Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 Ternyata Nyaman
Nandini kukuh pada pendiriannya. Ia tak mau menukar permintaan dengan sang suami. Santaka kembali hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah sarapan, mereka keluar dari tenda. Berjalan-jalan di area luar glamping. Baju hangat mereka rapatkan. Ritsleting jaket Nandini tiba-tiba macet.
“Gus, bentar, jaket saya ndak bisa diresleting.” Nandini menarik-narik ritsleting jaketnya.
“Kenapa tho? Hhmm, tukeran saja sama punya saya, mau? Kasian, Mbak Dini, dingin kalau ndak diresleting.” Santaka bersiap membuka sweaternya.
“Ndak usahlah, Gus. Saya masih bisa tahan, kok.”
“Ndak, pake punya saya. Sekarang lepas punya Mbak Dini... atau mau saya yang lepasin?” Santaka memegang ujung jaket Nandini sambil mengulum senyum.
Nandini menepis tangan kokoh itu. “Mau nolong apa modus sih, Gus?!” Nandini merengut.
Santaka terkekeh. "Kalau bisa sekalian, kenapa ndak tho, Mbak? Kan sama istri sendiri."
Sang montir akhirnya mengalah, daripada ada adegan lucut paksa. Di mata Nandini, suaminya itu halus halus mematikan. Bisa memaksa tapi tak terlihat memaksa, karena apa yang dipaksa memang baik dan cara penyampaiannya yang lembut. Susah memang level gus.
Mereka resmi bertukar jaket. Untung saja Nandini membawa baju hangat ukuran oversized, jadi muat di Santaka. Hasilnya seperti jaket body fit di tubuh sang gus.
Udara dingin membuat perut mudah keroncongan. Santaka dan Nandini sepakat untuk menikmati sarapan kedua. Menu yang dipilih adalah jadah tempe. Yang pedas. Membakar tubuh jadi tidak kalah oleh dinginnya Tawangmangu.
Sambil menikmati turunnya kabut, pasutri itu memanjakan lidah mereka. Makan kembali menjadi pengikat keduanya.
“Kenapa Mbak Dini jadi montir? Perempuan biasanya anti kotor. Terus itu kan dunia laki-laki.”
Santaka mencubit jadahnya. Tipikal orang kuliner, mencoba satu persatu jenis makanan. Sebelum akhirnya dimakan bersamaan seperti pada umumnya.
Nandini mencaplok jadah tempenya sekaligus. Memang umumnya itulah cara memakan jadah tempe.
“Ya, karna seumur idup taunya ngebengkel. Ibu meninggal waktu saya enam tahun. Bapak ngurus saya sendiri... Ngurus anak, tapi harus kerja... Jadinya saya dibawa Bapak kerja ke bengkel.
Mulai deh akrab sama alat-alat bengkel, onderdil, mesin. Keterusan sampe sekarang.” Nandini menatap nanar ke arah rumput.
Santaka tersenyum sambil mengangguk. “Keren Mbak. Itu skill yang ndak dipunya banyak orang, apalagi perempuan.”
Nandini tersenyum mendengar pujian suaminya. “Kalau Gus Taka, kenapa bikin kue? Itu kan dunia perempuan.”
Santaka terdiam. Ia menghela napas panjang. Sedikit kecewa ternyata Nandini menilainya sama saja dengan yang lain. Membuat kue adalah tugas perempuan. Ada sisi hatinya yang tercubit.
Bukan bermaksud tak seimbang terhadap penilaian profesi montir istrinya. Montir memang masih jarang dikuasai perempuan. Berbeda dengan dunia dapur. Lagipula, kata tugas perempuan itu, membuatnya sesak.
“Kata siapa? Dunia kuliner profesional itu malah dominasinya laki-laki lho, apalagi internasional.” Santaka tersenyum simpul.
“Oh ya?” Nandini mengerutkan alis.
“Iya. Kitchen itu dunia yang keras Mbak. Harus kuat fisik dan mental. Saya dipandang aneh karna tolak ukurnya dapur rumah tangga. Kalau di dapur profesional, kayak saya, biasa banget.” Santaka menutup penjelasannya dengan senyum manis.
