NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 Ternyata Nyaman

Nandini kukuh pada pendiriannya. Ia tak mau menukar permintaan dengan sang suami. Santaka kembali hanya tersenyum menanggapinya.

Setelah sarapan, mereka keluar dari tenda. Berjalan-jalan di area luar glamping. Baju hangat mereka rapatkan. Ritsleting jaket Nandini tiba-tiba macet.

“Gus, bentar, jaket saya ndak bisa diresleting.” Nandini menarik-narik ritsleting jaketnya. 

“Kenapa tho? Hhmm, tukeran saja sama punya saya, mau? Kasian, Mbak Dini, dingin kalau ndak diresleting.” Santaka bersiap membuka sweaternya.

“Ndak usahlah, Gus. Saya masih bisa tahan, kok.”

“Ndak, pake punya saya. Sekarang lepas punya Mbak Dini... atau mau saya yang lepasin?” Santaka memegang ujung jaket Nandini sambil mengulum senyum.

Nandini menepis tangan kokoh itu. “Mau nolong apa modus sih, Gus?!” Nandini merengut. Santaka terkekeh.

Sang montir akhirnya mengalah, daripada ada adegan lucut paksa. Di mata Nandini, suaminya itu halus halus mematikan. 

Bisa memaksa tapi tak terlihat memaksa, karena apa yang dipaksa memang baik dan cara penyampaiannya yang lembut. Susah memang level gus.

Mereka resmi bertukar jaket. Untung saja Nandini membawa baju hangat ukuran oversized, jadi muat di Santaka. Hasilnya seperti jaket body fit di tubuh sang gus.

Udara dingin membuat perut mudah keroncongan. Santaka dan Nandini sepakat untuk menikmati sarapan kedua. 

Menu yang dipilih adalah jadah tempe. Yang pedas. Membakar tubuh jadi tidak kalah oleh dinginnya Tawangmangu. 

Sambil menikmati turunnya kabut, pasutri itu memanjakan lidah mereka. Makan kembali menjadi pengikat keduanya.

“Kenapa Mbak Dini jadi montir? Perempuan biasanya anti kotor. Terus itu kan dunia laki-laki.” 

Santaka mencubit jadahnya. Tipikal orang kuliner, mencoba satu persatu jenis makanan. Sebelum akhirnya dimakan bersamaan seperti pada umumnya.

Nandini mencaplok jadah tempenya sekaligus. Memang umumnya itulah cara memakan jadah tempe.

“Ya, karna seumur idup taunya ngebengkel. Ibu meninggal waktu saya enam tahun. Bapak ngurus saya sendiri...

Ngurus anak, tapi harus kerja... Jadinya saya dibawa Bapak kerja ke bengkel. 

Mulai deh akrab sama alat-alat bengkel, onderdil, mesin. Keterusan sampe sekarang.” Nandini menatap nanar ke arah rumput.

Santaka tersenyum sambil mengangguk. “Keren Mbak. Itu skill yang ndak dipunya banyak orang, apalagi perempuan.”

Nandini tersenyum mendengar pujian suaminya. “Kalau Gus Taka, kenapa bikin kue? Itu kan dunia perempuan.”

“Kata siapa? Dunia kuliner profesional itu malah dominasinya laki-laki lho, apalagi internasional.” Santaka tersenyum simpul.

“Oh ya?” Nandini mengerutkan alis.

“Iya. Kitchen itu dunia yang keras Mbak. Harus kuat fisik dan mental. Saya dipandang aneh karna tolak ukurnya dapur rumah tangga. 

Kalau di dapur profesional, kayak saya, biasa banget.” Santaka menutup penjelasannya dengan senyum manis. 

Nandini tak bisa tak membalas senyuman itu. Terlalu manis. 

Santaka di mata Nandini tak sama lagi. Suaminya ternyata tak seaneh seperti yang ia pikirkan saat sebelum menikah. 

Punya skill mengolah rasa itu membanggakan dan menyenangkan. Nandini telah merasakannya selama bulan madu ini.

