Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keyakinan di Balik Kegelapan
Kegelapan di dalam ceruk gua tersembunyi itu begitu pekat, namun bagi sepasang mata Ling Yun, semuanya terlihat sejelas siang hari. Sinar redup empat warna elemental menguar tipis dari pori-pori kulitnya, menciptakan riak energi yang membuat debu-debu di dalam gua melayang di udara sebelum akhirnya luruh menjadi abu. Pemuda itu duduk bersila di atas batu besar, melipat kedua tangannya di depan dada sembari mengatur ritme napas yang konstan.
Di dalam pusat perutnya, roda pusaran energi empat warna berputar dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Setiap putaran menyerap hawa dingin dari dinding gua, menyaringnya melalui Dan Tian Primordial, lalu menyebarkannya kembali sebagai energi murni ke seluruh jaringan meridian.
"Kuantitas Qi di dalam wadah baru ini akhirnya mendatar. Tingkat Pendirian Fondasi Tahap Menengah... aku telah benar-benar menstabilkannya hanya dalam hitungan jam," ucap Ling Yun lirih, suaranya menggema rendah memecah kesunyian gua.
Ia membuka kelopak matanya, membiarkan kilatan warna merah, biru, cokelat, dan hijau memudar perlahan dari kornea matanya. Ling Yun menatap telapak tangan pelayannya, lalu mengepalkan nya hingga udara di dalam genggamannya berderit tertekan.
"Sepuluh tahun akumulasi rasa sakit dari empat elemen liar itu ternyata tidak sia-sia. Begitu Mutiara Primordial mengikat mereka menjadi satu siklus, fondasi raga ini langsung melesat melewati Tahap Awal. Jika para jenius di Dataran Pusat tahu ada metode kultivasi yang mampu melompati sub-tingkat tanpa hambatan emosi, mereka pasti akan mengorbankan seluruh sekte demi merebutnya."
Ling Yun terkekeh dingin. Senyuman sinis kembali terukir di wajahnya yang kini tampak lebih tegas, garis-garis wajah seorang pelayan yang kusam telah digantikan oleh aura bangsawan yang agung dan tajam.
Ia kembali memejamkan mata, memfokuskan kesadarannya pada lautan memori kuno yang terukir di dalam jiwanya. Tiga teknik bertarung yang tersegel di sana mulai mengurai helai demi helai informasinya. Salah satu teknik bertarung jarak dekat menarik perhatiannya, sebuah teknik yang dinamakan Langkah Bayangan Badai dan Tinju Penghancur Bumi.
"Teknik ini... sangat selaras dengan elemen angin dan tanah yang kumiliki," gumam Ling Yun dalam kesendiriannya. "Langkah Bayangan Badai menggunakan trajeksi elemen angin untuk memanipulasi ruang di sekitar kaki, membuat penggunanya bergerak secepat kilat tanpa menyisakan riak udara. Sementara Tinju Penghancur Bumi mengandalkan kepadatan elemen tanah untuk melipatgandakan bobot pukulan fisik hingga seratus kali lipat pada satu titik hantam."
Namun, saat ia mencoba mengalirkan energi untuk mempraktikkan gerakan pertama di dalam benaknya, sebuah hambatan besar mendadak mengunci aliran energinya. Aliran Qi empat warna miliknya bergejolak tidak nyaman, menolak untuk dipadatkan menjadi bentuk jurus tersebut.
Ling Yun membuka mata dengan kening berkerut dalam. Ia mendesah panjang sembari menyandarkan punggungnya ke dinding batu yang dingin.
"Sial, warisan ini terlalu murni. Meskipun raga dan Dan Tian-ku sanggup menampungnya, kuantitas Qi murniku saat ini masih terlalu tipis untuk mengeksekusi jurus kuno ini secara konstan. Aku membutuhkan stimulan. Berdasarkan ingatan resep pil yang terserap kemarin, aku membutuhkan Inti Kristal dari binatang iblis tipe api setidaknya di ranah Pembentukan Inti, serta tanaman Rumput Embun Langit untuk menyeimbangkan suhunya saat proses penyerapan."
Ia mengalihkan pandangannya ke luar ceruk gua, menatap kabut hitam Zona Terlarang Sembilan Kematian yang bergulung-gulung mengerikan. Bukannya merasa takut, sepasang mata Ling Yun justru berkilat penuh gairah berburu yang membara.
"Zona Terlarang ini dipenuhi oleh monster-monster buas yang ditakuti seluruh wilayah luar. Namun bagiku, tempat terkutuk ini adalah gudang harta karun tanpa pemilik. Mereka mungkin berpikir telah membuang sampah ke dalam lubang kematian, tanpa tahu bahwa mereka baru saja melepaskan seekor naga fana ke dalam sarang kekuatannya sendiri. Aku akan tetap berada di sini, berburu, dan berlatih sampai sebelum hari penerimaan murid baru Sekte Langit Abadi tiba."
...----------------...
Sementara itu, di batas luar Hutan Kabut Hitam, suasana malam yang seharusnya sunyi telah berubah menjadi neraka kepanikan bagi Sekte Langit Abadi.
Obor-obor minyak spiritual menyala di mana-mana, dibawa oleh puluhan murid penegak hukum dan penatua sekte yang mengenakan jubah perak bersulam awan.
Aroma darah yang amis bercampur dengan bau gosong dari elemen api sisa pertempuran Ling Yun masih menguar kuat di udara. Kereta besi pengangkut logistik yang hancur terbelah dua menjadi saksi bisu kebrutalan yang terjadi beberapa jam lalu.