Nandini tak bisa tak membalas senyuman itu. Terlalu manis. Santaka di mata Nandini tak sama lagi. Suaminya ternyata tak seaneh seperti yang ia pikirkan saat sebelum menikah.
Punya skill mengolah rasa itu membanggakan dan menyenangkan. Nandini telah merasakannya selama bulan madu ini.
Setelah sarapan jadah, mereka bermain salju buatan di The Lawu Park. Tawa mereka pecah di sana. Dengan beraninya Nandini memasukkan salju buatan ke punggung Santaka. Sangat tak mencerminkan citra istri salihah.
Tega nian Nandini. Sudahlah Santaka memakai jaket tak bisa diritsleting, harus menahan dingin salju buatan.
Tapi Santaka tak marah, ia merasa ini adalah bonding yang sedang mereka bangun. Ia hanya terkekeh sambil melonjak-lonjak agar benda dingin itu luruh dari punggungnya.
Merasa tak enak, Nandini menarik bagian belakang jaket dan kaus Santaka agar proses peluruhan salju buatan lebih mudah. “Maaf, Gus.”
“Iya, dimaafkan.” Santaka menunduk dan mengeruk salju segenggamannya. Ia simpan di atas kepala Nandini, kemudian berlari sambil tergelak.
“Gus Takaaa, reseek!” Nandini menyingkirkan es buatan di kepalanya sambil cemberut. Tau gitu tadi ndak dibantuin.
Petualangan mereka berlanjut ke Sakura Hills. Mereka berfoto bersama menggunakan kimono sewaan. Mengabadikan kenangan bersama yang pertama.
“Nanti kita ke Jepang, yuk Mbak.” Santaka tampak berlipat ganda ketampanannya memakai kimono. Nandini menyadarinya.
Bisa-bisanya ganteng pake kimono sewaan. Eh, kenapa jadi muji dia?
“Ke Korea aja...” Nandini berswafoto. Ia juga merasa cantik menggunakan kimono. Sedikit narsis.
“Siap, istriku... Doain SS makin sukses ya. Nanti Mbak Dini, mau ke mana, insyaa Allah saya turutin.”
Santaka menatap Nandini sambil tersenyum manis. Di matanya sekarang, sang istri terlihat lebih bersinar di balik kimono sewaan. Keanggunan yang biasanya tertutup oleh sifat tomboynya memancar karena baju tradisional itu.
Nandini menunduk. Ada desir halus yang ia rasakan. Kimono sewaan benar-benar berpengaruh terhadap suasana hatinya. Sepertinya harus buru-buru dicopot. Bahaya, Nandini takut terpesona pada Santaka.
Sekitar pukul dua siang, Santaka membawa istrinya kembali ke Ndalem. Mansur dan Lastri telah menanti kedatangan pasutri baru itu.
Santaka dan Nandini mencium tangan orang tua mereka. “Senang Le, Nduk?”
"Alhamdulillah, Umi," jawab Santaka. Ia menoleh ke arah Nandini. Menunggu jawaban sang istri.
“Alhamdulillah senang, Umi, Abi. Maaf cuma bawa oleh-oleh jadah tempe. Ndak sempat cari oleh-oleh. Kata Gus Taka takut kesorean.”
Nandini mengangsurkan besek berukuran sedang pada ibu mertuanya. Santaka tersenyum simpul. Senang mendengar jawaban Nandini.
“Masih diingat dibawakan oleh-oleh sama yang bulan madu, Umi sudah senang tenan, Nduk. Terima kasih ya.”
Nandini tersenyum. Ia selalu menyukai gaya keibuan Lastri.
Mansur meminta besek itu dibuka. Ia penyuka jadah tempe. Lastri melayaninya.
“Le, Nduk, sana istirahat. Siapa tahu bulan madu ini menghasilkan. Umi sama Abi, bisa dapet cucu dari kalian.” Lastri terkekeh. Mansur tersenyum.
Santaka tersenyum tipis sambil melirik ke arah istrinya. Nandini hanya bisa tersenyum kaku.
*
*
Kehidupan terus bergulir. Suami istri terpaksa itu kini telah menjalani hubungan mereka selama dua belas hari.
