NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Manis Es Krim dan Dua Semesta yang Menyatu

Tatkala lonceng panjang berdentang membebaskan para siswa dari rutinitas kelas, pelataran SMA Bangsa seketika berubah layaknya lautan putih abu-abu. Di tengah arus kepulangan tersebut, Jenawa Adraw berdiri bersandar pada pilar gerbang utama. Ia telah menitipkan pesan singkat kepada Seno untuk tak menunggunya di kedai sore ini. Meski kawan karibnya itu mendengus tak puas, Jenawa tak acuh. Pikirannya telah sepenuhnya tertuju pada selembar kertas undangan yang ia selundupkan siang tadi, dan pada jawaban gadis yang kini tengah ia nanti.

Tak berselang lama, sosok yang ditunggu pun menampakkan diri. Sinaca Tina melangkah keluar dari koridor dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh penatnya jam pelajaran. Gadis itu menenteng tasnya dengan rapi, dan saat pandangannya bersirobok dengan Jenawa, langkahnya sedikit melambat. Ada rona tipis yang kembali menghiasi pipinya, namun ia tetap menegakkan dagu dan menghampiri pemuda tersebut.

"Kukira kau akan membatalkan undangan ini setelah melihat antrean panjang kendaraan di jalan utama," sapa Sinaca saat tiba di hadapan Jenawa.

Jenawa menegakkan tubuhnya, menyunggingkan senyum simpul yang selalu berhasil melucuti pertahanan gadis itu. "Sebuah undangan yang telah disetujui adalah sebuah janji, Sinaca. Dan antrean kendaraan bukanlah halangan yang berarti dibandingkan dengan kesempatan berjalan di sisimu. Mari?"

Sinaca mengangguk pelan, dan keduanya pun mulai melangkah bersisian menyusuri trotoar jalan raya. Udara sore di Kota ini terasa cukup hangat, diwarnai oleh semburat jingga keemasan yang mulai melukis langit ufuk barat. Debu jalanan dan deru mesin kendaraan seolah menjadi harmoni latar yang mengiringi langkah mereka.

Bagi Jenawa, jalan utama ini dulunya hanyalah medan untuk mempertahankan wilayah dan adu nyali. Namun sore ini, aspal yang sama terasa seperti permadani yang mengantarkannya pada sebuah kedamaian asing. Ia berjalan di sisi luar trotoar, memosisikan tubuh tegapnya sebagai tameng alami antara Sinaca dan laju kendaraan yang berlalu-lalang. Sebuah gestur perlindungan yang dilakukan tanpa kata, namun disadari sepenuhnya oleh gadis di sebelahnya.

"Kau tampak sangat berhati-hati, Jenawa," tegur Sinaca pelan, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka. "Apakah kau masih mengkhawatirkan anak-anak Pelita yang gemar mencari perkara?"

"Aku tak pernah membiarkan kewaspadaanku mati, Sinaca," jawab Jenawa tenang. Matanya tetap awas menatap ke depan. "Namun untuk sore ini, aku tak mencari musuh. Aku hanya memastikan kau tidak terserempet oleh pengendara yang ceroboh."

Sinaca terdiam, menundukkan pandangannya seraya menyembunyikan senyum kecil.

Langkah mereka akhirnya membawa mereka ke ujung jalan raya, tepat di depan sebuah gerobak es krim tradisional yang bernaung di bawah pohon angsana yang rimbun. Pak penjual es krim, seorang pria paruh baya yang ramah, tersenyum lebar menyambut kedatangan dua remaja tersebut.

"Selamat sore, Mas, Mbak. Tumben sekali jalan berdua, biasanya Mas ini selalu berombongan dengan kawan-kawannya yang bersuara keras itu," sapa sang penjual dengan nada jenaka.

Jenawa tertawa pelan, tak sedikit pun merasa tersinggung. "Sore ini saya sedang ingin ketenangan, Pak. Tolong berikan dua porsi es krim yang paling lezat. Satu rasa cokelat, dan satu lagi..." Jenawa menoleh ke arah Sinaca, meminta persetujuan.

"Vanila," sahut Sinaca lugas.

"Baik, satu cokelat dan satu vanila," ulang Jenawa.

Tak lama, dua tangkup es krim berlapis roti tawar berpindah ke tangan mereka. Keduanya mengambil tempat duduk di bangku kayu panjang yang disediakan di sebelah gerobak. Angin sore berembus pelan, membawa kesejukan yang menggugurkan daun-daun angsana.

Sinaca menggigit kecil es krimnya, merasakan sensasi dingin dan manis yang lumer di lidah. Ia menoleh menatap Jenawa yang tengah menikmati es krim cokelatnya dalam diam.

"Kau benar, Jenawa," ucap Sinaca tiba-tiba, membuat pemuda itu menoleh. "Es krim ini cukup sepadan dengan waktuku sore ini. Bahkan, mungkin lebih dari sepadan."

Mendengar pengakuan yang meluncur tulus dari bibir Sinaca, senyum di wajah Jenawa mengembang kian lebar. Ia menumpukan sebelah sikunya di atas lutut, menatap gadis itu dengan binar mata yang teramat teduh.

"Aku senang jika kau menikmatinya," balas Jenawa, suaranya merendah dan mengalun syahdu. "Di duniaku yang biasanya dipenuhi oleh kepalan tangan dan intrik jalanan, manisnya sore ini adalah sebuah kemewahan yang tak ternilai, Sinaca."

Sinaca balas menatap manik mata kelam pemuda itu. Ia bisa melihat lelah yang tersembunyi di balik ketangguhan Sang Panglima. Tanpa sadar, Sinaca mengulurkan tangannya, mengusap pelan sisa remah roti yang menempel di sudut bibir Jenawa.

Sentuhan jemari yang teramat singkat itu bagaikan sengatan listrik bervoltase rendah yang menghentikan detak jantung Jenawa sesaat. Sinaca sendiri segera menarik tangannya, terkejut oleh keberaniannya sendiri. Rona merah seketika meledak di kedua pipinya.

"M-maaf, ada remahan di sudut bibirmu," gugup Sinaca, memalingkan wajahnya dan menatap jalanan dengan salah tingkah.

Jenawa menyentuh sudut bibirnya sendiri, senyumnya kini tak bisa lagi dibendung. "Tidak perlu meminta maaf untuk sebuah perhatian, Sinaca. Jika begini caranya, aku rela es krim ini berantakan di wajahku setiap hari."

"Jenawa!" tegur Sinaca dengan nada formalnya yang kembali muncul sebagai bentuk pertahanan diri, meski matanya tak bisa menyembunyikan lengkungan tawa.

Sore itu, di bawah rimbunnya angsana dan bisingnya jalan utama, sekat pemisah antara dunia kekerasan Jenawa dan dunia tenang Sinaca perlahan mencair, semanis es krim vanila yang lumer di bawah pelukan senja. Mereka tak lagi sekadar dua kutub yang bertolak belakang, melainkan dua jiwa yang bersedia berjalan beriringan.

1
Purnamanisa
badboy nih... seru keknya 😁😁
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!