Setelah sarapan jadah, mereka bermain salju buatan di The Lawu Park. Tawa mereka pecah di sana. 

Dengan beraninya Nandini memasukkan salju buatan ke punggung Santaka. Sangat tak mencerminkan citra istri salihah. 

Tega nian Nandini. Sudahlah Santaka memakai jaket tak bisa diritsleting, harus menahan dingin salju buatan.

Tapi Santaka tak marah, ia merasa ini adalah bonding yang sedang mereka bangun. Ia hanya terkekeh sambil melonjak-lonjak agar benda dingin itu luruh dari punggungnya.

Merasa tak enak, Nandini menarik bagian belakang jaket dan kaus Santaka agar proses peluruhan salju buatan lebih mudah. “Maaf, Gus.”

“Iya, dimaafkan.” Santaka menunduk dan mengeruk salju segenggamannya. Ia simpan di atas kepala Nandini, kemudian berlari sambil tergelak.

“Gus Takaaa, reseek!” Nandini menyingkirkan es buatan di kepalanya sambil cemberut. Tau gitu tadi ndak dibantuin.

Petualangan mereka berlanjut ke Sakura Hills. Mereka berfoto bersama menggunakan kimono sewaan. Mengabadikan kenangan bersama yang pertama.

“Nanti kita ke Jepang, yuk Mbak.” Santaka tampak berlipat ganda ketampanannya memakai kimono. Nandini menyadarinya. 

Bisa-bisanya ganteng pake kimono sewaan. Eh, kenapa jadi muji dia?

“Ke Korea aja...” Nandini berswafoto. Ia juga merasa cantik menggunakan kimono. Sedikit narsis.

“Siap, istriku... Doain SS makin sukses ya. Nanti Mbak Dini, mau ke mana, insyaa Allah saya turutin.” Santaka menatap Nandini sambil tersenyum manis.

Nandini menunduk. Ada desir halus yang ia rasakan. Kimono sewaan benar-benar berpengaruh terhadap suasana hatinya. 

Sepertinya harus buru-buru dicopot. Bahaya, Nandini takut terpesona pada Santaka.

Sekitar pukul dua siang, Santaka membawa istrinya kembali ke Ndalem. Mansur dan Lastri telah menanti kedatangan pasutri baru itu.

Santaka dan Nandini mencium tangan orang tua mereka. “Senang Le, Nduk?”

“Alhamdulillah senang, Umi, Abi. Maaf cuma bawa oleh-oleh jadah tempe. Ndak sempat cari oleh-oleh. Kata Gus Taka takut kesorean.” 

Nandini mengangsurkan besek berukuran sedang pada ibu mertuanya. Santaka tersenyum simpul.

“Masih diingat dibawakan oleh-oleh sama yang bulan madu, Umi sudah senang tenan, Nduk. Terima kasih ya.” 

Nandini tersenyum. Ia selalu menyukai gaya keibuan Lastri.

Mansur meminta besek itu dibuka. Ia penyuka jadah tempe. Lastri melayaninya.

“Le, Nduk, sana istirahat. Siapa tahu bulan madu ini menghasilkan. Umi sama Abi, bisa dapet cucu dari kalian.” Lastri terkekeh. Mansur tersenyum.

Santaka tersenyum tipis sambil melirik ke arah istrinya. Nandini hanya bisa tersenyum kaku.

*

*

Kehidupan terus bergulir. Suami istri terpaksa itu kini telah menjalani hubungan mereka selama dua belas hari.

Tidur masih berpagar guling namun tetap mesra di depan warga Ndalem. Demi menyenangkan Abi dan Umi. Selalu itu alasan Santaka.

Nandini menuruti skenario itu. Bentuk respek pada Santaka. Bagaimanapun, suaminya itu tetap memegang janji untuk tak menyentuhnya, sampai ia siap.

Tak semua lelaki mau dan mampu. Nandini salut pada suaminya, namun tetap saja hatinya belum terbuka. Belum menerima sepenuhnya pernikahan mereka.

