NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 24: Fitnah di Langit Al-Hikam

Pagi itu, ketenangan Pondok Al-Hikam kembali terkoyak. Bukan oleh deru mesin ekskavator, melainkan oleh kilatan lampu kamera dan kerumunan wartawan yang memadati gerbang pondok. Di layar televisi nasional, berita utama tertulis dengan huruf merah mencolok: "PONDOK AL-HIKAM DIDUGA JADI SARANG ALIRAN SESAT DAN PENCUCIAN UANG MILIARAN RUPIAH."

​Mr. Richard di Jakarta tersenyum puas di balik meja kantornya yang mewah. "Kalau aku tidak bisa mengambil tanahnya, aku akan menghancurkan kehormatannya. Mari kita lihat, apa rakyat masih mau mencium tangan seorang 'wali' yang dituduh penipu?"

​Di dalam ndalem, Guntur mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Mas Juna! Iki wis kebacut! Media-media kae dibayar Mr. Richard kanggo ngrusak jenenge Romo lan jenengmu! Ayo kulo ladeni nganggo caraku!" geram Guntur.

(Mas Juna! Ini sudah keterlaluan! Media-media itu dibayar Mr. Richard buat merusak nama Romo dan namamu! Ayo aku ladeni pakai caraku!)

​Arjuna yang sedang mengelus si Kambing putih di teras hanya menggeleng pelan. Tatapannya kosong, namun sangat dalam. "Guntur... geni ojo dilawan nganggo geni. Nek kowe emosi, berarti kowe kalah sakdurunge perang."

​Tiba-tiba, seorang provokator yang menyamar di tengah kerumunan wartawan melemparkan telur busuk ke arah papan nama Pondok Al-Hikam. "Bubar! Bubarkan aliran sesat! Kembalikan uang rakyat!" teriak massa yang rupanya sudah dibayar.

​Arjuna bangkit berdiri. Ia tidak mengenakan jas mahal atau sorban megah. Ia hanya memakai sarung kusam, kaos putih polos, dan tetap tanpa alas kaki. Ia melangkah keluar gerbang sendirian, tanpa pengawalan.

​"Mundur! Mundur semuanya!" teriak para wartawan sambil berebut mengarahkan mikrofon ke wajah Arjuna. "Saudara Arjuna! Benarkah Anda mencuci uang perusahaan di sini? Benarkah Anda memelihara mahluk gaib berupa kambing untuk pesugihan?"

​Arjuna berhenti tepat di depan kamera televisi yang sedang menyiarkan secara langsung (Live). Ia menatap lensa kamera itu dengan sorot mata yang membuat juru kamera mendadak gemetar.

​"Sedulur-sedulur sedaya... kulo mboten badhe mbantah fitnah niku nganggo lisan," ucap Arjuna tenang. "Menawi panjenengan pengen sumerep nopo isine pondok niki, monggo... mlebuo. Pirsani dhewé kepriye santri-santri niki mulyakake Gusti."

(Saudara-saudara sekalian... saya tidak akan membantah fitnah itu dengan lisan. Kalau kalian ingin tahu apa isi pondok ini, silakan... masuklah. Lihat sendiri bagaimana santri-santri ini memuliakan Tuhan.)

​Arjuna membuka lebar pintu gerbang pondok. Secara ajaib, saat massa yang beringas itu hendak merangsek masuk, si Kambing putih berjalan mendahului mereka. Setiap langkah si kambing mengeluarkan aroma wangi bunga surgawi yang mendadak menetralkan bau telur busuk dan kebencian di udara.

​Satu per satu wartawan dan massa masuk ke area pondok. Mereka tertegun. Di sana, mereka tidak melihat tumpukan uang atau ritual aneh. Mereka melihat ratusan santri yatim piatu sedang makan bersama dengan menu yang sangat sederhana, namun wajah mereka memancarkan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang miliaran.

