Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
[20] Kabur
Bumi mengedarkan pandang mencari sosok Langit dari banyaknya siswa siswa di kantin. Saat netranya menangkap sosok gadis yang tengah duduk memegang kemoceng seraya sibuk menyanyi membuatnya menarik kedua sudut bibirnya, Bumi yang baru selesai mengambil nampan makannya melangkah ke meja tersebut.
Alden, Hugo dan Liam mengikutinya bak anak ayam ngikut induk. Di sana tidak hanya ada Langit, ada Bina dan juga satu orang cowok memegang gitar.
"Gak makan?" Pertanyaan itu Bumi ajukan pada Langit yang menoleh padanya. Nyanyian gadis itu berhenti. Cowok yang merupakan teman kelas sebelah mereka juga undur diri saat kedatangan Bumi.
Bumi menaruh nampannya di atas meja diikuti ketiganya. Hugo duduk di sebelah Alden. Sementara Liam di samping Bumi.
Langit menatap Bumi. Pertanyaan Bumi sedikit membuatnya geli. Namun karena sadar status mereka dia hanya memberi gelengan
Pelan. Sebenarnya dia agak canggung untuk bersikap seperti biasa.
"Tumben. Biasanya lo rakus."
Langit mendelik. Dia kira Bumi akan beda dikit karena status mereka. Sama saja membuatnya jengkel.
"Gue lagi baik aja sama yang lain. Biar kebagian makanan," kilahnya.
"Langit katanya gak nafsu." Bina yang sibuk makan menimpali.
Dua alis Bumi naik. Ia memperhatikan wajah Langit. Langit yang ditatap lama-lama sama Bumi seketika mengalihkan tatap.
"Lo masih sakit?" Alden yang bertanya. Perhatian Langit dan yang lain beralih pada Alden.
"Engga kok. Gue udah sehat."
"Terus?" tanya Bumi.
"Ya lagi gak selera aja."
Bumi tampaknya belum puas akan jawaban itu. Karena langit sekarang tanggung jawabnya, dia merasa harus tahu alasan pastinya.
"Gue mau belajar sama Alden," jelas Langit
Kemudian. Dia menatap Alden yang tidak makan juga. Hanya pesan minum.
Bumi melirik Alden yang memberi anggukan. "Ini jam istirahat. Gak usah kerajinan," decaknya, gak pagi gak siang mereka belajar terus.
"Gak bisa. Gue banyak ketinggalannya. Nanti ada les." Langit menggeleng lalu mengambil bukunya.
"Tapi lo makan dulu."
"Gue gak selera Bumiii!" Langit greget.
"Makan kue gitu."
"Babang Bumi perhatian banget sih sama Langit." Liam menarik turunkan alisnya menggoda. Langit gelagapan dan menginjak kaki Bumi di bawah meja. Memang bukan Bumi jika saat ini perhatian seperti itu.
Jelas saja akan menimbulkan kecurigaan.
"Gue gak perhatian. Kalau mau jadi saingan gue ya harus sehat. Kalau gak makan terus sakit lagi. Gimana ngalahin gue?" Bumi membela diri.
"Alah bilang aja lo takut Langit Kenapa-kenapa Bum. Gak dilarang kok kasih perhatian." Hugo ikut menggoda.
"Kenapa lama?"
"Lo ngapain nungguin gue? Ngapain?"
Bumi menyerahkan roti dan minum yang dia bawa. "Lo tuh baru sembuh. Seengaknya makan roti kalau gak makan nasi," decaknya.
Tatapan Langit jatuh pada kresek tersebut. Ada gelanjar aneh dia rasakan saat Bumi memberi perhatian padanya seperti sekarang. Langit tahu bahwa Bumi bersikap seperti ini karena status mereka. Karena tanggung jawab yang saat ini Bumi miliki.
"Tapi gue gak selera," tolak Langit kemudian. Halangan hari pertama dia sangat tidak nyaman. Perut sakit. Pinggang juga pegal. Seleranya juga mendadak hilang.
"Makan aja dikit."
"Gue gak selera Bumi."
"Makan aja Munah."
"Ish gue gak selera," kesalnya. Apa Bumi tidak tahu dia sedang kesakitan sekarang?
"Mau gue suapin apa lo terima dan makan sendiri?"
Langit membulatkan matanya akan ancaman Bumi. Dia sontak menarik kresek itu
Segera. "Gak usah. Gue aja."
Bumi tersenyum puas. Dia sekarang jadi punya senjata biar Langit nurut.
"Puas lo?"
