NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arena Maut: Jebakan Dalam Kegelapan

Episode 27

Pagi itu, Stadion Elang Agung tidak lagi terang benderang. Pihak akademi, atas usulan Tuan Malaka, telah memasang sebuah kubah energi berwarna ungu gelap yang menutupi seluruh arena utama. Di dalamnya, suasana berubah menjadi remang-remang, hanya diterangi oleh obor-obor sihir yang mengeluarkan api berwarna hijau pucat.

Tanah arena yang biasanya berupa pasir putih, kini telah diganti dengan ubin batu hitam yang memiliki ukiran simbol-simbol kuno. Di sekeliling arena, bukan lagi parit air biasa, melainkan lubang tanpa dasar yang mengeluarkan hawa dingin yang menusuk jiwa. Inilah yang disebut Arena Maut.

Reno berdiri di salah satu sisi arena, merasakan sensasi tidak enak yang merayap di tengkuknya. Cairan perak yang ia minum semalam memberikan efek yang nyata; meskipun suasana di sekelilingnya penuh dengan bisikan gaib dan tekanan energi yang mengganggu pikiran, Reno tetap bisa berpikir dengan sangat jernih.

"Reno, hati-hati," Nidhogg berbisik pelan, ia bersembunyi erat di dalam baju Reno. "Lantai batu ini bukan sekadar lantai. Ada mekanisme sihir yang haus darah di bawahnya. Setiap kali darah jatuh ke lantai ini, kekuatannya akan meningkat."

"Aku tahu. Ini bukan ujian, ini adalah eksekusi publik yang dikemas sebagai turnamen," jawab Reno dalam hati.

Di sisi lain arena, Vance muncul dari kegelapan. Ia mengenakan baju zirah ringan berwarna perak gelap yang dihiasi permata merah di bagian dadanya. Di tangannya, ia memegang sebuah tombak pendek yang ujungnya mengeluarkan percikan listrik hitam. Di sampingnya, seekor Serigala Bayangan bertubuh besar dengan mata tiga menatap Reno dengan penuh nafsu memangsa.

Vance tersenyum lebar, sebuah senyuman yang penuh dengan kegilaan. "Selamat datang di kuburanmu, Reno. Kael mengirimkan salam untukmu. Dia bilang, dia ingin aku mengirimkan kepalamu sebagai hadiah ulang tahunnya minggu depan."

Reno menatap Vance dengan tatapan malas yang biasa ia gunakan saat menghadapi klien yang terlalu banyak menuntut. "Vance, kau dan saudaramu punya satu kesamaan: terlalu banyak bicara. Kenapa kalian tidak fokus saja pada pertarungan daripada menyusun rencana hadiah yang tidak akan pernah sampai?"

"Lancang sekali kau!" Vance menggeram.

Di atas podium, Master Gandos mengangkat tangannya. "Babak 32 Besar: Reno melawan Vance! Arena Maut diaktifkan! Mulai!"

Seketika, simbol-simbol di lantai batu mulai bersinar.

WUSH!

Sebuah semburan gas beracun berwarna hijau keluar dari celah-celah lantai. Reno segera menutup napasnya dan menggunakan teknik Arus Bumi untuk menciptakan tekanan udara di sekitarnya agar gas tersebut tidak mendekat.

"Hahahaha! Kau pikir hanya itu?" Vance berteriak. "Serigala Bayangan, Serangan Siluman!"

Serigala itu menghilang ke dalam tanah, menyatu dengan bayangan ubin batu hitam. Reno tidak bisa melihatnya dengan mata, namun ia bisa merasakan getaran dari bawah kakinya.

Kanan!

Reno melompat ke kiri tepat saat sebuah cakar hitam besar menembus lantai batu di tempatnya berdiri tadi. Belum sempat Reno mendarat, sebuah paku besi raksasa tiba-tiba meluncur dari dinding arena menuju arahnya.

TRANG!

Nidhogg bereaksi cepat. Ia keluar dan menghantam paku itu dengan kepalanya yang keras, membelokkan arah paku tersebut hingga menancap di dinding seberang.

"Koordinasi yang bagus," Vance memuji dengan nada mengejek. "Tapi bagaimana dengan ini?"

Vance menancapkan tombaknya ke lantai. Seketika, listrik hitam merambat di atas lantai batu, mengejar kaki Reno. Reno terpaksa terus melompat dan berlari di sepanjang dinding arena, sementara jebakan-jebakan lain mulai aktif mulai dari ayunan kapak raksasa hingga panah-panah otomatis yang keluar dari langit-langit kubah.

Tribun penonton di luar kubah berteriak histeris. Mereka hanya bisa melihat siluet gerakan cepat dan ledakan-ledakan cahaya di dalam kegelapan.

"Reno terpojok! Vance benar-benar menguasai arena!" teriak salah satu murid senior.