​Di sudut lain, nampak para santri sedang menghafal Al-Qur'an dengan suara yang begitu merdu hingga beberapa wartawan tanpa sadar meneteskan air mata. Aura kedamaian di Al-Hikam begitu kuat hingga semua narasi fitnah dari Mr. Richard runtuh seketika di hati setiap orang yang hadir.

​Tiba-tiba, ponsel salah satu wartawan berbunyi. Kabar mengejutkan datang dari Jakarta. Kantor pusat perusahaan Mr. Richard mendadak digeledah oleh KPK atas kasus korupsi proyek pembangunan gedung pemerintah yang selama ini ia tutup-tutupi.

​"Berita terbaru! Mr. Richard resmi ditetapkan sebagai tersangka korupsi! Semua asetnya disita negara!" teriak salah satu kru TV.

​Arjuna hanya menunduk. Ia tahu, ini bukan karena kesaktiannya, melainkan karena hukum alam 'Sopo nandur, bakal ngunduh' (siapa menanam, akan memanen). Fitnah yang dilemparkan Mr. Richard justru menjadi bumerang yang menghancurkan dirinya sendiri.

​Guntur menghampiri kakaknya dengan wajah takjub. "Mas... kok iso pas ngene wektune?"

(Mas... kok bisa pas sekali waktunya?)

​Arjuna tersenyum tipis sambil menatap si kambing yang sedang asyik memakan rumput di bawah papan nama pondok. "Donga wong sing dizholimi iku mboten wonten penghalange, Guntur. Saiki, tugas kito nuntun moso sing bingung niki supaya ngerti sejatine dalan sing lurus."

​Sore itu, Al-Hikam bukan lagi dicap sebagai sarang aliran sesat, melainkan menjadi simbol kemenangan kebenaran atas fitnah duniawi. Arjuna Wijaya, sang Sultan Musafir, telah membuktikan bahwa dengan "Ilang" (melepaskan ego), Tuhan sendiri yang akan menjadi pembelanya.

​Namun, di sela-sela kerumunan yang mulai bubar, Arjuna melihat seorang pria asing bertopi hitam yang terus menatapnya dengan tajam. Pria itu bukan utusan Mr. Richard, melainkan seseorang dari masa lalu keluarga Wijaya yang membawa rahasia besar tentang kematian ayah Arjuna yang sebenarnya.

Senja di Sidoarjo mulai memerah. Satu per satu wartawan dan massa yang tadinya beringas mulai meninggalkan gerbang Pondok Al-Hikam dengan perasaan malu dan takjub. Nama baik pondok pulih seketika, namun Arjuna tidak merayakannya dengan pesta. Ia justru berdiri mematung di bawah pohon tanjung, matanya tertuju pada seorang pria asing yang masih berdiri di kejauhan.

​Pria itu mengenakan jaket kulit kusam dan topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak membawa kamera, tidak membawa spanduk. Ia hanya berdiri diam seperti patung, namun auranya sangat tajam—seperti sebilah keris yang baru dicabut dari warangkanya.

​"Guntur... jaganen Bunda ing njeron ndalem. Ojo metu sakdurunge tak timbali," perintah Arjuna dengan suara rendah namun penuh penekanan.

(Guntur... jaga Bunda di dalam rumah. Jangan keluar sebelum kupanggil.)

​Guntur yang menyadari perubahan raut wajah kakaknya segera mengangguk patuh. Ia tahu, jika kakaknya sudah bersikap seperti ini, artinya ada bahaya yang tidak kasat mata sedang mendekat.

​Arjuna melangkah perlahan menuju pria bertopi hitam itu. Si Kambing putih yang biasanya tenang, kini nampak gelisah. Kambing itu terus menggaruk-garuk tanah dengan kaki depannya, matanya yang hitam legam menatap tajam ke arah pria asing itu.

​"Nyuwun sewu, Kang... panjenengan niku nggoleki nopo neng kene? Wartawan sampun bubar, fitnah sampun ilang," ucap Arjuna saat jarak mereka tinggal beberapa langkah.

