NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EMPAT BELAS

Di tempat lain, di sebuah restoran mewah kecil...Intan dan Althaf sedang duduk berdua, mengobrol ringan tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di rumah Adelia.

Tawa Intan terdengar sesekali, sementara Althaf semakin antusias.

Takdir sedang menyiapkan sesuatu tetapi mereka belum menyadarinya.

Hari sudah gelap ketika suara mobil Lukas memasuki halaman rumah. Lampu ruang tamu memantulkan bayangan lembut pada dinding, dan Adelia segera berdiri di depan pintu, menunggu suaminya masuk.

Begitu pintu terbuka, Lukas muncul dengan wajah lelah, namun langsung melebar menjadi senyum ketika melihat Adelia.

"Sayang..." Ia mendekat dan memeluk Adelia erat, seolah memeluk rumah itu sendiri.

Adelia membalas pelukannya, memejamkan mata sebentar-pelukan itu seperti kabar baik bagi tubuh yang penuh ketegangan sejak pagi.

Lukas mengecup bibirnya singkat. "Aku kangen."

Adelia tersenyum kecil. "Aku juga, Mas."

Tanpa sadar, keduanya masih berpegangan tangan ketika masuk ke rumah.

Dari sofa, Bastian duduk sambil melihat mereka tanpa suara. Ia tidak menegur, tidak memanggil, tidak memberi komentar. Namun, tatapan matanya... mengamati Adelia terlalu lama. Bahkan ketika Lukas menuntun istrinya naik ke tangga pun, Bastian tidak mengalihkan pandangan.

Bastian merasa jika Adelia terlihat lebih mempesona saat ini, istri dari putra tirinya itu makin cantik dan manis -sehingga ia mungkin akan kesulitan untuk menahan dirinya agar tidak semakin jatuh dalam pesona sang menantu.

Adelia sempat meliriknya sekilas. Ada sesuatu di mata Bastian-bukan hanya rasa kagum. Ada sesuatu yang berbeda. Dan itu membuat kulit belakang lehernya meremang.

Di kamar, Adelia mencoba fokus membantu Lukas melepaskan kemeja kantornya. Tapi, pikirannya tidak bisa diajak bekerja sama. Tangannya dua kali hampir tersangkut pada kancing, dan ia menarik napas pendek beberapa kali untuk menenangkan diri.

Lukas memperhatikan. "Kamu kenapa, sayang?

Gimana harimu?"

Adelia tersentak kecil. "Eh... ba-baik, Mas."

"Kamu nggak kelihatan baik-baik saja." Lukas menatap wajah istrinya, memastikan. "Ada yang lagi ganggu pikiran kamu, ya?"

Adelia mencoba tersenyum. "Nggak kok, Mas. Aku cuma capek."

Lukas mengangkat alis, tidak sepenuhnya percaya. Namun, ia tidak mau menekan. Ia memegang tangan Adelia pelan. "Kalau kamu butuh cerita, aku ada di sini buat kamu."

Adelia mengangguk, padahal hatinya penuh guncangan yang tidak bisa ia sampaikan. Karena bagaimana ia harus mengaku bahwa papa mertuanya sendiri membuatnya ketakutan?

Setelah kemeja dilepas dan Adelia membawanya ke

keranjang pakaian kotor, Lukas tiba-tiba mendekat dari belakang dan memeluknya. Pelukannya hangat-tidak mengancam, tidak menekan.

Adelia merasa aman sejenak, meski hatinya masih gentar.

"Sayang..." suara Lukas terdengar pelan.

Adelia menoleh sedikit. "Iya, Mas?"

"Aku baru mau bilang, besok aku harus ke luar kota... mungkin tiga atau empat hari," ucap Lukas.

Gerakan Adelia langsung terhenti, jantungnya berdetak kuat sekali.

"Luar kota...?" suaranya lirih, hampir bergetar.

"Iya," jawab Lukas lembut, tanpa curiga. "Ada proyek yang harus aku tangani langsung. Sean ikut, tapi aku harus lihat lokasi sendiri."

Adelia mencoba menelan rasa panik yang seketika melanda tubuhnya. Tiga sampai empat hari. Di rumah.

Bersama Bastian.