Di bawah naungan sebuah tenda darurat yang didirikan dengan tergesa-gesa, Lu Han duduk bersandar di sebuah dipan kayu. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering bergetar, dan tubuhnya dibungkus oleh kain kasa yang telah diolesi obat herbal hijau. Luka-lukanya akibat siksaan anak buah Zhao Hu telah dibersihkan, namun getaran di tangannya bukan disebabkan oleh rasa sakit fisik, melainkan kengerian emosional yang masih membekas jelas di kepalanya.
Brak!
Seorang pria paruh baya berwajah bengis dengan jubah penatua logistik menggebrak meja kayu di depan Lu Han hingga retak. Pria itu adalah Penatua Mo, orang yang tidak lain disuap oleh Zhao Hu dan anak buahnya.
"Katakan sekali lagi, Bocah Sialan! Bagaimana bisa seorang murid di ranah Pengumpulan Qi Tahap Puncak seperti Zhao Hu dan dua murid lainnya bisa lenyap tanpa sisa, hanya menyisakan tumpukan daging hancur di pelataran batu ini?!" bentak Penatua Mo, matanya melotot dipenuhi amarah dan ketidakpercayaan.
Lu Han tersentak, tubuhnya mengecil di atas dipan. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan getaran di matanya agar tidak terbaca oleh rubah tua di depannya. Di dalam benaknya, ingatan tentang pertarungan brutal yang ia saksikan sebelum jatuh pingsan kembali terlintas samar. Namun, demi melindungi sosok misterius yang telah membantai para penyiksanya, Lu Han memilih untuk merangkai sebuah kebohongan besar.
"S-Serigala... Serigala Pemakan Jiwa, Penatua Mo..." jawab Lu Han dengan suara bergetar, memalsukan nada ketakutan yang luar biasa. "Kami... kami dicegat di perbatasan. Tuan muda Zhao Hu baru saja hendak menertibkan kereta logistik, namun bau dari barang bawaan kami mendadak memancing salah satu binatang iblis penguasa Zona Terlarang itu keluar dari kabut hitam!"
Lu Han mengambil napas pendek, meremas ujung selimutnya dengan erat demi meyakinkan semua orang di dalam tenda bahwa dia sedang mengalami trauma hebat.
"Monster itu... ukurannya sebesar rumah! Cakarnya merobek kereta besi dalam satu ayunan! Murid Zhao Hu dan yang lainnya mencoba melawan menggunakan pedang apinya, tetapi monster itu menyemburkan bola energi kegelapan yang meledakkan seluruh tempat ini. Saya... saya terlempar ke semak-semak dan jatuh pingsan. Ketika saya terbangun, tim patroli sudah menemukan saya."
Penatua Mo mondar-mandir di dalam tenda, napasnya memburu kasar. Ia melirik ke arah salah satu murid penegak hukum yang baru saja kembali dari pemeriksaan lapangan.
"Bagaimana hasil pemeriksaan jejak energi di lokasi kejadian?" tanya Penatua Mo tegas.
Murid penegak hukum itu berlutut dengan wajah tegang. "Melapor kepada Penatua! Kami menemukan sisa-sisa energi elemen api yang sangat pekat di sekitar tebing, namun polanya sangat kacau dan padat, seolah-olah terjadi ledakan dari benturan dua kekuatan besar. Kami juga menemukan jejak kaki berukuran raksasa milik binatang buas yang mengarah kembali ke dalam Zona Terlarang. Mengenai pelayan cacat bernama Ling Yun... kami tidak menemukan sisa tubuhnya ataupun tanda-tanda keberadaannya. Kemungkinan besar raga fana miliknya telah hancur menjadi debu atau terseret masuk ke dalam kegelapan Zona Terlarang."
Mendengar laporan itu, Lu Han diam-diam mengembuskan napas lega yang amat sangat di dalam hatinya. Kebohongannya berhasil diserap bulat-bulat oleh tim investigasi sekte.
Mereka mempercayainya. Mereka benar-benar mengira kehancuran ini mutlak karena amukan binatang iblis, batin Lu Han sembari menatap lantai tanah dengan pandangan kosong.
Meskipun ia berhasil mengelabui para penatua, hati Lu Han sendiri sebenarnya didera oleh ketidakpastian yang hebat. Setelah ledakan energi spiritual yang dahsyat dan kemunculan monster raksasa malam itu, ia kehilangan kesadaran dan sama sekali tidak tahu bagaimana nasib akhir Ling Yun. Apakah pelayan cacat itu berhasil melarikan diri, ataukah dia justru ikut menjadi korban dari keganasan Zona Terlarang Sembilan Kematian setelah Lu Han tak sadarkan diri? Tidak ada jawaban pasti yang tertinggal di pelataran batu itu.
Lu Han mengangkat kepalanya sedikit, melirik ke arah celah tenda yang memperlihatkan kegelapan pekat Zona Terlarang di kejauhan. Mengingat kembali sorot mata Ling Yun yang mendadak berubah menjadi sangat asing, tajam, dan penuh wibawa sebelum badai pertempuran pecah, sebuah keyakinan yang tidak rasional mendadak mengakar kuat di dalam dada pemuda pelayan tersebut.
Aku tidak tahu di mana kau berada sekarang, atau apa yang sebenarnya terjadi padamu setelah aku pingsan, batin Lu Han dengan kepalan tangan yang mengeras di balik selimut. Semua orang di sekte ini mungkin mengira kau sudah mati tanpa sisa di dalam sana. Tapi aku tahu... pelayan cacat yang mereka remehkan selama sepuluh tahun ini tidak akan mati semudah itu. Aku yakin kau masih hidup, Ling Yun. Kau pasti masih hidup di suatu tempat di dalam kegelapan itu.
Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga senantiasa sehat selalu untuk saudara-saudara se ras ku.