Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Namun Arven tetap diam dan diamnya pria itu justru terasa jauh lebih menakutkan daripada bentakan apa pun. Kanisha menatap Arven lekat-lekat, Mencari kebohongan di wajah suaminya, Mencari tanda kalau semua ini hanya permainan kejam untuk menyakitinya.
Tapi tidak ada. Tidak ada kebohongan di mata Arven malam itu. Yang ada hanya kenyataan dingin yang perlahan mulai menghancurkan sisa kewarasan Kanisha.
“Mas…” Suara wanita itu terdengar lirih dan rapuh. “Aku mohon hentikan semua lelucon ini.”
Namun Arven malah berkata dengan suara datar,
“Aku nggak lagi bercanda, Kanisha.” Deg, tubuh Kanisha langsung menegang. “Apa yang aku bilang tadi adalah kenyataannya.”
Kalimat itu seperti palu besar yang menghantam kepalanya keras-keras dan membuat Kanisha langsung menggeleng cepat.
“Enggak…” Air mata Kanisha mulai kembali jatuh. “Enggak mungkin,” Ia perlahan mundur satu langkah sementara tatapannya mulai panik. “Mas bohong…”
“Aku nggak bohong.”
“BOHONG!”
Bentakan Kanisha menggema di kamar itu dan membuat Naira sampai tersentak kecil dalam pelukan Selena. Kanisha langsung menunjuk Arven dengan tangan gemetar.
“Mas bohong!” tangisnya pecah. “Mas sengaja ngomong kayak gini buat nyakitin aku kan!”
“Aku nggak punya alasan buat bohong lagi sekarang.”
“ENGGAK!”
Kanisha kembali menggeleng keras. Ia tidak mau percaya, Tidak bisa percaya. Karena kalau itu benar, berarti selama ini hidupnya benar-benar dipermainkan oleh suaminya sendiri. Arven menghela napas kasar sebelum akhirnya berkata pelan,
“Selama aku sama Selena menjalin hubungan,” Kalimat itu langsung membuat tubuh Kanisha terasa lemas. “Selena hamil.” Kanisha langsung membeku, napasnya tercekat, sedangkan Arven melanjutkan semuanya tanpa ragu sedikit pun. “Waktu itu aku bawa Selena keluar kota.”
Kanisha langsung mengangkat wajahnya dengan cepat. Keluar kota? Pikiran Kanisha mendadak langsung melayang ke tiga tahun lalu saat Arven tiba-tiba pergi selama beberapa bulan dengan alasan proyek bisnis besar di luar kota. Saat itu Kanisha bahkan sempat mengantar suaminya ke bandara sambil tersenyum. Ia percaya sepenuhnya.
Bahkan saat Arven jarang memberi kabar selama di sana, Kanisha tetap memaklumi semuanya karena mengira suaminya benar-benar sibuk bekerja. Dan sekarang semua itu ternyata bohong.
“Itu bukan perjalanan bisnis,” suara Arven terdengar berat. “Aku membawa Selena buat nyembunyiin kehamilannya.”
Tubuh Kanisha langsung terasa dingin. Air matanya jatuh semakin deras. Tidak mungkin. Ia kemudian menatap Selena perlahan. Wanita itu langsung menunduk dan reaksi kecil itu saja sudah cukup menghancurkan semuanya. Kanisha langsung tertawa kecil. Tawa yang kali ini terdengar benar-benar hancur.
Arven kembali melanjutkan ucapannya,
“Setelah Selena melahirkan…” Kanisha langsung menatap pria itu dengan matanya yang penuh air mata. “Kami nitipin Naira di panti asuhan.”
Deg, Tubuh Kanisha langsung limbung sedikit. Untung saja ia masih bisa berpegangan pada sisi lemari. Sedangkan Arven tetap melanjutkan semuanya tanpa belas kasihan.
“Aku udah ngatur semuanya dari awal.”
Kalimat itu membuat mata Kanisha melebar perlahan.
“Apa?”
“Aku pilih panti asuhannya.” Tangis Kanisha langsung pecah semakin keras. “Dan aku pastiin kamu bakal ketemu Naira di sana.”
Dunia Kanisha benar-benar runtuh sekarang.
Ia langsung teringat hari pertama saat dirinya melihat Naira. Hari ketika bayi kecil itu menggenggam jarinya erat. Hari ketika Kanisha menangis haru sambil berkata kalau ia ingin menjadi ibu untuk bayi itu. Dan sekarang Arven bilang kalau semua itu sudah diatur? Semua itu jebakan?