Bumi menyeringai. "Puas. Kalau nurut kan gue nya yang enak."
Langit hanya mencibir. Dia menengok roti yang Bumi belikan.
"Tadi kenapa lama di dalam?"
"Sakit perut," ketus Langit. Jadi sebal.
Sebelah alis Bumi naik. "Karena gak makan?"
"Enggak. Sakit perut cewek."
"Lagi dapet?"
Pertanyaan itu malah membuat wajah Langit memerah. Dia hanya berdehem.
"Kram?"
"Dikit."
"Aman kan?"
Dua alis Langit naik. "Bum lo sikapnya biasa aja deh. Aneh banget tahu."
"Lo dikasi perhatian malah bilang gue
Aneh."
"Iya aneh lah. Tadi juga. Lo gak biasanya gini. Bukannya kita sepakat kayak biasa aja?"
"Ck. Lo pikir gue bisa abaikan lo yang gak makan? Jangan lupa. Lo sekarang tanggung jawab gue."
"Iya gue tahu."
"Ya udah makan kuenya."
"Iya entar di kelas, Paman," angguknya patuh.
"Gue kagak paman lo."
"Terus mau gue panggil sayang gitu?"
"Boleh juga."
Langit melotot. "Jangan ngarep!"
Bumi tertawa.
"Udah lo balik sana, Bum."
"Durhaka lo ngusir gue."
"Bodo. Pokoknya lo duluan sana."
"Ya lo jugalah. Bareng aja.
"Gak ah. Lo duluan."
"Bareng aja."
"Gak."
"Mereka juga gak bakal tahu kita udah nikah kali kalau jalan bareng."
"Bum lo bisa gak jangan sebut kata itu?
Kalau ada yang dengar gimana?" Langit menatap panik sekitarnya. Beruntungnya hanya sisa mereka berdua.
"Terserah. Gue pusing sama lo."
"Ya udah sih. Lo duluan."
Bumi menatap datar sikap keras kepala Langit. "Lo depan jalan. Gue belakang."
"Mahendra Ghabumi Adelard ... please deh ini tuh sekolah. Gue gak bakal ilang."
"Udah lo nurut aja kenapa sih Munah?"
Langit mengalah saja kemudian. Lagian makin lama berdebat dia juga makin menahan nyeri karena kramnya. Dia melangkah duluan. Diam-diam tangannya menyentuh perut dan mengigit bibir bagian bawahnya menahan sakit.
Kram hari pertama sakit sekali.
Ini alasan Langit enggan jalan bareng Bumi. Perutnya sakit dan dia tidak mau cowok itu tahu. Iya walaupun Bumi suaminya.
Cuman kan tetap saja masih asing baginya.
Sesampainya di kelas, belum ada guru yang masuk. Langit lekas duduk di kursinya dan merebahkan kepala. Sedang tangannya meremas perut bagian bawah.
"Ngit. Lo kenapa?" Bina menatap khawatir.
"Gue lagi dapat Bin, kram.
"Sakit banget ya? Mau gue antar ke UKS gak?"
"Enggak deh. Masih bisa gue tahan."
"Beneran?"
"Iya Binaa." Ia tersenyum tipis lalu kembali duduk dengan tegak. Dia lalu mengambil kue yang Bumi belikan.
Memakannya sebelum Bumi kembali ribut menyuruhnya makan.
"Lah lo kapan beli kuenya?"
"Hm?"
"Kayaknya tadi lo gak beli apa-apa deh." Bina melirik kue yang Langit gigit.
Langit sontak menatap Bumi yang juga melihat ke arahnya. Ia buru-buru mengalihkan pandang karena tatapan mereka
Bertemu. "Ada. Dari toilet gue beli. Lapar juga ternyata hehe," kilahnya.
"Ooh ya udah deh. Btw kalau perut lo sakit banget. Bilang. Biar gue anter UKS atau perlu obat gak?"
"Biasanya gue minum pereda nyeri. Tapi entar aja gue ambil."
Bina memberi anggukan. Langit lekas menghabiskan kuenya dan meneguk air minumnya. Selang beberapa menit, guru masuk untuk memulai pembelajaran. Langit tidak bisa fokus sama sekali.
Kakinya bergerak-gerak menghilangkan rasa sakit. Kalau duduk diam malah makin nyeri. Ternyata sejak tadi Bumi terus memperhatikan gerak-gerik Langit.
Dia sampai mengirim pesan diam-diam di sela pelajaran.
Bumi Luknut
[Perut lo masih sakit?]
