NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Berita tentang kejatuhan finansial Kaelan Dirgantara menyebar seperti api yang melahap hutan kering. Namun, Aeryn tidak berhenti di sana. Ia tahu bahwa dalam bisnis perhiasan, reputasi adalah segalanya. Menghancurkan dompet Kaelan hanyalah permulaan; ia harus menghancurkan martabat pria itu di panggung dunia.

Satu minggu kemudian, industri mode gempar. Pameran perhiasan internasional di Singapura yang biasanya menjadi panggung utama Dirgantara Group mendadak sepi peminat. Secara misterius, para kolektor kelas kakap dan editor majalah mode ternama menarik diri dari daftar tamu Kaelan.

"Bagaimana kau melakukannya, Hugo?" tanya Aeryn sambil menyesap espresso di dalam jet pribadi yang sedang terbang menuju Paris.

Hugo, yang duduk di seberangnya dengan tablet yang menyala, memberikan senyum profesional. "Bukan saya, Nyonya. Tuan Xavier yang melakukannya. Beliau memberikan 'saran' kepada asosiasi perhiasan bahwa Valerine’s Secret akan melakukan debut eksklusif di Paris Fashion Week, menggandeng rumah mode couture terbesar di Perancis. Para kolektor tentu tahu mana yang lebih berharga: koleksi masa lalu Kaelan atau masa depan Arkananta."

Aeryn menatap ke luar jendela, ke arah hamparan awan putih. "Dia benar-benar tidak memberi mereka pilihan."

"Tuan Xavier tidak pernah memberikan pilihan, Nyonya. Beliau hanya memberikan hasil," jawab Hugo datar.

Setibanya di Paris, panggung sudah disiapkan. Di bawah lampu-lampu Grand Palais, koleksi perdana Aeryn bertajuk "Rebirth" membuat koleksi Kaelan yang dipamerkan di pameran lain terlihat seperti imitasi pasar loak. Perhiasan Aeryn yang menggabungkan etnik Kalimantan dengan potongan modern berlian Arkananta menjadi perbincangan utama. Media menyebutnya sebagai "Sentuhan Ratu Baru".

Kaelan mencoba melawan dengan merilis koleksi "terbatas", namun Aeryn memboikot setiap vendor batu mulia yang masih berafiliasi dengan Dirgantara. Dengan kekuatan Arkananta di belakangnya, Kaelan tidak bisa mendapatkan satu pun safir berkualitas. Di akhir pekan mode itu, Dirgantara Group resmi dinyatakan kehilangan kontrak dengan tiga distributor besar di Eropa.

Kembali ke Jakarta, kemenangan itu terasa manis, namun ada rasa hambar yang mengganjal di hati Aeryn. Xavier semakin sulit ditembus. Pria itu memberikan segalanya—kekuasaan, modal, koneksi—tapi ia tetap menjaga jarak yang dingin.

Malam itu, mansion Arkananta terasa sangat sunyi. Aeryn baru saja pulang dari kantor ketika ia berpapasan dengan Xavier di lorong lantai dua. Xavier tampak sedang memegang beberapa berkas, wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.

"Pekerjaanmu di Paris luar biasa," ucap Xavier, suaranya rendah dan serak.

"Terima kasih. Aku tidak bisa melakukannya tanpa bantuanmu," jawab Aeryn.

Xavier berhenti melangkah. Ia menatap Aeryn cukup lama, lalu merogoh kunci dari sakunya. "Aku harus pergi ke Singapura selama dua hari untuk urusan merger. Aku butuh kau memeriksa beberapa dokumen laporan operasional Valerine’s Secret yang ada di ruang kerjaku. Hugo tidak punya akses ke sana."

Aeryn tertegun. "Ruang kerjamu? Kau bilang itu area terlarang."

"Situasinya berubah. Aku butuh kau mengelola datanya selama aku pergi. Masuklah, kuncinya ada di bawah vas bunga lili di meja depan ruang kerja," Xavier mengangguk tipis, lalu berbalik pergi menuju kamarnya untuk berkemas.

Aeryn berdiri terpaku. Memberikan akses ke ruang kerja pribadi adalah langkah besar bagi pria seperti Xavier. Itu adalah jantung dari seluruh operasinya.

Satu jam kemudian, Aeryn berdiri di depan pintu kayu jati besar di lantai tiga. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengambil kunci di bawah vas bunga lili—bunga yang sama yang selalu ada di setiap sudut mansion ini.

Ruang kerja Xavier sangat maskulin. Dindingnya dipenuhi rak buku setinggi langit-langit, aroma kayu ek dan tembakau mahal tercium kuat. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja obsidian besar berdiri dengan gagah.

Aeryn duduk di kursi kerja Xavier, merasakan aura kekuasaan yang tertinggal di sana. Ia mulai memeriksa berkas-berkas yang diminta. Semuanya berjalan lancar hingga ia tanpa sengaja menjatuhkan sebuah pulpen yang menggelinding ke bawah laci meja yang sedikit terbuka.

Saat ia membungkuk untuk mengambilnya, matanya menangkap sesuatu di bagian belakang laci yang tersembunyi. Ada sebuah kompartemen kecil yang tidak terkunci sepenuhnya. Rasa penasaran mengalahkan logikanya. Aeryn menarik laci itu lebih jauh.

