Warning!!
***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.
Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.
Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.
Pernikahannya bukan tentang cinta.
Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.
Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.
Suaminya.
Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.
Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.
***
“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.
Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”
Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.
Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Permainan Hati
0o0__0o0
Dresto mengeraskan rahangnya, menatap punggung Ares dan Mawar yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Kita lihat… siapa yang akan memiliki Mawar di akhir cerita nanti," desisnya rendah, penuh amarah yang di tahan.
Ia berbalik, langkahnya berat menuju sofa. Tubuhnya di jatuhkan begitu saja, bersandar kasar seolah ingin melampiaskan gejolak di dalam dirinya.
"Sialan!" umpatnya geram.
Namun makian itu tidak membantu.
Bayangan Mawar justru semakin liar berputar di kepalanya—tatapan dinginnya, sikap menantang-nya, bahkan aroma tubuhnya yang seakan masih tertinggal di udara.
Semua itu menyatu, menyesakkan, memancing sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Dresto mengusap wajahnya kasar.
"Brengsek…" gumamnya pelan.
Alih-alih mereda, hasrat dan amarah itu justru bercampur menjadi satu—membakar, merusak logika.
Dengan gerakan cepat, ia menyambar ponsel di atas meja. Tanpa berpikir panjang, ia menghubungi salah satu wanitanya.
Ponsel itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya tersambung.
"Halo ?" Suara wanita di seberang terdengar manja, seolah sudah terbiasa dengan panggilan mendadak seperti ini.
Dresto menyandarkan kepalanya, mata terpejam sesaat. Namun bayangan Mawar justru semakin jelas, semakin mengganggu.
"Sekarang. Datang ke apartemen ku," perintah-nya singkat, nada suaranya dingin tapi sarat tekanan.
"Ah… akhirnya kamu ingat juga sama aku—"
"Tidak perlu banyak bicara." Dresto memotong, rahangnya kembali mengeras. "Aku tidak punya waktu untuk basa-basi."
Hening sejenak.
Wanita itu tampaknya mengerti, lalu terkekeh pelan. "Baiklah. Tunggu aku, Sayang."
Tut.
Sambungan terputus.
Dresto melempar ponselnya ke samping dengan kasar. Tangan-nya mengepal, urat di pelipisnya tampak menonjol.
"Sial..." desisnya lagi, kali ini lebih pelan, tapi jauh lebih berbahaya.
Ini bukan sekadar keinginan sesaat.
Ini obsesi.
Apa yang dia lakukan sekarang—memanggil wanita lain—tidak benar-benar mengusir bayangan Mawar. Justru semakin memperjelas satu hal yang mulai Dresto sadari... dan ia benci.
Ia menginginkan Mawar.
Bukan hanya tubuhnya.
Tapi juga perlawanan-nya. Tatapan dingin-nya. Cara wanita itu menolak, seolah Dresto tidak berarti apa-apa.
Dresto membuka mata, menatap kosong ke arah pintu yang tadi di lewati Ares.
"Kita lihat saja," gumam-nya rendah, nyaris seperti janji pada dirinya sendiri. "Seberapa lama dia bisa bertahan di samping adik polosku itu."
Senyum tipis, penuh ambisi dan kegilaan, perlahan terukir di bibirnya.
"Karena pada akhirnya..." bisiknya pelan. "Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan."
Dan kali ini, Ia akan memastikan Ares kehilangan segalanya.
0o0__0o0
Klik.
Pintu apartemen terbuka dengan bunyi pelan.
Dresto sudah berdiri di dekat jendela besar, membelakangi pintu. Pemandangan kota malam membentang di depannya, gemerlap lampu tak mampu meredam gelap di wajahnya.
"Heh… aku tidak telat kan, Sayang."
Suara wanita itu terdengar menggoda saat ia melangkah masuk, menutup pintu di belakang-nya. Gaun ketat yang ia kenakan seolah sengaja di pilih untuk memancing perhatian.
Namun Dresto tidak langsung menoleh.
Ia masih diam. Rahang-nya mengeras. Tangan-nya masuk ke saku celana, menahan sesuatu yang terus bergejolak di dalam dirinya.
Wanita itu mendekat perlahan, langkah-nya sengaja di pelankan.
"Kamu merindukan ku, hm ?" bisiknya, kini tepat di belakang Dresto. "Padahal baru kemarin kita bermain-main di sini."
Tangan-nya mulai menyentuh lengan pria itu, naik perlahan ke bahu.
Biasanya…
Dresto akan langsung merespons.
Tapi kali ini—
Tidak.
Sentuhan itu terasa… hambar.
Dresto membuka mata perlahan, tatapan-nya kosong sesaat sebelum berubah dingin.
"Buka gaun mu," ucapnya datar.
Wanita itu tersenyum, mengira dirinya berhasil mengendalikan situasi. Dengan gerakan menggoda, ia mulai menuruti perintah itu tanpa ragu.
Gaun itu jatuh ke lantai dalam satu tarikan, hingga kini tubuh'nya hanya memakai underwear berendam hitam tipis.
Namun saat wanita itu kembali mendekat, berdiri di depan laki-laki itu, mencoba menarik perhatian Dresto—
Pria itu justru mencengkeram dagunya tiba-tiba.
Cukup keras.
"Jangan bertingkah seolah kamu dia," bisiknya rendah, berbahaya.
Wanita itu tertegun. "Dia… siapa ?"
Dresto terdiam.
Sekejap.
Namun cukup untuk membuat suasana berubah.
Tatapan-nya menggelap.
Tangan-nya perlahan melepas, lalu ia mundur selangkah, seolah kehilangan minat.
"Sial…" desisnya pelan.
Wanita itu kebingungan. "Dresto… kamu kenapa ?"
Tidak ada jawaban.