Di dalam arena, Reno memang tampak terdesak. Namun, di balik topeng kepanikannya, otaknya sedang bekerja keras. Jebakan ini memiliki pola. Setiap sepuluh detik, urutan serangannya berulang. Gas, paku, lalu listrik. Vance tahu pola ini, itu sebabnya dia bisa berdiri diam di tengah tanpa terkena satu pun jebakan.

"Nidhogg, kau lihat permata merah di dada zirahnya?" bisik Reno saat ia berguling menghindari ayunan kapak.

"Ya. Itu adalah alat sinkronisasi. Selama permata itu aktif, arena ini akan menganggap Vance sebagai bagian dari mekanisme, sehingga dia tidak akan diserang," jawab Nidhogg.

"Kalau begitu, kita harus menghancurkan permata itu. Tapi Vance menjaganya dengan tombak listriknya," Reno berpikir cepat. "Kita gunakan taktik pengalihan. Aku akan menjadi umpannya."

Reno sengaja memperlambat gerakannya. Ia membiarkan sebuah panah ringan menggores bahunya. Darah menetes ke lantai batu.

"Kau mulai lelah, Petani?" Vance tertawa. Ia merasa kemenangannya sudah di depan mata. Ia memerintahkan serigalanya untuk melakukan serangan final. "Serigala, Cakar Penghancur Jiwa! Habisi dia!"

Serigala bayangan itu muncul tepat di depan Reno, cakarnya yang besar bercahaya hitam pekat, siap merobek dada Reno.

Di saat kritis itu, Reno tidak menghindar. Ia justru maju menabrakkan dirinya ke arah serigala tersebut.

"APA?!" Vance terkejut melihat kenekatan Reno.

Reno menggunakan tangan kirinya untuk menahan cakar serigala. Meskipun tangan Reno terluka dan mengeluarkan darah, ia berhasil mencengkeram kaki serigala itu dengan kekuatan Arus Bumi-nya.

"Nidhogg, SEKARANG!"

Nidhogg meluncur dari lengan baju kanan Reno. Kali ini, Nidhogg tidak menyerang serigala. Ia melesat seperti peluru hitam menuju ke arah Vance yang sedang lengah.

Vance yang sedang fokus memerintah serigalanya tidak menyangka serangan mendadak itu. Ia mencoba mengangkat tombaknya, namun Nidhogg jauh lebih cepat.

BRAK!

Nidhogg menghantam permata merah di dada Vance dengan kekuatan penuh. Permata itu hancur berkeping keping.

Seketika, aura pelindung di sekitar Vance lenyap.

NGEEEEEENG!

Mekanisme Arena Maut tiba-tiba menganggap Vance sebagai penyusup. Sebuah kapak raksasa yang tadinya mengarah ke Reno, tiba-tiba berayun menuju leher Vance.

"TIDAK! BERHENTI!" teriak Vance panik. Ia terpaksa berguling di atas ubin untuk menghindari kapak tersebut.

Reno melepaskan cengkeramannya pada serigala bayangan dan melompat mundur. "Bagaimana rasanya menjadi mangsa di arenamu sendiri, Vance?"

Vance bangkit dengan wajah yang dipenuhi amarah dan ketakutan. Kini ia harus menghindari gas beracun, paku, dan listrik sambil tetap bertarung melawan Reno. Arena yang tadinya adalah sekutunya, kini menjadi neraka baginya.

"KAU... KAU AKAN MATI!" Vance berteriak gila. Ia mengeluarkan sebuah botol berisi cairan hitam pekat ramuan terlarang dari Gerhana Hitam dan meminumnya sekaligus.

Tubuh Vance mulai membengkak, pembuluh darahnya menghitam, dan matanya berubah menjadi merah darah sepenuhnya. Auranya melonjak drastis, menembus batas Tingkat Perak Tahap Menengah menuju Tahap Puncak.

"Reno, dia menggunakan Darah Iblis! Dia mengorbankan umurnya untuk mendapatkan kekuatan instan!" Nidhogg memperingatkan, sayapnya bergetar hebat. "Kita tidak bisa menahan serangan fisiknya secara langsung sekarang!"

Reno menyeka darah di bahunya. Ia menatap Vance yang kini tampak seperti monster manusia. "Sepertinya Gerhana Hitam benar-benar putus asa. Baiklah, Vance. Jika kau ingin menunjukkan kekuatan iblis, maka aku akan menunjukkan padamu apa yang bisa dilakukan oleh seekor naga."

Reno melepaskan seluruh energi mentalnya yang selama ini ia tekan. Tato naga di tangannya bersinar terang, menembus kegelapan arena.

Di tribun VIP, Tuan Malaka berdiri dengan cemas. "Apa yang terjadi? Kenapa Vance meminum itu di depan umum?"

Instruktur Raka yang duduk di sampingnya hanya tersenyum dingin. "Itulah yang terjadi jika kau mencoba menjinakkan sesuatu yang jauh lebih besar dari kemampuanmu, Tuan Malaka. Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan di dalam kegelapan itu."

Arena Maut berguncang hebat. Pertarungan hidup dan mati yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!