Di dalamnya, tidak ada dokumen rahasia perusahaan atau sertifikat saham. Hanya ada sebuah kotak kayu tua yang permukaannya sudah halus karena sering disentuh.

Aeryn membuka kotak itu. Jantungnya berdegup kencang.

Di dalamnya terdapat sebuah foto polaroid yang sudah mulai menguning di bagian pinggirnya. Aeryn menarik napas tertahan. Foto itu menampilkan seorang wanita muda yang sedang duduk di sebuah taman yang dipenuhi bunga lili. Wanita itu mengenakan gaun putih sederhana, tersenyum begitu tulus ke arah kamera.

"Ibu?" bisik Aeryn parau.

Itu adalah ibunya. Ibunya yang ia ingat selalu terlihat sedih di masa-masa terakhir hidupnya, namun di foto ini, ibunya tampak begitu bahagia dan bersinar. Yang lebih mengejutkan adalah latar belakang foto tersebut. Itu adalah taman di belakang mansion ini, sepuluh atau lima belas tahun yang lalu.

Aeryn membalik foto itu. Di belakangnya terdapat tulisan tangan yang sangat familiar—tulisan tangan Xavier, namun versi yang lebih muda dan belum terlalu kaku.

"Bunga lili yang tidak akan pernah layu. Maafkan aku karena terlambat."

Darah Aeryn seolah membeku. Bagaimana bisa Xavier memiliki foto ibunya? Mengapa foto itu disimpan di tempat paling rahasia di ruang kerjanya? Dan apa hubungannya dengan bunga lili yang terobsesi dipelihara Xavier di seluruh mansion ini?

Aeryn teringat janji masa lalu yang pernah ia dengar secara samar sewaktu dulu ia berjalan menghampiri Xavier hendak memberikan payung. “Aku akan menjaganya, seperti janjiku padamu.”

Apakah Xavier menikahinya bukan karena melihat potensinya, melainkan karena utang budi pada ibunya? Atau lebih buruk lagi, apakah ada rahasia gelap antara ibunya dan keluarga Arkananta yang selama ini disembunyikan darinya?

"Aeryn."

Suara itu seperti petir di siang bolong. Aeryn tersentak hebat hingga foto di tangannya hampir terlepas.

Ia berbalik dan menemukan Xavier berdiri di ambang pintu. Pria itu masih mengenakan jasnya, tas kerjanya tergeletak di lantai. Matanya yang biasanya dingin kini berkilat dengan emosi yang tidak pernah Aeryn lihat sebelumnya—campuran antara keterkejutan, luka, dan kemarahan yang murni.

Xavier melangkah masuk, setiap hentakan sepatunya di lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan di ruangan itu. Ia berhenti tepat di depan meja, matanya terpaku pada foto yang masih ada di tangan Aeryn.

"Xavier, aku... aku tidak sengaja menemukannya. Aku hanya mencari pulpen dan—"

"Berikan padaku," potong Xavier. Suaranya rendah, namun memiliki vibrasi yang sanggup menggetarkan udara.

"Jelaskan padaku, Xavier. Kenapa kau punya foto ibuku? Kenapa kau menyembunyikannya?" Aeryn mencoba berdiri, memegang foto itu erat-erat sebagai tameng. "Apa hubunganmu dengan ibuku?"

Xavier tidak menjawab. Wajahnya menggelap, otot rahangnya mengeras hingga terlihat sangat tajam. Ia merenggut foto itu dari tangan Aeryn dengan gerakan yang cepat namun terkendali. Ia menatap foto itu sejenak dengan tatapan yang sangat melankolis sebelum menyimpannya kembali ke dalam laci dan menguncinya dengan kasar.

Xavier mencondongkan tubuhnya ke arah meja, memerangkap Aeryn di kursi kerjanya. Matanya menatap langsung ke dalam mata Aeryn, jarak mereka begitu dekat hingga Aeryn bisa melihat urat-urat kemarahan di mata pria itu.

"Ada alasan kenapa aku melarangmu menyentuh privasiku, Aeryn," desis Xavier, suaranya sedingin es yang baru saja keluar dari kutub. "Kau di sini untuk menghancurkan musuh-musuhmu, bukan untuk menggali lubang yang tidak seharusnya kau buka."

"Tapi ini ibuku, Xavier! Aku punya hak untuk tahu!"

"Kau tidak punya hak atas apa pun di ruangan ini kecuali apa yang aku izinkan!" Xavier menggebrak meja dengan satu tangan, membuat Aeryn terlonjak. "Keluar dari sini. Sekarang. Dan lupakan apa yang kau lihat jika kau masih ingin aku menjadi perisaimu."

Aeryn menatap Xavier dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Xavier yang sangat rapuh di balik kemarahannya. Pria itu sedang melindungi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rahasia bisnis.

Aeryn bangkit dan berjalan menuju pintu dengan langkah yang gemetar. Sebelum ia benar-benar keluar, ia berhenti dan menoleh.

"Kau melindungiku karena kau mencintaiku, atau karena kau merasa bersalah pada ibuku?" tanya Aeryn pelan.

Xavier tidak menoleh. Ia berdiri membelakanginya, menatap jendela besar yang menampilkan kegelapan malam Jakarta.

"Keluar, Aeryn."

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!