Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 – Bima
Bab 22 – Bima
Bima tiba di rumahnya jam 1 malam. Ia lalu mengambil ponselnya yang ketinggalan di kamarnya sejak tadi pagi. Sebetulnya ia bisa saja minta Pak Mardi untuk mengambilkan ponselnya, tapi masalahnya tadi Pak Mardi sendiri minta izin pulang duluan karena sedang sakit perut lantaran kemarin malam dikasih makan seblak sama istri dan anaknya. Alhasil Bima ke mana-mana pergi dengan taksi.
Sebelum tidur, ia mengirimkan pesan pada Naya dan menjelaskan semuanya.
Bima : Aku harap kamu nggak marah.
Paginya, Bima mendapatkan pesan dari Naya.
Naya : Kalau memang kemarin hape kamu ketinggalan, kenapa kemarin-kemarin nggak balas aku?
Bima : Seharian aku reading, casting, dan syuting.
Naya tidak membalasku lagi.
“Bukannya aku menghindar, tapi aku beneran sibuk, Cel!” kataku pada Celsi di ruangan kerjanya.
Celsi menunjukkan ponselnya, “Kamu tau video ini?”
“Apa?” tanyaku sambil mengambil ponselnya.
“Liat aja!”
Aku melihat video yang menunjukkan aku keluar dari toko cincin, lalu cut to ke video Mutia diwawancarai.
“Gila! Bisa-bisanya digabung begini?” tanyaku heran.
“Makanya, kamu bilang ke Mutia, kalau kalian bukan apa-apa, dan kalau kamu itu sama Naya!” Celsi mengambil ponselnya dari tanganku.
Aku duduk di sofa, merebahkan kepala di sandaran, “Kamu tau nggak, Mutia itu sempet mau bunuh diri!”
“Hah? Serius?”
“Iya, ibu cerita.”
“Gila. Orang sekaya dia, sehedon dan seflexing dia, bisa depresi?”
“Orang tuanya dia itu kan cerai pas dia masih kecil. Ayahnya selingkuh sama sekertarisnya. Ibunya selingkuh sama kliennya. Jadi uang yang didapatnya semua itu, hasil dari sugar mami sama sugar dadi ayah dan ibunya!”
Celsi geleng kepala, “Gila, masalah orang kaya, rumit!”
“Makanya!”
“Makanya apa? Biar pun hidupnya Mutia itu rumit, bukan berarti kamu yang tanggung jawab dong. Bukan berarti kamu harus mengalah sama dia.”
“Gimana ya, nggak segampang itu, Cel!” Bima menegakkan posisi duduknya.
“Toh kan pada akhirnya elu bakal nikah sama Naya. Kalau dia ntar udah makin GR elu beliin cincin segala macem, terus tau elu nikah, bisa makin depresi!”
Iya sih, tapi gimana ya? Aku terdiam.
“Mau gue yang bilangin?”
“Gini, abis beres prep film deh. Masalahnya nyari pemainnya susah, belum ada yang cocok juga, sementara Bang Jaka udah kebelet suting banget!”
“Dian nggak jadi?” taya Celsi.
“Nggak. Jadwal nggak cocok.”
“Kalau sama Mai, bang Jaka nggak mau?”
“Nggak. Aku udah ngusulin sama Mai, tapi dia bilang terlalu muda.”
“Hari ini bakalan audisi sama siapa?”
--
“Halo!” Sheila Dara mengulurkan tangannya padaku.
Sheila, aku, dan Bang Jaka duduk di kursi ruang tengah di rumahnya Bang Jaka.
“Halo, Bima,” kataku sambil tersenyum dan menjabat tangannya. Aku agak sedikit ragu, mau mengucapkan bela sungkawa almarhum Vidi Aldiano, atau tidak. Aku takut justru akan membuatnya sedih.
“Gimana, lo jadi pindah rumah, Shel?” tanya Bang Jaka tanpa ragu membahas soal duka cita Sheila.
“Masih nyari, Bang.”
“Barang-barang Vidi jadi disumbangin atau di preloved?” tanya Bang Jaka lagi.
