Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Di ruang keluarga yang sunyi, semua orang terdiam di kursi masing-masing.
Di tengah mereka, nenek Mahira duduk dengan penuh kehangatan, menggenggam tangan Elvara dan Ayasha seolah ingin menyalurkan seluruh kasih sayangnya.
"Kalian dari mana saja? Nenek begitu cemas melihat kalian menghilang tanpa kabar," suaranya lirih penuh kepedulian.
Mata Elvara dan Ayasha memanas, bening oleh rasa rindu yang sudah lama terpendam. Setelah sekian lama terluka oleh dinginnya dunia dan kekosongan cinta orang tua di kehidupannya yang sebelumnya. kehangatan nenek seolah menjadi oase di padang gersang hati mereka.
"Nenek, maafkan aku... huhuhu," bisik Elvara sambil memeluk erat nenek Mahira, air mata mengalir tanpa terkendali.
Tak ingin kalah, Ayasha ikut merangkul, membiarkan pelukan itu menjadi tempat bernaung yang penuh kelegaan.
Di bawah tatapan bingung dan tak percaya dari mereka yang hadir, tiga sosok itu menyatu dalam sebuah kehangatan yang jarang mereka rasakan sebelumnya.
Sebelum memasuki rumah itu, Elvara dan Ayasha menerima secercah ingatan pemilik tubuh sebelumnya.
Ingatan itu menguak kebaikan yang tulus dan salah satunya adalah sosok nenek Mahira, yang selama ini menjadi penyejuk hati di antara luka dan duka yang mereka tanggung.
Kini, di pelukan nenek, luka itu mulai menghilang perlahan, berganti harapan baru yang tulus dan hangat.
“Hei... Kenapa kalian menangis? Apakah suami-suami kalian menyakiti kalian?” Nenek Mahira melepas pelukannya, tangan keriputnya lembut menyeka air mata yang mengalir deras di pipi Elvara dan Ayasha.
Keduanya hanya menggeleng, suara mereka nyaris terseret oleh penyesalan. “Bukan, Nek... kami yang bersalah. Kami yang merusak kalung berlian itu. Suami-suami kami yang sudah menggantinya... Maafkan kami, Nek.” Ayasha menundukkan kepala, hatinya penuh rasa bersalah hingga nyaris pecah.
Nenek Mahira menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca melihat kejujuran dan rasa malu mereka. “Ah, masalah kalung itu tak apa-apa. Yang terpenting kalian selamat dan tak terluka. Itu sudah cukup membuat hati nenek bahagia.” Suaranya penuh kelembutan, menyapu kesedihan itu seperti angin hangat yang menenangkan jiwa.
...****************...
Di sisi lain, mata Rayandra dan Ardhanaya bertemu dalam keheningan penuh tanya.
Ada sesuatu yang menggelayuti pandangan mereka sebuah rasa curiga yang tak bisa disembunyikan.
Perilaku istri-istri mereka yang biasanya bersitegang, kini justru berubah menjadi akur tanpa alasan yang jelas.
Ardhanaya merapatkan duduknya ke sisi kakaknya, suaranya hampir terdengar seperti bisikan rahasia. "Kak, kamu merasakan itu juga, kan? Ada yang aneh dari mereka..."
Rayandra menatap tajam ke arah kedua wanita itu, dadanya tiba-tiba sesak oleh perasaan was-was yang merambat. "Sejak kapan mereka bisa akur? Bukankah setiap bertemu mereka akan selalu berakhir dengan bertengkar?"
"Apa mungkin... mereka tengah menyembunyikan sesuatu? Ada rencana yang mereka rancang di belakang kita?" lirih Ardhanaya dengan nada yang mulai dipenuhi kecemasan.
Rayandra menarik napas dalam, menatap mereka yang seolah sedang memainkan sandiwara penuh teka-teki. "Entahlah... tapi aku tak percaya begitu saja. Kita tunggu saja, sampai kapan mereka akan terus bersandiwara seperti itu."
Elvara dan Ayasha tak pernah menyangka bahwa perubahan sikap mereka yang tiba-tiba mampu mengoyak kepercayaan suami mereka.
Mata tajam dan curiga mengintai setiap gerak-gerik, menumbuhkan tuduhan bahwa semuanya hanyalah sandiwara belaka.
Jika saja mereka tahu betapa dalam suami mereka terjebak dalam pusaran kecurigaan itu, mungkin amarah mereka akan meledak, mendorong tangan untuk menghantam dahi pria yang tega mencurigai istri-istrinya sendiri.
...****************...
Ayasha dan Elvara duduk termenung di ranjang kamar, keduanya masih memikirkan hal yang sedang mereka alami saat ini.
