NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kota Avalon

Terjebak Di Kota Avalon

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22.Kemewahan dan drama air mata.

Hari-hari pertama Luna ria di kediaman utama keluarga Star born berjalan jauh lebih lancar daripada dugaan banyak orang.

Lord Valde mar dan Lady Seraphina tampak sangat serius ingin memperbaiki citra mereka. Seolah ingin menebus kesalahan masa lalu yang selama puluhan tahun mereka abaikan, Luna ria diberikan segala fasilitas yang setara dengan putri mahkota.

Kamar yang ditempati Luna ria berada di sayap timur istana, luasnya tidak kalah megah dengan kamar Lea ria di sayap barat. Dindingnya dicat dengan warna biru langit yang lembut, perabotan terbuat dari kayu mahoni berukir emas, dan terdapat balkon besar yang menghadap langsung ke taman bunga sihir yang indah.

Gaun-gaun sutra bermotif rumit dijahit khusus oleh penjahit terbaik kerajaan, sepatu dari kulit naga yang paling empuk, hingga perhiasan berlian yang berkilauan disiapkan tanpa henti.

"Non, ini terlalu banyak..." gumam Ivy sambil membantu Luna ria merapikan tumpukan gaun di dalam lemari raksasa itu. Matanya berbinar takjub melihat kekayaan yang ditumpuk begitu saja.

Luna ria yang sedang duduk di depan cermin rias hanya tersenyum tipis sambil mengikat rambut panjangnya.

"Ambil saja semuanya, Ivy. Jangan ditolak," ucap Luna ria santai. "Mereka memberikannya bukan karena tulus sayang padaku, tapi karena gengsi dan rasa bersalah mereka. Mereka tidak mau orang tahu kalau putri mereka hidup menderita. Kalau aku menolak, mereka akan merasa malu dan malah mencari-cari masalah dengan ku. Jadi, nikmati saja."

Luna ria berdiri dan memutar tubuhnya. Ia mengenakan gaun berwarna ungu gelap yang sangat anggun, menonjolkan sosoknya yang tinggi semampai dan wajahnya yang cantik jelita.

"Lagipula, berpakaian bagus itu penting. Agar saat kita berjalan di jalanan, tidak ada yang berani memandang rendah. Dan semua ini... anggap saja sebagai uang muka atas penderitaan aku selama ini," tambahnya dengan tatapan tajam di cermin.

Ivy tersenyum mengerti. "Baik Nona. Aku mengerti."

Sementara Luna ria dimanjakan dengan materi, perhatian Lord Valde mar tertuju pada Rian, Bimo, dan Lira. Setelah menyaksikan sendiri bagaimana ketiga remaja itu dengan mudah merobohkan Gareth—yang merupakan salah satu penyihir tangguh di keluarganya—Lord Valde mar memiliki ide lain.

"Mereka masih muda, tapi kemampuan bertarungnya luar biasa," pikir Lord Valde mar. "Daripada hanya jadi pengawal tak berguna, lebih baik aku kirim mereka ke Akademi Latihan Tempur Kerajaan. Di sana mereka akan diasah lebih tajam. Dan kalau mereka jadi kuat, itu akan menjadi nilai tambah bagi keluarga Star born."

Tanpa banyak bicara, Lord Valde mar memerintahkan agar Rian, Bimo, dan Lira resmi terdaftar sebagai taruna di akademi militer terbaik di Avalon.

Mendengar perintah itu, justru ketiga pemuda itu yang paling senang.

"Wah! Serius Tuan? Kita boleh latihan di sana?" seru Bimo dengan mata berbinar.

"Tentu. Tunjukkan kalau kalian layak," sahut Lord Valde mar.

Sejak hari itu, pagi hari selalu diisi dengan latihan keras bagi ketiga sahabat Luna ria, sementara malam hari mereka kembali berkumpul untuk melapor dan berbagi cerita. Hubungan mereka dengan Luna ria tidak putus, justru semakin kuat karena saling mendukung.

Hubungan antara Luna ria dan Lea ria tidak membaik sama sekali. Meskipun wajah mereka kembar identik, sifat dan kehidupan mereka bagaikan langit dan bumi, atau lebih tepatnya... bagaikan api dan es yang saling membenci.

