Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sebelum Yudha sempat pulih dari rasa terkejutnya, Mbak Ratna sudah menghambur ke arahnya. Merasakan dekapan yang begitu erat, Yudha merasakan sensasi kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ini benar-benar berbeda dari pengalamannya bersama Gisel ataupun Yasmin. Pantas saja banyak pria yang lebih menyukai wanita dewasa yang berlekuk indah; rasanya memang jauh berbeda! Namun, Yudha merasa situasinya kini sedikit aneh; seolah-olah peran mereka sedang terbalik. Ia membalas dekapan itu dengan gairah yang sama besarnya, membiarkan jemarinya menjelajah setiap jengkal kelembutan kulit Ratna.
Pertempuran yang dinamis dan intens pun meledak di dalam ruang privat yang sunyi itu.
......................
Keesokan paginya, saat Yudha membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah seluruh tubuhnya seolah akan rontok, dan kepalanya berdenyut hebat. Ia mengerjapkan mata, menoleh ke sekeliling, dan terperanjat mendapati dirinya masih berada di tempat tidur ini. Kemudian, melihat tubuh Ratna yang begitu memesona di sampingnya, Yudha kehilangan kata-kata. Ia mencoba merangkai kembali serpihan ingatan tentang apa yang terjadi semalam.
Namun, ketika Yudha menyadari bahwa ia baru saja tidur dengan seorang Wakil Bupati, rasa cemas mulai merayapinya. "Apa aku benar-benar seberani itu? Apa yang akan dilakukan Mbak Ratna kalau bangun nanti? Apa dia akan lapor polisi dan menyuruh mereka menangkapku?" Yudha semakin gugup.
Yudha buru-buru memunguti pakaiannya dan memakainya dengan tergesa-gesa. Ia ingin segera menyelinap pergi sebelum Mbak Ratna terbangun. Jika wanita itu tidak menyadari keberadaannya saat bangun, mungkin dia akan menganggap semua itu hanya mimpi! Namun, tepat saat Yudha hendak melangkah keluar dengan tenang, sebuah suara lembut terdengar dari belakangnya.
"Yudha... kamu benar-benar tega meninggalkan Mbak seperti ini?"
Kata-kata itu bagaikan hantaman batu besar yang membuat langkah Yudha terhenti seketika. Ia terdiam kaku. Perlahan, ia menoleh ke arah kakaknya itu. Dengan senyum canggung, ia menyapa, "Mbak... sudah bangun?"
Saat ini, Mbak Ratna mengenakan gaun tidur transparan yang memperlihatkan sekilas kulit putih susunya. Rambutnya yang sedikit berantakan memberikan kesan dewasa yang sangat menggoda. Aura wanita matang terpancar kuat dari dirinya, membuat Yudha terpaku. Desakan gairah yang tiba-tiba muncul kembali hampir membuatnya ingin melakukan "kenakalan" sekali lagi.
"Yudha, apa kamu masih mau sama Mbak setelah ini?" Ratna menyibak rambut dari keningnya dan menatap Yudha dengan senyum menawan. Suaranya terdengar begitu menggoda, membuat jantung Yudha berdegup kencang.
"Mbak... aku..."
Yudha tidak bisa lagi menahan diri. Ia menarik Mbak Ratna ke dalam pelukannya. Aroma parfum yang memikat membangkitkan insting purbanya. Ia membaringkan wanita cantik itu kembali ke tempat tidur, dan ronde kedua pun dimulai seketika. Hanya saja kali ini, gerakan mereka jauh lebih lembut dan penuh perasaan.
Yudha menyadari satu hal; meskipun Mbak Ratna sudah berusia tiga puluhan, ia terasa lebih polos dan minim pengalaman dibanding dirinya. Mengingat suaminya meninggal tepat sehari setelah pernikahan, jelas wanita ini belum sempat mencicipi manisnya dunia asmara secara utuh. Selama bertahun-tahun ia hidup dalam kesendirian yang menyesakkan. Tak heran jika gairahnya begitu meluap-luap hingga Yudha sendiri hampir kewalahan mengimbanginya.
Setelah pergulatan emosional kedua itu usai, Yudha berbaring di atas tubuh Ratna, menyandarkan kepalanya dengan nyaman.
"Mbak, kenapa Mbak suka padaku?"