Wanita itu mendekat, memeluk mesra tubuh Dresto. Menggesekkan dada sintal-nya ke dada laki-laki itu. Berniat meng-goda.
"Kamu ada masalah kantor, Hem ?" Bisiknya sensual. Tangan-nya mengelus lembut punggung kokohnya. "Tenang aku disini.. akan menjadi obat mujarab."
Cup!
Bibirnya mengecup singkat daun telinga Dresto, lalu perlahan turun mengecup lehernya. Tangan-nya naik, menyentuh Asetnya yang sudah mengembung sempurna.
Bukannya tergoda, namun sentuhan itu justru membuatnya muak.
Muak karena bukan wanita itu yang seharusnya bertekuk lutut di hadapannya. Bukan dia yang Dresto benar-benar inginkan...
Dresto mendorong kasar pundak wanita itu, berjalan menjauh, menyambar segelas minuman alkohol di meja, meneguk-nya kasar.
Bayangan itu kembali.
Mawar.
Tatapan menantang-nya. Dingin. Tak tersentuh.
Bahkan di saat seperti ini, Ia tetap tidak bisa mengganti-nya.
Dresto tertawa pelan. Tapi tawa itu terdengar kosong… nyaris gila.
"Lihat apa yang sudah kamu lakukan padaku…" gumam-nya lirih, entah di tujukan pada siapa.
Wanita di belakang-nya kini hanya berdiri diam, tidak lagi berani mendekat.
Karena untuk pertama kalinya, Ia melihat sisi Dresto yang berbeda.
Bukan sekadar pria dingin.
Tapi seseorang yang… terobsesi.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Dresto menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
"Kamu pikir bisa kabur, Rose ?" bisiknya pelan, senyum tipis mulai terukir lagi.
"Tidak."
Tatapan-nya menajam.
"Aku akan membuat mu datang padaku… dengan kakimu sendiri."
Dan kali ini, Ia mulai menyusun rencana. Tapi sebelum itu ia harus menuntaskan hasratnya dulu.
0o0__0o0
Mansion Black, tengah malam.
Di dalam kamar yang temaram, Mawar belum juga terlelap. Ia hanya berbaring menyamping, menatap wajah suaminya yang tertidur pulas di samping-nya.
Ares terlihat begitu tenang.
Terlalu tenang… untuk seseorang yang hidup di dalam keluarga seperti itu.
Semakin lama ia memandang, semakin terasa ada sesuatu yang menggetarkan dadanya—halus, tapi mengganggu. Perasaan yang tidak ia pahami… atau mungkin tidak ingin ia akui.
Perlahan, tangan Mawar terulur.
Ujung jarinya menyentuh alis tebal itu… turun mengikuti garis wajahnya, menyusuri bulu mata lentik yang terpejam damai… lalu berhenti di hidung mancung-nya… hingga akhirnya menyentuh bibirnya.
Hangat.
Nyata.
Dan entah kenapa… membuat hatinya terasa sesak.
"Aku jadi ragu…" gumam-nya lirih, hampir seperti bisikan yang hanya ia dengar sendiri. "Apa kamu benar-benar bagian dari keluarga Black ?"
Mawar mendekat, meneliti wajah itu lebih dalam, seolah mencari jawaban yang tersembunyi di sana. Jemari-nya berpindah, mengelus lembut pipi Ares—perlahan, hati-hati… seperti takut merusak ketenangan itu.
Namun semakin dia memperhatikan— Semakin jelas wajah itu persis Dresto.
Mirip.
Sangat mirip.
"Kalau bukan…" lanjutnya pelan, suaranya nyaris retak, "kenapa wajahmu begitu mirip dengan laki-laki itu…?"
Napasnya tercekat.
"Tapi kenapa… hatimu tidak seperti mereka, Res ?"
Sunyi.
Namun kali ini sunyi itu terasa berat.
Ingatan beberapa jam lalu tiba-tiba menyeruak masuk tanpa izin. Sentuhan itu… cara Dresto menatap-nya… membuat perut Mawar terasa mual.
Jijik.
Ia benci mengingat-nya.
Bahkan lebih benci lagi karena dia tahu—dia tidak sepenuh-nya tak bersalah. Mawar yang memancing. Ia yang membiarkan semuanya terjadi.
Tapi tetap saja— Itu tidak membuatnya bisa menerima.
Mawar memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam seolah mencoba menenangkan sesuatu yang berantakan di dalam dirinya.
Namun gagal.
Dengan gerakan tiba-tiba, ia menarik selimut yang menutupi tubuh mereka, melemparkan-nya ke lantai. Tubuhnya bergerak cepat, naik dan mengungkung Ares.
Tatapan-nya jatuh tepat ke wajah pria itu.
Dekat.
Sangat dekat.
"Kamu harus bantu aku…" bisiknya pelan, namun kali ini terdengar lebih seperti permohonan daripada godaan.
"Menghapus… semua jejak sentuhan yang terasa kotor itu."
Suaranya melemah di akhir kalimat.
Ada luka di sana.
Ada marah.
Dan ada sesuatu yang jauh lebih rapuh dari yang ingin Mawar tunjukkan.
Cup.
Ia mengecup bibir Ares singkat. Namun detik berikutnya, ia tak berhenti.
Kepalanya miring perlahan, bibirnya kembali melumat milik Ares—kali ini lebih lama… lebih dalam… seolah ia sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu yang menghantui-nya.
Bukan hanya karena hasrat.
Tapi karena ia butuh merasa… bersih kembali.
Dan tanpa Mawar sadari— Yang ia cari bukan sekadar menghapus jejak sentuhan itu. Tapi rasa aman… yang selama ini tidak pernah benar-benar ia miliki.
0o0__0o0
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