Mereka jarang berbicara. Jika bertemu di lorong istana atau ruang makan, yang ada hanyalah tatapan tajam dan senyuman sinis.

Lea ria menghabiskan waktunya dengan cara "putri sempurna". Ia belajar sihir elemen air, belajar tata krama, bermain harpa, dan selalu berpura-pura lemah lembut agar disayang dan dikasihani oleh semua orang. Ia ingin terlihat berharga.

Sebaliknya, Luna ria...

Luna ria sama sekali tidak tertarik dengan pelajaran sihir yang membosankan itu. Ia juga tidak peduli soal tata krama yang kaku.

Setelah sarapan, seringkali Luna ria akan mengenakan jubah panjang yang nyaman, menaiki kereta kuda sederhana yang ia minta, dan pergi keluar istana.

Ia berkeliling kota Avalon. Mengunjungi pasar-pasar ramai, masuk ke toko buku kuno, mencoba makanan jalanan, atau sekadar duduk di taman kota mengamati manusia dengan kekuatan sihir.

Bagi Luna ria, dunia luar jauh lebih menarik dan penuh pelajaran daripada dikurung di dalam istana yang penuh kepalsuan. Ia bebas melakukan apa saja. Tidak ada yang melarang, karena Lord Valde mar berpikir "biarkan saja dia bersenang-senang sebentar, dia kan anak desa yang belum tahu apa-apa".

Namun, kebebasan Luna ria ini membuat darah Lea ria mendidih setiap hari.

Suatu sore, suasana di ruang keluarga terasa hangat. Lea ria sedang duduk di samping Lady Seraphina, memijat lembut tangan ibunya sambil mengadu manja.

"Ibuuu..." panggil Lea ria dengan suara manja dan lembut.

"Kenapa sayang?" tanya Lady Seraphina sambil membelai rambut putri kesayangannya itu.

Lea ria menghela napas panjang, lalu memasang wajah cemas dan sedikit sedih.

"Bu... Ibu tidak khawatir dengan Kakak Luna ria?"

"Kenapa harus khawatir, sayang?"

"Begini Bu... Kakak Luna ria itu kan... hmm... bagaimana ya mengatakannya. Dia terlalu bebas," ucap Lea ria pelan, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Setiap hari dia selalu keluar istana. Pulang selalu sore, bahkan kadang malam. Dia berjalan-jalan ke pasar yang kotor, berbaur dengan rakyat jelata, makan makanan yang tidak pantas dimakan putri bangsawan."

Lea ria mendekatkan wajahnya ke telinga ibunya.

"Orang-orang di luar sana pada membicarakan kita, Bu. Mereka bilang, putri Star born kelakuannya seperti anak jalanan. Mereka menertawakan kita. Aku takut nama baik keluarga kita jadi jelek karena ulah Kakak Luna ria. Lagipula... dia kan tidak punya sihir, bahaya sekali kalau dia keluar sendiri tanpa perlindungan."

Wajah Lady Seraphina mulai berubah masam. Mendengar putrinya yang "sempurna" berkata begitu, ditambah dengan rasa gengsinya yang tinggi, api kemarahan mulai menyala di dada wanita itu.

"Benarkah begitu? Dia benar-benar melakukan hal memalukan itu?" tanya Lady Seraphina ketus.

"Benar Bu, aku tidak bohong. Aku sayang sama Kakak, tapi aku takut dia nanti malah mencelakakan dirinya atau membuat kita malu di depan kerajaan," sahut Lea ria dengan wajah polos, namun di balik punggung ibunya, sudut bibirnya terangkat senyum puas.

Sempurna. Sekarang tunggu saja saat dia pulang. Ibu pasti akan memarahinya habis-habisan, batin Lea ria penuh kepuasan.

Belum lama berselang, suara roda kereta terdengar sampai ke halaman.

Pintu utama terbuka, dan masuklah Luna ria bersama Ivy. Kedua tangan mereka penuh membawa kantong-kertas belanjaan berisi buku-buku, kain-kain unik, dan oleh-oleh kecil.