(Permisi, Kang... Anda mencari apa di sini? Wartawan sudah bubar, fitnah sudah hilang.)

​Pria itu perlahan mendongak. Wajahnya penuh dengan bekas luka bakar di pipi kiri, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam sekaligus dendam yang tertahan. Ia mengeluarkan sebuah kalung dari sakunya—sebuah liontin perak berbentuk Kujang kecil yang nampak sangat akrab di mata Arjuna.

​"Dudu fitnah media sing tak gowo, Arjuna... nanging getih sing durung garing," suara pria itu serak, seperti gesekan amplas pada kayu.

(Bukan fitnah media yang kubawa, Arjuna... tapi darah yang belum kering.)

​Arjuna tersentak. Liontin itu adalah milik almarhum ayahnya, Romo Wijaya, yang hilang saat kecelakaan maut sepuluh tahun yang lalu. Kecelakaan yang selama ini dianggap murni musibah oleh polisi dan keluarga besar Wijaya.

​"Soko pundi sampeyan angsal kalung niku? Niku kagungane Romo kulo!" suara Arjuna mulai bergetar, pertanda ketenangannya mulai goyah oleh kenangan masa lalu.

(Dari mana Anda dapat kalung itu? Itu milik Ayah saya!)

​Pria itu tertawa pahit. "Romo Wijaya ora mati mergo rem blong, Arjuna. Reme sengojo dikethok dening wong sing saiki dadi kancane Mr. Richard. Nanging wong kuwi dudu Mr. Richard... dheweke luwih sakti, luwih licik, lan luwih cedhak karo kowe tinimbang sing tak bayangke."

(Ayah Wijaya tidak mati karena rem blong, Arjuna. Remnya sengaja dipotong oleh orang yang sekarang jadi teman Mr. Richard. Tapi orang itu bukan Mr. Richard... dia lebih sakti, lebih licik, dan lebih dekat denganmu daripada yang kau bayangkan.)

​Tiba-tiba, angin puyuh kecil berputar di antara mereka. Pria itu melemparkan liontin perak itu ke arah Arjuna. Saat Arjuna menangkapnya, sebuah penglihatan gaib (kasyaf) melintas cepat di otaknya. Ia melihat kilasan kejadian sepuluh tahun lalu: sebuah gudang tua, suara tawa yang sangat ia kenali, dan tangan yang menggunting kabel rem mobil ayahnya.

​Tangan itu memakai cincin Batu Akik Merah Delima yang sangat khas. Cincin yang sering dipakai oleh salah satu paman Arjuna sendiri—paman yang selama ini berpura-pura menjadi penasihat spiritual keluarga Wijaya.

​"Sopo sejatine sampeyan?!" teriak Arjuna sambil mengeluarkan aura "Ilang"-nya hingga dedaunan di pohon tanjung berguguran.

​"Jenengku dudu masalah... nanging pesenku: waspadonono wong sing nganggo jubah suci nanging atine asu. Mr. Richard mung 'wayang', dalange isih nunggu neng mburi layar," ucap pria itu sebelum ia mendadak menghilang di balik kabut senja yang tiba-tiba turun dengan sangat tebal.

​Arjuna berdiri sendirian di tengah kegelapan yang mulai merayap. Di tangannya, liontin perak itu terasa sangat dingin. Si kambing mendekat dan mengendus liontin tersebut, lalu mengeluarkan suara embikan yang panjang dan menyayat hati, seolah ikut menangisi rahasia berdarah yang baru saja terungkap.

​Ternyata, perjalanan Arjuna menjadi musafir belum benar-benar berakhir. Ia tidak hanya harus menyelamatkan pondok dari Mr. Richard, tapi ia harus membersihkan "Duri dalam Daging" di dalam keluarganya sendiri.

