Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN PALSU - Chapter 13
Happy Reading guys!
----
"Berdo'alah."
Sophia tampak kebingungan melihat makam di hadapannya. Namun, ia tetap mengikuti perkataan pria yang berdiri di sampingnya dan menundukkan kepala untuk berdo'a.
Kemarin Arkan mengatakan bahwa ia akan membawanya ke suatu tempat. Karena itu, Sophia terpaksa kembali mengambil cuti secara mendadak. Sudah pasti hal itu akan menjadi masalah di tempat kerja, tetapi entah kenapa kali ini ia ingin sedikit egois.
Ia hanya ingin mengambil waktu untuk dirinya sendiri. Melepaskan semua tekanan yang selama ini menumpuk agar energinya kembali pulih.
Sophia melirik Arkan yang berdiri di sampingnya. Ia tak bisa memungkiri, berada di dekat pria itu membuatnya merasa nyaman.
"Itu kakakku."
Sophia terkejut.
Ia kembali melihat nama yang terukir di batu nisan.
Julian.
Tanggal wafatnya tertulis 31 Desember. Sekarang sudah Mei. Artinya, pria itu baru meninggal sekitar empat bulan yang lalu.
Kenapa ia tidak tahu?
Sophia kembali menatap Arkan yang berusaha menyembunyikan kesedihan di balik wajah tenangnya.
Di saat masa tersulitnya, Sophia bahkan tidak berada di sisinya.
Apa dirinya benar-benar penting bagi lelaki itu?
Arkan menggenggam tangan Sophia erat. Matanya tertuju pada makam sang kakak.
"Tahun baru kemarin, aku berharap mendapat kabar baik," ucapnya pelan. "Tapi yang datang justru kabar kalau kakakku meninggal."
Arkan bercerita bahwa Julian meninggal karena kecelakaan dan sempat mengalami koma.
Dokter bahkan mengatakan bahwa sekalipun berhasil bertahan hidup, kemungkinan besar Julian tidak akan bisa menjalani hidup seperti sebelumnya.
Namun Arkan tetap berharap.
Ia tetap menunggu kakaknya sadar.
Baginya, Julian adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Arkan menatap langit sejenak, lalu tersenyum pahit.
"Dia meninggal karena aku."
Sophia langsung menoleh.
"Hari itu dia meneleponku, Sophia. Aku dengar teleponnya masuk. Tapi aku tidak mengangkatnya."
Ia tertawa kecil, mengejek dirinya sendiri.
"Kau tahu? Dia mengirim pesan kalau dia merasa pusing. Ia baru menjemput pacarnya dari klinik. Tidak ada yang bisa mengendarai mobil."
Sophia mengusap punggung tangan Arkan perlahan.
"Kau memang bodoh."
Arkan mengangguk.
"Kau benar. Aku bodoh."
"Tapi semua orang pernah melakukan hal bodoh."
Arkan terdiam mendengarnya.
"Kematian bukan sesuatu yang bisa ditentukan manusia. Walaupun kita sudah berusaha, kalau memang takdir sudah berbicara, kita tidak bisa melakukan apa-apa."
Arkan menatap Sophia. Dengan ragu, ia memegang kedua pundak gadis itu.
"Demi kakakku, aku menikahi pacarnya."
Sophia langsung membeku. Ia berharap kalau telinganya tengah tuli.
"Aku bersumpah, aku hanya ingin menyelamatkan anak yang ada di kandungannya."
Sophia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Arkan melanjutkan penjelasannya.
Saat Julian meninggal, Sintia baru hamil dua minggu.
Ia melihat wanita itu menangis histeris setiap hari. Bahkan sempat ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Demi kakaknya, Arkan memutuskan menikahi Sintia.
Ia hanya ingin semua orang tahu bahwa anak yang dikandung wanita itu bukan anak di luar nikah.
Sophia melepaskan genggaman tangan Arkan.
"Kenapa harus kau yang memikul tanggung jawab itu?" tanyanya heran. Ia ingin marah, tetapi tak bisa. "Siapa yang peduli dia hamil di luar nikah atau tidak? Orang-orang tetap tahu kalau itu anak dari keluarga kalian."
Arkan menggeleng.
"Kakakku ingin menikahi Sintia untuk menutupi aibnya."
Ia menarik napas panjang.
"Seumur hidup, kakakku sudah banyak berkorban untukku. Aku hanya ingin menjaga sesuatu yang penting dalam hidupnya."
"Itu bukan hal kecil, apa kau gila! Kau mengatakan aku berpikiran sempit. Arkan ... " Sophia menatapnya serius. "Kau sudah melangkah terlalu jauh."
Arkan memegang kedua pipi Sophia.
"Apa kamu percaya padaku?"
Sophia terdiam.
"Aku akan membawamu bertemu Sintia."
Tatapan Arkan begitu serius.
"Setelah dia melahirkan, aku ingin bersama denganmu."
Jantung Sophia berdegup sedikit lebih cepat.
"Aku ingin tinggal bersamamu di rumah yang selama ini kau impikan."
Sophia ingin mengatakan bahwa ia tidak percaya. Namun, semua bukti yang ada memang mengarah pada kebenaran. Hanya saja, ia belum pernah bertemu Sintia.
Seperti apa wanita itu?
Bagaimana kehidupannya bersama Arkan selama ini?
Apakah ia memasak untuk Arkan?
Apakah mereka makan bersama?
Apakah mereka tidur dalam satu kamar?
Atau bahkan ....
Apakah mereka pernah melakukan sesuatu yang lebih dari itu?
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih 。◕‿◕。