Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dini hari. Udara di dalam gedung administrasi itu masih tebal, pekat, dan berat, dipenuhi campuran bau amis darah segar, bau mesiu yang menyengat, dan bau logam dingin. Lampu bulan yang pucat masuk lewat lubang-lubang di atap, menciptakan jalur cahaya putih tipis yang jatuh tepat di atas genangan darah merah gelap di lantai batu.
Keadaan di dalam ruangan telah berubah total.
Tujuh mayat pasukan elit Andri tergeletak kaku di sana-sini, mata mereka terbuka kosong menatap langit-langit berdebu. Tubuh mereka akan dibiarkan begitu saja—makanan bagi tikus hutan dan serangga, menjadi bagian dari debu kota mati ini. Tidak ada rasa hormat. Tidak ada doa. Di dunia baru yang baru saja Sari Dewi masuki, orang mati hanyalah sampah organik.
Di tengah ruangan, di atas meja administrasi tua yang besar dan retak, duduklah Sari Dewi.
Gadis 13 tahun itu duduk di tepi meja, kaki kecilnya menjuntai, tidak menyentuh lantai berdarah. Jaket besar Raga yang ia pakai kini noda di sana-sini oleh percikan darah musuh. Tangan kanannya yang masih sedikit lengket dan bau amis itu memegang sebilah pisau kombat milik salah satu pasukan yang ia rampas. Pisau itu panjang, tajam, berkilau dingin. Ia memainkannya dengan jari-jari lentiknya, memutarnya, melemparnya sedikit ke udara, menangkapnya lagi, gerakan yang berulang, ritmis, dan menenangkan sarafnya.
Wajahnya masih pucat pasi, tapi tidak lagi karena ketakutan atau syok. Itu pucatnya fokus mutlak. Itu pucatnya seseorang yang otaknya bekerja pada kecepatan maksimum, memproses ribuan data, variabel, dan kemungkinan dalam hitungan detik. Matanya yang cokelat madu kini terlihat gelap, hampir hitam, pupilnya melebar, tajam seperti jarum, menatap ke depan tanpa berkedip.
Di sebelahnya, berdiri Raga.
Pria itu bersandar santai di pinggir meja, bersedekap, wajahnya tenang, bahkan ada bayangan kekaguman yang tak disembunyikan di matanya. Ia tidak lagi memandang gadis ini sebagai keponakan kecil yang perlu dilindungi. Ia memandangnya sebagai komandan barunya. Setara. Atau bahkan, atasan.
Dan di lantai, di sisi berlawanan ruangan, berjauhan, duduk Arya dan Naya.
Mereka duduk bersandar di dinding batu yang dingin, terbungkus sisa selimut tipis, tampak kecil, rapuh, dan sangat tua. Arya masih memiliki bekas air mata kering di pipinya, matanya bengkak dan merah, tatapannya kosong, tak lepas dari sosok putrinya yang berubah drastis di seberang sana. Naya gemetar hebat, tangannya mencengkeram lengan suaminya kuat-kuat, mulutnya tertutup tangan, menahan isak tangis yang tak berhenti, matanya penuh teror murni setiap kali ia melihat gerakan pisau di tangan anaknya.
Jarak fisik mereka hanya sekitar sepuluh meter. Tapi jarak mental, spiritual, dan dunia yang mereka tempati sekarang, terpisah sejauh langit dan bumi.
Sari Dewi akhirnya berbicara. Suaranya rendah, jernih, datar, tanpa emosi, tapi terdengar jelas di setiap sudut ruangan hening itu. Suara itu bukan lagi suara anak kecil yang meminta izin. Itu suara penguasa.
"Mereka tahu posisi kita," kata Sari Dewi, matanya masih menatap bilah pisau yang berkilau. "Tim penyusup tadi dikirim bukan untuk membunuh kita. Kalau mereka mau bunuh, mereka akan bawa penembak jitu, granat, atau peledak. Mereka cuma bawa senapan ringan dan pisau. Tugas mereka cuma satu: Konfirmasi."
Sari Dewi mengangkat wajahnya, menatap langsung ke arah orang tuanya. Tatapannya menusuk, analitis, dan dingin, seolah ia sedang menilai dua orang asing, bukan ayah dan ibunya sendiri.
"Andri ingin memastikan sesuatu. Dia ingin memastikan: Apakah Sari Dewi sudah bangun? Apakah sisi gelapnya sudah keluar? Apakah dia sudah bisa membunuh? Dan laporan pasukan yang lolos itu... sudah menjawab semua pertanyaannya. Dia senang sekarang. Dia tidak akan kirim pasukan besar lagi. Kenapa? Karena dia tidak mau aku mati. Dia mau aku hidup. Dia mau aku makin jahat. Dia mau aku makin benci kalian. Dia mau aku makin mirip dia."