Setiap sehabis salat, baik berjamaah di masjid Al Fatih atau berdua dengan Nandini, Santaka tetap menawarkan tukar permintaan. Gus yang konsisten.

“Mbak Dini ndak kangen sama mesin?” Sehabis salat Magrib di masjid, Santaka bersiap tilawah.

Ih tau saja aku lagi kangen banget ngebengkel. Keliatan banget ya dari mukaku?

“Pikir sendiri saja, Gus, kira-kira gimana?” Nandini melengos.

Nandini juga sedang mengaji. Santaka memintanya. Minimal sehabis Magrib, mengaji. Cukup dua sampai tiga ayat saja.

Santaka terkekeh. “Padahal tawaran dari saya, mau dibikin naek level lho.”

“Apaan? Gaya banget pake naek level segala.”

“Jadi... selain boleh manasin mobil sama motor saya, maintenance mobil sama motor saya itu, saya serahin ke Mbak Dini.

Lumayan tho Mbak, ngurangin rindu sama bengkel? Masa ndak mau sih?” Santaka menaik-turunkan alisnya.

Nandini menoleh cepat ke arah Santaka. Tak menyangka akan penawaran sang suami.

Dhuh, tawarannya menggoda banget. Gus, kenapa tho pamrih? Gimana ini, ambil apa ndak?

Nandini terdiam lama. Ia membolak-balik lembaran Al Qur’an di depannya. Bibirnya, ia gigit. Matanya menatap lantai kamar.

“Ya sudah Gus, setuju.” Suara Nandini terdengar mencicit. 

“Alhamdulillah. Yuk, mulai sekarang. Waktu itu kan sudah manasin mobil sebelum berangkat ke Tawangmangu.” Santaka menepuk pahanya sambil tersenyum menggoda. 

“Ya Allah, Gus itu sudah mau dua minggu. Perhitungan banget!” Nandini memiringkan bibirnya.

“Janji adalah janji, Mbak. Seperti hutang, harus ditepatin.” Santaka tersenyum simpul.

Nandini merengut. Ia merangkak dengan ogah-ogahan. Perlahan kepalanya ia letakkan di tungkai atas sang suami. Tak terlalu empuk, agak liat. Pertanda tubuh kokoh.

Wangi khas tubuh Santaka, spicy woody, terhidu oleh hidung Nandini. Ia memejamkan mata.

Dada Nandini terasa berdebar. Ia tak pernah sedekat ini dengan tubuh lelaki, bahkan dengan Alex, sang mantan pacar. 

Nandini memilih miring ke arah luar. Jika telentang, ia harus melihat wajah Santaka terus menerus, ia tak mau. Wajah Santaka sekarang berbahaya buat jantungnya.

Jika miring ke arah sebaliknya, maka perut dan daerah inti Santaka yang akan menjadi pemandangannya. Terlalu horor.

Lantunan ayat suci mulai mengalun dari bibir Santaka. Suara itu merdu. Cara membacanya tak berlebihan. 

Menenangkan. Telinga Nandini terasa seperti dibelai oleh suara itu.

Nandini tersenyum kecil. Ternyata rasanya tak semenyeramkan itu. Tak buruk-buruk amat. Malah... nyaman.

