NovelToon NovelToon
Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kend 13

Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guru Baru

Kecamatan Padimas terletak di pinggiran selatan kota Sutra. Kecamatan yang cukup luas ini masih begitu asri, jauh dari keramaian kota yang begitu padat dengan gedung-gedung bertingkat. Daerah nya pun merupakan perbukitan.

Selama Jali menjabat di pemerintahan kala itu, daerah ini kian maju. Jalan utama yang semula hanya lah beton tipis dan tidak rata, kini sudah diaspal mulus keseluruhan nya. Bahkan jalan ke dusun-dusun kecil kini juga turut di perbaiki dengan beton yang berkualitas tinggi. Aliran listrik juga jaringan internet ke dusun-dusun kecil pun sudah merata.

Sebagai putra satu-satunya dari almarhum Jali, Jay sedikit bangga akan pencapaian daerah kelahiran nya itu menjadi lebih baik atas kerja keras ayah nya.

Mobil yang di kendarai bibi Aida memasuki gerbang SMA Negeri 1 Padimas. Gedung bertingkat tiga ini baru di resmikan tahun lalu, saat Jay masih duduk di kelas satu. Gedung tertinggi pertama di kecamatan Padimas.

Setelah mobil terparkir, Aida dan Jay turun dari mobil.

"Bibi duluan ya, Jay!" Ucap Aida sedikit tergesa-gesa setelah melihat jam pada pergelangan tangan nya.

Jay hanya menganggukkan kepalanya merespon ucapan Aida.

Aida pun berlalu. Jay, yang belum terbiasa menggunakan kruk itu sedikit kewalahan untuk berjalan menuju ruang kelas nya. Ketika hendak menaiki tangga Jay melihat Tomi. Sahabat karibnya itu tersenyum kearah nya.

"Jay! Lu udah pulih?" Ucap nya menyapa. Kemudian diambilnya lengan Jay untuk di lingkarkan ke bahunya, membantu Jay menaiki tangga ke lantai dua. Karena ruang kelas nya memang berada di sana.

"Thanks, Tom." Jay pun tak sungkan lagi bergelayut pada sahabat nya yang berbadan cukup besar itu. Merasa bersukur memiliki sahabat sejati seperti Tomi.

"Ah elu! Jangan baper lah!" Ujar Tomi mengacak rambut Jay.

Mereka pun sampai di kelas dengan sedikit berkeringat.

"Huh! Ternyata, nggak mudah yah buat jalan.!" Keluh Jay setelah mendudukkan pantatnya ke bangku yang biasa di tempatinya.

Tomi yang juga sudah duduk disebelah nya, merasa simpati dengan apa yang ditimpa sahabat nya itu. "Sabar, Jay!" Ucap nya mengusap bahu Jay. "Mudah-mudahan Kaki lu cepat sembuh." Imbuhnya memberi semangat.

Tak lama bel sekolah pun berbunyi, menandakan awal kegiatan belajar mengajar hari ini. Semua penghuni kelas memasuki ruangan, termasuk Shilla, putri bungsu bibi Aida.

"Selamat pagi anak-anak!" Sapa seorang guru cantik sambil melangkahkan kaki jenjang nya menuju mejanya di pojok depan.

"Pagi, bu!" Kompak semua orang yang berada di dalam ruangan ini membalas sapaan pagi guru muda nan cantik jelita itu dengan penuh enerjik. Terutama di pihak siswa pria, termasuk Jay dan Tomi pun tak luput kegirangan.

Bagaimana tidak? Wanita yang berprofesi sebagai guru di hadapan mereka itu begitu sangat cantik. Tak hanya cantik, penampilan nya pun ikut memanjakan pemandangan mereka.

Selain berkulit putih, tubuh guru itu sangat ideal. Gundukan serta bongkahan di tempat-tempat tertentu itu terlihat sangat padat dan berisi. Apalagi pakaian yang dikenakan guru itu bentuk nya sangat menarik.

Walau seragamnya sama dengan para guru lainnya. Akan tetapi, seragam yang kenakannya itu terlihat mencolok jika dia yang mengenakan nya. Entah itu karena seragamnya kekecilan, atau tubuh nya yang terlalu berisi. Atau memang sengaja di buat ngepres melekat pada tubuh nya.

Nayla Felix. Itu lah nama guru pelajaran biologi itu. Sekaligus menjadi wali kelas di ruangan ini.

Nayla mengedarkan pandangannya di dalam kelas. Hari ini dia tak mendapati bangku kosong satupun.

"Jay, kamu udah baikan?" Tanya Nayla lembut pada murid nya itu. Karena tiga minggu ini siswanya itu meminta cuti pasca kecelakaan. Kepala sekolah Aida sendiri yang memberi kabar itu.

Bahkan, Aida meminta Nayla untuk memberikan ijin keponakan nya itu selama dua bulan. Disebabkan Jay yang mengalami patah tulang pada pergelangan tungkai kaki nya. Sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama dalam memulihkan nya.