Ratna menatap Yudha yang berbaring di pelukannya dengan tatapan yang sangat teduh. Ia menghela napas panjang. "Karena kamu sangat mirip dengan adik laki-lakiku."
Yudha mengernyitkan dahi. Ia baru ingat Mbak Ratna pernah bercerita tentang adiknya yang meninggal tragis saat mencoba menyelamatkan orang lain di usia yang sama dengannya. Mendengar ini, Yudha merasa seolah ia hanyalah sebuah pengganti. Tentu saja, Ratna tidak bermaksud mengatakan hal yang aneh tentang adiknya, melainkan ia memindahkan rasa kasih sayang itu kepada Yudha karena kemiripan mereka. Kebaikan-kebaikan yang Yudha lakukan membuat bayangan adiknya hadir kembali, yang kemudian berkembang menjadi perasaan cinta yang berbeda.
Tetap saja, ada rasa tidak nyaman yang mengganjal di hati Yudha.
"Yudha, aku tidak bermaksud menjadikanmu sekadar pengganti. Aku benar-benar menyukaimu, hanya saja..." Ratna menjelaskan dengan nada gugup, seolah takut membuat pemuda itu marah.
Yudha menarik napas dalam. Mengingat betapa Ratna telah kehilangan suami dan adik laki-lakinya, ia sadar bahwa wanita di depannya ini adalah sosok yang sangat rapuh. Hatinya langsung melunak. Menatap Mbak Ratna yang mulai meneteskan air mata, Yudha tersenyum tipis dan berkata santai, "Mbak, jangan sedih. Aku tidak menyalahkanmu, kok."
"Oh! Benarkah? Yudha?" Ratna menatap Yudha dengan binar bahagia dan terkejut mendengar ucapan itu.
"Iya!"
Keduanya terdiam sejenak dalam keheningan yang hangat. Yudha masih bersandar manja di pelukan Ratna. Merasakan suasana hati Ratna yang masih sedikit mendung, Yudha diam-diam merogoh "Kompas Cinta" dari sakunya. Pada halaman profil Ratna, ia melihat tingkat suasana hatinya hanya berada di angka 40 derajat—artinya dia sedang tidak dalam mood yang baik.
Yudha segera bertindak. Dengan satu jentikan lembut pada kompas gaibnya, ia mengatur angka itu ke 60 derajat. Seketika, raut wajah Mbak Ratna berubah menjadi jauh lebih ceria.
Perasaan Mbak Ratna campur aduk. Tubuhnya yang selama bertahun-tahun terkungkung dalam kesepian akhirnya menemukan pelampiasan. Gairah yang telah lama hilang itu adalah sesuatu yang diam-diam ia dambakan. Meskipun ia seorang Wakil Bupati, ia pertama-tama adalah seorang wanita yang memiliki kebutuhan naluriah. Namun, belenggu kepantasan dan moralitas masih menghimpit batinnya, terutama karena pasangannya adalah seorang pemuda yang jauh lebih muda darinya. Rasa bersalah itu membuatnya merasa tidak tenang.
"Apakah aku benar-benar melakukan hal yang benar?" Ratna bergulat dengan batinnya sendiri.
Namun, entah mengapa, ia tiba-tiba merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah-olah beban berat yang selama ini menyesakkan dadanya telah terangkat.
"Mungkinkah hatiku sudah membuat keputusannya sendiri?" Ratna bertanya-tanya dengan heran. Hanya itu penjelasan yang masuk akal bagi perasaan lega ini.
"Adikku, Mbak harus bangun dan berpakaian. Sudah siang, kamu mau Mbak buatkan sarapan?" Ratna menatap Yudha yang masih meringkuk manja di pelukannya dengan mata terpejam. Melihat kepolosan Yudha yang seperti anak kecil, senyum tulus merekah di wajahnya. Pemandangan itu mengingatkannya pada adik laki-lakinya yang telah tiada sepuluh tahun lalu. Dulu, adiknya juga senang bermanja-manja seperti ini.
"Mmm... Mbak, aku mau lihat Mbak pakai baju saja," gumam Yudha sambil membuka mata dan tersenyum nakal.
Dalam hati, Yudha merasa sedikit menyesal. Berdasarkan aturan sistem "Santo Cinta", hanya menaklukkan gadis yang masih murni yang akan memberikan poin hadiah besar.