NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciung Wanara

"Bandung bukan cuma Kota Kembang yang indah dipandang, Ahmad. Bandung adalah Kota Pahlawan yang harumnya berasal dari pengorbanan. Orang mungkin melihat Bandung sekarang penuh dengan gedung megah dan lampu-lampu cantik, tapi di bawah aspal jalanan itu, terkubur semangat 'Merdeka atau Mati' yang asli."

Sidik berdiri, memegang pundak Ahmad dengan erat. "Ingat ini baik-baik, Ahmad. Pengorbanan Mohammad Toha, ketegasan Nasution, dan kerelaan ribuan rakyat membakar rumahnya adalah investasi.

 Jangan kau habiskan investasi itu untuk hal-hal yang tidak berguna. Jaga persatuan, karena musuh paling berbahaya bukan lagi tentara asing, tapi perpecahan di antara kita sendiri."

"Sekarang, mari kita bantu Maryam menyiapkan makan malam," Mbah Sidik tersenyum, wajah ksatria veterannya kembali melembut menjadi wajah seorang ayah yang penyayang. "Dan jangan lupa beri makan kambing-kambing putih itu. Mereka juga saksi bahwa setelah api yang membara, selalu ada kedamaian yang bisa kita tanam kembali."

Di kejauhan, matahari mulai terbenam di langit Jepara, menyisakan warna merah yang mengingatkan pada api Bandung, namun kali ini warna itu membawa ketenangan, bukan kehancuran.

*

Empat puluh lima meter tinggi menjulang,

Mengingatkan dunia pada ksatria yang tak pernah pulang.

Tegallega menjadi saksi bisu sebuah janji,

Bahwa kedaulatan bangsa ini abadi di dalam hati.

Halo-Halo Bandung mengalun di sela angin,

Membawa rindu dari masa yang dingin.

Bukan sekadar lagu, tapi sumpah yang terukir,

Tentang kota yang terbakar namun jiwanya tak pernah getir.

Ahmad, jadilah api yang menerangi kegelapan,

Jangan jadi asap yang hanya membawa keraguan.

Bandung telah berkorban demi sebuah nama,

Jagalah ia, selamanya, dalam cinta yang sama.

***

Mbah Sidik berjalan perlahan menuju rumah, meninggalkan Ahmad yang masih terpaku menatap langit. Malam itu, cerita tentang Bandung Lautan Api telah berpindah dari hati sang veteran ke hati sang pemuda, memastikan bahwa api perjuangan itu memang tidak akan pernah padam.

Merdeka!

*

Malam di desa merayap turun dengan keanggunan yang bersahaja, menyelimuti rumah-rumah kayu dengan jubah beludru hitam yang bertabur ribuan permata langit.

Di atas sana, rembulan menggantung seperti lentera perak yang menyepuh pucuk-pucuk pohon jati dengan cahaya pucat, sementara simfoni jangkrik dan katak sawah mulai bersahutan, mengisi kesunyian dengan irama alam yang menenangkan sukma.

Udara pegunungan yang dingin membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu bakar dari dapur-dapur penduduk, menciptakan suasana yang begitu magis sekaligus melankolis, seolah waktu berhenti berputar demi memberi ruang bagi bumi untuk bernapas dalam ketenangan yang purba.

Malam kian melarut di pelatukan desa, membawa kesunyian yang begitu pekat hingga suara desir angin di sela-sela daun kelapa terdengar seperti bisikan para leluhur yang menjaga tanah ini.

Cahaya kunang-kunang menari riang di atas hamparan sawah, menyerupai percikan api kecil yang tertinggal dari sejarah, sementara bau harum bunga sedap malam mulai merebak, beradu dengan aroma khas kayu jati yang mendingin.

Di bawah naungan langit yang membentang tanpa batas, rumah-rumah penduduk tampak seperti siluet kokoh yang sedang terlelap dalam dekapan alam, menciptakan sebuah harmoni magis yang menyatukan kegelapan malam dengan kedamaian batin yang tak terusik oleh bisingnya dunia luar.

Mbah Sidik terdiam, tangannya perlahan mengusap lencana kuno yang tersimpan di balik saku bajunya. Sorot matanya beralih dari kandang kambing putihnya menuju ke arah timur, melintasi laut menuju Pulau Dewata.