Arya membuka mulutnya, ingin membantah, ingin mengatakan bahwa itu gila, bahwa anaknya terlalu muda untuk berpikir sekompleks itu, bahwa ini semua hanya stres dan trauma. Tapi kata-kata itu mati di tenggorokannya. Karena ia tahu. Ia tahu Sari benar. Ia tahu kecerdasan anaknya bukan lagi sekadar pintar anak sekolah. Itu kecerdasan strategis, psikologis, jahat—persis seperti Andri.
"Jadi apa rencanamu?" tanya Raga, suaranya rendah, penuh rasa hormat. Ia tidak bertanya untuk menguji. Ia bertanya untuk menerima perintah.
Sari Dewi melompat turun dari meja, sepatu tempurnya mendarat pelan di atas genangan darah kering. Ia berjalan perlahan mengelilingi meja, langkahnya tenang, anggun, namun mengerikan.
"Rencananya berubah total, Paman. Dulu, rencananya: Lari, sembunyi, bertahan hidup. Itu strategi korban. Strategi lemah. Strategi orang yang takut mati. Dan kita tidak lagi jadi korban, kan?" Sari Dewi melirik sekilas ke arah Arya dan Naya, senyum tipis, sarkas, dan tajam terukir di bibirnya. "Setidaknya... aku dan Paman tidak lagi jadi korban."
Ia berhenti di peta usang yang tergantung di dinding, peta topografi wilayah pegunungan Merah dan sekitarnya. Dengan ujung pisau kombatnya, ia menunjuk satu titik kecil di sebelah timur jauh, di luar batas hutan, di dekat perbatasan provinsi.
"Markas utama Andri ada di sini, di Benteng Merah. Terlalu kuat, terlalu dijaga, kita tidak bisa serang langsung. Tapi Andri punya kelemahan besar. Dan aku tahu persis apa kelemahannya."
Sari Dewi menoleh, matanya bersinar gila namun cerdas.
"Aku."
"Dia terobsesi sama aku. Dia cinta mati sama aku. Dia rela berkorban segalanya buat aku. Dia pikir aku reinkarnasi Nenek Sari. Dia pikir aku miliknya. Dia pikir aku akan jadi ratu di sisinya. Dan obsesi itu... adalah titik paling lunak, paling rapuh, dan paling mematikan di seluruh pertahanan Andri Andalan."
Sari Dewi menancapkan ujung pisau itu ke peta, tepat di lokasi Benteng Merah.
"Kita tidak akan lari lagi. Kita tidak akan sembunyi lagi. Kita akan datang padanya. Tapi bukan sebagai tahanan. Bukan sebagai korban. Kita akan datang sebagai Penjemput. Kita akan gunakan aku sebagai umpan, tapi kali ini, akulah yang pegang tali. Kita akan masuk ke dalam mulut harimau, tapi kali ini, kita yang akan meremukkan jantungnya dari dalam."
"Gila," bisik Arya parau, tak kuasa menahan lagi. Ia bangkit berdiri, meski kakinya gemetar. Matanya basah, penuh rasa sakit dan ketidakpercayaan. "Ini gila, Sari! Kamu baru 13 tahun! Kamu bicara soal merencanakan pembunuhan, perang, strategi militer seolah ini permainan catur! Ini nyawa manusia! Nyawa kita! Kamu pikir kamu hebat karena baru bunuh 7 orang?! Itu keberuntungan, Sari! Itu murni keberuntungan! Kamu pikir kamu paham dunia karena kamu baru saja dibutakan oleh amarah dan darah?! Kamu masih anak-anak!"
Sari Dewi memutar kepalanya perlahan. Gerakan itu lambat, penuh ancaman, dan sangat dewasa. Ia menatap Arya. Tatapan itu. Tatapan yang membuat darah Arya membeku di pembuluh darah.
Tatapan penghinaan murni.
"Anak-anak?" ulang Sari Dewi pelan, suaranya lembut tapi tajam seolah menyayat hati. "Anak-anak itu orang yang percaya pada dongeng, Ayah. Anak-anak itu orang yang percaya pada keadilan, kejujuran, dan cinta abadi. Anak-anak itu orang yang percaya kalau kamu jadi baik, kamu akan selamat. Dan aku berhenti jadi anak-anak tepat di detik kamu teriak dan bilang aku benih iblis. Aku berhenti jadi anak-anak tepat di detik kamu pilih rasa jijik daripada cinta. Aku berhenti jadi anak-anak tepat di detik aku sadar bahwa satu-satunya orang yang bisa melindungi Sari Dewi... adalah Sari Dewi sendiri."
