Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percikan Pertama
Kantor pusat Alfarezel Group pagi ini terasa lebih sibuk dari biasanya. Berita viral tentang pelukan protektif Devan kepada Anya di bawah gempuran kamera paparazi malam tadi masih menjadi topik hangat yang diperbincangkan di setiap sudut koridor. Namun, di dalam ruangan CEO yang kedap suara, suasananya justru terasa sunyi dengan ketegangan yang sangat berbeda.
Anya berdiri di depan meja kerja Devan, menyerahkan map dokumen laporan keuangan bulanan. Setelah insiden domestik sarapan pagi tadi di penthouse di mana Devan secara sepihak mengumumkan akan selalu pulang tepat waktu ada kecanggungan tak kasatmata yang menggelantung di antara mereka. Anya sebisa mungkin menjaga jarak profesionalnya, memastikan matanya tidak terlalu lama bertatapan dengan sepasang mata elang pria di depannya.
"Semua jadwal makan malam minggu ini sudah saya batalkan atau geser ke jam makan siang, sesuai perintah Anda tadi pagi," ucap Anya formal, suaranya jernih dan diatur sedatar mungkin.
Devan menerima map tersebut tanpa melihat isinya. Pandangannya justru tertuju pada pergelangan tangan Anya yang polos. "Di mana gelang berlian pemberian kakekku?" tanya Devan datar, memecah keheningan dengan pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Anya tersentak kecil. "Saya menyimpannya di dalam kotak perhiasan di kamar... maksud saya, di kamar saya di tempat Anda. Itu barang yang sangat mahal, saya takut merusaknya jika dipakai saat bekerja."
"Pakai," perintah Devan mutlak. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya yang mewah. "Mulai hari ini, apa pun yang diberikan oleh keluargaku, kau harus memakainya di depan publik. Orang-orang di kantor ini, termasuk sekretaris senior di luar, memiliki mata yang tajam. Jika mereka melihat calon istri Devan Alfarezel tidak mengenakan perhiasan sebagaimana mestinya, desas-desus baru yang merepotkan akan muncul."
Anya menghela napas halus, mencoba menahan kekesalannya terhadap sifat diktator pria ini yang kembali muncul setelah semalam sempat melunak. "Baik, besok saya pakai. Ada lagi yang perlu saya siapkan, Pak?"
Devan menyipitkan matanya, kilat tidak suka melintas cepat di tatapannya mendengar panggilan itu. "Kita sudah sepakat di rumah tadi pagi, Anya. Jangan panggil aku 'Pak' jika hanya ada kita berdua di ruangan ini. Kebiasaan di dalam sini bisa terbawa ke luar saat kita sedang bersama Kakek."
Anya menggigit bibr bawahnya, merasa terpojok oleh intensitas tatapan Devan. "Baik... Devan. Jika tidak ada lagi, saya permisi kembali ke meja saya di luar."
Namun, baru saja Anya berbalik dan melangkah dua kali menuju pintu, pintu jati besar itu terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Sosok yang melangkah masuk langsung membuat senyum formal di wajah Anya memudar, berganti dengan rasa tidak nyaman yang pekat.
Dion Alfarezel. Sepupu Devan yang semalam menatap Anya dengan pandangan meremehkan di rumah utama, kini berjalan masuk dengan setelan jas kasual tanpa dasi. Senyum sinis terpatri di wajahnya yang congkak.
"Ah, maaf mengganggu kemesraan calon pengantin baru," ucap Dion dengan nada sarkastis yang kental. Ia melirik Anya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang melecehkan, lalu beralih menatap Devan. "Aku tidak menyangka, Devan, seleramu ternyata sangat... membumi. Gadis biasa dari divisi administrasi bawah?"
Devan tidak bergerak sedikit pun dari kursinya, namun aura di sekelilingnya mendadak turun drastis hingga mencapai titik beku. "Kau tidak pernah diajarkan cara mengetuk pintu di ruangan CEO, Dion? Atau sopan santunmu sudah habis digadaikan untuk menutupi kerugian proyek gagalmu di Sumatra?" balas Devan. Suaranya bariton rendah, namun tajam seperti belati yang siap menguliti.
Wajah Dion sempat menegang mendengar sindiran telak itu, namun ia segera menguasai diri. Ia melangkah mendekati Anya, sengaja berdiri terlalu dekat hingga Anya merasa risi dan melangkah mundur.
Dion mengulurkan tangannya ke arah dagu Anya, hendak menyentuhnya secara tidak sopan untuk memprovokasi Devan. "Kudengar kau memukau Kakek semalam dengan pidato soal 'integritas'. Menarik sekali. Tapi aku penasaran, apa yang sebenarnya kau cari dari sepupuku yang kaku ini, manis? Uangnya? Atau tubuhnya?"
Sebelum jari Dion sempat menyentuh seujung kuku pun kulit Anya, sebuah gerakan kilat terjadi.
*Grep!*
Devan sudah bangkit dari kursinya dan mencengkeram pergelangan tangan Dion dengan kekuatan yang begitu besar hingga terdengar bunyi kertakan halus. Wajah Devan berada sangat dekat dengan wajah sepupunya,
memancarkan amarah yang begitu murni, dingin, dan berbahaya.
"Sentuh dia dengan satu jarimu lagi, Dion," bisik Devan dengan suara yang teramat tenang namun mengerikan, "dan aku akan memastikan namamu dihapus dari seluruh daftar aset Alfarezel sebelum matahari terbenam hari ini."
Dion meringis menahan sakit yang luar biasa pada pergelangan tangannya. Ia menatap Devan dengan kilat dendam, lalu perlahan menarik tangannya kembali setelah Devan melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar.
Anya berdiri mematung di belakang tubuh tegap Devan, jantungnya bertalu-talu hebat. Di balik punggung Devan yang lebar, ia mendadak merasa terlindungi dengan cara yang belum pernah ia rasakan dari pria mana pun sebelumnya.