[Kalau nyeri bilang gue]
Ponsel Langit bergetar dari balik kantong roknya. Dia melirik guru di depan lalu mengeluarkan ponsel. Begitu melihat nama Bumi, dia langsung menoleh pada cowok itu.
[Gue gak apa-apa btw]
[Kalau gak kuat izin ke UKS aja]
[Gue gak apa. Gak usah kawatirin gue]
Bumi berdecak sendiri. Dia beralih ke Google dan mengetikan sesuatu di kolom pencarian.
Apa yang harus dilakukan jika cewek lagi kram haid?
Kompres hangat pada perut
Lakukan pijatan lembut
Hindari makanan dan minuman tertentu
Lakukan teknik relaksasi
Rutin olahraga
Berendam di air hangat
Menggunakan obat pereda nyeri
Tidak ada yang bisa dia bantu selain point 7 untuk saat ini.
Bumi mengetikkan pesan lagi.
[Gue izin ke luar. Lima menit abis itu lo juga izin. Gue tunggu di dekat UKS]
[Gue gak apa-apa pakaian Bumiii yang
Ganteng]
[Gue tunggu lo sampai datang]
Baru Langit mau membalas pesan. Suara Bumi sudah membuat perhatian guru mereka beralih. Cowok itu izin dengan alasan ke toilet.
Langit menghela nafas.
Tadinya dia engan menyusul. Tapi hati kecilnya tidak tega juga biarin Bumi menunggu karena khawatir. Pada akhirnya dia juga izin.
Dia melangkahkan kaki menuju ruangan UKS. Bumi yang tengah bersandar ke dinding di belakangnya seraya main ponsel langsung berdiri melihat kedatangannya.
"Gue tuh udah biasa tiap bulan nyeri gini.
Lo kenapa jadi-" Tangannya tiba-tiba ditarik ke dalam UKS. Langit menatap tangan Bumi yang mengengam pergelangan tangannya. Kenapa sentuhan Bumi memberikan getaran
aneh sih?
Tangan cowok itu dingin. Tapi tubuhnya terasa panas.
"Lo duduk di sini." Bumi menarik tangannya dan menunjuk brankar UKS berseprai putih itu.
"Bum gue izin ke toilet, bukannya tidur di UKS."
"Gue juga gak nyuruh loh tidur Muk. Udah nurut aja."
"Lo mau ngapain sih?"
"Duduk dulu."
"Tapi mau ngapain?"
"Lama-lama gue telan lo ya Langit." Bumi jadi greget. "Gue gendong nih biar duduk."
"Gak!" Langit sontak duduk menuruti mau Bumi.
"Memang lo maunya diancem ya?"
"Curang lo!"
"Ini keuntungan gue."
Langit mencibir.
"Biasanya lo minum pereda nyeri merek apa?"
"Paracetamol."
Bumi memberi anggukan. Ia beralih ke lemari obat. Banyak botol dengan tulisan berbeda di sana. Ada antasida, lodiya, paracetamol dan jenis obat lainnya. Bumi mengambil botol bertuliskan paracetamol itu
Dan mengambil satu butir.
Entah ke mana dokter yang berjaga di UKS. Bumi menyiapkan sendiri obat dan juga mengambil air hangat. Ia lalu kembali dan menyerahkannya pada Langit.
"Minum obatnya."
Langit mengerjap. Ia tatap lama obat itu dengan ragu.
"Mau gue yang minumin?"
Matanya membulat. "Gue bisa sendiri." Dia menerima air hangat dan pacetamol itu. Bukannya ditelan langsung, Langit menatap lama obat berwarna kuning itu. Dia tidak minum obat langsung telan seperti ini.
"Minum bukan dilihatin Munah."
"Iya tunggu Bumiii."
"Lo gak takut minum obat kan?"
"Ih enggak kok."
"Ya diminum."
"Tunggu dulu."
"Kenapa lagi?"
"Gue gak bisa nelen kalau gede gini Bum."
"Jadi mau dibagi dua?"
Langit menggeleng. "Hancurin."
"Hancurin?"
"Iya."
"Sama apa?"
"Sendok."
"Gue ambil dulu."
Langit mengangguk. Ia memperhatikan Bumi yang kini berjalan menuju lemari kaca berisi dan gelas yang berada di sebelah dispenser.
"Gue aja yang hancurin." Bumi kembali membawa dua buah sendok kemudian. Ia meminta obat tadi.
Langit menyerahkannya. Membiarkan Bumi menghancurkan obat itu untuknya. Dia perhatikan Bumi yang dengan mudahnya menghancurkan obat tablet tadi hingga cair semua.