Ia melangkah maju selangkah, mendekati ayahnya yang dulu ia puja itu. Ia mendongak, menatap mata Arya tepat ke dalam.
"Dan soal keberuntungan... Kamu salah besar, Ayah. Aku tidak bunuh mereka karena beruntung. Aku bunuh mereka karena aku lebih pintar. Aku bunuh mereka karena aku lebih tenang. Aku bunuh mereka karena aku tidak punya hati yang lemah dan berisik seperti hatimu yang terus berteriak 'ini salah, ini dosa, ini jahat'. Hati itu beban, Ayah. Hati itu cacat. Dan aku baru saja operasi dan buang cacat itu keluar dari tubuhku kemarin malam."
Arya terdorong mundur sampai punggungnya menabrak dinding batu. Ia merasa sedang dihakimi. Ia merasa sedang berdiri di depan hakim, dan hakimnya adalah anaknya sendiri yang ia hancurkan.
"Kamu ingat apa yang kamu bilang waktu itu, Ayah?" bisik Sari Dewi, tangannya terulur, ujung pisau dinginnya menyentuh dada kiri Arya, tepat di atas jantungnya yang berdetak kencang ketakutan. "Kamu bilang: 'Kau darahnya! Kau tulangnya! Kau persis seperti dia!'"
Sari Dewi tersenyum lebar, senyum yang meniru persis senyum licik Andri Andalan—sedikit miring, mata menyipit, penuh kegilaan yang tenang.
"Kamu benar. 100% benar. Aku persis seperti dia. Jadi bersiaplah, Ayah. Karena kamu tidak lagi berhadapan dengan putri kecil manismu yang manja dan polos. Kamu sekarang berhadapan dengan kembaran Andri Andalan. Dan aku jauh lebih muda, jauh lebih kuat, jauh lebih pintar, dan jauh lebih kejam dari dia. Karena aku punya sesuatu yang dia tidak punya: Aku tahu rasanya sakit. Aku tahu rasanya dikhianati. Aku tahu rasanya dibuang. Dan itu membuatku... jauh lebih berbahaya."
"Jangan..." isak Naya, merangkak maju, air mata mengalir deras di wajah pucatnya. Ia memeluk kaki anaknya, menangis, mencium ujung sepatu tempur berdarah itu. "Sari... Nak... tolong... jangan jadi begini... Bunda mohon... Baliklah... Jadilah anak Bunda lagi... Kami salah... Kami minta maaf... Kami salah besar... Tolong jangan benci kami..."
Naya menangis tersedu-sedu, memohon, meratap, meremas kaki anaknya, memohon pengampunan, memohon masa lalu kembali. Ia sadar sekarang. Ia sadar kesalahan terbesarnya. Ia sadar rasa jijiknya, ketakutannya, penolakannya... itulah pemicu segalanya. Ia yang membunuh jiwa anaknya. Ia yang melahirkan monster ini.
Sari Dewi menunduk. Ia melihat ibunya bersimpuh di kakinya, wanita yang dulu begitu bangga, begitu cantik, begitu kuat, sekarang hancur lebur menjadi tumpukan rasa bersalah dan air mata.
Untuk sepersekian detik, ada keraguan. Ada kedutan kecil di matanya. Ada sisa hati nurani yang berteriak: Peluk dia. Maafkan dia. Dia ibumu.
Tapi suara itu cepat ditekan, dibunuh, dikubur. Ia ingat lagi tatapan jijik Naya. Ia ingat lagi bagaimana ibunya mundur ketakutan saat ia turun dari tangga tadi. Ia ingat lagi kata-kata: Aku takut sama kamu.
Dingin. Keras. Tutup.
Sari Dewi mengangkat kakinya perlahan, melepaskan pelukan ibunya, lalu melangkah mundur, menjauh, seolah Naya adalah kotoran yang menjijikkan.
"Terlambat, Bunda," kata Sari Dewi dingin, tanpa setetespun air mata, tanpa sedikitpun getaran suara. "Maaf itu barang paling murah di dunia. Murah dan tidak berguna. Kamu buang aku waktu aku minta cinta. Jadi jangan harap aku akan peluk kamu saat kamu minta maaf. Kita sudah melewati masa 'maaf-memaafkan'. Kita sudah masuk masa 'akibat dan konsekuensi'."