"Ahmad," suara Mbah Sidik mendalam, "Setelah api di Bandung padam, panggilan jihad kembali datang. Kali ini dari tanah para Dewa. Kabar tentang keberanian seorang pemuda bernama I Gusti Ngurah Rai sampai ke Jepara. Bapak dan sisa anak buah yang masih setia memutuskan untuk menyeberang. Kami bergabung dengan pasukan Ciung Wanara."

**

Perjalanan menuju Bali tidaklah mudah. Sidik dan pasukannya harus menyamar sebagai pedagang barang pecah belah dan nelayan untuk menembus blokade laut NICA.

Sesampainya di Bali, mereka langsung bergerak menuju Banjar Ole, tempat konsolidasi pasukan TRI dilakukan.

Di sana, Sidik bertemu langsung dengan I Gusti Ngurah Rai. Sosoknya tenang, namun tatapannya mengandung api yang sama dengan Bung Tomo di Surabaya.

"Komandan Ngurah Rai adalah ksatria sejati," kenang Mbah Sidik.

"Saat itu pasukan hanya berjumlah sekitar 70 orang. Senjata kami terbatas, hanya apa yang berhasil kami rebut dari markas NICA di Tabanan. Namun, semangat kami lebih tajam dari bayonet musuh."

**

Malam sebelum pertempuran pecah, Sidik menyaksikan pemandangan yang takkan pernah ia lupakan. Seluruh pejuang, baik yang dari Bali maupun yang datang dari Jawa seperti Sidik, melakukan sembahyang bersama menurut keyakinan masing-masing. Ada keheningan yang sakral di udara Banjar Ole.

"Setelah sembahyang, Komandan Ngurah Rai mengumpulkan kami. Di situlah ia meresmikan nama pasukan kami: Ciung Wanara. Beliau bilang, kita mungkin kecil jumlahnya, tapi kita adalah kera-kera sakti yang akan mencabik-cabik keangkuhan penjajah."

Sidik dan anak buahnya ditempatkan sebagai regu pengintai dan sabotase. Pengalamannya di Surabaya dan Bandung membuatnya dipercaya untuk mengatur strategi serangan balik cepat terhadap posisi NICA di sekitar Denpasar.

***

Mulai tanggal 19 November 1946, suasana di Bali menjadi sangat mencekam. Sidik memimpin kelompok kecil untuk melakukan serangan sporadis. Mereka muncul dari balik pura, menyerang patroli NICA di kegelapan malam, lalu menghilang ke dalam hutan bambu sebelum musuh sempat membalas.

"Kami ingin membuat NICA merasa tidak aman di mana pun mereka berpijak," ucap Mbah Sidik sambil mengepalkan tangan. "Setiap butir peluru yang kami rampas di Tabanan, kami gunakan untuk menjaga kehormatan Merah Putih di tanah Bali. Kami membuktikan bahwa Indonesia bukan hanya Jawa, tapi seluruh nusantara bersatu dalam satu komando."

Menyeberang laut membawa rindu dan nyali,

Demi menjaga marwah di Pulau Bali.

Banjar Ole menjadi saksi bisu konsolidasi,

Tujuh puluh jiwa bersumpah dalam satu dedikasi.

I Gusti Ngurah Rai memimpin dengan restu semesta,

Membentuk Ciung Wanara di tengah ancaman derita.

Senjata rampasan menjadi saksi perlawanan,

Menolak tunduk pada setiap bentuk penghinaan.

Ahmad, lihatlah bagaimana kami bersatu tanpa sekat,

Meski beda bahasa, doa kami tetap melekat.

Di tanah Dewata, api perjuangan kembali berkobar,

Membuat musuh gemetar di tengah strategi yang liar.

***

Mbah Sidik menghela napas panjang,

"Itu adalah hari-hari awal di Bali sebelum pertempuran besar yang paling berdarah pecah, Ahmad. Hari-hari di mana kami merasa kematian hanyalah sebuah gerbang menuju kemuliaan. Kami siap untuk Puputan—perang sampai titik darah terakhir."

Ahmad mendengarkan dengan takzim, membayangkan bapaknya berada di antara pejuang Ciung Wanara yang legendaris itu. "Apakah Bapak sempat membawa kambing putih Bapak ke Bali?"

Mbah Sidik tertawa renyah. "Tidak, Ahmad. Di Bali, Bapak hanya membawa satu hal: keyakinan bahwa Allah akan menolong siapa pun yang menjaga tanah airnya. Sekarang, siapkan dirimu, karena cerita di Margarana akan jauh lebih menggetarkan sukma."

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!