Tidur masih berpagar guling namun tetap mesra di depan warga Ndalem. Demi menyenangkan Abi dan Umi. Selalu itu alasan Santaka.
Nandini menuruti skenario itu. Bentuk respek pada Santaka. Bagaimanapun, suaminya itu tetap memegang janji untuk tak menyentuhnya, sampai ia siap.
Tak semua lelaki mau dan mampu. Nandini salut pada suaminya, namun tetap saja hatinya belum terbuka. Belum menerima sepenuhnya pernikahan mereka.
Setiap sehabis salat, baik berjamaah di masjid Al Fatih atau berdua dengan Nandini, Santaka tetap menawarkan tukar permintaan. Gus yang konsisten.
“Mbak Dini ndak kangen sama mesin?” Sehabis salat Magrib di masjid, Santaka bersiap tilawah.
Ih tau saja aku lagi kangen banget ngebengkel. Keliatan banget ya dari mukaku?
“Pikir sendiri saja, Gus, kira-kira gimana?” Nandini melengos. Ia juga sedang mengaji. Santaka memintanya. Minimal sehabis Magrib, mengaji. Cukup dua sampai tiga ayat saja.
Santaka terkekeh. “Padahal tawaran dari saya, mau dibikin naek level lho.” Santaka mencoba strategi baru. Istrinya ini ternyata sangat persisten. Harus diberi gebrakan.
“Apaan? Gaya banget pake naek level segala.” Nandini mencebik.
“Jadi... selain boleh manasin mobil sama motor saya, maintenance mobil sama motor saya itu, saya serahin ke Mbak Dini. Lumayan tho Mbak, ngurangin rindu sama bengkel? Masa ndak mau sih?” Santaka menaik-turunkan alisnya.
Nandini menoleh cepat ke arah Santaka. Tak menyangka akan penawaran sang suami.
Dhuh, tawarannya menggoda banget. Gus, kenapa tho pamrih? Gimana ini, ambil apa ndak?
Nandini terdiam lama. Ia membolak-balik lembaran Al Qur’an di depannya. Bibirnya, ia gigit. Matanya menatap lantai kamar.
“Ya sudah Gus, setuju.” Suara Nandini terdengar mencicit.
Santaka tersenyum lebar. “Alhamdulillah. Yuk, mulai sekarang. Waktu itu kan sudah manasin mobil sebelum berangkat ke Tawangmangu.” Santaka menepuk pahanya sambil tersenyum menggoda. Ganti mode, persiapan ditiduri, pahanya.
“Ya Allah, Gus itu sudah mau dua minggu. Perhitungan banget!” Nandini memiringkan bibirnya.
“Janji adalah janji, Mbak. Seperti hutang, harus ditepatin.” Santaka tersenyum simpul.
Nandini merengut. Ia merangkak dengan ogah-ogahan. Perlahan kepalanya ia letakkan di tungkai atas sang suami. Tak terlalu empuk, agak liat. Pertanda tubuh kokoh.
Wangi khas tubuh Santaka, spicy woody, terhidu oleh hidung Nandini. Ia memejamkan mata. Dada Nandini terasa berdebar. Ia tak pernah sedekat ini dengan tubuh lelaki, bahkan dengan Alex, sang mantan pacar.
Nandini memilih miring ke arah luar. Jika telentang, ia harus melihat wajah Santaka terus menerus, ia tak mau. Wajah Santaka sekarang berbahaya buat jantungnya.
Jika miring ke arah sebaliknya, maka perut dan daerah inti Santaka yang akan menjadi pemandangannya. Terlalu horor.
Santaka mengulum senyum. Melihat wajah cantik itu di atas pahanya adalah satu bentuk syukurnya untuk hari ini. Ia semakin yakin, kelembutan hati istrinya akan semakin terwujud.
Lantunan ayat suci mulai mengalun dari bibir Santaka. Suara itu merdu. Cara membacanya tak berlebihan.
Menenangkan. Telinga Nandini terasa seperti dibelai oleh suara itu. Nandini tersenyum kecil. Ternyata rasanya tak semenyeramkan itu. Tak buruk-buruk amat. Malah... nyaman.
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