Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng yang Retak
Ruangan itu mendadak berubah menjadi ajang pertempuran sunyi. Suara detik jam di dinding menggema seperti dentuman meriam di telinga Aara, mengoyak setiap ruang tenang yang tersisa dalam pikirannya. Cengkraman Kenzo pada pergelangan tangannya seperti belenggu baja dingin kuat, tegas, tak bisa dilawan. Strategi "wanita genit yang penuh daya tarik" yang selama ini ia banggakan kini terasa seperti tirai rapuh yang tercabik-cabik di hadapan seorang pemburu tanpa ampun.
Ia menarik napas dalam, berjuang keras mengendalikan degup jantungnya agar tidak memperlihatkan kekacauan batin yang mungkin merembet ke raut wajahnya. Alih-alih melawan balik atau membuat keributan, tubuh Aara melemas secara sengaja, memanfaatkan kelemahan yang telah menjadi senjatanya selama ini. Pandangannya menatap Kenzo dengan sorot mata berkabut, memancarkan rasa sakit buatan yang dipoles dengan sempurna; sebuah trik manipulasi emosional tingkat tinggi yang nyaris tanpa cela.
"Antiseptik? Kenzo, Sayang... maksudmu apa?" suaranya bergetar, diselimuti nada pilu yang membuat siapa pun mungkin akan luluh jika mendengarnya. "Aku bahkan tadi sore baru dari klinik kecantikan untuk perawatan kulit. Semua demi terlihat lebih baik untukmu... apakah itu salah?"
Kenzo tetap tidak mengambil langkah mundur. Sebaliknya, ia lebih mendekat, sehingga jarak di antara mereka hampir menghilang. Ia menundukkan kepala, menarik aroma dari ceruk leher Aara dengan cara yang membuat wanita itu bergidik ngeri. Bukan karena pesona atau tarikan asmara, melainkan karena ancaman tersembunyi yang menyeruak dari setiap tindakannya.
"Kebohonganmu semanis madu, Cherry. Tapi aku sudah terbiasa meminum racun," bisik Kenzo. Ia melepaskan satu tangan Aara, namun hanya untuk meraup segenggam rambut panjang wanita itu dan menariknya sedikit ke belakang, memaksa Aara menatap langit-langit. "Siapa namamu yang sebenarnya? Atau aku harus memanggilmu 'Subjek 404'?"
Aara tahu, berbohong lebih jauh hanya akan mempercepat ajalnya. Ia mengubah taktik. Tawa centilnya menghilang, digantikan oleh senyum miring yang tajam. Sorot matanya yang tadi sayu kini berubah menjadi sedingin es, menyaingi tatapan Kenzo.
"Kau cukup pintar untuk seorang mafia yang biasanya hanya mengandalkan otot, Arkana," ucap Aara dengan suara aslinya tegas, rendah, dan tanpa nada manja sedikit pun.
Kenzo menyeringai. "Akhirnya, sang monster kecil menunjukkan taringnya."
Dengan gerakan akrobatik yang terlatih, Aara memanfaatkan tumpuan tangan Kenzo di meja untuk menendang dada pria itu dengan kaki telanjangnya. Kenzo terdorong mundur dua langkah, cukup bagi Aara untuk melompat turun dari meja dan mengambil posisi kuda-kuda tempur. Gaun merahnya yang seksi kini justru membatasi gerakannya, maka tanpa ragu ia merobek belahan gaun itu lebih tinggi hingga ke pinggang untuk memudahkan pergerakan kakinya.
"Permainan selesai, Kenzo," ujar Aara sambil menyeka bibirnya yang sedikit lecet. "Aku sudah mengirimkan sinyal koordinat lantai ini. Dalam beberapa menit, tempat ini akan dikepung."
"Kau pikir aku selemah itu?" Kenzo merapikan kemejanya yang sedikit berantakan akibat tendangan Aara. Ia berjalan santai menuju sofa, seolah tidak peduli dengan ancaman pasukan elit. "Kau mengirim sinyal melalui alat komunikasi di antingmu, kan? Coba periksa lagi apakah frekuensinya masih aktif di ruangan yang sudah kupasangi *jammer* militer ini."
Aara menyentuh antingnya. Hening. Hanya ada suara statis. Wajahnya memucat sesaat.
"Kau menjebakku sejak di kelab," desis Aara.
"Aku menyukai wanita yang berani, tapi aku benci wanita yang merasa lebih pintar dariku," Kenzo menuangkan wiski ke dalam gelas, seolah-olah mereka sedang tidak berada di ambang pertumpahan darah. "Kau cantik, manis, dan aktingmu hampir sempurna. Jika kau benar-benar seorang pelacur, aku mungkin akan menjadikannya langganan tetap. Tapi kau adalah hama FBA."
Kenzo meletakkan gelasnya dan tiba-tiba bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal. Sebelum Aara sempat melancarkan pukulan, Kenzo sudah memutar tubuhnya dan mengunci leher Aara dari belakang dengan lengan kokohnya.