Ia berbalik memunggungi orang tuanya yang hancur lebur itu, lalu menatap Raga.
"Paman, ikat tangan mereka."
Perintah itu jatuh seperti petir di siang bolong.
"APA?!!" Arya melotot, napasnya terhenti. "SARI?! APA KATA KAU?! Ikat kami?! Kami orang tuamu!! Kami darah dagingmu!!"
Sari Dewi tidak menoleh. Ia tidak peduli.
"Persis karena kalian orang tuaku, aku harus lakukan ini," jawab Sari Dewi tenang, logis, mengerikan. "Karena kalian lemah. Karena kalian emosional. Karena kalian egois. Kalian akan jadi beban. Kalian akan merusak rencana. Kalian akan mencoba 'menyelamatkan' aku, 'mengubah' aku, 'menebus' kesalahan kalian dengan cara bodoh yang akan membuat kita semua mati. Aku tidak bisa fokus kalau aku harus terus-menerus mengawasi kalian, khawatir kalian kabur, khawatir kalian menyerah, atau khawatir kalian menjerit saat kita harus membunuh."
Ia berbalik, menatap mereka dengan tatapan tajam, seolah sedang menilai ternak atau barang.
"Mulai detik ini, aturan mainnya berubah. Ini bukan lagi demokrasi keluarga di mana pendapat kalian sama berharganya dengan pendapatku. Ini Diktatur. Aku pemimpin. Aku otak. Aku yang putuskan. Kalian... kalian cuma aset. Kalian cuma tameng. Kalian cuma sandera potensial. Dan aset tidak boleh punya pendapat. Aset tidak boleh bertindak sendiri. Aset harus dikendalikan supaya tidak rusak atau membahayakan misi."
"Kau... kau gila..." bisik Arya, gemetar bukan hanya karena marah, tapi karena ngeri. Ia melihat anaknya benar-benar hilang, digantikan oleh makhluk lain.
"Mungkin," jawab Sari Dewi santai, mengangkat bahu. "Tapi orang waras di dunia ini biasanya cuma jadi korban, Ayah. Dan aku sudah capek jadi korban. Jadi Paman Raga... tolong. Ikat. Mulut juga diikat. Aku tidak mau dengar ceramah moral, tangisan, atau doa. Aku mau istirahat. Besok pagi, kita bergerak. Dan kalau kalian berusaha melepaskan diri, atau berusaha lari... aku tidak akan kejar. Aku tidak akan cari. Kalian bisa mati di sini sendirian, jadi makanan tikus dan mayat hidup kota ini. Aku tidak peduli lagi."
Raga menghela napas panjang, matanya penuh kesedihan yang dalam, tapi tekadnya tak tergoyahkan. Ia mengeluarkan tali nilon tebal dari ranselnya. Ia berjalan mendekati Arya dan Naya.
"Ayo, Arya. Naya. Jangan buat ini makin menyakitkan," bisik Raga pelan, suaranya parau. "Dia serius. Kalian lihat matanya? Dia serius. Dan kalian... kalian yang buat dia begini. Sekarang terima akibatnya."
"Raga! Kau juga gila?! Kau biarkan dia lakukan ini?!" bentak Arya, melawan, mencoba menepis tangan Raga, tapi ia lemas, jiwanya sudah mati, fisiknya tak berdaya. Raga dengan mudah memutar tangan Arya ke belakang, mengikatnya kuat-kuat ke tiang besi tua. Naya pasrah saja, tubuhnya lemas, jiwanya sudah mati sejak ia melihat senyum anaknya tadi. Ia membiarkan tangannya diikat, mulutnya disumpal kain.
Dalam hitungan menit, ayah dan ibu—pahlawan dan pelindung masa lalu—kini terikat diam, duduk bersandar tiang, mulut tertutup, mata melotot penuh air mata, rasa sakit, dan keputusasaan, menonton putri kesayangan mereka berjalan pergi, duduk bersila di pojok paling gelap, memunggungi mereka, dan menutup mata untuk tidur dengan tenang, seolah baru saja menyelesaikan tugas rumah yang sepele.
Raga duduk tidak jauh dari Sari, di antara dua kubu: Antara masa lalu yang mati, dan masa depan yang kelam. Ia menatap profil samping keponakannya yang tenang itu.
"Kau keras, Sari," bisik Raga pelan, cukup agar hanya dia yang dengar.
Sari Dewi membuka matanya sedikit, menatap langit-langit berlobang, melihat bintang yang samar.