Aku terdiam, memperhatikan Sheila yang tampak tidak lagi bersedih dan terganggu ketika membicarakan masalah itu.
“Sumbangin kayaknya, Bang. Nggak mungkin di preloved. Ya mungkin aja sih, tapi uangnya nanti mau disumbangin, yang pasti,” jawah Sheila tersenyum.
Mungkin ini cara Bang Jaka mencairkan suasana. Aku berusaha untuk tidak turut campur lebih jauh.
“Oke deh. Kita langsung coba reading ya?” tanya Bang Jaka menatap Sheila lalu menatapku.
“Oke!” Sheila mengeluarkan buku naskahnya.
Sementara aku yang sudah hafal, hanya mengeluarkan ipad saja, “Oke.”
Bang Jaka membacakan deskripsi naskah, “Raka dan Anisa masuk ke dalam rumah, dengan gembira. Jaka langsung menarik tangan Anisa ke dalam kamar.”
“Ayo!” kataku membaca naskah.
“Kita beres-beres barang dulu, Mas!” Sheila membaca naskah dengan serius, nada bicaranya berubah menjadi dialog si tokoh yang dibacanya.
“Itu nanti saja!” sahutku tanpa membaca naskah.
“Raka menarik Anisa masuk ke kamar, lalu menutup pintu dan langsung mendorong badan Anisa ke balik pintu dan mencium Anisa,” Bang Jaka membaca bagian deskripsi naskah.
Aku melirik Sheila, melihat apakah dia akan bermasalah mengenai adegan suami istri ini. Harusnya tidak masalah, karena pasti dia sudah membaca keseluruhan naskah. Benar saja, Sheila tampak serius membaca naskah, mendengarkan Bang Jaka membaca naskah.
“Anisa mencium Raka balik, sambil mendorong Raka ke kasur. Raka duduk di tepi kasur, sementara Anisa duduk di pangkuan Raka. Mereka masih berciuman, tiba-tiba terdengar suara lolongan dingin yang memecah keheningan malam. Raka dan Anisa yang ada di atas kasur berhenti berciuman.”
“Apa itu, Mas?” Sheila membaca naskah.
“Anisa menoleh ke arah jendela,” kata Bang Jaka membaca naskah.
“Mung… mungkin anjing tetangga,” kataku mencoba mendalami peran.
“Suara lolongan kembali terdengar. Kali ini ditambah dengan teriakkan perempuan ketakutan. Aaaaaa!” Bang Jaka teriak dengan suara perempuan. “Anisa dan Raka bergegas melangkah ke jendela. Cut!”
Aku menatap Sheila dan Bang Jaka lega.
“Nice!” Bang Jaka tepuk tangan. “Kita coba sambil diperagakan ya? Ciumannya pura-pura aja! Aku pengen liat chemistrynya.” Bang Jaka bangkit mempersiapkan tripod dan kamera sederhananya.
“Oke,” jawab Sheila dengan santai lalu berdiri.
--
Reading berlangsung lancar. Ternyata Sheila orangnya kritis soal naskah. Tapi dengan begitu, aku jadi lebih nyaman berekspresi. Dia pulang dengan mobilnya. Aku pulang dijemput Pak Mardi. Di jalan pulang, aku masih berusaha menghubungi Naya.
Bima : Nay, kita bisa ketemu?
Tidak ada jawaban.
Ditelepon juga tidak diangkat.
“Mau kita samperin aja ke rumahnya?” tanya Pak Mardi.
“Boleh deh,” jawabku kesal.
Tidak perlu lama, mobilku tiba di perumahan komplek Naya yang sempit itu.
“Itu, Naya!” Pak Mardi teriak melihat motor yang berpapasan dengan mobilku dari arah depan.
“Ikutin, Pak!”
“Waduh, keburu pergi motornya, kita susah puter baliknya, Dan!”
Aku menghela napas, menoleh ke belakang melihat Naya dibonceng seseorang yang tidak menggunakan jaket ojol. Aku langsung mengirimkan pesan padanya.
Bima : Kamu pergi sama siapa?