"Lepaskan!" geram Aara, mencoba menyikut perut Kenzo, namun pria itu terlalu kuat.
"Kau punya dua pilihan, Agen," bisik Kenzo di telinga Aara, suaranya terdengar seperti melodi kematian yang indah. "Bekerja sama denganku dan memberitahuku apa saja yang sudah diketahui biromu tentang pengiriman minggu depan... atau aku akan memberikanmu kepada anak buahku sebagai 'hiburan' yang sebenarnya. Mereka tidak sehalus diriku."
Aara memejamkan mata, berusaha mengendalikan gejolak pikirannya yang berputar begitu cepat. Kehidupannya sebagai seorang agen tidak memberikan ruang untuk keraguan atau kelembutan terhadap musuh, apalagi terhadap seorang teroris. Namun, dibalik itu, dirinya juga telah ditempa dalam seni bertahan sebab hidup adalah syarat mutlak untuk menyelesaikan misi. Di hadapannya kini berdiri sosok Kenzo Arkana, seorang pria yang bukan hanya dikenal sebagai pimpinan mafia paling kejam di dunia bawah tanah, tetapi juga sebagai manipulator ulung yang memahami cara menusuk tepat di kelemahan manusia.
Mendadak, Aara mengendurkan tensi tubuhnya yang sempat tegang dan merelakan dirinya larut dalam pelukan Kenzo. Itu adalah langkah yang terukur, sebuah tarian tipis di atas perangkap mematikan. Perlahan, ia menolehkan kepalanya sedikit saja ke samping, hingga matanya bersirobok dengan tatapan dingin Kenzo. Dalam pandangan itu, ada sesuatu yang kabur tatapan yang sulit diterjemahkan antara niat tulus dan tipu daya yang terselubung.
"Bagaimana jika ada pilihan ketiga?' Suara Aara nyaris tenggelam dalam desiran napasnya saat ia membisikkan kalimat itu.
"Pilihan ketiga?" Kenzo menyipitkan matanya sedikit, menaikkan salah satu alisnya dengan rasa ingin tahu yang jelas.
Aara menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan rencananya dengan ketenangan yang mematikan. "Aku akan tetap di sini. Kalau itu mauku. Aku bisa jadi wanitamu, tapi bukan sebagai tawanan. Aku ingin jadi mata-mata pribadimu di dalam FBA. Namun, itu bukan tanpa syarat. Sebagai gantinya, kau harus menyerahkan kepadaku kepala si pembunuh yang merenggut nyawa partnerku di dermaga selatan bulan lalu." Suaranya terdengar tanpa cela penuh keyakinan namun terampil menyembunyikan dusta yang ia anyam dengan apik untuk mengikat pria di depannya.
Sejenak waktu seakan membeku. Kenzo tidak segera merespons, hanya terdiam dan mencermati dengan seksama wanita yang kini begitu dekat dengannya. Kehangatan tubuh Aara terasa menjalar melalui kulitnya sendiri. Tapi bukan itu yang membuatnya terpaku melainkan kegelapan yang merayap di balik mata Aara. Itu adalah kegelapan yang begitu dikenalnya, cerminan dari isi jiwanya sendiri, sesuatu yang jarang ia temukan pada siapa pun selain dirinya.
Dalam gerakan perlahan tapi penuh kendali, Kenzo mengendurkan genggamannya pada tubuh Aara dan dengan mantap memegang bahunya. Ia memutar tubuh sang agen hingga keduanya benar-benar saling berhadapan. Dengan tangan kekar dan jemari kasarnya, ia menyeka noda lipstik samar yang memudar di sudut bibir Aara seolah ingin menghapus simbol kekacauan sekaligus mempertegas kendalinya.
"Balas dendam?" Kenzo akhirnya membuka suara setelah diam cukup lama. "Motif yang sungguh terlalu klise... namun aku menyukai keberanianmu menggunakannya sebagai tawaran. Baiklah, mari kita lihat seberapa jauh kau bersedia masuk ke dalam duniaku. Tapi perlu kau ingat baik-baik, agen: jika kau melangkah di jalanku ini, tidak ada tempat untuk mundur. Kau akan menjadi bagianku sepenuhnya jiwa dan raga."
Sebuah senyuman kecil terukir di wajah Aara, kali ini bukan senyuman sekadar basa-basi atau tipu muslihat sederhana. Senyum itu kental berisi tipu daya yang jauh lebih dalam senyum seorang pemain cerdas dalam permainan berbahaya ini. Itu terdengar menggoda dan mengancam sekaligus. A"ku justru tak sabar melihat siapa di antara kita yang lebih dulu runtuh dalam permainan ini, Tuan Arkana."
Di kejauhan, guruh menggema memecah langit malam yang kelam sementara hujan mulai turun perlahan dari awan gelap yang menggantung berat di atas kota. Petir menyambar dengan keras, membuat kilatan cahaya sesaat seperti peringatan dari semesta bahwa badai besar sedang menyelimuti mereka berdua sebuah tanda simbolis dari kehancuran yang lambat laun mendekat akibat aliansi berbahaya ini.