"Aku tidak keras, Paman. Aku cuma buang perasaan yang tidak berguna. Perasaan sakit itu tidak berguna. Perasaan bersalah itu tidak berguna. Perasaan cinta yang tidak dibalas itu racun. Aku buang racunnya. Sekarang aku murni."
Ia menoleh sedikit, menatap pamannya dari sudut mata.
"Paman tidak takut sama aku?"
Raga tersenyum tipis, sinis, namun hangat dalam cara yang kelam.
"Takut? Tidak. Aku bangga. Kau melakukan apa yang aku butuh waktu 20 tahun untuk pelajari dalam 3 hari saja. Kau potensi murni, Sari. Kau evolusi. Aku cuma monster biasa. Kau... kau dewa kehancuran."
Sari Dewi tersenyum. Kali ini senyumnya sampai ke mata. Senyum tulus pertamanya sejak kejadian di gua. Senyum untuk satu-satunya orang di dunia ini yang tidak takut padanya, yang tidak menolaknya, yang justru mengaguminya.
"Tunggu sampai kau lihat apa yang akan aku lakukan pada Kakek Andri, Paman," bisik Sari Dewi, suara berbisik penuh janji manis yang mengerikan. "Dia pikir dia menciptakan aku. Dia pikir dia tuhan. Dia pikir dia akan mainkan aku seperti boneka. Tapi dia salah besar. Dia baru saja menciptakan mimpi buruk terbesarnya sendiri. Aku tidak akan bunuh dia dengan cepat. Oh tidak... Itu terlalu mudah. Aku akan hancurkan dia. Aku akan hancurkan kekuasaannya. Aku akan hancurkan hartanya. Aku akan hancurkan reputasinya. Aku akan ambil semua yang dia punya, semua yang dia cinta, semua yang dia inginkan. Dan di akhir... aku akan biarkan dia hidup. Aku akan biarkan dia hidup lama, tua, miskin, sendirian, gila, menyadari bahwa segalanya dia bangun... cuma untuk aku hancurkan."
Raga mendengarkan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raga Wijaya merasa takut. Bukan takut mati. Bukan takut sakit. Tapi takut akan seberapa jauh gadis kecil ini akan pergi. Takut akan seberapa dahsyat kekuatan yang baru saja bangkit ini.
Tapi rasa takut itu bercampur dengan adrenalin, kegembiraan, dan rasa memiliki. Ini keluargaku. Ini pemimpinku. Ini milikku.
"Baik," gumam Raga. "Aku siap. Sampai akhir."
Malam berjalan lambat. Di dalam gedung kota mati itu, di antara mayat, darah, dan debu, terbentuklah aliansi paling gelap dan paling kuat yang pernah dilihat sejarah keluarga Wijaya-Andalan.
Di pojok kiri: Dua tahanan. Orang tua yang kehilangan hak asuh, kehilangan cinta, kehilangan kendali. Menonton mimpi buruk terjadinya kenyataan.
Di pojok kanan: Dua penguasa. Sang Prajurit tua yang lelah, dan Sang Ratu muda yang lapar akan kekuasaan dan balas dendam.
Dan di kejauhan, di Benteng Merah, Andri Andalan terbaring di tempat tidurnya yang mewah, tersenyum dalam tidurnya, bermimpi indah tentang putrinya, tentang masa depan, tentang kemenangan abadi. Ia bermimpi sedang memegang tangan Sari Dewi, berjalan di taman bunga, memerintah dunia.
Ia tidak tahu. Ia tidak tahu bahwa di detik yang sama, gadis yang ia cintai lebih dari nyawanya sedang berbaring di lantai batu berdarah, bermimpi tentang satu hal saja: Cara paling menyakitkan untuk menghancurkan hidupnya.
Fajar mulai menyingsing. Cahaya merah darah mulai merembes masuk lewat celah-celah dinding Kota Van Der Wijck.
Hari baru dimulai.
Dan ini bukan lagi hari untuk para pahlawan. Ini hari untuk para Monster.
😱⚖️🩸 YA TUHAN... INI SUDAH LEVEL PSIKOPAT CERDAS!!
Di Bab 20, mereka akan keluar dari Kota Van Der Wijck, mulai menjalankan strategi Sari. Mereka tidak lagi lari ke hutan terpencil, melainkan justru masuk ke wilayah berpenduduk, masuk ke kota besar, masuk ke jaringan Andri, karena Sari tahu Andri tidak akan mencurigai mereka berani menyerang balik. Sari mulai bermain psikologis, memanipulasi orang, dan membangun jaringan kecilnya sendiri. Arya & Naya dipaksa melihat anaknya berubah jadi penjahat sesungguhnya.