari, seseorang yang bisa menambal sihir penyamaran itu, dan seseorang yang bisa mengendalikan Sari agar Titi Kusumo tidak curiga lagi!”

Kuskandar menatap Agus, matanya berkaca-kaca. “Kau mau melanjutkan penipuan itu? Setelah semua ini? Setelah Mbah Jari mati?”

“Aku punya lima puluh tiga juta rupiah sisa modal!” Agus mengeluarkan tumpukan uang tunai itu dan membantingnya ke meja. Uang itu menarik perhatian beberapa pengunjung di dekat mereka. “Aku akan menggunakan ini untuk membayarmu, dan sisanya untuk dukun itu. Jika ritual ini berhasil, sisa kekayaan Titi Kusumo yang akan kuberikan padamu. Kau akan menjadi kaya raya, Cun!”

Kuskandar menatap uang tunai itu, lalu menatap Agus. Ada konflik jelas di matanya: ketakutan melawan keserakahan.

“Titi Kusumo pasti akan membunuhku jika dia tahu aku membantumu lagi,” kata Kuskandar.

“Dia akan membunuh kita semua jika kita tidak bertindak cepat!” balas Agus. “Kau tahu apa yang terjadi di gudang? Mbah Jari yang sudah mati meneleponku. Dia mengancam akan mengambil Endang sebagai ganti rugi seratus juta yang hilang!”

Kuskandar bergidik. “Arwahnya masih berkeliaran? Astaga, ini gila.”

Agus menyodorkan uang tunai itu lebih dekat ke Kuskandar. “Ini gila. Dan aku butuh keahlianmu. Kau harus mencari dukun itu. Seseorang yang spesial, yang bisa melakukan Pelet Punggung tingkat tinggi, dan sihir penyamaran Topeng Sukma Ganda yang sempurna.”

Kuskandar mengambil tumpukan uang itu, menghitungnya sekilas. “Lima puluh tiga juta. Hanya ini sisa kekayaanmu yang kau klaim sebentar lagi akan kau dapatkan?”

“Ini jaminan!” seru Agus. “Pikirkan investasi jangka panjangnya. Jika kau membantuku, kau akan mendapatkan miliaran dari entitas itu. Jika aku mati, kau tidak dapat apa-apa, dan Titi Kusumo mungkin akan mengejarmu juga, karena kau yang mengenalkan aku padanya!”

Ancaman itu berhasil. Kuskandar menghela napas panjang, mengangguk pasrah.

“Baik, Agus. Kau benar-benar sudah gila. Tapi kegilaanmu mungkin akan membuat kita kaya, atau mati,” kata Kuskandar. Ia menyimpan uang itu di dalam tas selempangnya. “Aku kenal seseorang. Namanya Mbah Loka. Dia bukan spesialis penyamaran, tetapi dia adalah ahli ilmu pelet dan pengikat sukma. Dia bisa membuat Sari menjadi wadah yang sempurna, bahkan jika jiwanya sudah terkoyak.”

“Di mana dia?” tanya Agus, condong ke depan.

“Dia di pedalaman Jawa Timur, di kaki Gunung Wilis. Jauh. Dan dia mahal. Lebih mahal dari Mbah Jari,” jelas Kuskandar. “Tapi dia sangat tertutup. Aku tidak bisa memberimu alamatnya begitu saja.”

Agus mengepalkan tinjunya. “Lalu bagaimana?”

“Kau harus menemuinya secara pribadi. Dan kau harus memberiku bagianku dari lima puluh tiga juta ini untuk menutup mulutku dan membelikanmu waktu,” kata Kuskandar. “Aku harus melakukan ritual pembuka untuk Mbah Loka agar dia mau menemuimu. Itu akan memakan biaya.”

“Berapa?”

“Dua puluh juta rupiah,” jawab Kuskandar, tanpa berkedip. “Sisanya, tiga puluh tiga juta, kau bawa untuk Mbah Loka. Dan kau harus berjanji, sisanya akan kau kirim padaku setelah ritual berhasil.”