“Kami nunggu sampai waktunya tepat buat proses adopsi.” Suara Arven terdengar semakin menusuk di telinga Kanisha. “Supaya kamu nggak curiga.”
Air mata Kanisha terus jatuh tanpa henti. Ia benar-benar merasa seperti orang paling bodoh di dunia sekarang.
“Jadi…” bibirnya bergetar hebat. “Selama ini kalian berdua sudah merencanakan ini dengan begitu matang? Dan aku sama sekali nggak tahu? Teganya kalian melakukan ini padaku! Kalian anggap apa aku ini, HAH?!" teriak Kanisha dengan frustasi namun tidak ada jawaban dari Arven karena memang itu kenyataannya. Kanisha merasa dadanya seperti diremas kuat-kuat hingga membuatnya sakit sekali.
Tatapannya berpindah bergantian antara Arven dan Selena.
“Bu Kanisha, saya bisa jelasin—”
“DIAM!!! JANGAN KATAKAN SEPATAH KATAPUN PADAKU!”
Bentakan Kanisha membuat Selena langsung terdiam. Tatapan Kanisha sekarang benar-benar terlihat penuh luka.
“Aku benci kalian semua!!” Napasnya tersengal. “Selama ini aku mikir Tuhan akhirnya ngasih aku kesempatan buat jadi ibu meskipun mas nggak mau punya waktu untuk memiliki anak denganku," Tangan Kanisha mencengkeram dadanya sendiri. “Tapi ternyata…” tangis Kanisha pecah lagi. “Ternyata aku cuma dipake buat ngerawat anak hasil perselingkuhan kalian…”
Kalimat itu membuat suasana kamar mendadak terasa semakin sesak. Naira mulai menangis lagi karena ketakutan melihat Kanisha menangis begitu hebat.
“Mama…”
Panggilan kecil itu langsung membuat Kanisha menoleh. Dan saat melihat wajah polos Naira, Hati Kanisha terasa semakin hancur karena sekarang setiap kali melihat anak itu, Ia akan selalu teringat pada pengkhianatan Arven dan Selena.
"Jangan panggil aku mama... Aku bukan mama mu!!!" Teriak Kanisha dan membuat Naira menangis ketakutan.
"Apa yang kau lakukan? Beraninya kau berteriak kepada putriku!" Sahut Arven dengan kesal.
“Memangnya kenapa kalau aku berteriak padanya? Karena kenyataannya aku bukanlah mama nya. Dan kalian berdua telah mempermainkan hidupku menjadi seperti ini.” suara Kanisha terdengar lirih dan gemetar. “Apa selama ini kalian ketawa di belakang aku?”
Arven langsung mengeraskan rahangnya.
“Aku nggak pernah nganggep ini lucu.”
“Tapi mas nikmatin semuanya kan?” Tangis Kanisha semakin pecah. “Mas nikmatin waktu aku sayang sama Naira…” Air matanya terus jatuh tanpa henti. “Mas nikmatin waktu aku begadang tiap malam waktu dia sakit…” Suaranya mulai meninggi. “Mas nikmatin waktu aku nangis bahagia karena akhirnya aku bisa jadi ibu!” Arven memalingkan wajahnya sebentar namun Kanisha justru semakin emosi melihat reaksinya. “Jawab aku!”
“Aku nggak pernah nyuruh kamu buat terlalu terikat sama Naira. Kamu sendiri yang terlalu menyayanginya seperti anak kandungmu sendiri.”
Deg, Kalimat itu langsung membuat Kanisha membeku. Beberapa detik suasana kamar benar-benar terasa sunyi, bahkan Selena langsung menatap Arven dengan puas setelah mendengar ucapan pria itu. Sedangkan Kanisha, Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah, bukan cuma sedih tapi juga penuh kehancuran.
“Apa?” Suaranya terdengar sangat lirih dan hampir tidak terdengar, Namun Arven tetap melanjutkan dengan nada dingin,
“Apapun hasil akhirnya, Naira tetap anak aku.”
Dan kalimat itulah yang akhirnya menghancurkan sisa kesabaran Kanisha.
PLAKKK!!!
Tamparan keras mendarat tepat di pipi Arven.
Suara tamparan itu menggema keras di kamar Naira dan membuat kepala Arven langsung menoleh ke samping akibat tamparan tersebut. Ruangan mendadak hening. Selena membelalak kaget sedangkan Kanisha berdiri di tempatnya dengan napas memburu, tangan kanannya masih terangkat dan gemetar hebat setelah menampar suaminya sendiri.
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️