"Gara-gara kebakaran kita jadi masuk kesini," suara keluhan dari Elvara membuat Ayasha menoleh cepat.
"Benar, kenapa harus masuk dan menjadi istri yang akan mati," Ayasha tak kalah mengeluh atas apa yang terjadi.
"Vit, ah maksud ku Sha, kita harus mengingat setiap alur yang ada, emang kamu mau mati lagi?" Elvara memberikan pendapat untuk saat ini mengeluh ataupun meratapi nasib bukan waktu yang tepat. Sebab semua itu nampak tak berguna sekarang.
"Kakak benar, aku kan penulisnya ya seharusnya aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kan?" kata Ayasha bangga.
"Makanya ingat-ingat di bab berapa kira-kira si pemeran utama itu datang?" ucap Elvara dia meminta Ayasha selaku penulis novel romance picisan yang membuat si pemeran pendukung mati secara mengenaskan.
Ayasha mengangguk, dia mulai berpikir. Namun, tak menemukan di bab berapa si pemeran utama itu akan datang.
"Kak, bagaimana kalau kita perankan saja apa yang kita bisa, dan lagi lebih baik kalau kita bisa cerai dengan kedua tuan muda itu dan akhirnya menikmati hidup kaya, bagaimana?" Ayasha justru mengusulkan hal yang lebih gila lagi.
"Benar juga kita biarkan mereka mengejar si pemeran utama itu, dan kita akan menuntut cerai dengan imbalan harta gono-gini," Elvara malah setuju, biasanya dia yang paling bijak, tapi sekarang dia juga ikutan gila harta seperti Ayasha.
Keduanya saling mengangguk, setuju dengan rencana dan memulai misi untuk membuat kedua tuan muda itu semakin tak menyukai keduanya.
...****************...
TOK
TOK
Suara ketukan pintu dua kali membuat keduanya segera melepaskan pelukan, mereka saling tatap seolah mencari jawaban atas siapa yang datang malam-malam begini ke kamar mereka ini.
"Siapa ya?" bisik Ayasha.
Elvara mendelik tak tahu, dia bangun bersamaan dengan Ayasha yang juga turut akan ikut ke arah pintu.
"Nyonya, apa anda di dalam?" suara dari balik pintu terdengar dan itu membuat Ayasha juga Elvara menarik napas pelan.
"Ada, kamu siapa?" suara Elvara terdengar.
"Nyonya, anda dan Nyonya Ayasha di minta turun sebab ada kedua orang tua anda berdua datang," jelas pembantu itu.
Ayasha dan Elvara tentu terkejut, keduanya belum siap bertemu kedua orang tua dari sang pemeran pendukung ini.
"Baiklah, kami akan turun nanti!" jawab Elvara.
Setelah tak ada lagi suara, Ayasha segera berseru panik,"Gawat, bagaimana sekarang?"
Elvara menggeleng, dia pun belum siap bertemu kedua orang tuanya dan sekarang mereka malah datang tanpa undangan.
TRING!
Belum usai keterkejutan tentang kedatangan kedua orang tuanya. Sekarang ponsel salah satu dari mereka berdenting.
"Ponsel siapa?" tanya Elvara memastikan.
"Ponsel mu, lihat!" tunjuk Ayasha.
Elvara segera meyambar ponsel mewah itu, dia tak pernah bermimpi untuk bisa memiliki ponsel ini apalagi dengan keadaan keuangan yang tak memungkinkan.
"Kak, siapa?" tanya Ayasha.
"Ah, belum aku lihat," Jawabnya.
"Kak, fokus!" kata Ayasha.
Elvara mengangguk, dia segera melihat si pengirim pesan dan matanya mendelik saat nama Devon Hilmawan tertera di sana.
Isi pesan.
Devon sayang
(Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan berkas itu? Aku butuh itu untuk lelang besok, kau sudah janji akan membawanya, kan? Atau kau mau aku tak lagi perhatian padamu?")
Pesan ancaman dari sosok Devon pria yang di gilai Elvara dan membuat wanita itu nekad membenci Rayandra suaminya sendiri.
"Siapa?" tanya Ayasha penasaran.
"Devon, kenapa harus di kasih nama sayang di belakangnya?" kesal Elvara, dia merutuki kebodohan Elvara asli.
"Devon, maksudmu pria yang di cintai Elvara asli?" Ayasha memastikan.
"Benar, kamu kan yang membuat cerita lalu kenapa menghadirkan karakter bodoh seperti Elvara ini?" keluh Elvara dengan nada kesal.
Ayasha hanya meringis, dia menenangkan sang Kakak agar tidak terus mengeluh sebab mereka harus segera keluar dari kamar dan menemui kedua orang tua masing-masing.
'Kenapa aku sedikit lupa alurnya?' kesal Ayasha dalam hati.