"Emang gak pahit kalau hancur gini?"
"Ya pahit dong Bumi. Obat mana ada yang manis sih."
"Ada. Vit C."
"Itu asam," koreksinya.
"Tapi gak pahit. Nih buka mulutnya."
Bumi menyodorkan dengan hati-hati ke depan mulut Langit. Langit melihat air obat itu dengan berat. Malas sekali lidahnya merasakan pahitnya obat.
"Em tunggu."
"Kenapa? Udah hancur ini."
"Gue perlu minum dulu." Langit mengangkat cangkir minumnya tadi dan meneguk air secara banyak.
Bumi menunggui.
"Yah airnya tinggal dikit. Bum tolong tambah dulu, ntar pahit." Langit pamerkan minumnya yang tinggal sedikit. Dia sih langsung teguk banyak.
"Lo telan dulu obatnya. Ntar ini takut tumpah. Abis itu baru gue tambah minumnya."
"Gak. Gue maunya langsung nelen air biar gak kerasa pahit."
"Telan dulu Langit."
"Pahit tahu. Gue mau airnya dulu, biar nanti langsung teguk."
Bumi beristighfar. Dia sepertinya mesti sering mengelus dada akan kelakuan perempuan yang berstatus istrinya ini. "Ya udah pegang dulu. Gue ambilin."
Langit tersenyum senang. "Sekalian permen ya?"
Bumi yang hendak melangkah, kembali menatap Langit tidak habis pikir. "Lo kira UKS ini kantin?"
"Iya kan mana tahu ada."
"Ya gak ada dong Muk. Di sini tuh tempatnya obat bukan permen."
"Gue juga tahu. Gak usah nyolot."
"Gue gak nyolot."
"Iya. Lo nyolot."
"Siapa yang nyolot?"
"Lo!"
"Loh lo yang nyolot barusan."
"Kok lo nyalahin gue sih?"
"Kok lo marah?"
"Gue gak marah. Lo aja yang ngeselin." Mereka malah bertengkar. Atau lebih tepatnya Langit yang langsung sensian. Cewek itu
Sampai turun dari brankar.
Bumi melongo. Dia heran. Perasaan tadi mood Langit aman saja. Kenapa tiba-tiba marah gini?
"Ya udah lo duduk aja di situ. Gak usah berdiri, gue yang ambil minum." "Gue bisa sendiri. Gak usah!"
"Lo dibilangin gak nurut ya."
"Emang. Kenapa?" Langit berkacak pinggang.
Bumi memutar bola matanya. Dia melanjutkan dulu aktivitasnya dan mengabaikan Langit. Setelah mengambil air dan menaruh cangkirnya di atas nakas, tatapannya beralih pada langit yang masih berdiri di samping brankar.
"Lo mau duduk lagi sendiri apa perlu bantuan gue?"
"Gue yakin lo ngancem aja."
"Oh ya?" Dua alis Bumi naik. Ia mendekat.
Langit awalnya masih bersikap santai saja. Namun kala Bumi semakin dekat ia was-was.
Saat Bumi hendak menyentuhnya dia langsung naik ke atas brankar UKS.
Bumi menahan tawa.
"Awas aja lo gendong gue," ucapnya sebal.
"Ntar kalau lo sulit diatur."
"Hish ngeselin lo."
"Lo harusnya bersyukur punya suami yang perhatian."
Langit bergidik akan kata suami itu. "Geli."
Bumi menarik satu sudut bibirnya. Dia lalu mengambil obat tadi dan juga air hangat. Membantu langit yang untungnya langsung menelan obat walaupun setelah itu langsung meneguk air sampai habis.
"Pahit ...," adu Langit menjulurkan lidahnya dan mengipas-ngipas. Entah apa tujuannya.
"Bum di sini ada gula gak sih?"
"Gak ada."
"Dih lo belum lihat."
"Nih ada cokelat." Bumi mengeluarkan cokelat dari dalam sakunya. Cokelat itu pemberian adik kelasnya saat dia beli roti untuk langit tadi. Dia buka bungkusnya dan memberinya pada Langit. Gadis itu langsung menerima dan memakannya.
"Lo ngadep sana." Bumi menyuruhnya
Memutar badan.
Klaim
"Ngapain?"
"Gue pijat pinggang lo."
Kata itu membuat langit malah kembali turun dan langsung lari keluar UKS. Kening Bumi mengernyit.
Padahal dia hanya ingin memijit agar rasa sakitnya berkurang. Kenapa si Langit langsung kabur?