Kabut senja perlahan terangkat, namun pria bertopi hitam itu benar-benar telah hilang ditelan kegelapan, seolah-olah ia hanyalah ruh yang datang sekadar untuk menyampaikan kebenaran yang pahit. Arjuna Wijaya masih berdiri mematung. Jemarinya mencengkeram erat liontin Kujang perak itu hingga pinggirannya yang tajam sedikit melukai telapak tangannya.

​Darah segar menetes dari sela jari Arjuna, jatuh mengenai tanah pelataran pondok. Anehnya, saat darah itu menyentuh tanah, si Kambing putih mendekat dan mengendus tetesan darah tersebut sambil mengeluarkan suara embikan yang rendah, seolah sedang merapal doa purba untuk menenangkan tuannya.

​"Mas Juna? Kenapa berdiri di sini sendirian? Siapa orang tadi?" tanya Guntur yang tiba-tiba muncul dari kegelapan teras, wajahnya nampak cemas melihat kakaknya yang diam seribu bahasa.

​Arjuna perlahan membuka kepalannya. Ia memperlihatkan liontin itu kepada Guntur. Di bawah cahaya lampu taman yang temaram, perak Kujang itu berkilat dingin. Mata Guntur membelalak, ia mengenali benda itu. "Iku... iku kagungane Romo, Mas! Kok iso? Bukane jarene polisi wis ilang pas kecelakaan sepuluh tahun kepungkur?"

(Itu... itu milik Ayah, Mas! Kok bisa? Bukannya kata polisi sudah hilang pas kecelakaan sepuluh tahun lalu?)

​Arjuna menatap adiknya dengan tatapan yang sangat tajam, namun penuh kesedihan. "Guntur... dunya iki jebule luwih peteng tinimbang sing kito bayangke. Romo mboten seda mergo takdir murni, nanging wonten tangan sing tego ngethok uripe Romo demi bondo."

(Guntur... dunia ini ternyata lebih gelap daripada yang kita bayangkan. Ayah tidak wafat karena takdir murni, tapi ada tangan yang tega memutus hidup Ayah demi harta.)

​Guntur terdiam kaku. Amarahnya yang dulu meledak-ledak kini berganti menjadi rasa ngeri yang dingin. "Sopo, Mas? Sopo sing tego?!"

​Arjuna tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah ndalem, di mana ia melihat bayangan Paman Surya—adik kandung ayahnya—sedang duduk tenang di ruang tamu sambil memutar tasbih kayu cendana, seolah-olah dialah orang paling suci di keluarga besar Wijaya. Di jari manis Paman Surya, melingkar sebuah cincin Batu Akik Merah Delima yang berkilat kemerahan, persis seperti dalam penglihatan gaib Arjuna tadi.

​Arjuna menarik napas dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya dengan ilmu "Ilang". Ia harus tetap tenang. Jika ia menyerang sekarang dengan amarah, ia akan kalah. Ia harus bermain cantik, seperti air yang tenang namun mampu menghanyurkan batu karang.

​"Sabar, Guntur. Gusti Allah mboten sare. Kito bakal buka kedok asline siji-siji. Nanging saiki, jogoen lisanmu. Ojo nganti wong neng njeron omah kuwi ngerti yen kito wis weruh rahasiane," bisik Arjuna sangat pelan.

​Arjuna kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya tetap tidak bersuara, tetap tanpa alas kaki. Namun kini, setiap langkahnya membawa beban keadilan yang sangat berat. Di belakangnya, si kambing mengikuti dengan langkah yang ritmis, seolah menjadi saksi bisu atas sumpah Arjuna malam itu.

​Di Jakarta, Mr. Richard mungkin sudah hancur. Namun di Sidoarjo, di dalam rumahnya sendiri, Arjuna menyadari bahwa ia sedang tinggal satu atap dengan "Serigala berbulu Domba" yang jauh lebih berbahaya.

​Malam itu, langit Sidoarjo tertutup awan hitam pekat. Badai besar bukan lagi datang dari luar, melainkan sedang bergejolak di dalam jantung keluarga Wijaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!