Mendengar itu, Nayla jadi meringis sendiri. Membayangkan jika hal itu terjadi pada diri nya sendiri. Tanpa fikir panjang, jika Jay tidak ikut belajar hingga akhir semester pun, Nayla memberikan ijin tersebut, dan tanpa beban memberikan nilai yang bagus untuk mata pelajaran biologinya.

Jay mengangguk, "tangan saya sudah, bu!" Ucap nya kemudian. Membenarkan perkataan Nayla, namun juga menyiratkan bahwa kakinya belum sepenuhnya pulih.

Teman-teman di dalam kelas ikut prihatin akan keadaan yang dialami Jay. Namun mereka tak bisa berbuat banyak. Karena itu adalah kecelakaan dalam perjalanan, yang kapan pun bisa dialami semua orang.

"Baik lah, kita akan mulai pelajaran hari ini." Nayla pun kembali dalam mode formalnya sebagai guru. Kelincahan nya dalam menerangkan penjelasan materi pembelajaran sungguh memukau.

Semua orang mendambakan Nayla. Para siswi juga ingin sepertinya. Sementara para siswa berniat ingin memiliki nya. Tak berbeda dengan Jay.

Direlung hati terdalamnya dia sangat mengimpikan jika suatu saat nanti, bisa memiliki pasangan seperti Nayla.

Namun, setelah kejadian yang menimpa nya ini. Dia berusaha mengubur dalam angan-angan nya itu. Wanita mana yang akan mau bersamanya dengan keadaan seperti ini? Dengan pria cacat seperti ini?

Jay menghela nafas panjang setelah jam pelajaran biologi usai. Saat ini giliran jadwal bahasa nasional yang akan di bimbing oleh pak Choky. Guru pria yang sudah terlalu tua mengabdi di sekolah ini.

Namun, pak tua itu kali ini tak menghadiri kelas seorang diri. Di belakang nya ada kepala sekolah Aida serta satu wanita kira-kira berusia tiga puluhan yang juga memakai seragam dinas layaknya seorang guru.

Penampilan wanita itu tak kalah dari penampilan guru biologi nya yang baru saja meninggalkan kelas ini. Kelihatan lebih matang dan lebih dewasa. Namun lebih muda dari sang kepala sekolah yang juga masih terlihat segar.

"Selamat pagi menjelang siang anak-anak!" Sapa pak Choky pelan. Namun, masih ada sisa-sisa kewibawaannya diusianya yang sudah senja.

"Pagi pak!" Seisi ruangan pun membalasnya dengan kompak.

"Hari ini, Ibu Aida selaku kepala sekolah akan memberi sebuah pengumuman." Ucap pak Choky berbasa-basi. "Silahkan, Bu Aida!" Lanjut beliau mempersilahkan Aida dengan sopan.

Di dalam ruangan empat kali lima meter persegi itu para murid sudah ada yang menduga-duga. Terdengar bisik-bisik membuat keadaan kelas sedikit riuh sejenak.

"Perhatian anak-anak!" Suara tegas Aida lantang didengar dikelas. Membuat kericuhan sesaat itu menjadi tenang kembali. "Perkenalkan! Disebelah saya ini adalah bu Maya Andrea." Ucap nya menunjuk wanita disebelahnya itu menggunakan ujung telapak tangannya. "Beliau akan menggantikan posisi Pak Choky di sekolah ini." Lanjut nya.

Setelah beberapa menit menjelaskan, akhirnya bu Aida dan pak Choky pun meninggalkan kelas tersebut.

"Baiklah anak-anak! Setelah perkenalan singkat tadi, apa masih ada pertanyaan?" Maya yang sudah profesional itu pun mengambil alih kelas, setelah seniornya dan kepala sekolah meninggalkan kelas.

Maya mengedarkan pandangannya. Di belakang terlihat seorang siswa mengacungkan tangan nya. "Silahkan!" Ucapnya memberi ijin pada siswa itu.

"Kenalin bu! Nama saya Tomi." Ucap siswa tersebut yang ternyata Tomi sahabat dari Jay.

"Huuu...!" Sekelompok siswi menyoraki Tomi dengan cibiran. Tahu betul dengan trik murahan namun berani yang akan di lakukan teman sekelasnya itu.

"Sudah, sudah! Harap tenang!" Lerai Maya untuk menghentikan keributan itu. "Lanjutkan, Tom!" Ucapnya kemudian, untuk mendengar apa yang akan di pertanyaan siswa nya itu.

Mendengar suara lembut yang keluar dari guru barunya itu, Tomi jadi kagok. "Eh, anu bu. Apakah ibu su, sudah menikah?" Tanya Tomi dengan malu-malu.

"Huuuu....!" Kembali terdengar seruan dari para siswi di dalam ruangan itu.

"Aduh! Sakit Jay.!" Tomi mengusap keningnya yang baru saja di jitak oleh sahabat nya itu.

Maya yang mendengar pertanyaan nyeleneh dari murid nya itu kini tertegun. 'Apakah anak-anak disini begitu polos? Hingga tak bisa membedakan antara yang masih single dengan yang pernah menikah?' fikir nya dalam hati.

*****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!