Agus terdiam. Dua puluh juta untuk Kuskandar. Itu adalah harga yang sangat mahal untuk sebuah janji.

“Kau curang, Cun.”

“Aku hanya realistis, Agus. Aku mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkan penipu yang dicari oleh Lanang Sewu,” Kuskandar mengangkat bahu. “Terima atau tinggalkan. Jika kau meninggalkannya, aku akan menghubungi Titi Kusumo dan menjual lokasimu sekarang juga.”

Agus tahu ia terjebak. Ia mengangguk pahit. “Baik. Dua puluh juta. Tapi kau harus memberiku alamat Mbah Loka sekarang.”

“Aku akan memberimu alamatnya, tapi hanya setelah aku melakukan ritual pembuka. Tunggu pesanku,” kata Kuskandar. Ia bangkit berdiri. “Aku tidak mau berlama-lama di sini bersamamu. Aku sudah bisa merasakan bau melati dari Mbah Jari yang mengikutimu.”

Kuskandar berbalik dan menghilang ke keramaian kafe.

Agus ditinggalkan sendirian, dengan sisa uang Rp33 juta dan rasa takut yang semakin mencekik. Ia harus kembali ke rumah, kembali ke Endang, dan kembali ke Sari yang kini menjadi wadah bagi arwah Mbah Jari dan ancaman Titi Kusumo.

Ia meraih ponselnya, menunggu pesan dari Kuskandar.

Setengah jam kemudian, ponselnya bergetar.

Kuskandar: Jalan menuju Mbah Loka: Candi Angker di Lereng Wilis. Aku sudah transfer dua puluh juta dari depositmu ke Mbah Loka sebagai jaminan. Sisanya kau bawa. Jangan gagal, Agus. Ini kesempatan terakhirmu.

Agus menghela napas. Ia telah menjual dua puluh juta rupiah hanya untuk sebuah alamat. Ia harus segera pergi.

Ia menyalakan mobilnya, berbalik menuju rumah. Ia harus menjelaskan kepada Endang bahwa mereka harus pergi lagi.

Ketika ia tiba di rumah, gudang itu masih terkunci. Tidak ada suara dari dalam. Agus merasa lega. Ia membuka pintu rumah perlahan. Endang tidak ada di ruang tamu.

Agus berjalan cepat menuju dapur. Ia melihat Endang sedang berdiri di depan wastafel, membelakanginya.

“Endang! Kita harus pergi. Aku sudah menemukan dukun lain,” kata Agus, suaranya sedikit lega.

Endang tidak bergerak.

“Endang?”

Agus mendekat. Ia menepuk bahu Endang.

Endang berbalik. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong, tetapi bibirnya tersenyum. Senyum itu bukan senyum Endang.

“Kau terlambat, Agus,” bisik Endang, dan dari belakangnya, di atas meja dapur, tergeletak sebotol air suci yang dulu diberikan Ki Joladrang kepada Endang sebagai perlindungan. Botol itu pecah, dan airnya tumpah ke lantai.

“Endang, apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak menjaganya?” tuntut Agus.

“Aku tidak bisa menjaganya, suamiku,” jawab Endang. “Karena aku..., aku sudah menjadi milik Pangeran.”

Endang mengangkat tangannya. Bercak hitam di pergelangan tangannya kini tidak hanya menghitam, tetapi juga menyebar ke seluruh lengan, membentuk pola seperti sulaman. Tanda kutukan Titi Kusumo telah sempurna.

“Dan Sari?” tanya Agus, panik.

Endang tertawa, tawa yang dingin dan berat, bukan tawa istrinya. “Sari sudah bebas. Dia mendapatkan kejujurannya. Dan aku mendapatkan kehormatanku kembali, dengan cara yang paling menyakitkan.”

Agus melangkah mundur. “Kau membiarkan Titi Kusumo masuk?”