Wajah Luna ria terlihat ceria, pipinya merona karena terkena angin sore. Namun, keceriaan itu langsung pudar saat melihat Lady Seraphina duduk di sofa utama dengan wajah datar dan tatapan tajam menusuk.

Lea ria duduk di sampingnya dengan wajah tak bersalah, seolah-olah tidak melakukan apa-apa.

"Luna ria!" seru Lady Seraphina dengan nada tinggi dan dingin. "Kemari sini!"

Luna ria menelan ludah, menyimpan tas belanjaannya ke tangan Ivy, lalu berjalan mendekat dengan langkah tenang.

"Ada apa, Ibu?" tanya Luna ria sopan.

"Apa apa? Kamu masih tanya apa apa?!" bentak Lady Seraphina, bangkit dari duduknya. "Lihat dirimu! Pulang sore membawa barang-barang tidak jelas! Kamu pikir kamu ini siapa?! Pengemis jalanan?! Kamu ini putri keluarga Star born! Bukan anak pasar yang bisa berkeliaran seenaknya!"

"Lea ria bilang, kamu setiap hari keluar masuk gang sempit, makan makanan kotor, dan membuat orang lain menertawakan kita! Kamu malu-maluin keluarga saja tau tidak! Dasar anak tidak punya sopan santun!"

Lady Seraphina melontarkan cacian dan kemarahan bertubi-tubi, didukung oleh tatapan puas Lea ria di belakang.

Ivy di belakang ingin maju membelanya, tapi Luna ria mengangkat tangan sedikit memberi kode untuk diam.

Luna ria tidak melawan. Ia tidak membentak balik.

Bahu gadis itu perlahan terkulai ke bawah. Kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya. Tangannya saling memegang erat di depan perut, tampak gemetar hebat.

Suasana menjadi hening. Lady Seraphina berhenti bicara, menunggu tangisan atau permohonan maaf.

Tiba-tiba... terdengar suara isakan halus.

"Ibu..." suara Luna ria pecah, serak dan penuh kesedihan.

"Apa Ibu... benci sekali pada ku?" tanyanya pelan, air mata mulai jatuh satu per satu membasahi lantai marmer.

"Aku... aku cuma ingin melihat dunia luar, Bu. Selama belas tahun aku hidup, aku dikurung di villa terpencil. Aku tidak pernah boleh keluar, tidak pernah boleh melihat dunia. Aku dikurung karena Ibu dan Ayah malu punya anak cacat sepertiku kan?"

Luna ria mendongak, wajahnya basah oleh air mata, namun matanya memancarkan kepedihan yang mendalam.

"Apa...aku salah melihat kota Avalon yang indah ini, Bu. Aku ingin merasakan apa yang orang lain rasakan. Kalau aku kelakuannya seperti orang desa, maafkan aku... karena memang itulah yang kalian bentuk selama ini. Kalau aku memalukan keluarga, maafkan aku... karena aku memang anak yang tidak diinginkan sejak awal."

Suara Luna ria bergetar hebat.

"Aku pikir dengan pulang ke sini, aku bisa dapat kasih sayang. Ternyata salah... aku tetap saja orang asing di rumah sendiri. Maafkan aku Bu... aku tidak akan keluar lagi. Aku akan dikurung saja di kamar sampai mati, daripada jadi beban dan aib."

Wajah Lady Seraphina berubah pucat pasi.

Jantungnya terasa tertusuk tajam mendengar kata-kata putrinya. Gambaran Luna ria yang kecil, yang ditinggal di villa sunyi, tiba-tiba terbayang jelas di matanya. Rasa bersalah yang selama ini ia kubur dalam-dalam, meledak keluar seketika.

Ya ampun... Apa yang aku katakan?

Dia benar... Kami yang membuangnya. Kami yang membuatnya seperti ini.

"Tidak... tidak sayang..." Lady Seraphina langsung berubah lembut, air matanya ikut keluar. Ia segera memeluk bahu Luna ria yang masih gemetar. "Maafkan Ibu... Maafkan Ibu ya sayang. Ibu tidak bermaksud begitu. Ibu cuma khawatir."