1
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
Inna Kurnia: saaabaaar 😂😂
total 1 replies
Nanik Arifin
Sabara ya Gus.... Insyaa sekali lsg jadi, kan g lemah 🤭🤭
Inna Kurnia: joss yaa Kak Nanik 😂😂
total 1 replies
Nanik Arifin
kapok loe, yai sableng 🤣🤣🤣
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣🤣 yai baik kok 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
2 kataaaa...
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: siaaap kakak, pantengin terus yaaa❤️🙏
total 5 replies
Nanik Arifin
kan... belain kesalahan Ahsan lagi... dah suruh yai Mahmud bawa pulang si Gus ganjen ke Al Irsyad Magelang lagi. bikin geregetan aj.
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
Inna Kurnia: tidur kak, apa mau ditemenin ahsan tidurnya?🤭😂
total 1 replies
Aisyah 3
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
Inna Kurnia: 😂😂😂😂😂😂
total 3 replies
Aisyah 3
Mahmud kmu bosan hidup yaaa.... tancep paku nih palamu biar kek mbak kunti 😏😤
Inna Kurnia: wkwkw, serem kali si kakak 🤭😂
total 1 replies
Nanik Arifin
putramu yai Mahmud... 🤦🏻‍♀️ yg dlu sikapnya kau menangkan dr Gus Taka ( hg sptnya membuatTaka memiliki trauma) tetap aj kalah dr putra bungsu yai Mansyur
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj
Inna Kurnia: Ahsan kebanyakan maen motor, Kak Nanik, jadi masuk angin ampe ke pemikirannya 🤭❤️🙏
total 1 replies
Aisyah 3
Duh belibet kali lah ngomongnya... muak pulaaa 😏 tabok aja gin langsung pala nya Ahsan tuh.. geram banget, ciriciri manusia sampahhh nih 😤
Aisyah 3: gaskuy kak.. sebelum ganti akun, aku mau tidur 🤣
total 4 replies
Zafira Nisa
Bagus.. ceritanya menarik, GK pasaran
Inna Kurnia: alhamdulillah, semoga cocok sampai tamat ya Kak Zafira ❤️❤️

terima kasih untuk penilaiannya ❤️🙏
total 1 replies
Nanik Arifin
Abi atau Danendra ya tegur Ahsan ya... semoga mereka segera sadar & mendepak Ahsan. agar tak jd duri dlm daging di ponpes Al Fatih
Inna Kurnia: Sensornya pada lemah kalo sama sesama gus, sama Dini kenceng bgt ya kalau salah, ya Kak Nanik 🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
pliss deh tabok aja muka Ahsan dan bapakny.. gemes banget deh pen nyolok juga matanya jelalatan ke istri orang 😏😏
Aisyah Virendra: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
Aisyah Virendra
dih... pimpinan pondok ko merokokny ngebut.. lagi pula merokok itu bagian dari pemborosan dan banyak mudhorotnya untuk kesehatan tubuh.
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣🤣 🤣🤣
total 11 replies
Nadia Zalfa
pngen lihat klu si polisi kena ujian mau gimana itu
Inna Kurnia: Hihihi, sabar ya Kak Nadia... nanti Sarah pelan-pelan makin... nyebelin, hehehhe... Sarah baik kok, asli 🤭❤️🙏
total 1 replies
Nanik Arifin
yg nunggu unboxing, unboxingnya bulan depan ya.... 🤭
Inna Kurnia: Biar saling mengenal dulu Kak Nanik, jd joss ntar 🤭❤️🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr😍
Inna Kurnia: Hi, Kak Rian, selamat datang. Semoga cocok ya sama cerita Santaka-Nandini. terima kasih ❤️❤️🙏🙏
total 1 replies
Aisyah Virendra
Diiihhh Ahsan jangan kira bisa ngerebut Dini dari Taka yaaa.. minta ditendang ke pluto kek nya 😏
Inna Kurnia: duh, jauh banget, Kak 🤣🤣
total 1 replies
Aisyah Virendra
duh jadi mesam mesem dewe 🤣🤣🤣🤣🤣 akhirnya Ahsan kena sentil Santaka 🫣
Inna Kurnia: aamiin ya Allah.❤️❤️🙏🙏
total 5 replies
Aisyah Virendra
bentar lagiiii ngintip unboxing Gus Taka n Nandini ah 🫣🤣🤣 seru kek nyaaa 🤏🤭
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🙏
total 5 replies
Aisyah Virendra
aihhhh mulai deh jurus Uler keketnya Syifa keluar.. katanya Ning tapi ko anuhh 🫣
Inna Kurnia: Ning juga manusia kak 🤭❤️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!