“Aku tidak membiarkannya. Dia mengambilnya. Dia menukarku dengan Sari,” Endang melangkah maju. “Dan sekarang, kau harus memberiku pengorbanan yang dijanjikan, Agus. Pengorbanan yang tulus, yang akan membebaskan kutukan Pangeran, dan membebaskan aku dari topeng pernikahan yang palsu ini.”

Endang meraih pisau dapur yang tergeletak di meja. Matanya menatap Agus dengan kebencian yang dalam.

“Aku akan menjadi tumbalmu, Agus,” katanya, mengacungkan pisau itu. “Dan Pangeran akan segera datang untuk menyaksikan persembahan darah yang tulus. Berikan aku hatimu, suamiku, atau aku akan mengambilnya dari ragamu!”

Agus terhuyung mundur, tidak percaya. Endang yang asli kini telah dikuasai, sementara Sari telah dibebaskan dari gudang.

“Tidak! Endang!” teriak Agus, berlari mundur, menuju pintu depan.

“Kau tidak akan lari dariku kali ini, Lanang!” teriak Endang, suaranya kini bergetar antara suara Endang dan resonansi Titi Kusumo.

Agus membuka pintu depan dan berlari keluar. Ia mendengar langkah Endang mengejarnya di belakang. Ia mencapai mobilnya, membuka pintu, dan melompat masuk. Ia menyalakan mesin.

Saat ia memundurkan mobilnya, ia melihat Endang berdiri di ambang pintu, pisau di tangan, matanya menyala merah.

“Aku akan mencarimu, Agus! Sampai ke Candi Angker di Gunung Wilis!” teriak Endang.

Agus menginjak gas, mobil melaju kencang, meninggalkan rumahnya. Ia harus menjauh dari Endang yang sudah dirasuki.

Ia melaju tanpa tujuan selama beberapa menit, lalu ia berhenti di bawah lampu jalan yang redup. Ia mengeluarkan ponselnya. Ia harus menghubungi Kuskandar, tetapi ia ragu.

Ia membuka pesan dari Kuskandar lagi. Candi Angker di Lereng Wilis. Itu adalah tujuan satu-satunya.

Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Di kursi belakang mobilnya, tergeletak tiga batang emas batangan yang ia temukan di bawah bantal Sari setelah ritual pertama.

Emas itu dingin dan berat.

Agus mengambil emas itu, berpikir cepat. Jika Endang (yang kini dikuasai Titi Kusumo) mengejarnya, maka ia harus menggunakan emas ini.

Ia mengeluarkan pisau lipat kecil dari sakunya. Ia harus memotong emas batangan itu menjadi pecahan kecil.

Agus memegang emas itu dengan erat, dan mulai mencoba mengirisnya. Emas itu ternyata sangat keras.

“Aku akan memberikannya pada Kuskandar,” gumam Agus. “Aku akan memberikannya pada Mbah Loka. Aku akan membeli perlindungan!”

Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan halus di kaca samping mobilnya.

Tok tok tok.

Agus menoleh. Ia melihat seorang wanita berdiri di samping mobil, mengenakan kebaya putih kuno, wajahnya tertutup cadar tipis.

“Tuan Agus,” bisik wanita itu, suaranya merdu, tetapi mematikan. “Saya Sari. Saya sudah bebas. Dan saya diperintahkan oleh Pangeran untuk mengantarkan Anda menuju Candi Angker. Anda tidak akan pernah bisa sampai di sana tanpa bimbingan saya. Saya adalah tumbal yang tulus. Dan Anda adalah mangsa terakhir. Ayo, ikut saya!”

1
Mega Arum
msh lanjut, wlpn agak aneh sih crtanya...
Mega Arum
pesugihan yg krg bs di pahami beda dg novel2 tntg pesugihan lain
Mega Arum
kasihan Endang.. dilema
Mega Arum
pemakaian bahasa yg perlu berimaginasi thor... baguus
Mega Arum
semoga kedepanya menarik....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!