"Ibu tidak benci kamu. Ibu sayang kamu. Sungguh," Lady Seraphina mengusap air mata di pipi Luna ria dengan tangan gemetar. "Kamu benar... Ibu yang salah. Ibu sudah mengabaikanmu terlalu lama. Jadi wajar kalau kamu ingin mengejar waktu yang hilang."

Luna ria membenamkan wajahnya di dada ibunya, menangis tersedu-sedu (atau setidaknya terlihat begitu).

"Jangan pikir begitu lagi ya. Kamu putri Ibu. Harta Ibu, hidup Ibu, semuanya milikmu juga," bisik Lady Seraphina penuh penyesalan.

Dengan cepat, wanita itu berbalik mengambil kotak-kotak perhiasan mewah yang tersimpan di lemari kaca. Kotak-kotak yang biasanya tidak pernah ia sentuh kecuali untuk acara penting, atau bahkan ada yang merupakan koleksi pribadinya yang paling berharga.

"Nah, jangan nangis lagi ya. Ini... ambil ini. Ini hadiah dari Ibu," kata Lady Seraphina sambil menyodorkan kotak-kotak berisi kalung berlian, gelang safir, dan anting-anting mahal. "Pakai yang bagus-bagus. Keluar sana senang-senang saja. Jangan pikirkan omongan orang. Kalau butuh apa-apa bilang sama Ibu. Ibu yang akan belikan."

Luna ria mengangkat wajahnya, mata merah dan bengkak namun tersenyum tipis penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih, Ibu. Ibu memang yang terbaik," bisiknya lembut.

Di sudut ruangan, Lea ria terpaku diam.

Wajahnya pucat dan kaku. Tangannya mengepal kuat sampai kuku memutih.

Apa yang baru saja terjadi?!

Ia datang untuk menjatuhkan Luna ria! Ia datang untuk membuat ibunya membenci kakaknya itu!

Tapi kenapa?! Kenapa hasilnya justru ibunya makin sayang pada Luna ria?! Kenapa Luna ria malah dapat hadiah perhiasan mewah?!

Rasa iri, cemburu, dan marah bercampur menjadi satu di hati Lea ria. Dadanya sesak melihat kalung berlian yang dulu ia minta berkali-kali tapi tidak pernah diberi, kini diberikan begitu saja pada gadis "cacat" itu hanya dengan beberapa tetes air mata!

Dasar penipu! Dasar pembawa sial! geram Lea ria dalam hati, matanya memancarkan kebencian yang semakin membara.

Luna ria menyadarinya. Dari balik bahu ibunya, ia menyempatkan diri melirik ke arah Lea ria, dan sepersekian detik, senyum menangisnya berubah menjadi senyum miring yang penuh kemenangan sebelum kembali berpura-pura sedih.

Permainan ini baru saja mulai menarik, dan Luna ria sangat menikmati setiap detiknya.

1
Frida
kerennnnnnn
Frida
sukaaaaaa.... deg2 an bacanya seruuuuu, belum lagi ditambah adegan romantis 17 thn ke atas...lemgkap sudah...😍😍😍😍
Frida
seru, ada romantisnya juga..buat deg2 an yg baca dan senyum2 sendiri.... kelanjutannya segera up banyak2 dong author please....😍👍
Kusii Yaati
mau seburuk apa riasan mu luna itu tak akan mempan buat pangeran KA El karena dia sudah pernah lihat wajahmu... tapi tidak apa" yang penting sakit hatimu sudah kau balas dengan mempermalukan wajah ayahmu yg kejam itu.semangat Thor nanti up lagi ya Thor 😁💪😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😁😁😁
Kusii Yaati
wah Luna ria hebat, walau tidak punya sihir tapi tubuhnya kebal akan serangan sihir 😱
Kusii Yaati
up lagi Thor yg banyak... penasaran gimana reaksi keluarga Luna ria melihat putri yang di buang menjadi Badas dan kuat 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor seru nih ceritanya 💪💪💪😘😘😘
Rubiyata Gimba
sepertinya ceritanya bagus thor abdit cepat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!