Hanya mereka berdua.

"Tidak... tidak... aku tidak bisa... bagaimana nanti? Bagaimana kalau Papa melakukan sesuatu...?"

Lukas memeluknya sedikit lebih erat, tidak sadar bahwa tubuh Adelia menegang bukan karena cemburu atau sedih-tapi takut.

"Aku tahu ini mendadak," lanjut Lukas. "Tapi, aku akan telepon kamu setiap hari."

Adelia mengangguk sangat pelan. Ia tidak ingin

membuat Lukas berpikir ada yang salah. Ia tidak ingin membebani suaminya.

"Baik, Mas," ucapnya. "Aku... aku ngerti."

Lukas tersenyum lega. "Thank you, sayang. Kamu memang istri yang terbaik."

Adelia memaksa tersenyum.

Ia lalu mencoba mengalihkan perhatian dengan menyiapkan handuk, air hangat, dan baju ganti Lukas. Setiap gerakannya otomatis, namun pikirannya berkabut oleh kekhawatiran.

Saat Lukas mandi, Adelia duduk di pinggir ranjang.

Tangannya meremas ujung bantal, mencoba tetap tenang.

"Kalo Mas Lukas pergi... aku di rumah cuma sama Papa... sendirian... selama tiga hari..."

Ia memejamkan mata dan mencoba berpikir masuk akal. "Papa nggak mungkin macam-macam... dia kan Papa mertua aku... dia orang tua Mas Lukas..."

Namun bayangan supermarket, kesalahpahaman di depan kasir, tatapan Bastian yang menahan sesuatu, dan kejadian di tangga tadi semua itu menyerang pikirannya tanpa ampun.

Ketika Lukas keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar, Adelia langsung berdiri.

"Makan dulu ya, Mas! Bik Vivi sudah siapin semuanya," ucapnya.

Lukas mengangguk. "Ayo, aku juga udah lapar nih!"

Mereka berjalan keluar kamar.

Di ujung tangga, Adelia sempat merasakan bulu kuduknya meremang. Entah karena ia membayangkan kejadian tadi, atau karena kenyataan bahwa Bastian berada di bawah.

Ketika mereka menuruni tangga, Bastian sedang duduk di ruang tamu, seolah menunggu.

Lukas menyapa santai. "Pa, ayo kita makan bareng!"

Bastian menoleh, tapi bukan kepada Lukas.

Tatapannya langsung jatuh tepat pada Adelia.

Tatapan yang tenang, tatapan yang panjang, tatapan yang sama sekali tidak seharusnya diberikan oleh seorang ayah mertua pada menantunya.

Dan Adelia tahu malam itu akan panjang.Sangat panjang.

÷÷÷

Malam itu, udara di rumah keluarga Adelia terasa lembap. Angin berhembus pelan lewat celah jendela ruang tamu, membawa aroma tanah basah setelah gerimis sore tadi.

Althaf Zacosta baru saja tiba di rumah. Hari yang panjang dari pertemuan tak terduga dengan Intan, makan siang yang membuatnya melayang, hingga kegiatan kampus yang menumpuk-membuat tubuhnya terasa sangat lelah.

Ia hanya ingin mandi, makan, lalu tidur.

Tapi, begitu membuka pintu depan...Langkahnya langsung terhenti.

Di ruang tamu, seorang pemuda tampan, mungkin sekitar awal dua puluhan, duduk di sofa dengan wajah kusut dan napas sedikit terengah seolah baru saja melakukan sesuatu yang melelahkan. Rambutnya acak-acakan, bajunya kusut, dan ia memegang gelas kosong di tangan.

Althaf memicingkan mata. "Siapa ini?"

Sebelum sempat bertanya, suara langkah kaki terdengar dari arah dapur.

"Eh Althaf, dah pulang kamu?" Kinara Fitriani, mama kandungnya-muncul sambil membawa gelas berisi minuman hangat.

Pakaiannya... seperti biasa, terlalu terbuka untuk ukuran seorang ibu rumah tangga pada malam hari. Wajahnya tampak berseri-seri, seolah habis mendapat kebahagiaan kecil.

Althaf menatap mamanya dengan curiga. "Ma... ini siapa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!